
Perasaan itu mudah berubah-ubah seiring hari dan setiap yang dihadapi, entah memang begitu atau hanya Arenda seorang yang mengalaminya.
Cukup dilema apa yang terjadi padanya kini, pikiran takut pada kerasnya politik bernegara membuatnya pusing, lebih lagi pikiran kalau dirinya terbentuk oleh kehidupan yang tak diharapkannya membuatnya frutrasi.
Arenda telah berada di sebuah tempat yang cukup asing, berdiri di rerumputan nuansa pingai memandang hamparan bunga-bunga berwarna-warni, bunga-bunga nan indah harum mewangi itu terpampang sejauh mata memandang, sedangkan di belakang Arenda perbukitan terpancang kokoh yang diselimuti rerumputan nuansa pingai.
Pergi ke tempat ini tanpa berpamitan pada anggota kerajaan, karena baginya hanya dia seorang yang boleh tahu.
Untuk saat ini dirinya sendirian, betapa tidak, ada seorang teman yang hendak menemuinya, teman lama yang sedari dulu menikmati waktu dalam kebersamaan, canda, tawa atau tangisan yang menjadi penghias pertemanan mereka telah jadi kenangan manis.
6000 tahun menjadi lamanya mereka terpisah, berpisah karena impian yang mereka perasat, atau tepatnya impian yang dipaksa.
Segalanya terasa hampa, di sini di tempat ini, segala mimpinya bermula, pertemuan dengan temannya berawal di sini.
* * *
Kenangan itu masih mengalun dalam visual yang cukup mengesankan, dulu, saat Arenda masih anak-anak yang selalu datang ke tempat ini, datang hanya untuk melihat adanya anak laki-laki aneh.
Seorang bocah laki-laki yang selalu menanam bunga-bunga hias, yang bunganya selalu mati namun tanpa lelah ia menanam lagi banyak bunga-bunga dan mati, tapi lantas menanam lagi.
Berminggu-minggu seperti itu hingga tanaman yang mati menggunung.
Arenda selalu menyelia di puncak bukit, berminggu-minggu selalu datang hanya untuk menyaksikan kegagalan bocah laki-laki konyol itu, laki-laki yang tak menyerah untuk menanam banyak bunga hias.
Ratusan kali gagal dan ratusan kali akan ditanam bunga yang baru, tak lelahnya bocah Peri itu terus menanam bunga yang baru. Sampai 3 tahun terlewati dan selalu menanggung beban kegagalan.
Keanehan itu yang menggerakkan Arenda untuk pada akhirnya rela menemuinya, menyapa dan berbincang.
“Hai ... namamu siapa?” tanya Arenda dengan mengulur tangan kanan ke depan berniat berjabat tangan.
Bocah laki-laki berwajah bulat itu meraih tangan Arenda dengan dua tangan sekaligus, menggerakkannya cukup cepat ke atas dan ke bawah, begitu bersemangat dalam berjabat tangan, seraya menjawab, “Namaku ... Apan ....”
Bocah laki-laki yang sebenarnya ramah, bocah laki-laki yang menyambut Arenda dengan gembira dan ceria, bahkan untuk perkenalan pertama, bocah laki-laki itu sama sekali tidak canggung yang justru mampu membuat Arenda terbawa suasana cerianya.
“Kenapa sebegitunya menanam bunga? Untuk apa memangnya menanam banyak bunga?”
Sebuah pertanyaan dari Arenda yang membuat Apan hingga tersenyum lebar dan berdiri menghadap Arenda, lantas menjawab, “Demi bertemu dengan ibuku ... katanya kalau 300 bunga dengan 9 jenis bunga ditanam, ibuku akan hadir.”
Apan mengira kalau dengan menanam banyak bunga dirinya dapat berjumpa dengan mendiang ibunya. Menurut penuturannya sebelum ibunya meninggal karena dibunuh oleh penyihir, sang ibu sempat berpesan, bila dengan menanam banyak bunga hingga tumbuh subur, maka mendiang ibunya akan muncul kembali.
Kebohongan yang terdengar manis bagi bocah seperti Apan yang daya imajinatifnya tinggi, masih percaya takhayul dan dongeng-dongeng.
Maka secara mengejutkan, Arenda menggunakan kemampuannya sebagai peri klan Daun, energi nuansa jingga terpancar dari ke dua tangannya, lalu puluhan bola-bola energi nuansa jingga dibebar ke setiap ratusan bunga yang layu itu.
Secara ajaib, ratusan bunga-bunga yang layu itu kembali pulih, tumbuh segar seperti telah dirawat dengan sempurna.
Seluruh bunga, semua yang layu di tempat itu kembali tumbuh segar.
Terbelalaklah Apan dengan semringahnya, memandang takjub pada kejadian di depannya. Terlebih-lebih dirinya jingkrak-jingkrak kegirangan.
