Nurvati

Nurvati
Episode 4: Kebencian Warisan Takdir. (Part 2)



70 tahun berlalu, ketika semua dalam kemelut konflik antar ras, ketika penghinaan sebagai kriminal, dan ketika yang benar terlihat salah, apalagi yang salah terlihat benar, tak disangka, pada akhirnya ras Peri berani mendeklarasikan perang pada dunia, dengan alasan, penegakkan hukum serta penegakkan keadilan.


Jelas itu terasa benar, karena jin dari ras lainnya telah bertindak sewenang-wenang, tak lagi menghormati ras Peri. Tetapi konyolnya, ras lain pun menganggap demikian pada ras Peri, sungguh, hal ini menjadi pertanyaan besar.


Mulanya seluruh warga agak kaget, bahkan menolak perang, tetapi, lebih banyak suara yang setuju kala berita-berita berhasil mendoktrin tentang kebenaran perang yang dikumandangkan oleh ras Peri. Seluruh raja di penjuru bangsa Peri setuju, mau bagaimana pun, mereka juga tak mau harga dirinya sebagai ras yang paling dekat dengan malaikat, ternodai.


Anak-anak belajar di rumah, penjagaan alam Peri diperketat, para orang tua tetap bekerja seperti biasanya, kehidupan santai mulai agak berubah krusial.


Pasukan militer dikirim pada seluruh alam jin, penaklukkan seluruh ras segera dilancarkan, bahkan, ras Peri menyebarkan dogma pada seluruh ras, tentang, ras Peri yang wajib dijadikan pemimpin atas segala ras, dan siapa pun wajib mengikuti kanun yang digunakan ras Peri, sebab, hanya ras Peri yang paling dekat dengan malaikat dan hanya mereka yang mampu menjadi pemimpin.


Satu ras yang mengikuti ras Peri yaitu ras Etho, siap mengikuti hukum dan bersedia dipimpin oleh ras Peri, meski sebelumnya, ras Etho memang telah lebih dulu mengikuti ras Peri, jadi, tak terlalu mengherankan.


Kendati begitu, sang rival ras Peri tak tinggal diam, ras Barqo, tak rela harga diri mereka diinjak-injak, tak rela jika kemerdekaan ras lain dipegang oleh ras Peri, dan pastinya, tak rela ras Peri bertindak sewenang-wenang. Mereka tak mau ras Peri bertindak tanpa wahyu dari malaikat dan malah berusaha menyesatkan ras jin lain sama seperti Iblis nenek moyang mereka.


Dengan alasan, menyelamatkan hukum Kebenaran serta meluruskan sejarah yang dibelokkan, ras Barqo berperang, menentang ras Peri.


Perang berdarah dimulai di alam ras lain, tepatnya, alam ras Maan, meski mula-mula negosiasi sempat dilakukan, tetapi itu nyatanya menjadi basa-basi semata, perang tetap terjadi. Ras Peri berusaha menaklukkan ras Maan, dan karena tahu, bahwa kekuatan militer ras Peri begitu sangat kuat, maka, hanya ras Barqo, yang mumpuni menghadapi ras Peri.


Kekuatan ras Peri serta ras Barqo bisa dikatakan sebanding, sehingga tak ada yang sanggup meladeni ras Peri kecuali ras Barqo, begitu pun sebaliknya.


Ras Peri yang memiliki asas sistem pemerintahan, bahwa, ras atau bangsa dipimpin langsung oleh orang yang dipilih Malaikat dengan para ahli kitab sebagai wakil, lengkap bersama kanun yang bersumber dari Sang Maha Kuasa. Dan mereka kembali menyebarkan ideologi pada seluruh ras jin di alam jagat raya ini.


