
Masih dalam ketegangan dengan langit nuansa violet yang bertabur bintang menunjukkan keindahannya. Terpaksa diketinggian 300 meter, Putri Kerisia harus menunda penyerangannya.
Karena masih begitu sengit pertempuran Haro dengan siluman raksasa itu, pukulan bertubi-tubi yang digencarkan Haro mampu ditangkis oleh tangan siluman.
“Sialan! Si Haro selalu saja menghalangi!” keluh Logia yang melihat itu sebagai suatu masalah.
“Sudahlah ... yang terpenting siluman itu kita habisi!” timpal Arkta dengan menyindir kritikan Logia.
“Tapi kita punya rencana matang! Sedangkan si pelupa itu malah menghalangi!” sentak Logia membela diri dan kesannya malah meledek Haro.
“Kau ini berisik sekali, ya ... padahal kita juga sama-sama berjuang ....” Perkataan Arkta terpotong.
“KAU YANG MALAH MENANGGAPIKU! SUDAH TAHU HARO MEMANG MENGHALANGI KITA! KALAU HARO MATI KITA TAK BISA LULUS!” bentak Logia sebagaimana biasanya yang selalu ingin dirinya diprioritaskan.
”Cukup, ucapan kalian terdengar buang-buang konsentrasi,“ tegur Putri Kerisia yang akhirnya angkat bicara.
Mendengar kalimat teguran itu Logia malah melukiskan raut muka senderut. Sedangkan Arkta malah berkata, ”Iya, perempuan cerewet ini banyak tingkah.“
Sayangnya Logia malah tak terima dengan celetukan Arkta, dan kembali menyentak, ”KAU YANG SELALU BANYAK TINGKAH! KAU YANG ....“
Perkataan geramnya terpaksa tersendat karena menyadari Haro telah tertinju cukup jauh hingga terpental sejauh 200 meter dengan mendarat keras ke tanah.
”Cepat serang!“ seru Arkta enggan kehilangan momen.
Tak banyak pikir, Putri Kerisia melesatkan laser nuansa ungu dengan efek menghanguskan yang setara dengan laser milik siluman raksasa.
'Blasssssh' laser mengenai setengah tubuh siluman raksasa, tetapi justru kepala sang siluman menengadah ke langit, membuka mulut dan seketika, ikut melesatkan laser hijau yang membidik Putri Kerisia.
'Wannnnggg' 'Nguunngg' 'Nguuunngg' 'Nguunnnngg' laser nuansa ungu dari Putri Kerisia kini saling beradu dengan laser hijau siluman raksasa. Kegelapan di sekitar mereka menjadi tersingkir akan terefleksikan oleh terangnya sinar laser itu, membuat suasana menjadi terang.
”Kenapa siluman itu menjadi kuat begini?!“ resah Arkta terus menyalurkan energi sihir ungunya.
”Sepertinya dia bisa menyerap serangan menjadi kekuatan!“ sangka Logia dengan serius.
”Tidak mungkin! Itu membutuhkan level ilmu Hikmah yang tinggi!“ sanggah Arkta yang memiliki praduga lain.
'NGUUNNNG-NGUUUNNNNG'.
”Kita coba saja sihir Pikir!“ saran Logia yang penasaran.
”Tidak bisa ...! Sihir tidak mempan!“ tolak Arkta yang langsung pesimis dan memang mengikuti apa yang diberi tahu Putri Kerisia sebelumnya.
”Firasatku mengatakan ... siluman ini dulunya manusia yang memiliki ilmu Hikmah alam 30 ditambah telah bertapa puluhan tahun hingga ilmu sihir berhasil manunggal padanya, lalu saat usia hidupnya harus ditutup, dia memilih untuk tetap hidup dengan tubuh lain yaitu siluman ...,“ papar Putri Kerisia tanpa ragu dengan lantang dan yakin.
Tentunya apa yang diucapkan Putri Kerisia bukanlah sebatas firasat, kalau bukan informasi dari sang Diri Asli lantas apa lagi.
Tetapi Logia yang mana memiliki kecemburuan sosial pada Putri Kerisia malah protes, ”Haahh ... firasat lagi firasat lagi.“
Dan hanya Arkta yang menyanjung karena memang dirinya menyukai Putri Kerisia. ”Wah ... kau hebat Putri Kerisia, itu masuk akal ... aku yakin itu bukan sebatas firasat ... ya, aku yakin.“
Logia mendekus muak melihat Arkta 'sang penjilat' dan memang selama perjalanan mereka dalam berkegiatan bersama-sama, Putri Kerisia selalu mengandalkan firasatnya lalu Arkta mulai menyanjung Putri Kerisia yang dirasa adalah fakta akurat.
Meski begitu, Putri Kerisia memanglah menyembunyikan pengetahuannya dibalik kata 'firasat' dan walau dia juga kadang kala berkata sesuai data, akan tetapi terlalu sering Putri Kerisia mengandalkan firasatnya hingga sulit dibilang jarang-jarang.
Haro telah berdiri tegap kembali, memandang kedahsyatan kekuatan laser yang saling beradu itu, raut mukanya serius, netra ungunya tak berkedip terlarut dalam pemandangan mengesankan itu. Baginya memang mengesankan.
