
Suasana di depan lingkungan panti asuhan tengah memanas, panas oleh amarah warga.
Ibu Sasvaty bangkit dari berlutut menggiring Falas menuju dua perawat di belakangnya, seraya berkata, “Sudah Falas, ini urusan ibu ... kamu temani saja anak-anak.”
“TIDAK IBU! TIDAK ... MEREKA YANG SALAH!” sergah Falas agak berontak namun tetap dibawa paksa oleh dua perawat, dibawa ke dalam panti asuhan.
Panti asuhan area Selatan, memiliki bentuk bangunan seperti huruf 'U' bila dipantau dari atas, Falas digiring masuk oleh dua perawat wanita, meski ada sedikit perlawanan, tapi, itu percuma, Falas tetap dibawa.
Sementara di sana, ibu Sasvaty tengah berdiri berhadapan dengan warga, berdiri dalam keseriusan dan lara —bukan— sang ibu Sasvaty menatap para warga dengan serius dan kesiapan mental. Pandangannya tajam pada seluruh netra yang memandangnya.
Sasvaty paham betul apa yang dirasakan oleh para orang tua ini, bukan hanya paham, tapi sadar, tentu saja sadar, karena sebagai orang tua, dia pun tak ingin anaknya ditindas, segala yang terbaik pasti akan dilakukan demi anaknya.
Dalam perspektif warga, para orang tua memang hanyalah orang tua, menyayangi serta melindungi anak-anak mereka adalah sebuah kewajaran, yang pastinya, tetap menginginkan mendapat keadilan atas apa yang telah dilakukan anak-anak panti asuhan itu terhadap anak mereka.
Ketika seseorang yang disayangi dan dirawat penuh kasih telah dilukai, sisi kejiwaan yang disebut empati akan mendorong mereka untuk mencapai pembalasan, dan itu pun wajar, sebab pembalasan itu adalah hukum.
Mereka punya persepsi, benar, persepsi yang membentuk mental sekaligus pola pikir, bahkan persepsi itu bisa saja menjadi kekuatan demi mencapai keadilan, atau juga mampu mendorong hasrat melakukan hal yang salah, tapi sekali lagi, mereka hanyalah seorang ibu.
Mereka paham betul bahwasanya para anak yatim hanya mentang-mentang anak yatim, lalu bisa melakukan seenaknya, tentu saja bagi mereka itu tidak adil!
Begitulah, dalam persepektif kejiwaan yang berbeda, yang sama-sama melindungi hal yang paling berharaga dalam hidup mereka.
Dan bersama siang nan cerah, seluruh marah itu tiba-tiba tersekat akan apa yang dilakukan Sasvaty, atau, boleh dikatakan, terkagetnya oleh perbuatan 'sang ibu' demi melindungi anak-anaknya.
“Kalian ... hanyalah sama-sama para orang tua yang tak ingin anaknya ditindas ...,” tutur ibu Sasvaty.
Dan tiba-tiba ibu Sasvaty berlutut dengan dua lutut, sembari mengulur kedua tangan dalam kepasrahan.
Maka dalam yakin, lantang dan mantap, ibu Sasvaty kembali berujar, “Tolong ... biar saya saja yang menerima hukumannya.”
Seperti ditampar oleh kenyataan, seluruh warga bergeming membisu, mereka malah diam oleh keputusan ibu Sasvaty yang cukup impresif itu, hening bahkan sempat terjadi, dan itu cukup lama sampai seorang ibu berambut merah muda yang berdiri di depan Sasvaty maju ke depan.
“Baiklah kalau memang itu mau Anda,” ujar seorang ibu berambut merah muda tak keberatan dan tak sedikit pun merasa iba, justru dia merasa jijik pada Sasvaty. Jijik, karena Sasvaty menampung anak-anak 'haram' yang nyatanya Sasvaty sok pahlawan, padahal itu bejat.
Sebuah keputusan yang menuai banyak komentar, kebanyakan para ibu setuju menghukum Sasvaty, namun hanya sedikit yang menentang.
“Itu tidak adil,” sela salah satu ibu-ibu yang dalam persepsinya menghukum yang bukan pelaku adalah tidak adil.
“Ya! Ini tidak adil namanya!” sahut beberapa ibu lainnya menolak keputusan ibu berambut merah muda.
“Ini adil! Karena kita menghukum yang mau bertanggung jawab!” sentak ibu berambut merah muda yang dalam persepsinya menghukum pihak bertanggung jawab adalah sama adilnya.
“Iya benar!” timpal beberapa ibu yang sependapat dengan ibu berambut merah.
“Jadi dimohon, kalau ibu-ibu sekalian tak mau mengadili ... pergilah dari sini, agar supaya aku bisa menghukumnya!” pinta ibu berambut merah muda.
Beberapa ibu-ibu yang tak sepaham itu hanya menggeleng kepala, lalu menuntun seluruh anak untuk pergi dari tempat itu, karena bagaimana pun ini tak baik bagi kesehatan mental para anak.
