Nurvati

Nurvati
Episode 27: Kekaguman Melahirkan Cinta.



Jarak telah jauh menuju destinasi, Falas turun dari udara menuju hamparan rerumputan nuansa biru, tempat menyendiri ini sudah agak berbeda dari sebelumnya; pohon-pohon tumbuh semakin banyak disertai rerumputan yang tumbuh subur. Nurvati pun turun dari bopongan Falas, mereka berdiri dengan celingak-celinguk memeriksa keadaan di sekitarnya; sepi nan sejuk meski terik sang matahari menyengat.


“Baiklah, sekarang aku harus pergi,” ungkap Falas dengan menghadap Nurvati dalam santai dan tak mau kehilangan banyak waktu.


Senyuman hangat tersungging pada wajah mulus Nurvati, lalu memutar tubuhnya menghadap Falas, dan menatap Falas dengan senang seraya membalas, “Iya.”


Tapi ada waktu di mana netra mereka tiba-tiba saling terkunci bersirobok, menenggelamkan hati pada siklus keheningan di tempat ini; terbawa suasana pada tatapan memindai. Membuat Falas malah menunda kepergiannya.


Hal tersirat terpancar dari netra hijau ular Nurvati, hal dari seorang yang terkagum pada pria dewasa, bukan nafsu, bukan hasrat, tapi pertanyaan dari kedewasaan sebagai wanita dewasa; perasaan unik yang muncul, tetapi belum Nurvati kenal.


Hanya saja, Falas sang laki-laki santai, malah bertanya, “Heh ... kenapa melihatku seperti itu?”


“Aku ... merasa aneh sudah hidup dewasa denganmu,” jawab Nurvati dalam jengah.


Hal itu justru malah melahirkan dekah dari tenggorok Falas. “HAHAHAHA ....”


“Loh? Apanya yang lucu?” heran Nurvati.


Dengan mengibas-ngibas tangan kanan di depan wajah, Falas membalas, “Tidak ada ... cuman tatapanmu itu membuatku ngeri, kau seperti baru pertama kali saja tumbuh dewasa.”


“Eh? Aku 'kan memang baru pertama kali dewasa ... dasar aneh,” bela Nurvati.


“Hem,” ucap Falas dalam anggukkan mengiakan. Lalu berkata, “Sudah ya, sekarang aku harus pergi ... nanti setelah selesai kita ketemu lagi.”


Tak ada jawab dari Nurvati, hanya anggukkan sebagai tanda setuju. Maka setelah melukiskan senyuman terakhir dari wajah Falas, dia pun mengepakkan sayap dalam satu kibasan dan melesat cepat menuju destinasinya. Terbang menuju penuntasan ilmu tirakatnya.


Di sana, rupanya raut muka Nurvati nampak menyiratkan kekaguman pada sosok Falas, baru kali ini pandangannya memancarkan aura 'lain'. Kebersamaannya telah menimbulkan keakraban, dan sosok Falas yang kalem nan pengertian menciptakan rasa kagum.


Namun demikian, ia juga bergegas menuju penuntasan ilmu tirakatnya. Nurvati mulai melangkah menuju pohon salju yang dulu sering dia datangi, dan bahkan berteman dengan 'sepi' di sana.


Ralat, dalam hal keilmuan ini, siapa pun yang berhasil bertirakat sesuai waktu yang ditentukan, bila mana mereka tidak lemas karena tak makan atau minum, maka mereka telah berhasil mencapai tahap kedirian yang baru, antara hidup mengonsumsi angin atau pun mengonsumsi api. Dan Nurvati sampai pada taraf pertama, hidup hanya mengonsumsi angin.


Nurvati telah berdiri dibawah pohon salju menunggu kedatangan burung Garuda, dalam waktu yang merampas lima detik, barulah seekor burung Garuda dengan dua sayapnya yang lebar mendarat tepat di depan Nurvati. Melihatnya memunculkan rasa senang atas kehadirannya sekaligus langsung melangkah mendekati burung Garuda tersebut.


Burung Garuda itu memiliki tubuh dua kali lipat lebih besar dari Nurvati, cakar atau kakinya berkulit emas, netra tajamnya berkilau seperti batu zamrud, paruhnya dilapisi emas, kepala hingga lehernya diliputi bulu-bulu nuansa seputih santan, sedangkan tubuhnya didominasi bulu nuansa hitam dengan corak hijau di kedua sayapnya. Mirip seperti burung Elang tetapi memiliki jambul seperti burung Kakaktua. Tambahannya, bulu ekornya berwarna pelangi.


Hingga ketika kedua sayap burung Garuda itu pun dibentangkan, terlihatlah kedua sayapnya yang besar nan elegan. Lebih dari itu, burung Garuda ini bicara menggunakan bahasa batin, “Pilihlah ilmu apa yang kamu mau.”


Tentunya, berkat tirakat panjang, Nurvati mampu mendengar suara sang Garuda, ia menatap dengan cermat kedua sayap burung tersebut, di sayap kanannya telah tertulis bermacam ilmu, —tulisannya bahasa Peri— dan terangkum dalam ilmu ke-Tuhan-an, sementara di sayap kirinya pun telah tertulis bermacam ilmu yang terangkum dalam ilmu Hikmah.


Bila Nurvati memilih ilmu ke-Tuhan-an, otomatis ia memiliki kesempatan menjadi sesosok Malaikat, namun apa bila Nurvati memilih ilmu Hikmah, secara otomatis ia akan memiliki kesempatan menjadi maha sakti.


Nurvati merenung sejenak, menimbang-nimbang ilmu apa yang sekiranya penting.


“Aku ingin semua ilmu itu,” kata Nurvati dengan berhasrat penuh yakin nan dinamis. Bahkan sampai telunjuk tangan kanannya menunjuk sayap kiri lalu sayap kanan sang Garuda.


