Nurvati

Nurvati
Episode 96: Dalam Implikasi Menjalani Rencana.



“Kami tidak mengerti ucapan kakak, tetapi ... kami akan menyelamatkan anak-anak yang diculik itu ...,” kukuh Quin yang membeberkan tujuannya.


Dalam pandangan pada kegelapan hutan, dengan mukanya yang menyiratkan rahasia, sang pendekar Pemecah Waktu berujar, “Kalian anak-anak yang gegabah dan degil ... dan percuma banyak bicara pada kalian.”


“Iya ... ya sudah ... kami akan melanjutkan pencarian,” balas Quin masa bodoh.


Anak-anak lainnya pun masa bodoh dengan sang Pendekar Pemecah Waktu yang sangat mereka kagumi, mereka teramat kagum, namun menyadari agak sombongnya pendekar ini membuat rasa hormat padanya terkesan menurun.


Hanya saja, baru juga satu langkah Quin berjalan dan teman-temannya hendak pergi, pendekar tersebut malah nyeletuk, “Kakak akan ikut dengan kalian.”


Bukannya menolak, jiwa anak-anak yang mereka miliki malah membuat mereka semringah kembali, rasa hormat pada sang pendekar otomatis kembali meningkat dan serempak memandang pendekar tersebut dalam raut muka senang nan ceria.


“Yang benar kakak?” tanya Quin memastikan.


“Wah ... bagus sekali itu!” timpal anak laki-laki berambut merah.


“Ini sangat bagus, warga kota pasti akan sangat kaget dan terkesima!” sambung anak laki-laki berambut hitam panjang.


“Ih ... aku seneng banget tau ... aku dan kakak bisa jadi seperti anak dan ibu,” kata Arista dengan polosnya yang begitu antusias.


“Syukurlah ... kita bisa bekerja sama menyelamatkan anak-anak ... hacim ...,” tutur Nerta dengan menyelip ke dua tangan di saku jubahnya.


Tak ada senyuman, namun pandangan pendekar pemecah waktu yang santai nan misterius tertuju pada seluruh anak. ”Iya, aku akan ikut hanya selama pencarian ini ....“


Semua anak kembali saling menatap dengan tersenyum dan ceria. Bahkan saling mengungkapkan rasa senangnya satu sama lain.


”Tapi, kalau boleh tahu, siapakah pemimpinnya di antara kalian? Dan siapa nama kalian semua?“ selidik pendekar pemecah waktu.


Semua saling menatap satu sama lain.


Lantas Nerta yang berada di ujung kanan teman-temannya maju ke depan, dengan raut muka santainya, dia bicara, ”Kami tidak punya pemimpin, siapa saja yang punya ide bagus langsung diucapkan, dan kalau semua setuju dengan ide itu, semuanya akan bergerak bersama ... tapi kalau tidak sesuai ... ya ... kami akan tetap mengikuti teman kami itu ... hacim.“


”Loh ... lalu bagaimana dengan serangan yang tadi kalian lakukan? Apa kalian tidak akan salah dalam posisi serangan?“ heran pendekar pemecah waktu.


”Itu sih pasti disusun ....“


”... intinya ... kami akan terus bersama-sama apa pun yang terjadi, tidak ada yang namanya senioritas atau pemimpin ... kami semua sama,“ imbuh Nerta dengan percaya diri.


Masih anak-anak mereka, masih terikat imajinasi dan terikat hasratnya sebagai anak-anak, begitu pikir sang pendekar Pemecah Waktu.


Walau terdengar gagah padahal gegabah, tetapi karena tak mau ambil pusing dan memaklumi mereka masih anak-anak, wanita pendekar pemecah waktu hanya mengangguk mantap dengan serius tanpa berkomentar.


Anak laki-laki berambut merah bernama Darko dan anak laki-laki berambut hitam yang bertelanjang dada bernama Gorah, sisa anak lainnya pun memperkenalkan diri masing-masing.


Pendekar pemecah waktu bernama Ezui Malania, yang biasa dipanggil Zui. Seluruh anak sebenarnya sudah tahu namanya, yang mereka tuntut adalah ingin ditunjukkannya kemampuan mengubah relativitas waktu.


Permintaan itu ditolak. Zui sang pendekar pemecah waktu malah langsung berjalan mendekati siluman gorila yang perlahan memudar. Dirinya hendak mengidentifikasi tubuh siluman. Dan anak-anak hanya mengikuti Zui yang secara tidak langsung telah dipercaya sebagai penunjuk arah oleh ke lima anak.


