
“Rasa suka ... ya, saya suka dengan Pangeran Awarta ...,” jawab Putri Kerisia tanpa penjelasan yang eksplisit, bahkan tetap tenang dan jujur tanpa sungkan.
Lalu hening menyelimuti suasana untuk beberapa saat, raja dan ratu bangsa Selatan termangu mendengar pernyataan Putri Kerisia. Namun untuk memastikan sejauh apa perasaan Putri Kerisia berkembang, ratu kembali bertanya, “Apa kamu juga mencintai Pangeran Awarta?”
Tatapan Putri Kerisia kini tertuju pada sang ratu, tajam dan santai, seraya kembali menjawab, “Untuk saat ini, tidak ....”
Lagi-lagi kalimat singkat, tanpa penjelasan yang jelas. Namun karena memang tak mau membuat Putri Kerisia jadi tak nyaman, raja dan ratu enggan menanyakan lebih jauh hal yang terasa sensitif itu. Walau dalam kerahasiaan mereka sebenarnya hanya ingin mengetahui apakah terjadi pertengkaran atau bagaimana, yang jelas adanya perasaan curiga dan tanya yang sulit dihindari kini harus terpaksa disekat dalam batin.
Pembicaraan kembali berlanjut, hanya bincang-bincang sebatas orang tua Putri Kerisia, Pangeran Azer dan perang dunia ke-18, sisanya bincang-bincang sebatas formalitas semata.
Selepas itu Putri Kerisia bersama orang-orangnya kembali ke kerajaan Awan bangsa Barat, dan itu tiba di malam hari. Tetapi mengingat Putri Kerisia adalah seorang ras Peri sehingga dia tak melakukan tidur, melewati malam berbintang dengan berdiri bersedekap tangan di sudut kamar mewahnya, ini rutinitas sehari-harinya; melakukan semadi.
Faktanya Putri Kerisia belum menyelesaikan ilmu Pengenal Diri secara sempurna, dia hanya baru sampai pada tahap pencapaian Diri Asli.
Di hari-hari selanjutnya, Putri Kerisia berkegiatan mempelajari sihir, dia sudah tingkat Langit Tujuh, sehingga bila mumpuni dirinya mampu menciptakan sihir baru. Di hari-hari biasanya pun Putri Kerisia akan belajar bersama para Penyihir dalam tingkat yang sama dan di akademi dia memang memiliki tim.
Semadi atau tirakat, sangat sering dilakukan bagi mereka-mereka demi menunjang konsentrasi kejiwaan penuh, memusatkan pikiran agar tak liar seperti angin, karena terlalu berbahaya jika terlalu banyak mengkhayal, itu bisa menyebabkan halusinasi, oleh sebab itu, seluruh ras sering melakukannya, selain meningkatkan fokus dan memahami kejiwaan, hal itu pun mampu menentramkan kejiwaan.
Beberapa bulan ini Putri Kerisia tengah berada di alam lain, dia belajar bersama para Penyihir lainnya; berlatih.
Bukannya apa-apa, hari ini adalah hari ujian kelulusan penyihir. Kelulusan ini nantinya akan dibina lagi untuk bergabung dalam kemiliteran bangsa Barat. Jadi tak hanya di sini saja para penyihir melangsungkan ujian, di planet-planet lain pun sedang diadakan ujian.
* * *
Ini alam lain atau katakanlah di sini planet lain. Sebuah tempat dengan langit nuansa violet, yang ditaburi bintang-bintang, tanpa adanya awan dan hamparan bebatuan yang terlihat sejauh mata memandang. Tanpa adanya siang. Pencahayaan memang hanya mengandalakan lampu-lampu 'terbang' di beberapa titik khusus.
Tenda-tenda telah terpancang mantap mengisi beberapa tempat, tentunya setiap tenda terbuat dari emas serta bertatahkan permata. Satu tenda satu orang, dan terdapat 49 tenda yang artinya 49 orang, 25 kaum wanita dan 24 kaum pria.
Detik ini waktu latihan telah usia, ujian kelulusan penyihir demi bergabung dalam kemiliteran segera dilangsungkan.
Para murid telah berbaris seperti pada umumnya. Berbaris bersama tim mereka masing-masing; 4 orang satu tim. Berpakaian sesukanya, yang jelas wajib berpakaian, namun kening mereka telah terpatri tanda matahari; simbol penyihir. Dan mereka dari bangsa Barat.
Seorang wanita telah berdiri di depan mereka, yang tiada lain adalah sang guru; Guru Gatary.
Diadakannya sebuah ujian bagi para tim, yang mana ujian ini menguji kekompakan tim, ujian demi mengetahui kelayakan para murid apakah mereka layak bergabung dalam kemiliteran apa tidak, khususnya untuk mata-mata.
Tak terpungkiri Putri Kerisia pun begitu, walau telah diangkat sebagai wakil Penyihir bangsa Barat, dia tetap wajib ikut ujian ini, terlebih Putri Kerisia adalah murid termuda sekaligus murid yang paling berbakat dipriode ini, padahal orang tua serta neneknya tak ada yang memiliki kemampuan sihir, kecuali nenek dari neneknya.
