Nurvati

Nurvati
Episode 9: Kematian Menjadi Awal Kelahiran.



Hingga waktu yang direnggut tak sia-sia, Nurvati dan Falas tiba di tempat ayahnya tergeletak. Mereka mendarat dengan selamat, lantas Falas menurunkan Nurvati di samping jasad ayahnya.


Sontak kala iris hijaunya terarah pada tubuh ayahnya, dada Nurvati kembali senak, keningnya mengernyit sedih, matanya berbinar sendu, napasnya naik turun agak berat, mental Nurvati terguncang kembali, pikirannya kalut, aura duka kembali pekat dan dalam langkah lemas, Nurvati mendekati ayahnya.


Di sana, Falas sengap, wajahnya ikut berduka, memandang jasad kaku ayah Nurvati dengan prihatin. Dan Nurvati berdiri di samping kiri sang ayah, tertunduk menatap wajah ayahnya yang pucat kesi, cahaya dari tubuhnya telah hilang, paras tampan sang ayah nampak kentara, dengan darah emas yang mengering dari sudut bibir keunguannya, sayapnya pun telah layu, dia benar-benar telah tewas.


Sungguh kejadian yang tak diinginkan Nurvati, pun Nurvati tak dapat berbuat banyak, dirinya terlampau lemah dan ayahnya tewasa gegara melindungi Nurvati.


Selang sepuluh detik meratap, dengan rasa sedih di hati, tangannya mengepal erat, giginya bergigit tak menyangka, lantas rasa penasaran pada kondisi ibunya, kini mendorong jiwanya, membuatnya bergegas berpaling pergi.


“Eh? Nurvati,” heran Falas yang tak tahu Nurvati mau ke mana.


Nurvati pergi berlari, dia berlari menuju tempat terakhir ibunya, berharap ibunya selamat, meski kemungkinannya kecil, harapan besar itu tetap bernaung di benaknya.


Falas yang tak tahu Nurvati akan ke mana, hanya mampu ikut berlari dari belakang, setidaknya memantau Nurvati agar tak ada hal buruk yang terjadi, Falas sempat bertanya pada Nurvati, akan ke mana Nurvati pergi, tapi, terlalu sedih suasana kini, sehingga tak ada jawaban dari Nurvati.


Mereka berdua terus berlari ke arah rumah Nurvati. Hingga tak lama berselang, Nurvati memanggil ibunya dalam nada berteriak, itu hanyalah ekspresi ketakutan yang berpadu dalam keresahan; ia melihat tubuh ibunya terkapar tak berdaya.


Maka Falas menyadari ke mana mereka pergi, dan hatinya semakin was-was pada hal yang sama menyedihkannya seperti ayah Nurvati.


Setibanya di sana, di tempat sang ibu, kedukaan sayangnya harus tampil kembali sebagai tanda kematian, benar, sang ibu tak selamat, tewas dengan tragis, kedua sayapnya patah, perutnya berlubang, dengan darah emas yang membasahinya, lebih dari itu, roman sang ibu yang dulu bercahaya laksana terik matahari kini tak lagi bercahaya, dan menampakkan wajah aslinya; rambut hitam pekat, bibir tipis, hidung ramping dengan kulit putih kesi.


Kaki Nurvati serentak terhenti, terasa lemas kala realitas menyedihkan itu terlampau tragis bagi seorang gadis muda seperti Nurvati, kehilangan kedua orang tua dalam satu waktu, dan itu cukup untuk membentuk beban moril dalam jiwanya.


Dia berhenti dan berdiri di samping ibunya dengan mata yang berbuntang begitu menyedihkan, air mata tak mampu dibendung lagi, mengucur deras bersama napas yang senguk-sengak, rasanya sangat senak, dan beban moril itu berhasil membuat lututnya lemas tak mampu menopang tubuhnya; Nurvati ambruk dengan mendeprok di tanah.


Pemandangan itu membuat Falas kaget dan cemas.


“Nurvati!”


Falas berlari semakin cepat pun seketika ikut mendeprok di samping kanan Nurvati, merangkul Nurvati agar mendapat ketenangan jiwa.


