Nurvati

Nurvati
Episode 21: Redanya Waktu Krusial.



Satu jam menjadi lamanya perjalanan Falas serta Nurvati, menghabiskan saat-saat untuk sampai di sini, tepat di kolam bunga teratai air. Keadaan krusial dengan siluman telah mereda, keadaan tegang beralih menuju tenang. Mereka telah tiba dan buru-buru Falas duduk di tepi kolam bunga teratai, bersama kedua kaki yang dimasukannya ke dalam air kolam. Nurvati yang berdiri di samping kiri Falas hanya terpaku dengan menunduk memandang kegiatan Falas.


Mula-mula Falas mencabut bambu di dadanya hingga bergigit kesakitan lalu membuang bambu itu jauh ke depannya, terbuang ke dalam hutan. Kemudian tanpa ragu, dia meraup air kolam lantas meminumnya.


Nurvati yang merasa jijik dengan perbuatan Falas karena dia meminum air yang di mana kaki kotornya berada di dalam kolam menegur, “He, itu 'kan kotor.”


Kalimat Nurvati masih diambang tak terjawab, sebab Falas masih sibuk meminum air kolam menggunakan tangannya.


“Haah ....” Falas mengembuskan napas dengan kedua tangan yang kini bertumpu di tanah. Telah selesai minum.


“... tenang saja ... air kolam ini melarutkan kuman atau energi negatif yang masuk ke dalamnya, dan kau bisa menyembuhkan lukamu dengan air di sini,” ungkap Falas dalam raut santai bak tak merasakan sakit.


Walau telah menjawab kalimat Nurvati, roman Nurvati melukiskan keraguan, ia pun bersedekap menyilang, wajahnya terangkat menghadap ke depan, seraya menyindir, “Tapi aku kurang percaya, memangnya kau sudah mengujinya?”


Falas tersenyum santai, antara tak mungkin memperpanjang masalah ini, atau menandaskan masalah ini dengan kalem. Maka Falas yang memutar setengah tubuhnya pada Nurvati, menunjukkan dadanya yang telah sembuh secara ajaib. Dan berkata, “Nih lihat, sudah sembuh sedia kala.”


Falas yang menunjukkan kesembuhannya sanggup membuat Nurvati rela menoleh demi memastikan kebenarannya. Roman datar tetap tergambar pada Nurvati, ia memandang dada Falas yang sembuh, tanpa ada respons dari ungkapan kata. Dia bingung harus ngomong apa.


Falas kembali ke posisi semula pun tanpa bicara, raut romannya tetap kalem tanpa masalah, jiwanya masih tenang dan semakin tenang saat air terjun mini menciptakan vibrasi suara. Itu malah membentuk senyuman damai pada wajah Falas. Suasana di sini memang memungkinkan pikiran untuk tenang dan konsentrasi.


Nurvati yang terlarut dalam suara kucuran air, termangu dengan rasa sakit di dalam tubuhnya, ini gegara siluman macan. Suasana malam di sini tak terlalu gelap, disebabkan tubuh Falas yang memancarkan cahaya sekaligus bunga teratai di kolam ini yang entah bagaimana memancarkan pula cahaya kehijauan.


“Duduklah Nurvati, kau harus minum air ini, kau juga terluka 'kan?” saran Falas dengan menengadahkan wajah memandang Nurvati.


Perkataan Falas hanya ditanggapi oleh sikap masa bodoh Nurvati, ia mematungkan diri melarutkan diri pada lamunan kosongnya. Falas yang menyadari kehampaan pada lamunan Nurvati hanya bicara, “Apa kau masih mempermasalahkan tentang aku yang kau anggap tidak jujur?”


Nurvati mengerjap mata, tak disangka ia pun duduk di bibir kolam bersanding Falas, ia memang larut dalam lamunan, namun kesadaraan pada siklus hidup di sekitarnya tak diabaikan.


Kedua kaki Nurvati direndam pula dalam air kolam, kesegarannya menjalar cepat memadamkan kelelahannya, bagaikan rasa sakit di tubuhnya lenyap seketika. Meski mukanya melukiskan tak peduli, dia bicara, “Ya ... tadinya aku tidak percaya padamu, tapi ... ketika kau berjalan dengan dadamu yang terluka demi menolongku, sepertinya aku mulai memercayaimu ... karena, sebelumnya ... Putri Kerisia tak pernah terluka demi aku.”


Telinga Falas yang mendengar pengakuan Nurvati bereaksi dengan rasa senang yang membuncah dalam jiwanya, sebuah emosi dan empati teruntuk Nurvati menggerakkan hati serta pikiran Falas, tak lagi memandang Nurvati yang sangat cuek, atau putus asa, Falas hanya tahu satu konklusi; Nurvati butuh dipahami.