Tak ada yang curiga pada sikap Zui yang rela ikut atau mencari bersama ke lima anak itu. Zui punya rencana terhadap anak-anak polos ini. Karena bagaimana juga mereka hanyalah anak-anak yang masih butuh dibimbing dan sebagai satu-satunya orang dewasa di sekitar sini, hanya dirinyalah yang bisa diandalkan.


Tak ada informasi penting yang bisa didapat dari jasad siluman itu.


”Ayo anak-anak ... siluman itu dari luar hutan ... kita terpaksa bekerja lebih keras lagi ke depan,“ ungkap Zui dengan serius.


Lantas bersama waktu yang berputar dalam kenyataan, mereka melanjutkan perjalanan lebih dalam ke hutan, menembus kegelapan hutan, melompat di atas akar-akar pohon.


”Apa kalian membawa perbekalan?“ tanya Zui dengan melompat ke atas akar.


”Iya dong ... bawa banyak banget ...,“ jawab Arista yang berada paling belakang.


”Baguslah ... perbekalanku sudah menipis ... jadi mau tidak mau ... kita harus berbagi,“ balas Zui sungguh-sungguh.


Beberapa anak mengungkapkan persetujuannya. Hanya Nerta yang berkata agak rambang.


”Yaaaa ... okelah ....“


Sorot cahaya dari netra mereka masing-masing masih menjadi pemandu yang apik dalam menyibak kegelapan. Angin hanya berembus pelan bersama gemerisik dedaunan yang mengisi suasana hutan.


Kadang berjalan, kadang melompat. Mereka terus mencari anak-anak yang diculik oleh para siluman. Aroma pering yang kian mengganggu atau bahkan aura kelam keputusasaan tak dihiraukan mereka. Seolah itu hanya penghias perjalanan mereka semata.


Tapi karena waktu yang tak terasa berlalu dan lagi adanya sang pendekar yang begitu melegenda bersama ke lima anak unik tersebut, itu membuat mereka mulai berkomunikasi mencari info padanya. Pengalaman pertama ini tidak akan mereka sia-siakan.


Pertanyaan bukanlah sebatas kehidupan masa lampau sang pendekar, bagi anak-anak mereka sudah cukup info dari segala sumber yang ada. Justru pertanyaan terkesan rumit.


”Kakak ... siapakah yang kakak dukung dalam perang dunia ini? Kebenaran dari ras Peri, atau kebenaran dari ras lain?“ tanya Quin yang bukan hanya sekadar penasaran.


”Aku tidak ingin mendukung siapa pun, aku bersikap netral dalam masalah ini,“ jawab Zui serius dan melompat dari satu akar ke akar yang lain dan ini diikuti ke lima anak di belakangnya.


”Wah ... kalau begitu sama dengan kami yang netral ...,“ balas anak laki-laki berambut merah alias Darko yang berada di belakang Nerta.


”Benar ... perang ini terkesan dipaksakan ... dan malah menyengsarkan rakyat ...,“ sambung anak laki-laki berambut hitam panjang alias Gorah yang berada di belakang Darko.


”Aku juga nggak setuju sama perang ini ... nyebelin ... perang udah merenggut mama papaku!“ timpal Arista dengan mengungkapkan unek-uneknya.


Tak terlalu berarti apa yang diungkapkan anak-anak ini, mereka hanyalah anak-anak kecil yang bagi Zui mereka masih terikat oleh doktrin orang tuanya.


Tahu apa anak-anak itu tentang perang dan politik, mereka hanyalah anak kecil yang merasa tahu, yang justru mengandalkan imajiner belaka. Begitu pikir Zui.


”Oh iya ... apakah kakak mau menjadi guru kami, untuk membantu kami menguasai ilmu-ilmu yang lain ... seperti mempermainkan relativitas waktu?“ tanya Arista penasaran namun juga berharap.


”Sepertinya tidak ... karena bagaimana pun ... aku tak akan memberi ilmuku pada siapa pun,“ jawab Zui dengan kesungguhan penuh yang memang enggan menjadi seorang guru.


Kalimat yang mengandung penolakan itu justru menimbulkan keheranan di benak setiap anak, terutama Arista.


”Hah? Kenapa tidak Kak? Bukankah memiliki penerus yang hebat dan memiliki murid itu sangat keren?“ tanya Arista penasaran dan keheranan. Yang tetap betah di barisan belakang dengan melompat dari akar ke akar pohon lainnya.


----------------------------------------------------------------------------


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


..


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Untuk mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan tak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)