Nurvati

Nurvati
Episode 151: Interpretasi Kenyataan Bekerja.



Dalam cahaya remang-remang para kunang-kunang, di sebuah ruangan yang gelap nan dinding yang terbuat dari batu Merah Delima serta lantai yang terbuat dari batu Safir.


Telah berdiri bersedekap seorang wanita terhormat, berambut jingga panjang nan bergelombang, dalam balutan gaun nuansa merah kebanggannya yang memiliki dua sayap putih lembut nan menawan, netra tajam merah lembayungnya kini terhubung pada kekosongan di depannya.


Namun seiring waktu berputar, kekosongan di depannya mulai menampakan setitik cahaya kemerahan, lalu titik cahaya kemerahan itu perlahan nan pasti mulai meluas, kemudian sangat luas menyinari ruangan ini, hingga 'Boom' sinar kemerahan itu memunculkan sesosok pria berjubah nuansa merah dengan sinar yang hilang setelah kemunculannya.


Maka Putri Kerisia bernamaskara penuh hormat, seraya berkata, “Salam Ketua Razael ....”


Telah berdiri seorang pria berambut merah darah, dengan hidung mancung serta wajah mulus agak persegi, netra merah yang menerawang tegas ke depan, pria yang tinggi dengan dua sayap nuansa merah menawan. Tidak terlalu tampan, tapi setidaknya dia bisa tersenyum. Yang bukan lain adalah Ketua Razael.


Dia mengangguk mengapresiasi sambutan hormat Putri Kerisia.


Segala perjuangan mental dan fisik yang dipersembahkan pada lingkup waktu, kini patut disyukuri karena berakhir bahagia. Meski lupa caranya tersenyum lebar, tetapi hatinya tak lupa untuk tergugah senang penuh syukur.


Inilah pertemuan pertama Putri Kerisia dengan Ketua Razael, beratus-ratus tahun diterpa ujian yang berat, pada akhirnya pertemuan ini terealisasi.


“Sungguh beruntung, pada akhirnya aku dapat berjumpa engkau ...,” ungkap Putri Kerisia dengan tetap berdiri selayaknya wanita terhormat, berdiri berhadapan dalam jarak 5 meteran pada Ketua Razael.


“Hem ... tidak ada yang sia-sia kerja kerasmu ...,” kata Ketua Razael dengan pandangan tajam pada wajah mulus Putri Kerisia, menyanjung usaha sang putri yang diakhiri dengan senyuman tenang.


Ketua Razael memiliki suara yang begitu dalam, dia mampu berwujud laki-laki mau pun perempuan, memiliki banyak sebutan dan hal-hal yang berbau laknat melaknat, karena memang itu aturannya.


“Jadi ... sebutan apa kali ini yang tepat untuk Anda?” tanya Putri Kerisia memastikan.


Sempat tersenyum lebar Ketua Razael menanggapi pertanyaan itu, entah mengapa demikian, akan tetapi berakhir dengan menjawab, “Sekarang sebut saja, ketua ... iya ... Ketua Razael ....”


Tak ada kata-kata lagi yang terucap, Putri Kerisia hanya mengangguk sepakat.


Tempat sepi ini masih diisi oleh Putri Kerisia dan Ketua Razael, lengkap dengan ratusan kunang-kungan berpendar kelap-kelip. Ada momen senyap melingkupi suasana, terdiam untuk menggugah jiwa ke momentum selanjutnya.


Selanjutnya adalah ketika Putri Kerisia memohon, “Ketua ... dapatkah engkau tunjukkan padaku kebenaran atau siklus dunia yang mestinya terjadi?”


Maka Ketua Razael yang memang telah membawa info penting pun berujar, “Baiklah dengarkan ini ... dengarlah dan lihatlah oleh hati serta pikiran yang terpusat ... karena sungguh, oh sungguh ... untuk memahami kebenaran membutuhkan konsentrasi kejiwaan penuh.”


Putri Kerisia pun mengangguk terkesiap untuk menerima segala bentuk kebenaran.


Sehingga dari tangan kanan Ketua Razael memancarkan sinar kemerahan, terpancar dan tersorot pada lantai. Lalu segala ruangan mulai berubah, dimensi ketiga dan dimensi keempat terlewati, hingga muncullah dimensi kelima.


Mula-mula Putri Kerisia menoleh ke kanan, dia diperlihatkan masa depan, sebuah era perdamaian, era kemerdekaan atau disebut juga era kejayaan, khususnya bagi bangsa Barat.


Pada masa itu, setiap jiwa nampak berpancar cerah, kebaikan bagaikan harta terbesar dan kebenaran bagaikan rumah-rumah yang mewah nan megah.


Era di mana rakyat mendapatkan keadilan, era saat-saat setiap jiwa dapat merdeka, bahagia dan terlepas dari belenggu doktrin atau pun lepas dari kekeliruan mengenali hidup.


