Nurvati

Nurvati
Episode 148: Harapan Dalam Dimensi Kelima.



Seharusnya tewas, iya, seharusnya laser hijau ini mampu menewaskan sosok lelaki di depannya dengan cepat. Tetapi kenyataannya tidak!


Laser hijau dari telapak tangan Nurvati menembus kening sosok lelaki itu, seolah kaca bening yang tertembus sinar mentari pagi cerah. Terlebih wajah datar lelaki itu sama sekali tak berubah.


Maka kebingungan menjerat pikiran liar Nurvati, memandang aneh sosok lelaki itu, hingga waktu yang memacu rasa heran memicu pikiran Nurvati menyimpulkan kalau sosok di depannya adalah penyihir.


Sinar laser pun dihentikan, tangan Nurvati kemudian memanifestasikan sebilah katana. Mengambil ancang-ancang, kini kaki kirinya bergeser ke belakang, punggung sedikit membungkuk, pandangannya terfokus pada tubuh targetnya, katananya diposisikan di samping kiri pinggangnya dengan ke dua tangan yang erat memegang katananya siap menebas.


“Penyihir macam apa pun kau ... teknik katana kilatku akan membuka penipuanmu!” ujar Nurvati tak lagi berniat berbelas kasih. Sosok di depannya selain sudah mengganggu tidurnya, dia pun mengaku-ngaku sebagai malaikat.


Maka 'Swoosh' Nurvati maju dengan katananya, menggunakan teknik samurai kilatnya.


Dan seharusnya Nurvati berhasil merealisasikan rencananya, namun 'Bruk' dirinya malah jatuh tak berdaya, telungkup di depan sosok lelaki itu tanpa ada pergerakan, tanpa sedikit pun bergerak; Nurvati tewas. Telah gagal merealisasikan rencananya.


Akan tetapi, belum sampai di situ saja, sebab telah terjadi hal yang tak terduga, Nurvati dalam wujud roh; cahaya. Telah berada di tangan kanan sesosok pria itu.


Dengan menatap tajam pada Nurvati sesosok pria itu pun menunjukkan sedikit kegemilangannya pada Nurvati. Dan dalam bahasa rohani, sosok itu bertanya, “Bukankah aku ini adalah penghulu para roh?”


Nurvati yang dalam wujud roh pun menjawab, “Iya, wujudku menyaksikannya ....”


Setelahnya waktu dilalui dalam diam, terdapat momen ketika pesan tersirat sampai pada Nurvati.


Maka sosok itu pun meniupkan lagi roh Nurvati pada jasadnya, hingga detik-detik roh itu meresap pada jasadnya, untuk sesaat Nurvati bergetar. Kemudian lima detik selepasnya, sadarlah Nurvati, dirinya telah pulih dan mendapatkan pengalaman rohani yang belum pernah ia dapatkan.


Sebuah pengalaman, sebuah penglihatan yang menyentuh kejiwaannya, kalau yang berada di depannya memang Malaikat Abriel, sang penghulu ras Malaikat.


Tetapi dalam rasa putus asanya yang kembali membuncah, dengan kebencian serta kepiluannya, Nurvati mulai bangkit untuk mendeprok di tanah.


Kepalanya tumungkul, ke dua tangan mengepalnya di tumpukan di atas paha.


Segalanya kini mulai nyata, kehadiran Malaikat Abriel dalam wujud lelaki membuat Nurvati bersyukur, seolah harapan dan kesempatan itu memang selalu tersuguh untuknya.


Dirinya telah mendeprok di depan Malaikat Abriel dalam jarak 2 meteran. Tubuhnya agak kotor gegara tanah yang becek bekas hujan dan tetap pekat keputusasaannya menyelimuti jiwanya.


Untuk itulah, tanpa meminta maaf sebelumnya, tanpa merasa bersalah, Nurvati berkeluh kesah yang semoga dirinya mendapatkan jawaban atau setidaknya mendapat kehidupan yang diinginkan.


“Ke-kenapa ... kenapa aku harus selalu mendapatkan kegagalan ...,” ucap Nurvati masih tumungkul dalam nelangsa. Merasa hidupnya tak berguna.


Akan tetapi Malaikat Abriel menyela, “Diam!”


Seakan tak mau tahu masalah Nurvati. Dan itu dengan wajah datar tanpa senyuman dengan pandangan tajam ke depan.


“Kenapa harus aku yang menerima ketidakadilan ini ...,” keluh Nurvati tanpa mengacuhkan perintah Malaikat Abriel. Merasa mendapat ketidakadilan.


“Diam!” sela lagi Malaikat Abriel tak mau tahu keluhan Nurvati.


“Padahal ... aku selalu berbuat baik ... tapi aku yang selalu teraniaya ...,” komplain Nurvati dengan penuh kekecewaan. Merasa selalu salah.


“Diam!” balas Malaikat Abriel tak peduli.


“Semua orang mendapatkan apa yang mereka inginkan ... sementara aku ...,” protes Nurvati tetap dalam inferioritas dan tumungkul nelangsa. Merasa dicurangi.


“Diam!”


“Kenapa dunia ini tidak adil! Kenapa? Kenapa? Kenapa ...?”


“KENAPA DUNIA INI TIDAK ADIL?!” sentak Nurvati hingga menengadahkan wajah bercahayanya pada Malaikat Abriel. Berharap mendapat belas kasih sang Malaikat.


