Nurvati

Nurvati
Episode 35: Takdir Menuntun Keputusan.



Angin berkesiuran, rambut panjang Putri Kerisia agak bergoyang-goyang tak tentu arah dan kondisi mulai damai meski tetap saja dalam kejiwaan masing-masing hasrat menggebu terhadap tujuan mereka belum surut.


Putri Kerisia beringsut ke kanan, memberi ruang bagi Pangeran Awarta untuk meronta menikmati sakitnya.


“AAARGH ... GAH ....”


Betapa menyakitkannya sihir yang dilakukan Putri Kerisia, sampai-sampai kedua tangan Pangeran Awarta menjambak rambutnya, memejamkan mata, bergigit menahan siksa.


Senyum tenang masih melanda wajah Putri Kerisia, tatapannya pada Pangeran Awarta laksana seorang yang tak berperasaan; tak punya hati.


“Haah-haah-haah ....”


Sakit tersingkir, Pangeran Awarta mengatur napas menuju tenang, masih terbaring menatap langit berawan, kedua tangannya masih memegang kepala dalam kewaspadaan, raut mukanya perlahan berubah dalam perenungan. Barulah dia kembali bicara, “Dan aku tidak bisa memukul seorang wanita yang patah hati ... aku hanya ingin menangkapmu, menjelaskan bahwa ... aku bisa memahamimu ....”


“Ahk, itu omong kosong, hanya wanita yang memahami wanita, hanya seorang yang sakit yang memahami rasa sakit,” ketus Putri Kerisia dengan raut muka serius.


”Tidak ... aku memahamimu dari pandangan seorang yang sedang patah hati,“ sanggah Pangeran Awarta tetap menatap langit.


”Aku tidak melihatmu sebagai seorang yang patah hati,“ heran Putri Kerisia.


”Saat kau mengambil akal sehatku, saat nanti kejiwaanku sakit, itu menjadi awal patah hatiku, karena artinya, aku tidak mungkin bisa bertemu dengan sang Penyelamat, tak mungkin menjadi pelayannya,“ papar Pangeran Awarta dalam raut merenung bersungguh-sungguh.


Ketika kekecewaan merenggut segala harapan, ketika itulah Putri Kerisia hanya memahami tentang keadilan adalah pembalasan, maka dia berani menyergah, “Kau menipuku! Tak menghargaiku sebagai seorang Putri kerajaan, tak menghormatiku sebagai seorang wanita terhormat! Semua terlihat dari orang tuamu yang palsu! Jika memang tak ingin hidup denganku, selayaknya kau harus menderita seperti penderitaanku!”


Tapi Pangeran Awarta yang memahami kebutaan pola pikir sang Putri, hanya membalas, “Kau terlalu berlebihan Putri Kerisia, aku melindungi orang tuaku, aku melindungi bangsaku dan negaramu, aku melindungi kehormatanmu dari kejahatan kebutaan pola pikirmu ini, keadilan bukan begini Putri.”


”Tak ada kata berlebihan saat kita menegakkan keadilan! Yang menyakiti wajib disakiti lagi, yang membunuh wajib dibunuh lagi, itulah keadilan!“ kukuh Putri Kerisia yang masih menanggung patah hati dalam kekecewaan hidup.


”Keadilan bagimu, tapi kesalahpahaman bagiku,“ ucap Pangeran Awarta.


Kembali rasa sakit melanda kepala Pangeran Awarta lalu memegangnya menahan derita.


”Gaaah ....“


”Camkan ini! Kau akan memahami perbuatanku saat kau mengenal rasa sakit, dan kau akan mengenalku bahwa keadilan diraih lewat perjuangan!“ tutur Putri Kerisia dengan lantang nan dinamis, bahkan begitu bersungguh-sungguh.


“Persetan denganmu Putri Kerisia! Kau ... AAAAARGH ...!”


Tak sempat kata-kata itu menemui penyelesaian, rasa sakit memaksa untuk beralih fokus pada kepalanya. Di sisi kejiwaan lain, diri sang Putri Kerisia tetap melihat kebenaran dirinya adalah kebenaran yang wajib dijunjung, sampai sang Putri kembali buka suara, “Sekali lagi, aku ingin kau memahami ini, aku melakukan ini agar kau mengenalku!”


Mulai geram dan murka, itulah yang kini muncul dalam jiwa Pangeran Awarta dalam menanggapi perbuatan bodoh Putri Kerisia, hingga meski dalam sakit dia berusaha bangkit, agak berat dan menyusahkan, namun kenyataannya dalam derita di kepalanya, dia mampu berdiri menghadap Putri Kerisia dalam jarak 2 meter dengan wajah pucat dan bergigit menahan sakit. Netra hitam legam itu agak mengilat karena pantulan cahaya baskara serta menatap penuh keseriusan ke dalam iris merah lembayung Putri Kerisia.


Maka berkatalah Pangeran Awarta. “Putri Kerisia ... apa pun yang hendak kau lakukan padaku, lakukanlah ... tapi jangan sampai hanya gegara penolakan cinta, bangsa kita berperang ... dan aku minta untuk tidak mengganggu keluargaku ... gah.”


Keinginan yang disertai harapan itu mulanya membentuk seringai jahat lewat wajah Putri Kerisia, lalu membalas, “Harapan itu hanya akan melahirkan kekecewaan, dan perang dengan bangsamu sangatlah tak berharga, dan orang tuamu bukanlah siapa-siapa yang harus kulindungi, jadi ... jangan berharap banyak padaku, orang yang disakiti dan tak dihormati ini hanyalah menginginkan keadilan.”


