Nurvati

Nurvati
Episode 58: Dalam Realita Berujung Tangisan Kematian.



Suasana santai dan cerah nampak langsung berubah serius, mulanya Sasvaty tetap menunjukkan kesan baik-baik saja, malah ketika ingin kembali menutupi masalahnya dengan kata-kata manis, semua niat itu pupus, sebab Falas telah mendesak.


“Aku sudah tahu semuanya ibu!” tegas Falas.


“Jadi ... jangan lagi berbohong! Kenapa harus ibu yang dihukum!” imbuhnya secara terang-terangan dan memaksa agar Sasvaty jujur.


Sasvaty tersenyum tenang, seakan-akan tak perlu ada masalah yang harus dikhawatirkan, tatapannya begitu teduh penuh kasih pada Falas.


“Falas ... mereka hanyalah para orang tua yang berusaha melindungi anaknya ... itu wajar, dan ibu juga tak mungkin membiarkan anak-anak terluka,” tutur ibu Sasvaty begitu damai.


“Tetapi bukan kita yang salah!” sentak Falas, dilakukannya hanya karena rasa ibanya pada ibunya.


“Iya ... anak-anak panti yang ditindas, itu sebabnya ... ibu yang menerima hukumannya, dan kalau pun anak-anak panti yang salah, ibu pasti menghukum mereka,” jelas ibu Sasvaty.


Falas bergigit geram, mendilak, merasa kesal dengan kebohongan ibunya.


“Dan ibu ... berbohong padaku, hanya ... argh!” keluh Falas dengan berbalik badan memunggungi ibunya.


“Tidak apa-apa Falas ... ibu baik-baik saja ...,” kata ibu Sasvaty yang berjalan menuju suaminya.


Suaminya sedang menepuk-nepuk awan nuansa hijau yang mengeluarkan gelembung-gelembung ke udara. Entah biar apa, tapi dia nampak asyik hingga tertawa gembira.


Satu hal yang pasti, meski ayah Falas memiliki kekurangan, tetapi dia mampu terbang dan hidup mandiri, yang mungkin juga Sasvaty terkagum-kagum akan hal itu.


Falas kesal, dia sulit berpikir jernih, seluruh perasaannya terasa getir, dan kelesah, entah harus bagaimana. Satu sisi mustahil baginya melawan rakyat, satu sisi ibu serta teman-temannya yang ditindas namun malah mereka pula yang disalahkan. Dan karena tak ingin anaknya malah menanggung susah, Sasvaty mengajak Falas untuk pulang, pulang bersama-sama dan berniat untuk istirahat satu hari penuh di rumah; berkumpul bersama.


Meski mulanya marah, namun Falas serta dua orang tuanya akhirnya beranjak pergi dari taman Awan, menuju rumah.


Tak banyak yang mereka lakukan di rumah, kecuali bincang-bincang mengenai pertemuan awal Sasvaty dengan suaminya, sebuah pertemuan yang tak sengaja karena dulu Sasvaty adalah seorang pedagang, menjual banyak masakan di rumahnya dulu, yang tiba-tiba ayah Falas datang sebagai pembeli.


Suaminya dulu adalah petani, dan sejak itulah keakraban terbentuk, lalu terjalin ikatan kuat yang disebut cinta dan berakhir pada ikrar pernikahan. Ya, dia sempat tak mendapat restu orang tuanya dulu, bahkan orang tua suaminya pun tak merestuinya, hanya saja, yang namanya perjuangan kuat, tekad, serta kesungguhan, semuanya itu syukurnya mampu menjadi akhir yang manis.


Cerita kehidupan Sasvaty berakhir ketika waktunya makan malam. Benar, mereka banyak bercerita hingga tak terasa memakan banyak waktu, melintasi waktu dalam setiap untaian kata-kata yang menjadi cerita pengalaman ibunya dulu.


Seluruh kegelisahan masih menjerat Falas, dirinya masih memikirkan jalan keluar dari konflik ras ini, semalam sangat-sangat gelisah, hingga sampai pada waktu tengah malam. Waktu yang begitu krusial, karena saat itu, yang harusnya semua berada di rumah, tiba-tiba saja, ibunya dipanggil oleh salah satu anak teman Falas. Sasvaty pergi bersama Falas. Mereka pergi tengah malam menuju panti asuhan area Selatan.