“Hiks ... hiks, hiks ....”


Hanya tangis senguk-sengak yang dapat Nurvati perbuat, dada terasa sesak, gelisah dan jantung malah terasa terhenti, kenyataan telah terjadi, kematian tak dapat dihindari lagi, orang tuanya sama sekali tak selamat.


Entah mengapa mendadak angin berembus kencang, membawa perasaan duka lebih tinggi lagi, membawa jiwanya pada beban kenyataan yang terasa lebih sakit lagi. Belum siap Nurvati menerima semua realitas perih ini, mentalnya belum sanggup untuk begini, akibatnya seluruh energi dalam diri Nurvati membentuk hormon depresi yang diedarkan pada seluruh pembuluh darah, menggerakan kedua tangannya terangkat, lalu jemarinya memegang kepalanya begitu erat.


“Ini ... terasa menyakitkan.”


Sepenggal kalimat yang digaungkan Nurvati itu berasal dari hati mungilnya, menandaskan bentuk hatinya yang seakan telah hancur, benar-benar senak di dada dan bicara begitu berat.


Tentu terlampau menyakitkan bagi Nurvati, karena orang yang dicintainya tewas di depan mata, dan perasaan bersalah ikut timbul menyengsarakan batinnya, Nurvati tak habis pikir, orang tuanya akan pergi dengan cepat. Seluruh kejadian ini ujungnya hanya menjadi masa lalu yang kelam, sebuah kenangan yang lebih banyak deritanya.


Falas tak dapat banyak berbuat, hanya tetap merangkul Nurvati penuh iba, berharap Nurvati memiliki kekuatan untuk jiwanya tetap tegar.


Malam itu, dua anak Peri, hanya meratap bersama waktu yang apatis pada peristiwa bersejarah itu, kehampaan serta rasa bersalah menjerat jiwa Nurvati dan berpacu bersama hari yang berganti.


Di siang hari yang terik, seluruh korban perang dimakamkan di tempat yang sama, entah itu warga sipil atau pun anggota militer, semuanya dimakamkan di lokasi yang sama sekaligus mendapat penghormatan yang sama.


Kejadian mengerikan itu sangat membekas di benak semua orang, kehilangan sanak saudara, kehilangan kekasih dan menjadi yatim, atau menjadi hampa, semua menanggung penderitaan, ada yang tulus menerimanya, ada pula yang dendam. Informasi valid tentang perang saat itu belum didapat, terus diselidiki hingga saat ini.


Nurvati kini terpaksa tinggal bersama kakek dan neneknya, tinggal di rumah yang berada di sudut kota, sebuah rumah yang sama mewahnya dengan rumah-rumah ras Peri pada umumnya. Kendati masih memiliki keluarga, itu tak menjadikan Nurvati bisa kembali tenang, bahkan, dirinya semakin kacau, jiwanya masih merasakan kehampaan dan kini jauh lebih menyakitkan. Ia ragu apa bisa hidup lebih lama lagi, bertahan hidup hanya untuk menikmati hidup.


Beban moril dalam jiwa Nurvati, membuatnya mengundurkan diri dari sekolah, ia tak mau lagi bersekolah, baginya, motivasi hidupnya telah mati bersama orang tuanya yang mati, dukungan moril dari ketulusan orang tuanya, tak dapat lagi ia rasakan, apalagi ejekkan dari orang-orang semakin mendorong jiwanya untuk lebih tenggelam pada deritanya, sedangkan kakek neneknya terlalu masa bodoh. Tak ada harapan kedua setelahnya, semua terkesan omong kosong, mental Nurvati tak sanggup menerima semua kehidupan kali ini.


Dua bulan berlalu bersama kepasrahan Nurvati menerima semua kenyataan hidup, rutinitasnya kembali pada pohon salju di dalam hutan, kembali menyendiri menikmati kesepian.


Untuk kerajaan ras Peri, telah melayangkan surat penting pada ras Barqo, lebih dari itu, utusan kerajaan dikirim pada ras Barqo, demi menguatkan pernyataan penting bahwa ras Peri sama sekali tak pernah memerintahkan pasukannya untuk menyerang alam Barqo.