'Nguunngg' laser nampak sama-sama kuat, dan begitu-begitu saja tanpa adanya kemajuan.
Tak mau membuang waktu, netra gelap siluman itu kembali menembakkan bola energi nuansa hitam kearah Putri Kerisia serta rekan-rekannya.
'Buafs' 'Buafs' 'Buafs' tapi bola energi hitam itu tiba-tiba saja malah menjadi pecah karena telah beradu dengan bola energi nuansa hijau.
Haro telah terbang, tepat di tengah-tengah titik beradunya laser nuansa ungu dengan laser nuansa hijau, dia berusaha membantu dengan menembakkan kembali bola-bola energi pada bola-bola energi siluman raksasa itu.
”Bagus Haro! Kau tepat pada waktunya!“ puji Arkta keras-keras berharap Haro menyadarinya kalau perbuatannya layak diapresiasi.
Tapi di sana, dengan tersenyum tipis Logia cukup mengucapkan satu kata, ”Hem.“ Walau singkat setidaknya dirinya mengakui kemunculan Haro memang pas.
Kecuali Putri Kerisia yang sengap dengan raut muka tak berperasaannya, tetap fokus pada lawan.
Sehingga pertarungan menghebat dan membuat mereka harus berjibaku bertahan dalam menyerang.
Dan mau tidak mau waktu berkutat pula bersama kejadian itu, membuat segenap perhatian tak dapat terpisah pada lawannya, tak ada yang mau kalah dan tak mungkin juga kabur disaat begini. Sebab bagaimana juga masih belum dipastikan tujuan siluman raksasa menyerang tim 12, entah ingin memakan mereka demi menambah kekuatan atau memang memiliki maksud lain.
Hanya saja, siluman raksasa kali ini tak mau dipojokan, dia semakin ganas menembakkan bola-bola energi hitamnya pada Haro, yang secara mengagetkan, Haro mulai kerepotan oleh kecepatan serangan siluman raksasa itu.
”Haro tak akan sanggup! Aku pun tadi kalah oleh siluman sialan itu!“ ungkap Logia yang mencurahkan kegundahannya dalam pesimis. Masih terus menyalurkan energinya pada Putri Kerisia.
”Kita harus mencari cara lain!“ timpal Arkta yang sependapat dengan Logia dan menyarankan hal yang lebih baik.
Akan tetapi, ketika dua rekannya mulai melihat celah ketidakberdayaan Haro, dengan keras namun tetap tenang, Putri Kerisia buka suara, ”Tidak ada cara lain ...!“
”... Haro harus sanggup! Kita harus menelaah lebih dulu kekuatan lawan sejauh apa!“ imbuh Putri Kerisia yang berbicara sebagai ketua tim 12.
”Kau gila! Menelaah bagaimana ... aku saja tak sanggup melawan kekuatan bola energi siluman itu ... apalagi si pelupa itu ...!“ singgung Logia yang kontra terhadap pernyataan Putri Kerisia dan bukan karena tidak percaya pada kemampuan Haro, hanya saja, mengingat Haro itu pelupa dan terkadang menyusahkan orang lain membuat Logia agak pesimis.
“... kita harus cari cara lain!” lanjut Logia bersikukuh untuk mencari kesempatan lain, terlalu berisiko bila mengandalkan si pelupa itu.
”Kau tidak sanggup karena kau bekerja sendiri ... biarkan aku menyelidiki dengan firasatku,“ balas Putri Kerisia dengan santai.
”Apa kau gila!“ ledek Logia.
”Kita harus mengikuti perintah ketua tim! Apa yang dikatakannya ada benarnya juga!“ kata Arkta yang memang sudah seperti tradisi kalau dirinya pasti akan membela Putri Kerisia.
”Heh! Kau sama saja gilanya! Ketua bodoh ini hendak menyelidiki lawan dengan firasatnya lagi!“ cemooh Logia.
”Kau tidak berhak bicara begitu! Firasat Putri Kerisia kebanyakan akurat!“ bela Arkta dengan menyalang memandang Logia di samping kanannya.
”MIKIR PAYAH! FIRASAT TAK BISA DIJADIKAN REFRENSI!“ sentak Logia yang malah bersitegang dengan rekannya sendiri.
“KAU YANG PAYAH! YANG JELAS-JELAS TAK MUNGKIN JUGA KETUA TIM INGIN KITA KALAH! MIKIR!” bentak Arkta terus membela keputusan Putri Kerisia.
"BODOH KAU! SUDAH JELAS TEMAN KITA TERDESAK MALAH MAU MEMAKSAKAN KEHENDAK!"
"KAU YANG BODOH! KITA SEDANG BERUSAHA, TAK ADA YANG MEMAKSAKAN KEHENDAK!"
Saat rekan-rekannya tengah berdebat, Haro yang fokus pada lawannya, dengan begitu impresif, terus berjibaku dan berjuang agar rekan-rekannya tak terluka. Dia memang pelupa, tapi itu tak pernah menutupi rasa empatinya.
'Buafs' 'Buufs' 'Buafs' beberapa bola cahaya mulai mengenai tubuh Haro tapi tak sedikit pun dia lengah untuk menghalau segala tembakan bola cahaya agar tak menyerang rekan-rekannya.
———————————————————————————
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Untuk mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada saran/kesan tak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)