“Jadi ... pengalaman menjawab apa yang tidak bisa dijawab oleh kata-kata,” tutur Falas dalam pancaran netra kontemplasi ke depan.


Nurvati tak bereaksi, tetapi kesunyian serta suara kucuran air mengisi keadaan sekitar. Muka Nurvati menyiratkan sepakat dengan perkataan Falas.


“Aku ... telah dikecewakan oleh ucapan orang-orang, kalau boleh jujur ... aku takut jika peristiwa kedua terulang lagi,” beber Nurvati dengan merenungi dirinya. Tapi kalimatnya memiliki konotasi taksa.


“Oh iya ... apakah aku terlalu berlebihan dalam menghadapi hidup?” tanya Nurvati memastikan.


Sontak kedua alis Falas terangkat karena kaget, ia tak menyangka Nurvati mau meminta pendapat akan perspektifnya pada Nurvati.


“Kejiwaan seseorang itu berbeda-beda, jujur saja, aku juga dulu pernah dimanfaatkan oleh seseorang, tetapi ... aku masih sanggup kembali hidup tanpa menyamaratakan semua orang pembohong hanya gegara aku pernah dibohongi ... maksudku, cara jiwa kita menerima masalah kehidupan itu berbeda-beda, jadi ... sulit memberi takaran apakah kejiwaanmu menanggapi masalah berlebihan atau tidak. Kehidupan ini nisbi, tergantung cara memandangnya,” tutur Falas tanpa sungkan dan kalem.


Iris hijau Nurvati tertumpah pada kedua lututnya, meski ini malam hari, kakinya tak kedinginan, justru segar nan sejuk mengalun syahdu melingkupinya, ia mulai merasakan adanya empati dari Falas padanya, hanya saja, kehampaan hidup serta kemisteriusan Falas mengakibatkan puluhan pertanyaan bergumul dalam kepalanya.


“Kenapa ... kenapa semenjak kita bersama, kau tak pernah menyinggungku yang tak punya sayap?” tanya Nurvati yang pada dasarnya menyelidiki isi hati Falas dan akhirnya puluhan tanya yang bergumul itu pun melahirkan satu tanya meriset.


Falas sengap, berusaha memahami pertanyaan Nurvati. Tiga detik meliputi keadaan dalam damai, Falas yang menangkap sedikit berazam pertanyaan Nurvati mulai menjawab, “Ya, karena aku menyinggumu dalam hati.”


Perkataan yang agak berguyon namun menyindir itu hanya ditanggapi Nurvati oleh kata, 'eh' sambil menoleh menatap kaget pada Falas.


“Hahaha ....” Falas malah tertawa merasa tergelitik dengan ucapannya tadi dan tergelitik oleh reaksi Nurvati.


“Santai-santai ... candaanku tidak perlu dibawa dalam hati,” lanjut Falas dengan menatap ke depan dalam keseriusan dan tangannya masih ditumpukan pada tanah.


Nurvati hanya melukiskan raut datar. Meski ada jengkel di benaknya tapi rasa humor juga menggelitik benaknya.


“Luka di dalam batin sangat berpengaruh pada sisi kejiwaanmu, sehingga aku harus bicara hati-hati padamu, dan lagipula ... bukankah sakit hati bila seseorang itu dihina padahal dia sendiri tak menginginkan keadaan itu?” imbuh Falas menjawab pertanyaan Nurvati.


Falas paham akan apa yang terjadi pada mental Nurvati, sehingga memang kata-kata yang lahir dari mulutnya harus tak menyakiti Nurvati. Menjaga mulut dari perkataan sia-sia.


Senang! Itulah yang tiba-tiba membuncah dalam diri Nurvati, hingga mengangguk-angguk menjadi tanda, bahwa jawaban Falas memuaskan rasa penasarannya.


“Tapi ... nyatanya aku cacat 'kan?” keluh Nurvati dengan pandangan tertunduk. Dan tetap saja rasa inferioritasnya masih menguasai alam pikirnya.


Perkataan yang muncul dari Nurvati dipahami baik-baik oleh Falas, rasa sakit hati pada keadaan, kecewa pada diri sendiri serta pola pikir, itulah yang mengendalikan jiwa Nurvati. Gadis itu memang telah dilukai oleh kehidupan dan pikirannya sendiri.


Agak sulit mendeskripsikan jawaban untuk pertanyaan kedua Nurvati. Dia punya perasaan yang sensitif, jadi tak dapat gegabah dalam menjawabnya.


“Hmmmm ....” Falas melenguh bagaikan sapi, namun ini justru adalah ekspresi kebingungannya. Pikirannya terasa buntu.


“Jawab saja ... aku akan coba menerimanya,” pinta Nurvati sungguh-sungguh.