Tentunya sang rival; ras Barqo, yang memiliki asas bahwa bangsa atau ras dipimpin langsung oleh orang yang dekat dengan para Dewa dan mengikuti kanun dari Sang Maha Kuasa, tetap berpendirian, ras jin lain memiliki hak untuk tak bergantung pada ras Peri. Dan mereka kembali berjuang mempertahankan kemerdekaan serta hak-hak ras jin lain.


Pertempuran telah berlangsung cukup sengit dan menghabiskan banyak waktu, berita tersiar ke seluruh penjuru alam, membentuk ketakutan serta kegelisahan, hingga para Malaikat pun tahu tentang perang ini, tetapi menunggu wahyu adalah yang bisa para Malaikat lakukan. Lebih dari itu, seluruh ras jin siap untuk bergabung dalam perang. Bukannya apa-apa, tak mungkin juga mereka membiarkan kebenaran dibelokkan, kecuali ras Neznaz yang apatis.


Dua tahun adalah waktu yang dihabiskan demi memukul mundur, demi mengalahkan ras Peri. Diselingi sebuah fakta mengejutkan, ras Etho, umat jin yang tercipta dari es, sempat datang membantu, namun ikut kalah dikarenakan jumlah pasukan dari pihak lawan yang terbilang banyak.


Alasan apa pun itu, kebenaran dalam perang ini hanya satu, yaitu, menegakkan kebenaran dalam kesalahan yang terasa benar. Kebenaran bagi mereka adalah hukum dari kanun yang ras mereka miliki, dan kesepakatan untuk menjadikan salah satu ras menjadi pemimpin mereka, itu sudah ada sejak berbiliun-biliun lamanya. Sisi lain memihak para Malaikat sedangkan sisi lainnya memihak para Dewa.


Ras Peri memang mulanya kalah, sampai-sampai ras Etho dan ras Peri terpaksa kembali ke alam mereka. Tapi pulang bukan menerima kekalahan, karena mereka pulang demi menyempurnakan strategi perang, dan kembali menyiarkan berita ancaman untuk tunduk patuh pada ras Peri.


Tetapi sekali lagi, pihak lawan menolak, sebab ras Peri tak layak lagi untuk diikuti dan zaman memang sudah berubah.


Bahkan, hampir-hampir ras Etho mengirimkan bom Partikel pada lawan, sebelum akhirnya ras Peri menghentikannya karena terlalu berisiko, terutama gagal. Bom Partikel mampu membekukan satu bangsa besar, dan membuat semua tewas membeku. Dan ras Peri tahu, itu akan digagalkan oleh Anti Partikel yang dimiliki seluruh ras jin, apalagi, tujuan ras Peri adalah penaklukkan bukan pembinasaan.


2 tahun sempat menjadi waktu senggang, tepatnya, persiapan menuju perang besar, seluruh alam dijaga begitu ketat, para prajurit digembleng agar lebih mumpuni lagi, dan itu telah membentuk ribuan tenda di depan pintu antar alam, terkesiap untuk maju berperang.


Sementara sisa ras jin lain, masih menunggu dalam kesiapan penuh, mereka juga telah mempersiapkan pasukan militer mereka, tapi tetap, mereka akan ikut memulai bila mana perang tak dapat lagi dibendung serta kebenaran memang mendorong mereka wajib berperang, benarnya, menunggu waktu yang tepat.


Dan selama situasi memanas, Nurvati hanya berdiam dalam rumah, berdiam bersama ayah ibunya. Tiada waktu yang mereka habiskan kecuali sekadar berbincang-bincang atau bermain sebuah permainan kecil.


Menghabiskan waktu bersama keluarga, dan sesekali berusaha menguasai beberapa ilmu. Ilmu yang dipelajari hanyalah ilmu penyatuan alam.


Tak ayal, perjuangan demi perjuangan yang besar dilakukannya, berharap keberhasilan menjadi akhir perjuangannya. Ilmu Api, dan seharusnya mampu lebih dari ilmu itu, namun sayang Nurvati terus berkutat pada ilmu tersebut.