
Kini waktu petang telah berganti, malam yang berbintang melingkupi negeri Barat, udara melantunkan desir keberadaannya, bahwa angin kini menuju Tenggara. Tepat di Timur, dalam pendarnya batu-batu mulia dan lampu-lampu perumahan, Nurvati telah berdiri di atas kepala patung Dewi Awan.
Dendam, hasrat, ambisi, dan harapan, seluruh perasaan itu membaur membawa langkahnya untuk datang ke pusat perumahan, sebuah perumahan yang dulu Nurvati dan orang tuanya tempati.
Rumah-rumah yang terbuat dari batu berlian Ungu, melayang 2 meter di atas tanah, semua rumah saling berjauhan memberi ruang jarak sekitar tiga meteran antara halaman rumah dengan halaman rumah para tetangganya, awan-awan yang berbeda warna pun terparkir di pinggir jalan, di setiap rumah, sebagai lift untuk naik ke halaman rumah.
Perumahan di malam hari selalu dalam lingkup kesunyian, para Peri memang lebih betah di dalam rumah, berkumpul bersama keluarga. Dan di siang harinya mereka lebih banyak bekerja, ras Peri adalah makhluk pekerja, sehingga tak perlu heran bila mereka tak suka tidur, bahkan kebanyakan Peri hanya tidur sebulan sekali.
Budaya yang paling terkenal dalam ras Peri adalah beternak kunang-kunang dan menebarkan kunang-kunang setiap bulan purnama tiba, itu dilakukan untuk memberi penerangan bagi makhluk-makhluk yang membutuhkan cahaya.
Patung Dewi Awan di tengah kompleks perumahan adalah simbol ucapan terima kasih masyarakat, khususnya di perumahan ini pada sang Dewi, pada zaman Cahaya 090 alam Peri bangsa Barat, sama sekali belum memiliki awan, dulu alam Barat tak dinaungi oleh waktu siang dan selalu dilingkupi waktu malam yang penuh dengan taburan bintang.
Hingga suatu ketika, tersiar kabar adanya jin dan manusia yang menikah, dan dari pernikahan itulah melahirkan seorang anak perempuan, tapi sayangnya, umat manusia membenci anak perempuan itu, dikarenakan wujudnya yang berbeda dari manusia pada umumnya.
Menyadari hal yang membangkitkan rasa empati dari Ketua Razael, maka sang Ketua Razael menculik atau memindahkan gadis itu ke alam Peri Barat, dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun sungguh disayangkan, itu justru sama saja seperti yang sudah-sudah, sang anak Perempuan itu tak memiliki sayap dan ujung telinganya runcing, maka para Peri mulai merundung dan selalu menghardik anak perempuan itu.
Melihatnya menderita, Ketua Razael pun menawarkan bantuannya pada gadis tersebut, sang gadis disuruh memilih, membumihanguskan seluruh ras Peri bangsa Barat atau membumihanguskan umat manusia.
Tetapi ajaibnya, ketua Razael malah dibuat terheran oleh permintaan sang gadis, gadis itu sama sekali tak memilih ke dua tawaran Ketua Razael, justru sang gadis malah meminta agar bumi alam Peri bangsa Barat untuk dijadikannya mirip seperti alam Manusia, ini dilakukan hanya karena sang gadis menginginkan adanya persatuan dalam keberagaman meski pun berbeda wujud, agar dibuatnya simbol Peri dan Manusia yang hidup bersama-sama.
Jelas, karena hal itu mudah bagi Ketua Razael, maka dia langsung memerintahkan Malaikat-Malaikat pencipta untuk membentuk alam Barat persis seperti alam Manusia, dan saat gadis itu dewasa dan mulai mempelajari ilmu 'Pengenal Diri' dia kembali pada wujud Aslinya yang lalu digelari Dewi Awan.
Dan dari situlah rakyat berterima kasih, karena oleh sang Dewi Awan-lah bangsa Barat tidak disesatkan atau dibinasakan oleh Iblis; Ketua Razael.
