
Seluruh korban pembunuhan yang dilakukan Nurvati telah memberikan keterangannya, kebanyakan dari mereka lebih menuturkan malam sebelum dan sesudah kejadian itu terjadi, diselingi oleh derai air mata lara dari seluruh korban, mereka semua kaum wanita dan terpaksa menjadi janda untuk meneruskan hidupnya.
Diam dan duduk manis masih dilakukan Nurvati.
'TOK' 'TOK' 'TOK', suara ketukan palu dari Pak Hakim kembali memecah suasana.
“Baiklah, sekarang keterangan terdakwa untuk bicara jujur, atas alasan apa Anda berbuat rusuh di perumahan area Timur, dan mengapa Anda menghancurkan patung Dewi Awan?” ujar Pak Hakim, melanjutkan sidang.
Maka berkat kesempatan itulah, Nurvati mulai bersiap diri untuk menunjukkan akan keadilan yang dia junjung; keluhan. Sedangkan di satu sisi, baik para saksi mau pun para korban, mereka berharap-harap cemas akan apa yang diutarakan Nurvati.
Otomatis, seluruh pasang mata menjadikan Nurvati sebagai pusat perhatian. Suasana serius menjadi jauh lebih pekat.
Mula-mula Nurvati berdehem tiga kali, berusaha membuat dirinya rileks, Nurvati masih mampu mengendalikan dirinya dan suasana, tetapi para korban mulai tegang, takut kalau-kalau pemaparan Nurvati tak masuk akal, atau boleh dikata, takut kalau Nurvati berbohong.
Bersama pandangan lurusnya pada Pak Hakim, dalam gestur santai, tetapi memendam gejolak ambisi yang masih berkantaran, dan tekanan mental yang kuat-kuat dirinya bendung, Nurvati pun bicara, “Kalian ... tidak memahami ... kalian ... adalah pengganggu dalam kehidupan.”
Singkat, jelas dan mengundang emosi, itulah kandungan yang terdapat pada kalimat tak berperasaan dari Nurvati, membuat seorang wanita berambut merah, korban kedua dari pembunuhan Nurvati, bangkit berdiri.
Marah dan jengkel, telah menggerakkan kakinya untuk maju ke depan kaca ruangannya hingga dengan lantang nan berani, dia berkata, “He, perempuan berengsek! Sudah jelas kau pembunuh ... malah menuduh kami pengganggu, gila kau! Dasar gila!
Kalimat ejekan yang muncul dari emosi itu hanya ditanggapi Nurvati oleh apatis. Memaksa sang Hakim untuk mengetuk palu dua kali, 'TOK' 'TOK' seraya mengimbau, ”Tolong untuk tenang, anak-anak! Tolong untuk tidak memotong keterangan terdakwa!“
Tapi wanita berambut merah itu hanya berdiri dengan menyalang menatap Nurvati sembari mengepal tangan kemarahan, setidaknya dia diam. Situasi masih tetap kondusif dan terkendali, begitu pun dengan emosi Nurvati, masih bisa dikendalikan.
Selang tiga detik melewati hening, angan-angan Nurvati tetap pada titik zenit keadilannya, semua orang memang tak akan memahami, lalu kembali berujar, ”Aku membunuh demi keadilan, siapa pun yang menghalangi hukum keadilan, maka wajib disingkirkan ....“
Kala untaian kata pemaparan itu merasuk pada pendengaran wanita berambut merah, giginya bergigit geram, netra pingainya masih meneteskan air mata kesedihan, ia hendak kembali melampiaskan marahnya, namun masih tersekat oleh rasa penasaran pada lanjutan penjelasan Nurvati.
”... saat aku masih kecil, warga perumahan tak menyukaiku hanya karena sebuah mitos, aku dan keluargaku terkadang direndahkan hanya gegara aku tak memiliki sayap, dan anak yang tak memiliki sayap adalah anak pemanggil iblis, mereka memfitnahku, mengusir keluargaku hanya karena mitos ... dan suatu hari ... aku melihat, saat orang tuaku dicaci maki gegara aku berteman dengan anak-anak mereka, orang tuaku selalu difitnah sebagai pemungut anak pemanggil iblis, syukurnya orang tuaku adalah penyabar sehingga mereka menyikapinya dengan santai, tetapi aku sangat tidak terima ...!“
Semua diam mendengarkan pemaparan Nurvati.
Selepas itu, hening sempat melingkupi suasana, merenggut waktu demi waktu, kotak sel tahanan Nurvati sama sekali tak memancarkan merah, mengartikan kejujuran Nurvati tak boleh dibantah!