Malam di mana perasaan Sasvaty sangat khawatir, dan Falas mulai merasakan adanya hal yang tak beres. Hingga sampailah mereka pada panti asuhan. Sampailah kaki mereka berpijak kokoh di lantai pertama gedung panti asuhan. Di ruang pertama yang luas.


Hingga seluruh perasaan gelisah pada anak dan ibu itu kini terbayar. Terbayar akan hadirnya lima sosok anak panti asuhan, telah berdirinya lima teman Falas di depannya dalam jarak empat meter, berderet memandang Sasvaty dan Falas dengan air mata kesedihan yang melimbur pipi mereka. Dan sontak, suasana dalam remang-remang lampu kunang-kunang di sini seketika berubah menjadi hening nan kelam.


“Ibu ... kami sudah meraih keadilan itu untuk ibu ...,” ungkap anak laki-laki bertubuh kelelawar yang entah maksudnya apa namun mampu membuat jantung terkesan sempat berhenti bergerak.


Wajah Falas serta ibunya langsung berubah serius.


“A-apa yang terjadi?” tanya ibu Sasvaty dengan mengernyit kening kebingungan dan melangkah maju hati-hati.


Netra pun terpaksa fokus pada tangan mereka yang nampak basah, yang mana itu memunculkan rasa takut, rasa takut itu muncul oleh darah emas yang menetes di setiap jari teman-teman Falas.


Ras Peri memang memiliki darah warna emas, itu terjadi karena adanya enzim serta energi genetik dalam tubuh yang berpadu dan dipompa jantung sehingga menciptakan warna emas, kental dan seperti darah manusia pada umumnya.


Falas serta Sasvaty melangkah dengan pelan menuju lima anak panti ini, aura mau pun hawa di sini mulai terkesan dingin nan mengerikan. Ada kejadian dahsyat yang telah terjadi!


“Hiks ... hheuuuuuunnng ... hiks ...,” tangis senguk-sengak anak perempuan berbadan besar berkulit sisik kadal yang tertunduk memilukan.


“Ada apa ini? Cepat beritahu ibu!” desak Sasvaty dengan lantang dan terus melangkah perlahan-lahan.


“Nica ... ka-kamu saja, yang bicara,” pinta anak perempuan berkuping runcing dengan menunduk menyikut lengan kiri anak perempuan berkepala harimau.


“Waaaah ... bagaimana mengatakannya ya ... aku tidak pandai berkata-kata ...,” keluh anak perempuan berkepala harimau begitu santai sambil menggaruk kuping kanannya.


”Katakan saja apa yang terasa selama ini di hatimu,“ usul anak laki-laki berwujud setengah ular yang tertunduk pilu dan berdiri di samping kanan Nica.


“Ah ... yang di hati ya ... terima kasih ... ya ... hehehe ... aku tidak tahu harus ngomong apa ... tapi ... terima kasih, berkat ibu ... kami jadi tahu seperti apa itu kasih sayang seorang ibu, kami juga, jadi mengetahui tentang pentingnya persatuan, kesatuan dan ikatan persaudaraan, kami jadi tahu ... ya, kami jadi mengenal seperti apa rasanya dimarahi oleh seorang ibu, atau serunya dibelikan permen oleh seorang ibu ...,” beber anak perempuan berkepala harimau dengan tersenyum lewat mulut harimaunya itu namun matanya berkaca-kaca.


Maka melangkah cepatlah Sasvaty menuju si anak kepala macan —Nican— hingga berlutut dengan dua lutut sembari memegang dua bahu Nican penuh tanya nan serius.


“Kenapa kamu mengatakan itu?” sergah Sasvaty.


Namun Nican hanya memandang lurus ke depan tanpa menjawab.


“Lihatlah ibu ... kami meraih keadilan lewat darah,” ujar anak laki-laki bertubuh kelelawar dengan mengangkat tangan kanannya ke depan wajah sambil mengepal, tangan yang telah berlumer darah emas itu hingga menetes ke lantai memberikan kesan yang nampak menyedihkan.


Sontak Sasvaty langsung menoleh ke ujung kirinya, dalam mengusut seraya bertanya, “Apa maksud ini semua?”