Perlu digaris bawahi, pada saat itu, Iblis memakai gelarnya kembali, bisa dikatakan, dia mampu berganti-ganti wujud, kadang menjadi teman manusia, atau kadang menjadi musuh manusia. Dia satu-satunya 'Malaikat' yang paling membingungkan. Bahkan beberapa klan dari ras Peri percaya, Iblis itu adalah 'Malaikat Penunjuk Kejahatan'.
Patung Dewi Awan ini setinggi 10 meter, pose berdiri dengan dua tangan yang terulur ke depan seperti sedang menjawat, dan kakinya ditutupi awan, patung yang terbuat dari batu berlian, terlihat bening dan berkilau. Dan Nurvati tengah berdiri menginjak tepat di atas kepala patung sang Dewi.
Udara disekitar mengalun halus, gemintang menemani rencana Nurvati selanjutnya, judulnya tetap sama; menegakkan keadilan.
Dia kembali mengenang tempat mengerikan ini, yang mana di sinilah orang-orang menjauhi Nurvati hanya gegara Nurvati tak punya sayap, anak-anak seusia Nurvati pun sampai banyak yang meledeknya cacat, bahkan yang paling ironi, sampai ada yang memfitnah Nurvati berasal dari kawin silangnya ras Peri dengan ras Manusia, dan hal itulah yang paling menyayat hatinya dan keluarganya, rundungan itu bukan dilakukan selama satu tahun, justru rundungan itu terus dilakukan hingga 100 tahun lamanya.
Tak ada kenangan manis di sini, kesendirian selalu menjadi akhir cerita, semua perbuatan kebaikan Nurvati dianggap hasutan Iblis, fitnah perihal Nurvati adalah kawin silangnya ras Manusia dan ras Peri paling sering dilontarkan, mereka tak percaya pada ras Manusia, dan membenci manusia, meski tak semua begitu, tetapi terlalu banyak untuk dibilang sedikit.
Padahal, mereka menjujung tinggi sang Dewi Awan yang berbelas asih, yang tak membedakan antar ras, padahal, mereka mengakui sang Dewi Awan yang pemaaf, yang tak pernah dendam pada semua makhluk, namun mereka semua hipokrit, mengapresiasi sang Dewi Awan hanya sebatas pajangan sejarah, hanya untuk dipuji oleh masyarakat luar bahwa mereka juga punya cerita. Datang bercerita yang sebenarnya berdusta. Begitulah pandangan Nurvati saat ini.
Maka, telapak tangan kanan Nurvati tertuju ke bawah tepat pada kepala sang Dewi, dengan penuh dendam yang kini muncul kebencian, tertembaklah laser hijau dari tangan kanannya, tepat pada kepala patung Dewi Awan.
Mula-mula laser itu tak berefek apa pun, selang tujuh detik, mulailah kepala patung dari batu berlian itu bersinar kehijauan, hingga beberapa saat kemudian, akhirnya retak lalu remuklah kepala patung bagaikan longsoran salju, disusul oleh hancurnya badan patung tersebut, hingga berakhir ke kaki patung Dewi Awan, Nurvati melayang dengan terus berusaha menghancurkan patung tersebut sehancur-hancurnya, sampai tak dapat lagi dikenali.
Butuh 40 detik sebelum akhirnya patung Dewi Awan remuk bagaikan pasir dan berwarna putih, patung kebanggaan masyarakat perumahan di area Timur ini telah hancur dan itu oleh Nurvati.
Terlebih dengan santai tanpa merasa bersalah, Nurvati duduk bersila di atas remukan patung itu, duduk menunggu masyarakat sadar, bahwa ada seorang wanita yang menghancurkan patung Dewi Awan demi menegakkan keadilan atau tepatnya, menyadarkan masyarakat bahwasanya patung sang Dewi Awan hanya menjadi omong kosong belaka di sini.
Syukurnya, setelah 10 menit berlalu, harapan Nurvati telah terkabul, dua ras Peri penjaga perumahan telah datang menghampiri, datang dalam raut muka bingung dan keheranan yang memicu munculnya raut muka marah.
”APA-APAAN INI?“ sergah satu pria penjaga yang usianya lebih tua dari Nurvati.
Dua Peri penjaga itu berdiri dalam jarak 6 meteran memandang penuh tanya pada Nurvati. Oleh sebab itulah, Nurvati mulai bangkit berdiri.