“YEAH HEBAT! HEBAT ...!” serunya dengan begitu puas penuh syukur.
Benar, bersama berlalunya waktu, mereka selalu menunggu di hamparan bunga-bunga hias itu, dua jenis bunga terdapat pula di bumi manusia sisanya hanya ada di alam Peri.
Tapi walau telah ratusan bahkan ribuan bunga tumbuh subur. Selain daripada berkat energi dari Arenda, bunga-bunga dapat subur karena sejak saat itu Arenda memberi tahu caranya merawat bunga-bunga itu dengan benar. Tak pernah sekali pun ibu Apan hadir atau kembali hidup.
Semua sunyi, damai dan tetap beraroma wangi, hanya itu yang meliputi realitas. Sedangkan Arenda serta Apan selalu duduk berselonjor menikmati suasana dengan memandangi bunga-bunga yang seakan menari-nari gegara embusan angin. Harapan untuk bersua kembali dengan ibu Apan hanya selalu menjadi harapan, tak pernah terealisasi.
Dalam momentum menunggu itu mereka banyak menceritakan sejarah kehidupannya masing-masing.
Arenda yang tinggal dengan ke dua orang tuanya yang selalu sibuk bepergian, yang selalu belajar segala macam bentuk-bentuk politik bernegara. Arenda acap kali selalu dimarahi bila menggunakan energi jingganya di hadapan mereka.
Keluarga Arenda tak ingin Arenda menjadi seperti orang-orang terdahulu, agar Arenda tak menjadi seperti kakeknya yang mati hanya demi membela klan Daun.
Arenda selalu dituntut untuk menyukai dan terobsesi pada politik bernegara, padahal dirinya sangat membenci itu.
Sementara Apan adalah kalangan peri penyihir, dia menjadi yatim gegara orang tuanya gagal dalam menjalankan misi rahasia.
Apan selalu tinggal di hutan, dia enggan tinggal bersama neneknya, yang mana nenek serta kakeknya justru ingin Apan melanjutkan perjuangan orang tuanya untuk menjadi penyihir militer.
Mirip seperti kisah Arenda, keluarga Apan menginginkan Apan menjadi penyihir dan bukannya menjadi Ketua Kehormatan.
Keluarga Apan pun selalu menegur bila Apan membaca kitab-kitab tentang para malaikat. Kecuali ibunya yang selalu mendukung Apan untuk menjadi apa pun yang diimpikannya.
Mereka duduk berdua di sana membicarakan tentang impian.
“Aku ingin menguasai energi jinggaku dan menjadi pemimpin klan Daun di bangsa Barat ...!” seru Arenda dengan lantang mengungkapkan cita-citanya.
“Aku ingin menjadi seorang Ketua Kehormatan dan membimbing para peri untuk menjadi malaikat ...!” sambung Apan dengan lantang mengungkapkan cita-citanya.
Atas kesamaan hidup itulah mereka semakin akrab dan selalu bermain bersama-sama, ikatan pertemanan yang kuat yang lambat laun seiring hidup dilalui menjadikan mereka bersahabat.
Arenda akan kabur dari pelajaran politik di rumahnya hanya demi menemui Apan dan Apan sering kabur dari pelajaran sihir guna menemui Arenda.
Waktu yang mereka jalani bersama membuat mereka tumbuh dewasa bersama, membuat segalanya berubah dan mengetahui kalau ratusan bunga yang ditanam itu tak pernah mampu menghadirkan ibu Apan.
Mereka terpaksa berpisah disaat Arenda harus pergi ke negara lain untuk melanjutkan pendidikan politiknya dan Apan pun harus pergi pada akademinya di luar kota.
Perpisahan itu cukup menyedihkan dan mengharukan bagi mereka, mereka harus dewasa, terpaksa dewasa oleh desakan dari luar diri mereka. Mengejar impian yang bukan impian mereka dan terpaksa membahagiakan keluarga mereka demi impian keluarga.
Mereka berpisah dan terlalu sibuk untuk bertemu bahkan terpaksa harus saling lupa sejenak gegara banyaknya hal baru yang dialami.
* * *
Iya, semua mimpi berawal di tempat ini, setiap warna bunga di sini seakan menunjukkan impian dan canda tawa yang indah seperti dulu. Bahkan di tempat inilah mereka bertemu lalu akhirnya berpisah. Benar-benar menyentuh dalam hati Arenda, terasa begitu halus melambungkan angan-angan.
Sebuah masa kanak-kanak yang paling berkesan bagi Arenda dan tak mungkin terulang lagi.
Hari ini, setiap waktu yang direnggut untuk mimpi orang lain, telah membawa Arenda untuk pertemuan dengan sahabatnya dulu; Apan.