
Sebuah hamparan rerumputan nuansa biru, kembali pada tempat menyendiri Nurvati, atau tempat terakhir perpisahannya dengan Falas. Waktu tetap sama seperti kepergiannya diawal. Udara sejuk berkesiuran, tapi terik siang menyengat, dan dedaunan pohon Salju bergemerisik membentuk irama tak beraturan.
Nurvati memijakan kakinya di rerumputan, ini adalah pertama kalinya Nurvati kembali berpijak di bumi dalam wujud yang diliputi cahaya ilmu, dia sudah digdaya, bahkan mampu terbang tanpa sayap.
Kini dia berdiri menghadap burung Garuda, seraya berkata, “Baiklah, aku sudah siap.”
Kesiapan itu adalah demi meraih ilmu selanjutnya; ilmu ke-Tuhan-an.
“Pertama, pengetahuan dari lapisan Bumi yang pertama, lalu seterusnya ... persiapkan mentalmu, karena ilmu ini adalah ilmu awal tengah akhir dan penyempurna dari lapisan Bumi Pertama.”
Tak menjawab, namun anggukkan mantap dari Nurvati mengisyaratkan persetujuan.
Pertama kedua sayap burung Garuda dibentangkan, lalu sinar hitam kehijauan muncul dari dadanya, lantas sinar itu masuk ke dalam kepala Nurvati, berupaya menyatu dengannya, berupaya memperkenalkan ilmu ke-Tuhan-an.
Ketika itulah Nurvati mendapat penglihatan akan seluruh kejadian awal tengah dan akhir dari lapisan bumi pertama, bahkan para penghuni hingga penjaganya pun ia melihat, begitu pula dengan nama-nama ke-Tuhan-an turut serta dalam pengetahuan ini, syukurnya, ia masih sanggup menampung banyaknya pengetahuan.
Maka setelah meresapi ilmu lapisan bumi Pertama, diberikanlah Nurvati pada ilmu lapisan bumi yang kedua, ketiga, hingga pengetahuan yang ketujuh dan semua itu seakan-akan Nurvati telah menyelami seluruh lapisan bumi. Dia telah tahu dan mengetahui sedikit rahasia seluruh lapisan bumi; umurnya, asalnya, dan akhirnya.
Tapi Nurvati sempat bergeming, dia berdiri dalam kepalan tangan menahan gejolak ilmu pengetahuan yang mulai manunggal padanya. Satu hal yang pasti, ini bukan tentang kedigdayaan, ilmu ke-Tuhan-an hanya sebatas tahu akan awal kejadian hingga akhir kejadian, lengkap bersama ilmu-ilmu yang tersembunyi di dalam bumi, dan kalau pun mau, Nurvati bisa mengamalkan ilmu itu.
Lantas berkatalah burung Garuda. “Kini, ilmu langit yang pertama, yang pengetahuannya akan jauh lebih mengejutkan dan disusul oleh yang lainnya. Jadi bersiaplah.”
Maka dari ubun-ubun burung Garuda muncul sinar putih terang benderang, pengetahuan akan langit Pertama pun mulai masuk ke dalam kepala Nurvati. Namun entah bagaimana, tiba-tiba saja bukannya tetap berdiri, Nurvati malah mendadak ambruk dan terbaring tak sadarkan diri, tepat di atas rerumputan nuansa biru.
Dia tak sanggup dalam beban pengetahuan yang masuk ke dalam tubuhnya, terbaring di sana tanpa tahu apa yang baru saja terjadi pada siklus hidup di sekitarnya, angin berdesir, waktu tetap berputar. Pandangan Nurvati gelap tak sadar. Mentalnya tak kuat.
Hingga saat kesadaran kembali pada diri, ketika entah sudah berapa menit terlampaui, terdengar adanya seorang pria dewasa yang menyeru Nurvati untuk sadar.
“Nurvati, sadarlah ... Nurvati.”
Untungnya, Nurvati mulai sadarkan diri, ia perlahan mulai kembali bangkit untuk berdiri. Tanpa disangka-sangka di samping burung Garuda telah berdiri seorang Peri laki-laki, kedua sayapnya bernuansa biru langit, mengenakan jubah nuansa putih namun begitulah, tubuh pria ini pun bercahaya, wajahnya diliputi sinar putih terang benderang sebagaimana Peri berilmu tinggi pada umumnya.
“Ketua Hamenka,” kata Nurvati sambil bernamaskara dalam takzim.
Benar, pria berumur 50.111 tahun itu adalah Ketua Kehormatan akademi 'ke-Malaikat-an'; Guru Nurvati. Ketua Kehormatan Hamenka.
* * *
“Hampir saja kamu menjadi gila ...,” ungkap Ketua Hamenka.
Nurvati yang telah bangkit berdiri dan menghadap Ketua Hamenka memandangnya dalam kebingungan sembari berucap, “Sepertinya begitu ... untung saja ketua cepat datang.”
“Nurvati, apa yang sebenarnya kamu niatkan, bukankah kamu bergabung dalam akademi adalah untuk menjadi malaikat?” selidik Ketua Hamenka, telah sadar ada niat lain dalam diri Nurvati.
Bersama angin yang berkesiuran, Nurvati menjawab, “Iya, tapi ... aku juga punya dendam, jadi aku mencoba menguasai ilmu ke-Tuhan-an dan ilmu Hikmah secara bersamaan.”
Mendengarnya, Nurvati hanya kelu dalam merenungi apa yang baru saja terjadi.
“Bapak sudah kembalikan ilmu langit yang pertama pada alamnya, kamu sudah melenceng dari tujuan awalmu, bukankah kamu bergabung dalam akademi ke-Malaikat-an adalah agar kamu menguasai ilmu ke-Tuhan-an lalu diharapkannya diangkat sebagai Malaikat?” tutur Ketua Hamenka.