Lantas Putri Kerisia menoleh ke kiri, maka ia ditampakkan oleh para pribadi yang saling menyapa dan saling memberi kebahagiaan satu sama lain. Era di mana setiap individu telah dibimbing oleh ras Malaikat yang sebenar-benarnya malaikat, atau disebut juga Malaikat Penyelamat.


Malaikat-Malaikat itu telah terpilih, sehingga ketenangan serta kedamaian nampak begitu benderang pada zaman kejayaan itu.


Beberapa saat Putri Kerisia ditampakan oleh era kejayaan itu, memandangnya tanpa ekspresi senang atau susah. Selepas semuanya sirna, Putri Kerisia terdiam dalam renungan yang dalam.


Seperti yang diharapkan kaum utopis, iya, masa depan yang diharapkan kaum utopis atau juga mereka-mereka yang mendengar risalah-risalah para Raja.


Namun suasana sepi itu tak berlangsung lama, sebab Ketua Razael telah berujar, “Itulah hari kedamaian ....”


Sehingga Putri Kerisia bertanya, “Apa yang dimaksud hari kedamaian?”


Dengan santai, dalam tatapan tajam penuh makna pada wajah mulus Putri Kerisia, Ketua Razael menjawab, “Hari kedamaian adalah ketika setiap individu berbuat baik dan berbuat benar karena kewajiban, mengorbankan hasrat pada hasil dan mengorbankan pahala pada kewajiban ... atau dengan kata lain ... melakukan hal yang memang sepatutnya dilakukan secara tulus, mengorbankan diri demi kemakmuran seluruh alam semesta ... dan hati-hatilah dalam menginterpretasikannya.”


Akan tetapi, pikiran perseptif Putri Kerisia mencetuskan kebingungan yang langsung diucapkan. ”Tetapi ... itu sangat sulit dan terkesan mustahil atau tidak mungkin ...?“


Mengangguk-angguk Ketua Razael di sana, dia memahami apa yang ada dalam pikiran Putri Kerisia, sehingga kembali menjawab, ”Mungkin memang tidak seratus persen ... atau katakanlah hanya bangsa Barat saja yang demikian ....“


“... oleh sebab itulah hanya orang-orang terpilih yang berhak hidup diera kejayaan itu, hanya mereka yang sanggup melintasi rintangan-rintangan dari Kami yang sanggup menuju kejayaan ...,” lanjutnya yang terkesan masih samar dan ambigu.


Membuat pertanyaan kembali dilontarkan dari mulut Putri Kerisia. “Lalu ... orang-orang terpilih itu seperti apa?”


Sebuah pertanyaan yang telah diekspektasikan Ketua Razael, hingga bibir tipisnya menyunggingkan senyuman penuh makna, lantas berujar, “Untuk itulah aku hadir, untuk itulah engkau terpilih ....”


Putri Kerisia terpegun dalam kontemplasi, sebisa mungkin memahami berazam sang Ketua Razael.


“Korbankanlah dirimu demi mencari jiwa-jiwa yang unggul, korbankan usahamu pada hasilnya ... karena bagaimana pun, tanpa kejahatan, atau kesengsaraan ... para jiwa-jiwa itu tak memahami esensi dari kebaikan dan kebenaran ...,” lanjut Ketua Razael.


”Lalu siapa yang disebut iblis dalam risalah para Raja?“ selidik Putri Kerisia.


Ketua Razael mengangguk-angguk mengerti pertanyaan itu, seraya menjawab, “Dengarlah esensi ini baik-baik ... dengarlah dengan hati yang terbuka dan pikiran yang terpusat ....”


Putri Kerisia seketika terdiam dalam keseriusan penuh.


“... iblis adalah mereka yang membangkang dan membelot pada kebenaran yang malah memerangi kebenaran itu sendiri ... ketika kebenaran telah datang dan mereka malah memeranginya, merekalah iblis itu, mereka sakti dalam membelot dan berilmu dalam mencapai kekuasaannya ... dan hati-hatilah dalam menginterpretasikan kalimatku ini ...,” imbuh Ketua Razael dengan lugas nan mantap.


Putri Kerisia mengangguk-angguk dalam kontemplasi. Sesungguhnya ini perkara berat, tetapi demikian, Putri Kerisia selalu punya kekuatan untuk mencapai sublimnya.


Bersama waktu yang berputar, dalam ruang senyap ini. Ketua Razael pun kembali berujar, “Oleh sebab itu ... kita harus banyak membawa para jiwa-jiwa yang tak pantas hidup di era kejayaan itu ... kita arahkan pada alam Neraka dan itu harus tanpa disadari ... dan bila berhasil, maka kita pun berhasil menegakkan kebenaran ....”


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)