“Dalam kondisi dirimu yang sekarang, mentalmu tidak akan kuat, kamu akan hancur, atau menjadi gila.”


Tapi sayang, peringatan sang Garuda tak diindahkan oleh Nurvati sedikit saja, yang justru dalam keangkuhannya, Nurvati malah bicara, “Aku sanggup, karena aku sudah berhasil bertirakat.”


”Aku tidak yakin kamu sanggup, perbandingannya dari sejuta wanita yang gagal hanya satu wanita yang berhasil, jika ...," ucapan batin sang Garuda dipotong oleh Nurvati.


”Akulah satu dari sejuta wanita itu!“


Hasrat untuk hidup abadi bersama Falas adalah penyebab Nurvati berani mengambil risiko besar itu, apalagi diiringi oleh dendam pada kematian orang tuanya yang kini membawa Nurvati tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena bagaimana pun, dari satu ilmu keilmu yang lain, diharuskan bertirakat minimal 100 tahun, —100 tahun untuk satu ilmu— namun bila 9000 tahun yang diambil, maka mampu memilih ilmu ke-Tuhan-an atau pun ilmu Hikmah. Dengan kata lain, Nurvati memiliki kesempatan mendapatkan semua ilmu tanpa harus bersusah payah mengambil satu-satu ilmu dengan tirakat berulang kali, karena tubuhnya telah dimurnikan selama 9000 tahun, mengosongkan diri untuk menambah ilmu yang baru.


Ilmu ke-Tuhan-an lebih menunjang pada pengetahuan awal, tengah, akhir dan penyempurna, tahu dan mengetahui. Syaratnya; wajib bertirakat beratus-ratus tahun bagi ras Peri, lalu nantinya disatukan dengan cahaya-cahaya ilmu, yang mana setiap cahaya pengetahuan didapat dari 7 lapis Langit serta 7 lapis Bumi. Dan bila berhasil, maka akan manunggal kepada ilmu-Nya, tetapi siapa yang tak kuat, maka akan binasa atau gila, bahkan bisa menjadi iblis.


Sedangkan ilmu Hikmah adalah pengambilan ilmu Maha Sakti yang diberikan oleh Malaikat Rahmat. Syaratnya; diwajibkan tirakat beratus-ratus tahun, kemudian akan diangkat pada 30 Alam Keilmuan, yang didalamnya seseorang wajib membaca kalimat-kalimat 'kemalaikatan' yang diberikan oleh Malaikat Rahmat, yang kadar masing-masing kalimat dibaca seratus tahun dan wajib mengalahkan Iblis di setiap alam Ilmu.


”Pilihlah salah satu ilmu saja, ilmu ke-Tuhan-an atau ilmu Hikmah, dikedua ilmu ini juga sudah merangkum banyak ilmu, kamu sudah bertirakat 9000 tahun, itu akan mudah diterima oleh kejiwaanmu.“


Namun lagi-lagi Nurvati menolaknya. ”Tidak, aku ingin kedua ilmu sekaligus.“


Tanpa pikir panjang, mau tidak mau sang Garuda pasrah dan menerimanya, karena bagaimana pun, sang Garuda hanya mengikuti hukum. Dia mengangguk seraya berujar dalam batin, ”Kalau begitu, naiklah ke punggungku, pertama akan aku bawa kau ke alam keilmuan.“


Tanpa banyak bicara, Nurvati mulai menaiki punggung sang Garuda, atau tepatnya dia mendeprok di punggung sang Garuda dengan jambul sang Garuda sebagai pegangan.


Lantas dalam satu kepakan sayap maha cepat, mereka langsung tiba begitu saja di tempat asing yang baru pertama kali dikunjungi Nurvati.


Sebuah alam yang terhampar awan putih sejauh mata memandang, dan langit biru yang begitu cerah. Tak ada lagi yang lain, kecuali, sebuah pintu emas yang disampingnya telah duduk Malaikat Rahmat, duduk di kursi berbahan emas sambil mencatat sesuatu yang tak diketahui, dia mencatat di meja dan bahkan meja tersebut pun terbuat dari emas.


Nurvati pun turun dari punggung sang Garuda, diselingi oleh pesan sang Garuda, ”Aku akan menunggu di sini, dan bicarakan maksud kedatanganmu pada Malaikat Rahmat itu.“


Nurvati mengangguk, kemudian melangkah mendekati sang Malaikat Rahmat. Berbarengan dengan itu, sang Malaikat pun menghentikan kegiatan menulisnya, ia memandang Nurvati.


Malaikat Rahmat itu bertugas memberikan kalimat-kalimat keilmuan, dan dia menjaga pintu di setiap Alam Ilmu. Wujudnya diliputi cahaya nan terang benderang, bukan laki-laki, bukan pula perempuan dan bukan pula diantara keduanya; cahaya yang berwujud, dia memiliki enam sayap, dan setiap sayapnya berganti-ganti warna cahayanya, setinggi Nurvati. Dan pada dasarnya, tempat ini adalah kantornya, yang di mana, kantor ini memiliki luas seluas langit dan bumi.


Dan ketika Nurvati telah berdiri di depan sang Malaikat Rahmat, Nurvati menyapa, ”Salam untukmu Malaikat Rahmat.“


Nurvati sudah mengenali Malaikat Rahmat dari mimpi di dalam tirakatnya.


”Salam juga untukmu.“ Uniknya, balasan sang Malaikat didengar bukan oleh telinga Nurvati, melainkan didengar oleh jiwa Nurvati. Lebih dari itu, suara sang Malaikat sangat berbeda dari kebanyakan makhluk pada umumnya, dia tak bicara dengan mulut, melainkan lewat hati.