Nurvati tumungkul merasa malu tapi hanya sedikit merasa bersalah.
“Malaikat Rahmat telah memberi pesan pada bapak, kalau kamu bawa-bawa nama bapak demi menguasai ilmu Hikmah, kamu lupa dengan peraturannya ya ... kamu boleh bawa nama bapak, tapi dengan tujuan pengangkatan diri sebagai malaikat, bukan untuk kedigdayaan,” singgung Ketua Hamenka.
Dalam terik siang, Nurvati kembali mengangkat wajah bercahayanya, memandang Ketua Hamenka dengan perasaan yang tak terima, tak terima karena bagi Nurvati dia punya hak untuk menentukan hidupnya, hingga Nurvati pun berani menyindir, ”Lalu bagaimana dengan bapak? Bukankah bapak juga memiliki ilmu Hikmah?“
”Sudah ada perjanjian antara bapak dengan penghuni Langit, bapak memang sudah ditunjuk sebagai pembimbing kalian, ini dilakukan agar tak ada campur tangan sang Iblis,“ bela Ketua Hamenka.
”Dan kamu sudah melanggar perjanjian, kamu bawa-bawa nama bapak demi ilmu kedigdayaanmu itu,“ lanjut Ketua Hamenka tak terima.
”Habisnya Malaikat Rahmat menanyakan perihal nama untuk mendapat ilmu Hikmah ini,“ keluh Nurvati masih mencoba membela diri.
“Nah, makanya kalau tidak tahu ilmunya jangan gegabah dan malah menggunakan prasangka apalagi dendam, ujung ilmu Hikmah yang kamu kuasai itu hanya akan membawamu pada sifat Iblis, sebab kamu niatnya untuk balas dendam,” tegur Ketua Hamenka.
“KETUA TIDAK MENGERTI! BILA AKU TIDAK MEMBALAS PERBUATAN RAS BARQO PADA ORANG TUAKU, ITU SAMA SAJA AKU MEMBIARKAN HUKUM DIINJAK-INJAK!” sentak Nurvati dan seketika hilang rasa takzim pada sang Ketua.
Tak ditanggapi komplain Nurvati, namun Ketua Hamenka memberi informasi penting, dilakukan agar Nurvati mampu memahami ketidaktahuannya.
”Perlu kamu ketahui, Malaikat Rahmat bertanya nama seseorang adalah tujuan ilmu seperti apa atau siapa yang ingin kamu kuasai, jika kamu menggunakan nama bapak, maka ilmumu tak lepas persis seperti bapak, jika kamu menggunakan namamu sendiri, itu akan tergantung keberuntunganmu ... bapak tahu, di alam Pertama kamu mendapat tiga ilmu Hikmah, terangkum dalam Ilmu Petir, yang pertama, Pedang, Kecepatan, dan Penyatuan, benar begitu?“
Nurvati diam, karena apa yang dikatakan Ketua Hamenka adalah benar adanya, Nurvati memang memiliki ilmu itu, dan bisa saja ilmu Hikmah Nurvati sama persis seperti Ketua Hamenka.
Nurvati tak tahu akan begini, dia kira dengan mengatas-namakan Ketua Kehormatan tidak menjadi masalah. Setahu Nurvati, ibunya dulu pernah berpesan bahwa ilmu Hikmah bisa dikuasai siapa saja, dan diberikan langsung oleh Malaikat Rahmat, tetapi sayangnya sang ibu belum pernah memberi tahu bahwasanya untuk menguasai ilmu Hikmah harus mendaftarkan diri terlebih dulu, dan bodohnya Nurvati malah melanggar aturan hanya demi dendamnya.
”Ya sudah, kalau kamu sudah memiliki ilmu Hikmah, maka kamu tak dapat menjadi Malaikat, kalau pun benar kamu ingin menjadi malaikat, kamu harus menghilangkan ilmu Hikmah-mu itu dan segera memurnikan diri lagi, kecuali kamu memiliki takdir ...,“ jelas Ketua Hamenka.
Dan Nurvati masih kelu mendengarkan dengan saksama. Pada dasarnya ia memang salah dan mulai memikirkan perbuatannya.
”... lalu datang lagi ke akademi, dan kuasai ilmu ke-Tuhan-an secara benar, dan untuk dendam yang kamu anggap hukum, sebaiknya kamu renungkan kembali, sebab penyerangan yang dilakukan ras Barqo, berkat bangsa Siluman yang mengadu domba,“ imbuh Ketua Hamenka dengan tegas.
Tak butuh waktu lama, Ketua Hamenka berpamitan lantas mengepakkan sayap, melesat terbang kembali pulang.
Dan bersama suasana yang damai dalam kesejukan, kini di tempat itu hanya terdapat Nurvati serta burung Garuda yang masih berdiri saling berhadapan. Dan hanya mematung yang Nurvati lakukan, tak tahu harus berbuat apa lagi, namun perasaan terasa buruk.
”Nurvati, mentalmu belum sanggup menerima dua ilmu sekaligus ... jadi, aku akan kembali ke alamku, tapi jika mentalmu sudah kuat, kamu panggil saja aku kembali.“
Keadaan semakin diperburuk oleh kepergian sang Garuda, padahal masih ada setitik asa pada diri Nurvati untuk menguasai ilmu ke-Tuhan-an secara cepat. Burung Garuda pamit, kemudian pergi, dan akhirnya hanya menyisakan Nurvati seorang diri di tempat itu, berdiri seperti hilang akal, menanggung malu tapi juga kelesah. Nurvati gagal menguasai ilmu ke-Tuhan-an secara paripurna, kecuali ilmu ke-Tuhan-an dari lapisan Bumi yang syukurnya sudah manunggal padanya.