Nurvati

Nurvati
Episode 162: Dalam Mala Dalam Politik.



Ledakan yang dahsyat telah dengan cepat membunuh para tamu dan menghancurkan gedung acara. Sampai-sampai warga sekitar rela muncul dari tempatnya hanya demi menonton kejadian itu.


Dinding gaib pelindung pun mesti lenyap, membuat kepul asap sempat mengotori udara sekitar, tempat yang melayang di udara itu kini telah jatuh di tanah, puing-puing bangunannya telah menutupi sebagian kepingan jasad para korban, bahkan untuk itu pasukan militer penyelamat setempat telah tiba demi melakukan tugasnya.


Di sana Putri Kerisia serta Kaca masih berdiri memandang kejadian yang menyentak kenyataan itu. Terlebih wajah mulus Putri Kerisia masih melukiskan kagetnya, bukan itu saja, Putri Kerisia tetap berpose sebagai entitas dari seorang wanita terhormat; berdiri tegap, ke dua bahu sejajar, tangan kanan diangkat setengah badan hingga menekuk dengan kepalan tangan isyarat sebagai keteguhan tekad. Tak lekang sang Putri Kerisia untuk kukuh menampilkan sikap anggun nan bermartabatnya.


Sepi di sekitar mereka lalu diisi oleh kata-kata dari Kaca yang mencetuskan sedikit petunjuk dan interpretasi dari semua perkara ini. “Putri Kerisia ... mungkin Anda akan menduga kalau saya memiliki implikasi dalam masalah ini, tetapi saya rasa Anda paham, ini hanyalah permain kecil para penguasa yang membodohi orang-orang kecil ... jadi simpan saja sendiri kebenaran yang Anda miliki dan bebenah dirilah ... sebelum Anda yang selanjutnya ....”


Jelas kini pikiran Putri Kerisia tertuju pada Raja Azer, mengingat lagi setiap tanda dan gejala kebodohan serta gegabah kakaknya. Iya, mungkin sang raja bangsa Barat kini hanya menjadi boneka-boneka para kaum oportunis yang hendak membuat rasnya kembali jaya dan dengan berperang yang dilandasi alasan kebenaran, mereka berani membunuh siapapun.


Oleh sebab itu, jika memang harus melenyapkan para pembelot, maka kakaknya dengan senang hati pasti akan membunuh pula Putri Kerisia.


Putri Kerisia terpegun memandangi tim-tim penyelamat yang tengah sibuk membereskan gedung acara.


“Mereka sudah memilih ... iya, mereka sudah memilih untuk menjadi iblis dan mereka tidak sadar kalau merekalah Iblis itu ...,” ujar Putri Kerisia dengan kembali mengingat petunjuk hidupnya dan menyadari kalau dirinya adalah daftar dari target para iblis —bukan— daftar target dari para pengikut iblis.


Kaca hanya bungkam dalam kerahasiaan.


Raut muka Putri Kerisia masih datar tak berperasaan, akan tetapi sedikit rasa syukur pun membuncah perihal kehadiran Kaca yang nyatanya rela menolong sang putri, walau dia tahu kalau Putri Kerisia adalah targetnya.


Hingga dalam momentum itu, Putri Kerisia justru kembali dikejutkan oleh sebuah petunjuk dari sang Diri Asli.


“Kerisia, sesungguhnya orang yang tengah bersamamu ini, sebenarnya, telah sampai pula kepada-Ku dan telah Aku rahmati ....”


Sontak Putri Kerisia seketika menoleh menatap Kaca yang lebih tinggi darinya, —Putri Kerisia hanya setinggi dagu Kaca— dan kala momen memandang Kaca tejadi, faktanya Kaca memang satu frekuensi dengan Putri Kerisia, itu terlihat dari adanya pancaran aura spiritual sang Diri Asli yang sama.


Sebab nyatanya, dalam ilmu Pengenal Diri untuk mencapai Diri Rahasia yaitu suksesnya ilmu Pengenal Diri, Putri Kerisia mesti memasrahkan segala-galanya pada takdir dan Diri Asli, sehingga wajar bila kini Putri Kerisia tak tahu menahu perihal anugrah yang dimiliki Kaca, terlebih sesaat setelah dirinya mencapai Diri Sejati, Putri Kerisia tak mungkin lagi menggunakan kemampuan Diri Asli seenaknya.


Akan hal itu, Putri Kerisia tercenung dalam pandangannya yang terkunci pada Kaca. Yang mencetuskan pemahaman baru dan menyingkirkan asumsi sebelumnya; mungkin seorang sahabat sejati itu memanglah ada.


