Nurvati

Nurvati
Episode 189: Suara Merdu Sang Ibu.



Sementara sang angsa putih terbang menjauh, Nurvati serta sang lelaki bertahan dari setiap serangan sang wanita.


Gelembung hitam itu nyatanya hanya akan hancur bila terkena bola energi hijau dari Nurvati.


Dalam pertarungan saling menembakkan bola-bola energi itu, sang lelaki gencar mencetuskan argumentasi perintah agar sang wanita menghentikan tindakan bodohnya.


Sedangkan Nurvati hanya terbang dengan terus menembakkan bola-bola energi dalam kebungkaman.


'Syut' 'Buaf' 'Buaf' 'Syut'.


Serangan-serangan jarak jauh gencar dilangsungkan.


Setiap detik yang berharga terbuang dalam pertempuran itu.


Rasa kasihan pada adiknya serta kekecewaan karena tak ada keadilan yang didapatkan, membuat sang wanita menyadari kalau hanya dengan caranya sendiri dia dapat mencapai keadilan.


Namun disela-sela pertarungan jarak jauh ini, sang lelaki secara tak terduga memaksimalkan kekuatan energinya.


'BOUFF'.


Bola energi nuansa merah menghantam wajah sang wanita, membuat sang wanita terkapar menanggung luka. Lebih-lebih berkat benturan keras energi pada wajahnya, sang wanita hampir tak sadarkan diri.


Sifat destruktif energi sang lelaki lumayan kuat. Hidung sang wanita patah, tulang wajah sang wanita bahkan retak, giginya pun berguguran.


Terlampau lemah sang wanita dalam pertarungan. Wanita itu hanya sanggup meningisi menanggung beban kepasrahan. Dirinya telah kalah oleh satu serangan telak dari temannya sendiri.


Atau mungkin wanita itu tidak kalah, melainkan menyerah. Dia menyerah dan itu diperkuat oleh argumentasinya.


“Semuanya ... memang tak semudah yang diharapkan ... aku tidak bisa menjadi kakak yang baik ....”


Nurvati dan sang lelaki telah mendarat di samping sang wanita. Memandangnya dengan keseriusan penuh, bahkan Nurvati memandangnya cukup prihatin dan ironis.


Akan tetapi, bersama usainya pertempuran tersebut. Di sanalah secara tiba-tiba sang Diri Asli mulai bicara dalam batin Nurvati.


“Wanita itu telah tersentuh oleh satu serangan, luka di wajahnya telah menyentuh hatinya ... Nurvati, kau tak perlu membunuh mereka yang terjebak dalam hawa Iblis, cukup hajar titik lemah yang membuat mereka tersadar ... tidak perlu dengan kata-kata, cukup dengan perbuatan ....”


Meski Nurvati tak tahu kelemahan seseorang, terlebih sang wanita yang dikalahkan bukan olehnya, Nurvati hanya mampu terdiam mencoba meresapi pengalaman baru ini.


Selepasnya, batin Nurvati mulai merasakan kedamaian lagi, dia menyadari kalau sang wanita telah sadar. Sadar kalau perbuatannya hanya akan percuma belaka, sebab pastinya akan banyak yang menghalanginya dan malah memicu dendam.


Untuk itulah Nurvati tak banyak bicara, dirinya kembali lagi melanjutkan tugasnya.


Meninggalkan sang wanita serta sang lelaki. Nurvati serta sang angsa kembali ke perumahan. Mencari lagi dua orang yang terkekang hawa Iblis.


Karena memang kewajiban untuk bertemu Diri Asli telah terimplementasi, Nurvati tak perlu lagi bersemadi di tengah malam. Dirinya bahkan boleh untuk hidup normal lagi. Tapi tetap, dirinya tak boleh membunuh makhluk yang memiliki roh.


* * * * *


Saat malam tiba, masih di kota Ertia. Nurvati kembali mendapati batinnya terasa tak tentram. Batinnya kini merujuk pada sebuah hunian.


Masalah lain didapat. Kalau seorang remaja perempuan, hendak bunuh diri.


Remaja tersebut mengurung diri dalam kubus segel seperti kaca. Sedangkan orang tuanya tak dapat membuka segel tersebut, acap kali sang ayah hendak membuka segel kubus tersebut, acap kali itu pula, sang remaja akan menusukkan pisau pada tangannya dan kini telah tiga pisau menancap ngeri di tangan kirinya.


Remaja perempuan itu hendak bunuh diri gegara di sekolahnya ia sering dirundung oleh teman-temannya sebagai 'anak kaleng'.


Bukannya apa-apa, remaja ini memiliki ibu dengan gangguan mental. Sang ibu sangat suka menendang kaleng dan bernyanyi-nyanyi sendiri di depan rumah menyanjung kaleng-kaleng yang ditendangnya.


Dalam alam jin memang sangat banyak para pribadi yang memiliki kecacatan mental ketimbang fisik.


Komunikasi secara verbal, baik mengandung motivasi, atau mengandung preventif, masih belum mampu menyadarkan kekeliruan pikiran gelap sang gadis, sang remaja tetap merengek hendak bunuh diri.


Nurvati paham apa yang dirasakan remaja tersebut. Dia juga tahu kalau sang remaja agak takut melakukannya. Sebab bila ditilik secara nalar, kalau benar remaja ini hendak bunuh bunuh diri, tentulah dia langsung bunuh diri saat ini juga.


Oleh sebab itu, Nurvati secara tegas dan lantang, mencetuskan kalimat perintah. “Paman, bantu aku menghancurkan segel ini!”