Maka untuk mengakhiri hiburan ini yang telah tak menghibur lagi, Putri Kerisia mulai tertunduk melafalkan mantra 'Pengganggu Kejiwaan'.


Dan Pangeran pun ambruk dengan mengerang kesakitan, dia meronta-ronta di atas pasir, gerak ke kanan dan ke kiri menahan derita yang lebih lagi di kepalanya.


Mula-mula rasa sakit itu hanya ada dalam kepala sang Pangeran, lalu mulai menjalar menuju leher, dan berkutat di dadanya, kesakitan yang teramat sakit, seolah seribu jarum menusuk-nusuk jantungnya, dalam rasa sakit yang tak tertahankan itu, Pangeran Awarta kembali melakukan konsiderans dengan sang Diri Asli.


“Perkenankanlah aku untuk menemui sang Penyelamat itu, jika aku menjadi gila, bagaimana bisa aku melayani sang Penyelamat?” batin Pangeran Awarta.


Maka sang Diri Asli memberikan jalannya, muncullah siluet pertama, perihal diri Pangeran Awarta yang berbeda wujud; kurus, ceroboh dan agak cerewet, bahkan tak lagi menjadi seorang Putra Mahkota bangsa Selatan, tak lagi dikenali dirinya, namun dia berjalan bersama sang Penyelamat itu. Tak sampai di situ saja, terdapat siluet kedua, yang menggambarkan Pangeran Awarta menjadi seorang Raja, namun justru dia malah mengusir dan menganiaya sang Penyelamat.


Saat kesadaran memicu keputusan, sang Pangeran mengambil ketetapan atas dirinya sendiri, meski tak lagi jadi Putra Mahkota, kecintaan pada sang Penyelamat menjadikan ia memilih siluet yang pertama, memilihnya dalam kesungguhan penuh.


Dan kembalilah penderitaan sihir dari Putri Kerisia melanda sang Pangeran Awarta.


Kurang ajarnya, erangan sang Pangeran tiba-tiba diselingi oleh dekahnya Putri Kerisia, terbahak oleh keadilan yang berhasil direngkuhnya, tapi nampak seperti seorang yang bodoh hanya karena cinta buta.


“HA-HA-HA-HA-HA ....”


“... cinta itu adil Pangeran, bila kau menyakiti lagi yang menyakitimu,” imbuh Putri Kerisia dalam senyum kepuasan penuh syukur.


“AAAAAARGH ....” Sang Putra Mahkota Pangeran Awarta telah tenggelam dalam penderitaan sihir nan menyakitkan, telinganya sulit mendengar perkataan Putri Kerisia.


Yang seharusnya Pangeran Awarta mampu dengan kemenangannya membebaskan diri, tetapi takdir menuntun pada jalur warisan yang lain. Perlahan namun dalam kepastian, kulit sang Pangeran mulai berubah putih kesi, tubuh tegapnya mulai mengecil menjadi kurus, napasnya berat, dan anak Satan hitam yang berada dalam sisi gaib itu, anehnya memudar menjadi asap, kemudian hilang.


Hanya saja, tak mau sang Pangeran pergi tanpa memberikan oleh-oleh pada Putri Kerisia, dalam sisa ilmu ke-Dewa-annya, dia menuturkan lagi sabda lewat angin.


“Putri Kerisia ... tak seorang pun lolos dari hukuman alam semesta, maka aku titipkan kutukanku padamu agar sekiranya engkau selalu mengingat perbuatanmu padaku, terimalah tanpa sanggup tersenyum lagi dan lupa mengetahui tata cara untuk tertawa.”


Maka kala sabda itu lenyap, tubuh Pangeran Awarta pun perlahan memudar seperti kerlip-kerlip bintang yang ditelan gelap malam, lantas ia pun menghilang dari realitas alam ini.


Namun demikian, Putri Kerisia tak sanggup menepis kutukan tersebut, dikarenakan adanya hukum sebab akibat, yang mana, bila seseorang melukai seorang 'Pengenal' atau tepatnya seorang Dewa, akan menerima risiko kutukan. Maka Putri Kerisia pun terpaksa menanggung kutukan, tak mampu lagi tersenyum, lupa caranya tertawa. Konyol memang, namun demikianlah kenyataan.


Faktanya, mereka yang telah sampai pada tingkat kulminasi kejiwaan penuh, mampu memberi kutukan bila mana diri mereka akan tewas dalam kondisi dirugikan atau akan kehilangan kehormatannya.


“Sialan, kau mengutukku!” umpat Putri Kerisia dengan menyentuh bibirnya oleh jemari lentiknya mulai merasakan ketidaknyamanan di bibirnya.


Mulutnya mulai terasa kaku dan pikirannya mulai pening.


Kendati nyatanya, sang Putri Kerisia tak serta merta pasrah begitu saja, justru dalam tak terimanya, dalam lagak bongak, sembari menatap kaki langit membayangkan diri Pangeran Awarta dengan keseriusan penuh, dia membalas dengan sumpah yang mengandung pula kutukan balasan. “Kita lihat saja, akan aku pastikan, sebelum Penyelamat itu muncul, seluruh ras Peri akan takluk ditanganku, rakyat jelata, para guru, para pemimpin, dan para ahli kitab, kupastikan akan mengikutiku dan mengakuiku sebagai sang Penyelamat!”


Dan berteriaklah Putri Kerisia di alamnya sendiri, enggan menerima kutukan tersebut, dan terus bersumpah serapah disertai makian pada sang Penyelamat bila memang ada.


“AAAAAAAAAAAAAAAARRGH ...!”