
Tersenyum tenang Nurvati di sana, bahkan katananya kembali diangkat dan ditempelkan pada pundak kanannya.
Bersama siur angin yang mengalun lembut, Nurvati memutar tubuhnya menghadap pada sang nenek. Memandang raut keriput kemurkaan sang nenek dengan tetap tersenyum tenang penuh damai.
“ANAK BODOH ITU SUDAH MEMBUNUH ORANG TUANYA SENDIRI! DIA SUDAH MEMBUNUH ANAKKU ...! BUNUH DIA!” teriak sang nenek dengan suaranya yang terdengar kuat dan segar. Dirinya murka dan tak terima.
Tangan kiri Nurvati memegang pinggangnya, raut paras tenangnya nampak selaras bersama sikap kalemnya, dirinya yang telah belajar dari kehidupan dan dari segala tindak tanduk masyarakat, telah menjadikannya sanggup berpikir tenang, hingga sadar, kalau sekali lagi ada hal yang lebih berharga ketimbang membunuh.
“Nenek ... maafkan aku ...,” tutur Nurvati dengan santainya. Dirinya secara tidak langsung menolak titah sang nenek.
Hingga Reky yang nyatanya tak terima atas kekalahannya, dengan kekuatan panasnya, tepat di depan mulutnya telah muncul sinar kemerahan yang kini terarah pada Nurvati.
Lantas 'BOOMM' sinar tersebut berhasil ditembakan pada Nurvati, membuat kepul asap merebak di sana.
Akan tetapi, Nurvati masih selamat, dirinya berlutut dengan sayap kanan robotiknya yang hancur, menjadi korban dampak serangan tadi.
Terdiam dengan posisi berlutut. Nurvati tak mungkin membunuh dan tak akan terpancing untuknya. Lebih-lebih senyum tenangnya hilang, telah beralih menjadi raut wajah merenung.
Situasi bahkan diperparah oleh sang nenek yang terbang dengan panah yang terbidik tepat pada Reky, panas es hendak diluncurkan demi membunuh cucunya sendiri.
Nurvati sadar, sangat sadar kalau itu tak akan menyelesaikan masalah.
Untuk itulah, bersama anak panah yang terbidas tepat pada Reky, Nurvati bergegas bangkit berdiri demi melindungi Reky.
Sayangnya, kala Nurvati telah membentuk perisai pelindung energi, kecepatan lesat anak panah itu mampu lebih dulu masuk ke dalam perisai. Sehingga malah mengenai sayap kiri robotik Nurvati, 'Clep'.
Anak panah es itu sukses menancap pada sayap robotik Nurvati, bereaksi pada efek es tersebut; mulai membekukan sayapnya.
Refleks Nurvati pun melepas sayapnya, sudah tak ada harapan baik untuk memanfaatkannya lagi. Dirinya justru berdiri di samping Reky yang masih terbaring tak berdaya dan malah berusaha melindunginya.
“DASAR BODOH! KAU MALAH MELINDUNGI ANAK DEGIL ITU!” sentak sang nenek dengan tetap membidik anak panah pada Reky dan mungkin berkesempatan membunuh pula Nurvati.
Raut paras Nurvati nampak tenang, namun tanpa senyum damai di sana, dirinya berdiri dalam tatapan kalem pada sang nenek. Katananya kini ditancapkan di tanah. Berdiri dengan mendepang membentuk perisai pelindung lebih luas lagi demi menyelamatkan Reky.
Reky yang merasa tak ingin dikasihani, sekonyong-konyongnya malah kembali membentuk sinar panas di depan mulutnya, dan melihat ke dua kaki Nurvati yang masih utuh, memberinya ilham untuk menunjukkan keadilan.
Sama-sama ingin membuat Nurvati kehilangan dua kaki.
Hingga saat sinar merah itu membesar, Nurvati menyadari adanya bahaya tersebut.
Menggugahnya untuk memanifestasikan perisai nuansa kehijauan hanya untuk melindungi seluruh anggota badannya saja.
Niat awalnya untuk melindungi Reky mesti kandas gegara gegabahnya Reky sendiri, terlebih anak panah es terbidas pula pada Nurvati dan sinar merah milik Reky turut tertembak padanya.
Secara bersamaan serangan dua pribadi itu mengenai perisai Nurvati, 'BOOMM'.
Anak panah terpental mengenai perisai tersebut dan malah terjatuh tanpa adanya efek yang bekerja. Serangan sinar merah pun gagal karena terintangi perisai pelindung.
Situasi semakin tegang gegara sang nenek serta Reky yang malah menyerang Nurvati. Membuat posisi Nurvati di sini malah menjadi target kemarahan mereka.
Tak ada kata-kata pembelaan dari Nurvati, dirinya malah sebisa mungkin tetap bersikeras melindungi Reky dari serangan neneknya itu dan Reky yang masih tak terima pun menyerang Nurvati dengan sinar merahnya.
'BOOMM' 'BOOMM' 'BOOMM' Nurvati melompat-lompat berusaha melindungi Reky dengan perisai energinya, akan tetapi, Reky pun terus mencecar Nurvati dengan tembakan sinar merahnya dan syukurnya Nurvati masih sempat melindungi diri dengan perisainya.