”... dan untuk patung Dewi Awan ... ketika aku mengenang sebuah ingatan manis di kepalaku, ya ... ingatan manis tetapi sangat memilukan buatku, ketika aku selalu dan selalu memandangi patung Dewi Awan itu, aku selalu mendengarkan bagaimana para orang tua menceritakan keanggunan dan kedermawanan sang Dewi ... walau diri-Nya ditolak dari lingkungan masyarakat, tak secuil pun perasaannya memiliki dendam atau kebencian pada semua, baik umat Manusia mau pun umat Jin, dia berbelas asih pada semua makhluk, memberi dan berbagi tanpa melihat status sosialnya ... cerita itu terus bergaung pada telinga anak-anak mereka, dari generasi ke generasi, menjadi legenda dan sejarah ... tetapi ....“
Masih dalam serius, semua orang mendengarkan dengan saksama cerita Nurvati. Pikiran sang wanita berambut merah meninggi, berkutat pada sikap dingin Nurvati, apa yang sekiranya membuat seorang wanita seperti Nurvati merasa tidak bersalah sudah membunuh. Apakah begitu besar dendamnya hingga apa yang diperbuatnya adalah benar, sang wanita tak habis pikir pada pelaku yang baginya tidak waras itu.
”... saat keluargaku difitnah, saat warga percaya mitos, dan lebih memperlihatkan kebencian, saat itu aku mengartikan bahwasanya patung Dewi Awan adalah simbol untuk menutupi betapa munafiknya para warga di perumahan itu, padahal patung itu dibuat demi menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan dalam keberagaman ... namun faktanya, itu bualan mereka semata, formalitas agar dipandang baik ... maka dengan menghancurkan patung itu, kesadaran akan perbuatan mereka selama ini, mulai dipandang dan aku harap mereka paham,“ pungkas Nurvati dengan lantang nan mantap, tetap duduk manis.
Di lain kejiwaan, meski Nurvati terluka oleh masa lalunya, tetapi dia tidak memahami, bahwasanya apa yang dilakukannya pun menimbulkan derita di pihak lain, para korban yang menanggung derita, anak-anak mereka yang kehilangan kasih sayang mendiang orang tuanya, dan itu membentuk beban moril, karena bagaimana pun Nurvati membunuh demi ambisinya sendiri. Tak ada yang berempati pada Nurvati.
Pak Hakim yang mengerti arah pembicaraan Nurvati, langsung bertanya untuk memastikan. ”Jadi ... kamu melakukan semuanya untuk balas dendam?“
”Bukan ...!“ bantah Nurvati dengan lantang nan penuh percaya diri.
Semua orang sengap hingga mengernyit kening kebingungan.
”... kulakukan perbuatanku agar semua orang mendapatkan keadilan, yaitu rasa sakit dari apa yang dahulu mereka tidak pahami, bahwasanya menyakiti seseorang maka akan kembali disakiti, meski cara yang berbeda, tetapi tetap merasakan sakit ... itulah keadilan, sama berat dan tidak memihak,“ jelas Nurvati tanpa ragu, tanpa malu dan teguh pada pola pikirnya, yang baginya semua wajib menggugunya.
Sontak, pemaparan Nurvati memicu konflik dari seluruh korban dan untuk para saksi mereka hanya diam dalam kebingungan, bingung harus berbuat apa, memendam pemahamannya dalam diam, tetapi pastinya, menganggap Nurvati tetap salah.
”Jadi benar, kamu membunuh semua anggota militer yang saat itu mengejarmu?“ tanya Pak Hakim dengan suara seraknya dan berusaha memastikan.
”Iya aku ... tak peduli dia rakyat jelata, tak peduli dia pemimpin, tak peduli dia abdi negara ... siapa yang menghalangiku untuk menegakkan keadilan, maka mesti dihabisi,“ jawab Nurvati dengan tegas dan lugas, tetap berteguh hati.
Warna sel tahanan Nurvati tidak memancarkan warna merah, Nurvati telah jujur. Maka keriuhan terjadi dalam ruangan, mengomentari kejahatan Nurvati yang artinya telah absolut bahwa Nurvati membunuh dengan sengaja dan wajib dihukum mati.
“PEREMPUAN ITU GILA! PEREMPUAN ITU GILA! HUKUM MATI DIA!” sentak wanita berambut merah sembari menggedor-gedor dinding kaca sebagai penguat reaksi amarah serta jengkelnya, menyalang memandang Nurvati yang tampak begitu santai.
Akan hal itu, otomatis keadaan menjadi jauh lebih menegangkan.