Falas kini berdiri di depan anak perempuan bertubuh besar yang berkulit sisik kadal, berdiri menyisakan jarak satu meteran, memandangnya penuh tanya nan keheranan.


“Kami mengadili beberapa warga, lalu mengirim seluruh anak-anak panti di sini ke alam Siluman, kami membunuh mereka yang sudah menyakiti ibu saja ...,” ungkap anak laki-laki setengah ular dengan pandangan ke depan dalam kehampaan.


Jelas kalimat pengakuan itu membuat kesadaran Sasvaty serta Falas terhenyak, lebih-lebih Sasvaty seketika langsung bangkit berdiri, menatap seluruh anak-anaknya dengan marah, bingung, kecewa, sedih, yang berpadu dalam perasaan getir.


“APA KALIAN SUDAH GILA!” sentak Falas tak menyangka sebagai ekspresi keheranannya.


“Apa kalian sadar! Bahwa yang kalian lakukan adalah kejahatan!” sentaknya lagi hingga suara Falas bergema di ruang ini.


Anak perempuan bersisik kadal hanya terus menangis senguk-sengak dengan tertunduk kesedihan, anak laki-laki berwujud setengah ular serta anak perempuan berkepala harimau hanya memandang ke depan dalam kehampaan, namun juga mereka begitu nampak sedih. Sedangkan anak perempuan dengan ujung kuping runcing hanya tertunduk diam, malu dan sedih.


Tapi di ujung sana, seorang anak laki-laki bertubuh kelelawar justru dengan bangga tanpa merasa bersalah, malah berucap, “Tak ada kejahatan, saat kita menegakkan keadilan di dalam pembalasan.”


Falas seketika sengap tak mengira kalau akan menjadi seperti ini, sementara Sasvaty memejamkan netranya dengan bergigit kebingungan dalam beban moril yang kini harus ditanggungnya. Anak-anak itu juga hanya berusaha melindungi harga diri serta kebahagiaan orang-orang yang paling berharga dalam hidup mereka.


“Terima kasih atas pengorbanan waktu Anda telah mengurus anak-anak haram seperti kami, terima kasih telah mengorbankan tenaga dan mental pada setiap detik untuk kebahagiaan kami, terima kasih ...,” ungkap Nican dengan lantang dan mantap.


”... dan .... apalagi ya, bingung hehehehe ...,“ herannya dengan menggaruk telinga kanannya.


”Maafkan kami ibu, ka-kami tak bisa meraih cita-cita kami, semuanya terasa membuat kami buta ...,“ sambung anak perempuan berkuping runcing.


”Kami tak sanggup melihat ibu seperti ini terus, bagi mereka ... satu noda hitam lebih kelihatan ketimbang seratus noda putih, jadi ... anak haram seperti kami layak mati!“ kata anak laki-laki bertubuh ular dengan telapak tangan kanannya yang ditempelkan pada keningnya.


Maka bersama kelamnya waktu, dalam kepiluan yang merenggut asa, suara 'Bruk' menjadi tanda pertama bahwa ambruknya anak laki-laki bertubuh ular itu, tewas bunuh diri, terkapar dengan darah dari kepalanya.


”ERNO ...!“ teriak Falas dengan kaget tapi terpaksa bergeming di tempatnya, karena sedetik setelahnya, netra birunya kembali terpaksa berbuntang oleh kejadian tak menyangka.


Secara berbarengan, seluruh anak ambruk di lantai, tewas bunuh diri, dengan cara menggunakan kekuatan Cahaya yang diarahkan tepat pada kening mereka masing-masing. Mereka tewas terbaring dalam waktu semalam. Tewas demi mengakhiri penderitaan seluruh masyarakat, atau lebih tepatnya, mati demi mengobati keresahan seluruh orang.


Telah tertunduk dan mengepal erat Sasvaty di sana, terpejam serta bergigit menahan derita yang menjerat mentalnya, dirinya merasa gagal sekaligus tak berdaya. Lagi dan lagi mesti kembali menanggung realita menyayat hati. Semuanya jadi percuma, semua dan semuanya benar-benar hanya berujung menjadi persembahan untuk tangisan kematian.