“Tapi anak saya pasti akan menusukkan lagi pisaunya,” cemas sang ayah.


Maka tanpa ragu, tak menghiraukan kecemasan tersebut, tangan Nurvati diliputi dengan energi hijau. Walau sempat ditahan oleh sang ayah, Nurvati tetap kukuh hendak menghancurkan segel kubus ini.


Segel kubus tersebut terbentuk dari sebuah alat berteknologi canggih dan cukup mudah untuk dihancurkan.


Maka 'Dhuak' 'Dhuak' Nurvati menghajar dinding segel tersebut.


Jelas sang ayah panik, namun hanya sanggup kebingungan di sana, sedangkan sang ibu yang memiliki keterbelakangan mental hanya celingak-celinguk sambil berkata, “Maafkan ibu ... maafkan ibu ... maafkan ibu ....”


Hal itulah yang membuat sang remaja berani menusukkan 4 pisau pada pergelangan tangannya.


Tanpa memedulikan kengerian itu, Nurvati secara konsisten terus menghajar segel tersebut.


Hingga ketika Nurvati berhasil menghancurkan segel kubus itu, sang ayah lekas-lekas menghampiri anaknya, menghentikan anaknya, menggenggam ke dua tangannya agar tak menyiksa dirinya lagi.


Nurvati terdiam di sana, menatap remaja yang menangis itu tanpa senyuman, tanpa kata-kata.


“AKU TIDAK MAU MEMILIKI IBU YANG CACAT!” sergah remaja perempuan itu.


“AKU TIDAK MAU MEMILIKI IBU YANG CACAT!” teriaknya laksana pengharapan yang wajib terkabul.


Sementara sang ibu, lagi-lagi sambil menggelengkan kepala dengan jemari yang memegang erat kain gaunnya, terus bicara, “Maafkan ibu ... maafkan ibu ... maafkan kecacatan ibu ....”


Nurvati tak dapat berbuat apa-apa, di sana tetap terdiam berusaha mencerna baik-baik apa yang hendak dilakukan sang remaja.


“AKU TIDAK MAU PUNYA IBU YANG CACAT ...! AKU TIDAK MAU PUNYA IBU SEPERTIMU!” teriak sang remaja perempuan telah benar-benar muak dan putus asa.


Sang ibu yang memiliki keterbelakangan mental, terus menggelengkan kepala dengan mata yang tak fokus. Kata-katanya kini telah beralih. “Tidak mau seperti ibu ...? Tidak mau ... tidak mau punya ibu ....”


Hingga entah apa yang dipikirkannya, secara tiba-tiba, tangan kanannya memanifestasikan sebilah pisau dan 'Shrep' disayat lehernya oleh tangannya sendiri, lalu 'Bruk' sang ibu jatuh kejang-kejang.


Sontak perkara serius nan menggemparkan ini menggugah sang ayah, yaitu suaminya langsung menghampiri istrinya dengan begitu sedih, ketakutan dan panik.


Nurvati tak beranjak dari sana, walau wajahnya hingga seluruh gestur tubuhnya menyiratkan keterkejutan, dirinya malah seakan membeku di tempatnya. Netranya bahkan sampai berbuntang menyadari realitas tragis itu.


Dan sang remaja pun sampai merengek menangisi kepergian ibunya.


Telah tewas ibunya tanpa sempat tertolong, sang ayah pun hanya dapat menanggung kepasrahan dan harus merelakannya.


Di sana, terus berlinang air mata kesedihan sang remaja, gadis remaja itu tak mengira akan melihat ibunya tewas bunuh diri.


Sebab, setelah semua kejadian nahas itu terlewati. Nyatanya sang gadis remaja malah tetap bertahan hidup, dirinya bahkan menyesali perbuatan bodohnya, dia meminta maaf pada ayahnya.


Dan sang ayah yang tak dapat berbuat apa-apa, karena memang begitu menyayangi anak tunggalnya, hanya mampu memaafkan anaknya itu.


Disertai hawa penyesalan dalam kepedihan, dikeesokan paginya, mereka serta keluarga mereka mulai memakamkan sang ibu.


Nurvati hadir dan hanya sanggup memasang gestur tubuh yang menyiratkan dukacita.


Hingga segalanya mulai berlalu, dengan waktu yang bekerja, diakhir perpisahan dengan mereka, Nurvati sempat memberikan pesan pada sang ayah. “Anak paman hanya ingin didengar ... iya, dia hanya ingin didengar keluhannya ... saya sarankan, untuk pindah sekolah dan pindah rumah ....”


Sang ayah menerima usulan tersebut. Sedangkan sang gadis remaja meminta maaf pula pada Nurvati.


Selepas berpisah dalam kondisi dukacita dan Nurvati serta angsa putih yang kembali pergi untuk merampungkan lagi tugasnya. Di sanalah sang Diri Asli kembali bicara dalam batin Nurvati.


“Remaja itu telah tersentuh oleh satu harapan yang terkabul, luka di hatinya telah lambat laun disembuhkan oleh kesadarannya sendiri ... Nurvati, kau tak perlu banyak berbuat, mereka yang terjebak dalam hawa Iblis, cukup sentuh titik lemah yang membuat mereka tersadar ... tidak perlu dengan kata-kata, cukup dengan pengorbanan ....”


Namun demikian, kendati satu pribadi lagi telah terlepas dari hawa Iblis, Nurvati merasa tak berguna, seolah dia hanya sebatas penonton acara drama yang tak sengaja naik ke panggung, lalu turun lagi, atau dengan kata lain hanya sebatas membawa pengalaman baru. Tidak begitu berarti, tapi cukup dibutuhkan.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)