Belum usai, serangan dan bertahan terus gencar terjadi. Suasana taman yang damai itu menjadi genting dan krusial.
'Boomm' 'Boomm' 'Wush' 'Boomm'.
Seiring detik berpacu, setiap serangan dari sang nenek serta Reky semakin cepat terealisasi.
Nurvati yang sadar telah terpojok dan tak mungkin membunuh salah satu dari mereka. Mulai terkena satu anak panah dari sang nenek.
'Cleb' menancap ngeri pada bahu kanan Nurvati, hingga 'Khres' efek es dari panah tersebut mulai membekukan tangan kanan serta bagian kanan tubuh Nurvati.
Ke dua lutut Nurvati pun tak sanggup menopang lagi berat tubuhnya yang dibebani rasa sakit, akibatnya ia mendeprok lemah di bunga-bunga. “Gah ....”
Di sana Reky yang hendak melumpuhkan Nurvati kembali membentuk sinar kemerahan di depan mulutnya. Berniat menembakkan pada tubuh kanan Nurvati yang mulai membeku.
Tapi secara tak terduga, 'Clep' anak panah es telah menancap ngeri pada kening Reky, membuat sinar merah yang hendak ditembakan pada Nurvati seketika lenyap.
Efek es pada anak panah telah bekerja, api di kepala Reky padam, tubuhnya yang merah mulai kembali memutih sedia kala, jiwa Iblis siluman pun menghilang. Tetapi dirinya perlahan membeku dan menanggung mati gegara panah tersebut.
Reky telah wafat, gagal untuk membunuh neneknya sendiri dan sang nenek telah berhenti menyerang, tujuannya sudah terlaksana.
Dalam waktu yang bekerja, suasana pun pada akhirnya mulai nampak kondusif. Pertempuran itu telah berakhir. Situasi mulai terlihat kembali damai.
Hanya saja, Nurvati sadar kalau Reky tidak salah, atau tepatnya terjerumus oleh marah dan desakan keadaan. Dirinya malah masih tumungkul di sana dalam kontemplasi.
Atau mungkin, Reky memang berencana demikian dan tak pernah tahu kalau sang nenek cukup andal dalam perkara ini.
Sang nenek kini telah mendarat di hadapan Nurvati dalam jarak 3 meteran.
Untuk saat ini, nasib telah menuntun Nurvati pada pribadi yang selayaknya tidak perlu dibantu. Keluarga Reky yang keliru serta Reky yang salah mengambil jalan. Spekulasi itu diperkuat oleh argumen yang tercetus dari mulut sang nenek.
“Nurvati ... kau salah dalam menolong seseorang ... dendam kami pada musuh kami tak akan pudar, Reky telah gagal ... dan tak ada lagi cucuku yang akan mewarisi dendamku ini ....”
”Menuntut anak mencapai ambisi kalian demi dendam tidak akan pernah membuat surut dendam itu ... Reky hanya berusaha mencapai impiannya ... tetapi kalian ... memadamkannya hanya karena dendam keluarga ...,“ keluh Nurvati dengan tumungkul dalam pasrah.
Sang nenek hanya mambisu. Raut wajah keriputnya telah mencerminkan kehampaan.
Hingga tangan kiri Nurvati yang masih baik-baik saja, mulai memanifestasikan sebilah katana, sampai-sampai Nurvati bangkit berdiri dengan gesit. Dia bahkan masih sempat untuk maju mendekati sang nenek.
Katana itu didekatkan pada batang leher sang nenek. Siap untuk merampas nyawa sang nenek. Sampai netra mereka pun saling bersirobok.
”Bunuh saja nenek ... semuanya telah berakhir,“ ungkap sang nenek dengan hampa dan menyerah.
Nurvati yang masih memampang paras santainya, hanya mengunci tatapannya tanpa senyuman atau kata-kata. Dirinya memang salah memilih orang, tetapi berkat ini, dia memiliki pengalaman baru untuk melanjutkan perjuangannya mencapai Diri Asli.
Lima detik berlalu, 'Ceb' katana itu malah tertancap di tanah. Telah dilempar oleh Nurvati. Telah hilang pula niat untuk membunuh sang nenek. Karena bagaimana pun kewajibannya telah dijalani; membantu rakyat sebisanya.
Bersama embusan angin dari utara dengan akhir yang tak dapat terelakan. Nurvati tiba-tiba saja berpaling, dirinya pun berjalan terseok-seok dan bergegas pergi dari sana.
Tugasnya telah selesai, hingga senyuman tenang kembali menyungging di paras manisnya itu; senyuman rasa syukur karena kewajibannya telah dijalani. Angsa putih pun kembali mengintil Nurvati tanpa jemu dan kemungkinannya, mereka akan ke gedung kesehatan.
Sedangkan sang nenek, kini hanya terdiam dan memakukan diri dalam damainya taman bunga. Memandang ke depan pada ke kosongan. Dendamnya memang tak akan hilang, dirinya akan tetap hidup, hingga mati bersama dendamnya sendiri.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)