“27 bulan kalian telah berlatih bersama, maka hari ini buktikan hasil sempurna dari latihan kalian!” tutur Guru Gatary.
“Pertama! Manipulatif ruang! Kedua! Manipulatif materi! Ketiga! Manipulatif waktu!” lanjutnya memberi arahan apa saja yang mesti dilaksanakan.
Semua sihir itu memang sangat sulit, membutuhkan 4 orang untuk memanifestasikannya atau bahkan lebih.
“Baiklah ... silakan tim satu untuk memulai, dan buat saya terkesan!” titah Guru Gatary.
Tim satu maju, mereka berdiri di depan murid-murid dalam jarak sepuluh meteran, lantas berdiri membentuk formasi, dan energi sihir dipancarkan; energi nuansa ungu. Secara serentak mereka menembakkannya ke langit.
Dan sekejap mata, ruang pun berubah, langit berubah menjadi langit biru. Memang tak semuanya berubah, hanya dalam radius sedang sihir itu bekerja, karena bagaiamana pun, memang membutuhkan energi sihir yang banyak untuk membuat manipulatif ruang secara sempurna.
Uniknya anggota kelompok satu nampak saling menuduh karena kurang fokus dalam membentuk sihir ruang. Bahkan Guru Gatary sempat mengkritik, “Kalian harus sering jalan-jalan bersama, agar bisa lebih akrab.”
Tetapi demikian, putaran ujian terus berlangsung, tim dua maju dan setelah selesai, dilanjutkan oleh tim tiga lalu seterusnya. Sayangnya baru lima tim yang mampu membuat Guru Gatary tepuk tangan sebagai reaksi dari hatinya yang terkesan.
Dan di sinilah tim 12; tim Putri Kerisia. Mereka maju ke depan. Entah apakah sanggup membuat sang guru terkesan atau malah membentuk decak kecewa, pastinya mereka melangkah santai.
“Wah ... ini pasti akan mudah, ada Putri Kerisia di sini!” ungkap seorang pria botak yang begitu antusias sampai-sampai meregangkan tangan sambil loncat-loncat. Bernama Arkta.
“Jangan hanya mengandalkan orang lain ... kalau kita kalah ini salahmu!” sindir wanita berambut hijau panjang agak keriting. Bernama Logia.
Lalu sekonyong-konyongnya tangan Arkta meraih tangan kiri Putri Kerisia dengan lembut seraya membalas, ”Tenang saja ... Putri Kerisia selalu bisa menyelamatkan kita.“
Dengan cepat Putri Kerisia menarik kembali tangannya, tapi dengan raut muka tetap datar, tanpa ada kata, bersikap masa bodoh.
Bersama decak kesal Logia mereka pun tiba di lokasi ujian. Berdiri sesuai 4 arah mata angin, ya walau pun tak ada arah Barat atau Timur, mereka berdiri seolah pada arah mata angin. Berdiri saling menghadap.
”Buat saya terkesan!“ kata Guru Gatary dengan berdiri di samping salah satu murid dengan bersedekap menyilang tangan.
Sisanya malah bergosip perihal tanya, akan kemungkinan berhasil tim 12 atau tidak.
”Ayo Putri Kerisia ... kau pasti bisa!“
Teriak seorang pemuda beriris pingai yang dulu mengagumi Putri Kerisia kini seiring waktu berlalu rasa kekaguman itu berkembang menjadi suka.
”Eh ... maaf teman-teman, a-aku lupa ... kita mau apa di sini?“ keluh seorang lelaki bermata nuansa ungu dengan menggaruk bahu kanannya, tim 12, yang bernama Haro.
”INI UJIAN KELULUSAN! JANGAN LUPA!“ sentak Logia dekat-dekat pada telinga kiri Haro. Karena bagaimana pun Haro adalah seorang pemuda yang pelupa, dia bahkan bisa melupakan orang tuanya sendiri.
Haro hanya manggut-manggut seolah semua baik-baik saja, dan hanya melahirkan satu kata, ”Oooh.“
”Haah ... dia pasti akan mengacau lagi ...,“ sahut Arkta dengan bersedekap tangan merasa dirinya lebih 'sehat'.
“KAU JUGA SAMA SAJA! DASAR PAYAH!” bentak Logia dengan mendekatkan diri pada wajah Arkta.
Dengan kaget dalam raut muka konyolnya, Arkta hanya mengedik badan dengan membalas, “Iya iya ... tidak perlu bentak-bentak juga kali, 'kan aku ada di sini ....”
Logia sontak membungkuk dengan mendekus merasa kalau dirinya akan menjadi payah dan semakin tidak jelas masa depannya di tim ini.
Melihat kekonyolan tim 12 bagi sebagian murid itu terasa kocak dan bagi sebagian yang lainnya masa bodoh. Dan sebenarnya ini hal lazim bila ditilik dari sepak terjang tim 12.
Hingga beberapa murid dari kalangan pria mau pun wanita malah sempat bergunjing.
”Waduh ... belum juga dimulai mereka sudah bertengkar.“
”Mereka memang aneh, cuman Putri Kerisia yang waras ....“