Maka bagi mereka yang tak sepaham dengan ibu berambut merah muda, pergi, dan bagi mereka yang sepaham dengan ibu berambut merah muda tetap bertahan. Bagi yang tak sepaham, mereka berpikir lebih baik anak-anak mereka pindah sekolah ketimbang bersama para anak-anak 'aneh' itu.
Hari itu, ibu Sasvaty dihukum oleh warga yang merasa tertindas atas perlakuan anak-anak panti asuhan. Tak menyesal dan tak membenci, Sasvaty hanya burusaha melindungi yang paling penting dihidupnya.
Kecemasannya mulai terlepas kala pintu emas telah didedah, dan itu oleh ibu Sasvaty yang diantar oleh seorang perawat. Refleks dalam kecemasan seorang anak pada ibunya, Falas buru-buru menghampirinya.
“Ibu, apa yang terjadi?” resah Falas dengan menilik ibunya baik-baik.
Maka berlututlah ibu Sasvaty dengan menghadap putra satu-satunya itu sambil memegang bahu Falas dengan tujuan menyampaikan isyarat baik-baik saja.
“Tidak apa-apa Falas, tenang, santai saja ... meraka sudah memaafkan anak-anak,” tutur ibu Sasvaty dengan santai dan tersenyum tenang, terlebih netra merahnya nampak begitu teduh.
Falas merenung sesaat, netra birunya menatap lekat-lekat diri ibunya, dia agak kurang yakin dengan kondisi ibunya ini. Namun demikian, ibu Sasvaty bangkit berdiri, dia menampilkan kesan ceria nan baik-baik saja, malahan raut muka damainya mampu menyembunyikan luka dan beban morilnya.
“Nah ... kamu tumben datang ke panti asuhan, biasanya jalan-jalan jauh?” tanya ibu Sasvaty mengalihkan topik bicara.
Falas tak melihat adanya luka atau semacamnya, dia lalu mengembangkan senyum penuh syukur dan raut muka cemasnya berubah ceria, seraya berujar, “Ya ibu ... aku baru pulang dari hutan Pelangi, di sana memang warna-warna rumput dan daun-daun di sana bagus-bagus!”
”Jadi kamu main jauh lagi ya ...?“ balas Sasvaty dengan berjalan menuju meja kerjanya.
”Itu bukan main jauh-jauh ... itu semacam petualangan!“ bela Falas dengan polos nan ceria dan berkacak pinggang sebagai bentuk rasa bangganya.
Mendengar pembelaan anaknya, ibu Sasvaty hanya tertawa kecil atas reaksi santainya menyikapi Falas.
”Hehehe ... selalu dan selalu berapologi ya?“
”Tapi tenang ibu ... aku kemari akan membantu ibu untuk menjaga anak-anak panti,“ ungkap Falas dengan ceria bersungguh-sumgguh.
”Oh ... ya sudah ... sekarang temani mereka, ibu mau rapat bersama para perawat,“ beber Sasvaty.
Tak bicara, Falas hanya tersenyum hingga gigi putih ratanya nampak kentara. Hingga akhirnya dia pun beranjak pergi meninggalkan ibu Sasvaty, menuju anak-anak panti asuhan.
Panti asuhan area Selatan memiliki jumlah 20 anak yang dirawat, lima anak seusia Falas dan sisanya masih terbilang cilik, bahkan bayi dan oleh karena anak-anak yang masih terbilang belia itulah menjadikan Sasvaty sangat fokus untuk panti asuhan ini, sedangkan sisa panti asuhan lainnya dipantau sebulan sekali, dan anak-anak di sana pun sudah mulai beranjak remaja, namun tetap saja, kebencian antara perbedaan ras masih membentuk konflik.
Gedung ini memiliki dua lantai, terbuat dari berlian merah, dan terbuat juga dari batu permata Serendibite, lima anak panti asuhan tengah berkumpul di atap gedung.
Anak pertama berwujud seperti kelelawar, tetapi tidak memiliki sayap, tubuhnya diliputi bulu hitam, dia laki-laki.
Anak kedua berwujud seperti manusia setengah ular, dia laki-laki.
Anak yang ketiga berwujud manusia dengan kuping yang ujungnya runcing netranya seputih awan, dia perempuan.
Yang keempat berwujud seperti manusia dengan tubuh besar berkulit seperti sisik kadal, dia anak perempuan.
Sedangkan yang terakhir, dia berwujud seperti harimau dengan badan seperti badan ular, dan dia perempuan.
Dan Falas kini tengah menghampiri ke lima anak-anak itu, tersenyum tenang dan sambil melangkah dia menyapa, ”Hai ... teman-teman.“
Seluruh anak nampak riang gembira, menyambut Falas dengan senang hati.
”Falas ...,“ seru beberapa anak.