Nurvati

Nurvati
Episode 125: Di Sini Masih Mengalun Dalam Mimpi-Mimpi.



Pertarungan sengit masih menampakkan dalam kenyataan, pertarungan yang dalam setiap perspektif pribadi adalah sebagai pengabdian pada identitas hidup.


Kini di ketinggian 70 meter di area terbuka, Dewi Karunia terus menyabet serta menebas Nerta yang masih mampu menepis segala serangan dengan tongkat kujangnya, disertai tembakan bola-bola energi dari tiga bocah peri pada Dewi Karunia dan hebatnya, Dewi Karunia pun masih mampu menangkis segala bola cahaya dengan ke dua sayapnya, 'Bwaf' 'Buaf' 'Tang' 'Tang' 'Buaf' 'Bwaf' 'Tang' 'Tang'.


Waktu bergulir bersama setiap gerakan para pribadi dalam pertarungan itu, serangan dan elakan yang terlihat begitu cepat hingga angin bertiup-tiup di sekeliling mereka, suasana ketegangan belum memudar sama seperti aroma pering yang eksistensinya masih menyengat.


Dewi Karunia menyabet dengan katana di tangan kanannya dan 'Tang' malah beradu dengan tongkat kujang Nerta yang diputar-putar tersus di depannya, lalu katana di tangan kiri sang Dewi pun ditebaskan pada Nerta, namun 'Tang' kembali beradu, berhasil ditangkis oleh tongkat kujang Nerta.


Gorah, Quin serta Darko terus mencecar Dewi Karunia dengan tembakan bola-bola energi, 'Bouff' 'Bouff' 'Bouff'.


Akan tetapi, 'Buaf' 'Bwaf' seluruh bola-bola energi itu sanggup ditepis oleh ke dua sayap Dewi Karunia.


Pertarungan di sana memakan waktu cukup lama, sampai-sampai Arista telah kembali dengan menyelia dalam waswas pada kejadian itu. Dirinya terbang agak jauh agar terhindar dari kemungkinan buruk yang terjadi, terbang di atas pohon, pun sorot cahaya netranya telah padam.


Seluruh rekannya sibuk berjuang mengalahkan Dewi Karunia.


Dia, sang Dewi Surgawi itu bertarung penuh semangat, yang kini bertarung seirama demi cinta dan pengabdian, segala senyuman yang dulu mengembang untuknya, menguatkan mentalnya. Karena demi cinta dan pengabdian, segala kasih sayang dan pemberian yang dulu melambungkan senangnya kini mengukuhkan tekadnya. Dan Demi cinta serta pengabdian, anaknya serta suaminya yang dulu hidup di sisinya membentuk sebuah kekuatan batin.


Maka dalam gairah menghancurkan, Dewi Karunia mengekspresikan semangatnya. “HYAAAAAAAAT ...!”


Segenap emosi yang berpadu mesra kini mendorongnya menggunakan semua kekuatannya, 'Siuw' melesat cepat Dewi Karunia mundur ke belakang, mengambil jarak aman demi memaksimalkan serangan berikutnya.


“Kalian sudah menghancurkan hidupku!” ujar Dewi Karunia hingga berada 20 meter menjauh dari para bocah sok kuat itu.


Akan hal itulah seluruh bocah berhenti menyerang, menyelia penuh kesiapan akan apa yang hendak dilakukan sang Dewi Karunia.


Sekonyong-konyongnya Dewi Karunia malah berteriak kesakitan.


“GYAAAAAAAAAAAAAAA ...!”


Secara refleks di sana keempat anak mengernyit kening kebingungan, udara kini berubah.


“Dengan karunia-Nya, terbukalah napas sang jin!”


Lalu 'BOOMM' angin memecah di sekeliling Dewi Karunia, menghempaskan segala yang di dekatnya, dua katananya pun hancur berkeping-keping.


Bukan itu saja, wujudnya berubah!


Api kelabu di kepalanya jadi membesar dan ekor merah dengan ujung yang berapi nuansa kelabu nampak berkantaran, pun matanya semakin membulat.


“Kalian harus merasakan derita kami ...!” sentaknya dengan kemurkaan.


Dan 'Siuw' melesat sangat cepat Dewi Karunia pada keempat anak.


Dia menyerang dengan tinjuan-tinjuan yang cepat yang sulit untuk ditangkis.


'Buak' 'Tap' 'Buak' 'Tap' 'Buak' serangan-serangan dari tinjuan Dewi Karunia sangat cepat hingga beberapa tinjuan mengenai wajah keempat bocah itu, walau mereka pun mampu menepis beberapa tinjuan, akan tetapi, mereka tetap tak dapat mengelak dari serangan Dewi Karunia.


