
Siluman telah tewas dengan tubuh yang mulai menghitam arang dan bersama tongkat kujang Nerta yang dicabut, keempat kawannya mulai terbang menghampiri, terutama Arista yang begitu buru-buru dalam panik dan khawatir.
Nerta berlutut dengan dua lutut, membiarkan Arista menyembuhkannya kembali.
Arista berdiri di belakang Nerta, tangan kanannya ditempelkan pada kepala Nerta dan mulai menyalurkan energi pemulihan.
Quin, Darko serta Gorah telah berdiri di samping kiri jasad siluman ular kobra, mereka memandang serius pada sekujur tubuh siluman ular itu.
“Kami tidak menyangka, kau bisa mengalahkannya ... padahal tongkatmu tadi dicuri,” kata Quin agak kagum dengan tak menduga.
Perlahan wajah Nerta yang semulanya berdarah, mulai hilang darahnya dan walau menanggung sakit yang teramat, dirinya masih sempat menyunggingkan senyum tenang dengan memandang lekat-lekat pada tongkat kujangnya, lantas berujar, “Iya ... gara-gara kemampuan racun yang ada ditongkat ini ... ayahku memberi tahukan caranya agar empat energi mampu bersinergi dan nantinya bisa memunculkan racun yang membekukan lawan ....”
Kemudian dengan memandang teman-temannya di depan, Nerta melanjutkan lagi ucapannya, “... tadinya ... aku ingin membekukan lawan dengan energi kuning, tapi konyolnya ... aku lebih ingin mengejutkan siluman dengan racun.”
Quin serta Darko mengangguk-angguk mengiakan. Sedangkan Gorah berkata, ”Kalau begini 'kan enak ... Nerta saja yang nanti bertarung kalau ada siluman lagi ... kita jadi pembantunya ... ya tidak teman-teman?“
Sontak Darko serta Quin memandang Gorah dengan penolakan.
”Eh? Tidak begitu konsepnya,“ protes Quin.
”Ya, tidak begitu,“ sambung Darko.
”Loh ... dia 'kan punya tongkat sakti itu ...,“ bela Gorah dengan santai.
Sementara tiga temannya beradu argumen, wajah, khususnya hidung Nerta mulai pulih kembali dan secara ajaib, dalam 3 detik bergulir, dirinya pulih kembali, kembali normal.
Arista pun melangkah ke samping Nerta, dengan Nerta yang mulai mengambil cincin emas dari jari kelingking siluman ular kobra dan dengan bangkit berdiri dia mencoba memasukan cincin itu pada jari kelingkingnya sendiri.
Tapi cincin malah disematkan pada jempolnya, bukannya apa-apa, cincin itu cukup besar bila dilingkarkan pada kelingkingnya.
Maka Nerta pun mengepak sayap, terbang menuju sel tahanan anak-anak sembari mengajak kawan-kawannya. ”Ayo kita selamatkan anak-anak lainnya.“
Arista pun ikut terbang, terlebih perdebatan konyol tiga teman lainnya langsung berhenti, mereka ikut terbang menuju tempat yang dituju.
Dalam sela waktu yang dingin, langit malam nan indah dengan angin mengalun bersilir-silir, ke lima anak telah berdiri dengan hati kelesah dan kenyataan yang harus ditanggung pahit.
Sangat hening ketika disadari kalau suara-suara aneh tak lagi bergema, bahkan pertarungan Zui dengan tenggiling sepertinya telah usai, membentuk sepi dalam dinginnya malam di hutan Kematian.
Ada saat-saat di mana ke lima anak berdiri bertafakur, kematian bocah yang begitu tragis menggugah rasa empati, dan itu juga memunculkan rasa sesal yang dalam pada setiap anak.
Tubuh bocah Peri laki-laki telah terbujur hancur yang tak sanggup ditatap lama-lama oleh Arista serta Darko. Mereka berdua memalingkan muka.
”Banyak anak-anak yang gagal kita selamatkan ...,“ ungkap Nerta dengan raut muka masam dan mengeratkan genggaman tangan kanannya pada tongkat kujangnya; ekspresi sesalnya.
Nerta mulai menyelamatkan anak-anak yang dipenjara, anak-anak itu dibaringkan sementara di atas akar pohon.
Tentulah teman-teman Nerta membantunya, mereka yang menjaga serta membawa anak-anak itu pada tempat yang sekiranya aman.
Ketika 9 anak telah ditempatkan pada akar pohon, Nerta mulai menyelamatkan sisa anak-anak lainnya yang berada di kotak sel tahanan lainnya.
Dari sel satu ke sel dua, dari sel dua ke sel tiga dan terus menyelamatkan anak-anak lainnya dari sel ke sel.
Mereka tengah fokus menyelamatkan, sedangkan Zui tengah sibuk bertarung dengan tersisa beberapa ekor siluman laba-laba lagi. Di atas batang pohon yang di kelilingnya bergelimang jasad-jasad para siluman, Zui dengan sebilah pedang menusuk seekor siluman laba-laba, lalu 'Bruk' siluman itu tewas.