Dan kala momen itu berlangsung, Kaca sadar betul Putri Kerisia tengah memandang kearahnya, alhasil dia pun menoleh pada Putri Kerisia.


“Ada apa ... sepertinya Anda ingin mengajukan pertanyaan lagi ...?” tanya Kaca dengan suaranya yang terdengar dalam.


Pertuturan taklangsung dari Putri Kerisia mulanya direspons Kaca oleh terdiam, antara ragu atau enggan, lantas membalas, “Saya adalah orang yang sangat pemalu, jadi ... topeng cermin yang membungkus wajah saya demi menutupi rasa malu itu dan tak mungkin saya lepas ....”


Meski terdengar sederhana, nyatanya Putri Kerisia menjadi semakin interesan pada Kaca, tersentuh oleh alasan dibalik topeng itu. Karena selama jutaan pribadi yang Putri Kerisia jumpai, belum pernah sekali pun ada seorang individu yang menutup wajahnya dengan topeng karena pemalu.


Kendati begitu, dirinya kembali pada sikap wanita terhormatnya dan mengalihkan lagi netra merah lembayungnya pada tempat kejadian perkara.


Bersama dinginnya malam serta waktu yang berputar apatis, area sekitar tengah diperiksa oleh tim khusus takut-takut bila ada bom lainnya, sekaligus para warga mulai kembali pada kesibukannya masing-masing.


Tentu saja perkara ini menyedot perhatian para pencari berita dan menggugah para anggota sekte hingga organisasi mencari-cari alasan apa yang sebenarnya ada di balik ini semua.


Dan untuk kenyataan yang tak bisa dielakan ini, Kaca mulai kembali mengungkapkan niatnya untuk pergi. “Putri Kerisia ... waktu saya sudah tiba, saya mesti pergi ... dan bila para penyidik itu mulai mencari info dari Anda ... saya rasa Anda tahu mesti menjawab apa ....”


Hanya mengangguk Putri Kerisia merespons pesan tersebut, dirinya memang paham akan hal itu, yang kini kembali memasrahkan kepergian Kaca dan netra merah lembayungnya tak beralih sedikit pun dari tempat kejadian perkara.


Kaca pergi dengan membuat pintu teleportasi yang sekaligus meninggalkan Putri Kerisia sendirian.


Pada dasarnya, Putri Kerisia telah memahami kalau kejadian propaganda ini bukan semata-mata demi mencapai kekuasaan, bukan pula karena adanya sosok yang rakus berhasrat menguasai dunia, bukan itu, dari berbagai sumber yang terpercaya, pada dasarnya beberapa organisasi serta sekte hingga fraksi-fraksi yang ada, mereka hanya berhasrat untuk menegakkan keadilan dan kejayaan yang dimiliki ras Peri. Iya, hanya demi membuat seluruh ras mengikuti kanun dari ras Peri dan mereka rela membunuh orang-orang yang tak sepaham.


Kendati sayangnya, mereka keliru dalam merealisasikan kebenaran dan terbawa hasrat oleh ideologi mereka sendiri. Sebab bagi Putri Kerisia sendiri, pun seluruh pribadi dunia ini memiliki kemerdekaannya masing-masing, sehingga tak etis bila memaksakan kehendak yang berujung mala petaka.


Oleh sebab itu, dirinya tak pernah menyepakati terjadinya perang dunia ini, tak juga interesan untuk bergabung.


Dan pastinya itu pula yang menjadi alasan dirinya kini dalam target pembunuhan. Tetap saja walau dirinya dapat hidup kembali berkali-kali, itu justru tak membuatnya bisa seenaknya melakukan yang disukai, selalu ada konsekuensi dibalik perbuatan, benar, Putri Kerisia sangat memahaminya.


Di sini, Putri Kerisia merenungi lagi baik-baik yang dialaminya, kemungkinan besarnya, dia harus meninggalkan kerajaan, atau mengikuti Raja Azer yang gegabah itu.


Kian lama, selepas kemangkatan raja dan ratu ke 30, yaitu orang tuanya. Putri Kerisia mulai merasa asing tinggal di istana Awan, tanpa sanak saudara yang lebih memilih tinggal di tempat lain, terlebih kakaknya yang telah naik takhta menjadi raja ke 31 itu, mulai membuat Putri Kerisia terlihat bak seperti para babu istana. Segalanya mesti dituruti.


Untuk itulah, Putri Kerisia mungkin mesti meninggalkan istana, selain menyingkir dari kakaknya yang dungu itu, pun dirinya akan lebih mudah melaksanakan mandat dari langit.