'Buak' 'Siuw' 'Tap' 'Buak' 'Siuw' 'Tap' tinjuan berhasil mengenai wajah Gorah, tapi di satu sisi ditepis oleh Quin, lalu tinjuan mengenai wajah Nerta dan di satu sisi ditangkis oleh Darko, kembali lagi tinjuan kini mengenai wajah Quin kemudian di sisi lain tinjuan ditangkis Gorah, hanya saja Darko berhasil dihajar oleh Dewi Karunia hingga di sisi lain Nerta mampu menepis tinjuan, 'Buak' 'Tap' 'Buak' 'Tap' 'Buak'.


Segala ingatannya menjadi cambuk kejiwaan Dewi Karunia, segala kebersamaan dengan orang-orang terkasihnya yang berakhir dengan tragis mencambuk jiwanya, mendorongnya untuk memberikan kenyataan pada mereka, kalau yang dilakukannya adalah demi cinta dan pengabdian.


“Sialan ... aku tak dapat mendeteksi gerakannya!” keluh Gorah dengan bingung.


Lalu 'Buak' tinjuan mengenai wajah Gorah.


“Gawat ...,” gumam Quin celingak-celinguk kewalahan.


Kemudian 'Buak' tinjuan mengenai wajah Quin.


“Dia jadi sangat cepat!” sambung Darko panik.


Lantas 'Buak' tinjuan berhasil menghantam wajah Darko.


“Jika memang benar ... maka cinta pada keluarganya dan mengasihi koloninya, membuat dia semakin cepat ...,” ungkap Nerta dengan keseriusan penuh.


'Buak' satu tinjuan berhasil mendarat di wajah Nerta.


Dan 'Buak' 'Buk' 'Buak' 'Buk' pukulan-pukulan cepat nan keras berhasil mendarat indah pada setiap wajah mulus keempat bocah, tak dapat lagi dielakan, tak dapat membalas, kecepatan sang Dewi Karunia laksana embusan angin; tak dapat diterka. Bahkan sedetik langsung kembali terpukul, mereka menanggung lagi pukulan, saat ingin menyerang, mereka terpaksa menahan sakit.


Telah dibuat kewalahan dan pasrah keempat bocah oleh serangan cepat sang Dewi Karunia.


Membiarkan Dewi Karunia melampiaskan segala kemurkaannya, bahkan bukan sekadar itu, dirinya hanya melindungi harga diri dan identitasnya, identitas koloninya, karena itulah dia wajib menghukum anak-anak tengil itu.


Akibatnya, terus terjadi serangan Dewi Karunia yang berkesinambungan, secara fakta, dia lebih unggul ketimbang empat bocah Peri.


Kekhawatiran dalam diri Arista melonjak melihat teman-temannya mulai tak berdaya melawan Dewi Karunia.


“Teman-teman ...!” cemas Arista.


Maka di ketinggian 70 meteran itulah Dewi Karunia membuat keempat bocah babak belur hanya dengan kecepatan dan tinjuan.


Lebih-lebih ketika ada momen untuk membentuk perisai pelindung, perisai pelundung mereka mampu dipecahkan oleh tinjuan dari Dewi Karunia, benar-benar hanya dengan tinjuan tanpa energi.


Tentulah perisai para bocah pecah, karena bagaimana pun kemampuan mereka belum setara dengan sang Dewi Karunia.


Bukan itu saja, Nerta yang telah patah hidungnya baru menyadari kalau tongkat kujangnya hilang!


Kekhawatiran akan berakhirnya hidup mereka pun nampak kentara dalam pikiran, mengalun seolah akan jadi kenyataan dan dipaksa tak dapat berbuat apa pun.


Begitu pula Arista yang tak dapat berbuat apa pun, dia ingin menyerang lawan, namun gerakan lawan yang cepat membiaskan pandangannya, seakan-akan angin tengah berputar di sekitar kawan-kawannya.


Sehingga dalam waktu yang bekerja, segenap kegetiran semakin meresap pada sukma dan kekhawatiran semakin menjerat setiap laju aliran darah, membentuk perasaan kelesah untuk semakin menyiksa. Arista bahkan dikagetkan oleh satu persatu teman-temannya yang mulai terhunjam menuju tanah; mereka kalah.


“TEMAN-TEMAN!” panggil Arista dengan sangat khawatir.


'Wush' Arista seketika maju melesat hendak membantu teman-temannya.


Akan tetapi, hanya baru 9 meter yang sanggup dia lalui, karena tanpa diterka, 'BUK' satu tendangan kuat-kuat telah menghantam kepala Arista hingga dirinya kehilangan kesadaran, lebih-lebih Arista langsung terhunjam menuju tanah, 'Siuw' lalu 'BRUAK' terkapar di tanah menanggung luka parah, cukup parah hingga darah keemasan mengucur deras dari lubang hidungnya, sayapnya patah karena jatuh dari ketinggian 115 meter dari tanah.