Tapi tiba-tiba saat seekor siluman laba-laba muncul dari belakangnya, melompat dari titik butanya, secara tak terduga, dua sayap Zui berubah seperti bilah pedang yang dengan itulah tubuh siluman laba-laba ditusuk hingga tewas, lantas 'Bruak' dijatuhkan di atas puluhan jasad siluman lainnya.
Pertarungan sudah berakhir. Zui berhasil melibas puluhan siluman dari berbagai jenis, kini dirinya sejenak berdiri melepas penat, lelah dalam mental, tapi tidak dalam fisik.
Sorot matanya yang memancar cahaya terang lurus memandang ke depan pada pepohonan yang tumbang, bukan untuk menilik apa masih ada siluman atau tidak, melainkan dirinya berdiri tegap memang benar-benar ingin menikmati sejenak diamnya setelah banyak bergerak bertarung.
Bersama semilir angin berbau pering, Zui mulai terbang pada jasad siluman tenggiling, tepat pada anak-anak yang terjerat jaring laba-laba di perut para tenggiling.
'Tsrat' 'Tsrat' maka dipotonglah jaring-jaring yang membungkus belasan anak-anak itu, Zui mulai menyelamatkan atau membawa anak-anak yang memungkinkan masih bernyawa dan bagi yang tewas, harus terpaksa ditinggalkan.
Zui sendiri tidak tahu apakah kelima anak yang datang bersamanya selamat atau tidak, tapi seyogianya dia memprioritaskan menyelamatkan para korban.
Di malam nan dingin yang kelam akan aura kematian, Zui, Arista, Darko, Gorah, Quin serta Nerta mereka terpaksa menghabiskan sisa malam dengan menyelamatkan puluhan anak-anak yang diculik.
Zui membawa anak-anak yang diculik langsung pada tempat yang aman; di rumah kawannya dengan pintu teleportasi. Sedangkan kelima anak hanya mampu membawa anak-anak yang diculik pada akar pohon dengan kemungkinannya aman dan hanya sementara.
Hutan Kematian masih banyak menyembunyikan markas siluman lainnya, atau menyimpan anak-anak yang diculik dari berbagai bangsa.
Sangatlah luas hutan Kematian ini, berhektare-hektare membentang pada daratan, tempat siluman-siluman kuat berkumpul, berkonspirasi serta berkonsolidasi, memang tak hanya di hutan Kematian mereka bertemu, diberbagai tempat pun melangsungkan pertemuan. Akan tetapi, mengingat hutan Kematian mampu meredupkan cahaya Peri dan menyesatkan berbagai makhluk, tempat ini cukup strategis demi melakukan pertemuan.
Pernah direncanakan hutan Kematian untuk dibabat, tetapi risikonya terlalu bahaya untuk ditanggung.
Legenda mengatakan, telah terjadi perang besar dua kerajaan peri dengan segala waktu yang habis tak pernah menyurutkan dendam mereka, perang yang banyak memakan korban jiwa, membuat hutan itu disebut hutan Kematian, namun ketika ke dua raja saling bertempur lalu disaat detik-detik akhir ajal mereka, kutuk-mengutuk malah mereka lakukan, bersumpah serapah demi kemenangan mereka sendiri, sehingga seorang laki-laki sang penjaga hutan atau disebut juga sang Dewa Pembawa Maut, itulah yang malah mengutuk dua raja itu, mengutuk pula hutan Kematian. Agar roh dari dua raja yang bertempur itu terjebak selamanya di hutan Kematian dan membuat hutan Kematian menjadi gelap gulita sehingga dengan kegelapannya mampu memadamkan cahaya Peri, dilakukan supaya tak ada lagi ras Peri yang bertempur di hutan Kematian.
Kendati begitu, beberapa cerita rakyat justru mengatakan hutan tersebut dinamakan hutan Kematian adalah gegara sang Dewa Hutan mengutuk hutan itu. Faktornya disebabkan dua kerajaan yang memerangi sang Dewa Penjaga Hutan, dua kerajaan memerangi sang Dewa karena sang Dewa Hutan telah ikut campur dalam perkara perjodohan putra dan putri dua kerajaan itu, yang mana putra dan putri dari masing-masing kerajaan enggan dijodohkan, membuat sang Dewa selalu menyembunyikan serta menjauhkan putri dan pangeran dari keluarganya.
Hingga dengan kutukannyalah dua pasukan kerajaan ras Peri itu hilang ditelan kegelapan lengkap bersama raja dan ratu mereka, sedangkan dua anak kerajaan yang hendak dijodohkan itu kembali pada kehidupan yang mereka harapkan. Tapi konyolnya ujung kisah itu pangeran dan putri yang berbeda kerajaan tersebut malah menikah dan terbentuklah ras Peri bangsa Timur.
Entah sejarah mana yang benar, namun pastinya, para siluman malah memanfaatkan kutukan itu demi keuntungan golongan mereka sendiri.