Namun meski pun bentakan Nurvati sempat menyingkirkan sepi, itu sama sekali tak berdampak indah bagi sang malaikat. Malaikat Abriel tetap berkata, “Diam!”


Sekali lagi dalam raut datar, seakan apatis, Malaikat Abriel dengan tegas nan lugas hanya berkata, “Diam!”


“DI MANA TANGGUNG JAWAB PARA PENCIPTA KETIKA MAKHLUKNYA TERANIAYA!?” sentak Nurvati mengejek ras Malaikat. Berharap menggugah hati Malaikat Abriel untuk berbelas kasih pada Nurvati. Entah juga apa mungkin malaikat memiliki hati atau tidak.


Kendati sudah Nurvati olok-olok ras Malaikat, dengan tujuan Malaikat Abriel mau menjawab atau bertindak, justru Malaikat Abriel kembali menjawab, “Diam!”


Dan nyatanya kegigihan Malaikat Abriel dalam berkata membuahkan hasil, Nurvati mulai memasrahkan diri.


“BAIKLAH ... BAIKLAH ... AKU DIAM ....”


“... aku diam ... aku diam ...,” balas Nurvati dengan memikul kepasrahan, sengap dan membiarkan Malaikat Abriel menyampaikan beritanya. Tak lupa Nurvati membersihkan tubuh kotornya dengan ilmunya.


Bersama angin yang tiba-tiba bersiur kencang, dalam hari yang menjadi cerah, untuk sejenak momentum sepi dibiarkan melingkupi suasana. Walau kucur air mancur dari bambu sempat menemani kesepian, atau angsa yang berenang di kolam dalam senyap, suasana damai tetap kentara di sini.


Hati Nurvati telah terluka, terbentuk oleh kekecewaan dan itu membuat pola pikir sendiri perihal caranya memandang dunia. Dia senang, teramat senang bisa berjumpa sang Malaikat yang tak pernah diasumsikannya. Berharap dengan ini dirinya bisa mendapatkan apa yang selalu diidamkan.


Tetapi di satu sisi, Malaikat Abriel hadir hanya untuk menyampaikan berita yang sudah diatur. Tak lebih dari itu, karena memang tak boleh. Selebihnya, itu sudah diatur pula.


Seiring waktu berjalan, seiring angin yang mengalun kehangatan, sang Malaikat Abriel berkata, “Lihatlah ....”


“... lihatlah ini, Nurvati ....”


Kalimat perintah itu sempat membuat Nurvati bingung, karena dirinya tidak tahu apa yang mesti dilihatnya.


“Lihatlah kenyataan ...,” pinta Malaikat Abriel dengan pandangan lurus ke depan tanpa senyuman dengan tetap berdiri tegap.


Namun Nurvati masih bingung, hingga dirinya berani bertanya, “Apa yang mesti aku lihat?”


“Lihatlah sekitarmu ...,” jawab Malaikat Abriel dengan tegas.


Nurvati yang kebingungan mulai menoleh kanan kirinya, menatap seluruh sekitarnya. Kendati pun tak ada hal aneh sama sekali.


Maka Malaikat Abriel kembali berseru, “Lihatlah ke segala penjuru arah mata angin ...!”


Sekali lagi Nurvati pun menengok ke samping kanannya. Hingga apa yang dikatakan Malaikat Abriel mulai menampakkan visualnya.


Dimensi kelima pun terbuka.


Di samping kanan Nurvati, dirinya diperlihatkan oleh kelompok-kelompok yang berada di sekitar area gedung parlemen.


Kelompok atau orang-orang itu saling berteriak 'demi kebenaran' lalu terjadilah huru-hara mengerikan, para pasukan militer saling serang dengan kelompok-kelompok masyarakat, darah-darah pun bertumpahan dan jasad-jasad bergelimpangan.


Lalu Nurvati menoleh ke kiri, dirinya pun ditampakan lagi oleh siluet dari bermacam masyarakat.


Seorang anak yang harus kehilangan orang tuanya hanya karena pihak lain menbunuhnya demi kebenaran. Sebuah keluarga yang dibunuh karena menolak kebenaran. Seluruh do'a masyarakat adalah laknat melaknat, saling berdo'a untuk menjatuhkan dan saling mendo'akan agar dapat bencana.


Nurvati kembali menoleh ke kanan, siluet masa depan kembali ditampakan.


Mula-mula masyarakat saling menjatuhkan, kemudian terjadi tusuk menusuk, darah pun banyak tergenang, jasad-jasad berhamburan lalu seorang dari mereka menjadi pemimpin.


Huru-hara di bangsa Barat pun terjadi, yang satu saling bunuh membunuh demi kebenaran, yang satu pun saling bunuh membunuh demi kebenaran, tetapi saat ditilik baik-baik mereka semua ingin berkuasa di bangsa ini.


Sekte dan kelompok mayoritas pun begitu, bunuh membunuh karena yang mereka kejar adalah kekuasaan, segalanya berlindung dibalik alasan kebenaran. Begitu pula dengan kelompok serta sekte minoritas mereka saling bunuh membunuh demi kekuasaan dan berlindung atas asas kebenaran.


Demikianlah, Nurvati yang telah ditampakan siluet kehancuran dan huru-hara yang besar. Dirinya mendapatkan keberuntungan yang besar, karena dimensi kelima telah diperlihatkan.


Dimensi kelima seperti dunia paralel, masa kini, masa lalu dan masa depan yang sejalan ditampilkan, namun untuk perkara Nurvati, hanya menampilkan masa depan saja, lengkap dengan sebab akibatnya.