
Siang harinya. Nurvati, angsa putih serta pria urakan tiba di bangsa Selatan.
Bangsa yang cukup besar dan luas. Mirip seperti bangsa Barat, seluruh rumah melayang di atas tanah. Hanya saja masyarakat di sini jauh lebih ramah.
Sangat merepotkan untuk dapat tiba di sini, selain adanya perang dunia, identitas pria urakan tak terdaftar di bangsa mana pun, malah sifat darahnya saja nampak berbeda dengan ras Peri di alam ini.
Sehingga pria urakan dicap sebagai peri dari planet lain dan dibuat identitas baru.
Nurvati lebih-lebih harus bersabar menghadapi kecerobohan sang pria urakan selama perjalanan. Seperti halnya saat makan di restoran, dia menyenggol pribadi lain yang malah membentuk keributan, sampai kecerobohannya membuat rumah warga menjadi terbakar. Selebihnya dia sangat cerewet.
Satu hal yang pasti, bila ilmu keilahian Lapisan Bumi milik Nurvati telah dihilangkan. Dirinya menganggap kalau ilmu yang hendak dipelajarinya nanti adalah ilmu yang cukup berat, sehingga membutuhkan konsentrasi lebih penuh agar tidak bercabang-cabang.
Istana Awan bangsa Selatan berada dalam ketinggian 3000 meter di atas bangsa kota Tyko provinsi Barat. Nurvati paham bila untuk dapat bertemu dengan sang raja mesti mengikuti prosedur dan akan diteleportasi pada daerah istana.
Istana Awan dijaga ketat dan dilindungi perisai gaib, hal itu membuat tak semua orang yang mampu terbang dapat langsung masuk ke dalam istana. Wajib mengikuti prosedur.
Dinding gaib itu tak dapat ditembus oleh kemampuan teleportasi angin sang pria urakan. Penyebabnya karena masih terhalang, atau jalur anginnya terputus.
Di lapangan khusus ini dengan banyaknya para tentara istana yang berjaga, beberapa warga nampak mengantre demi bertemu dengan sang raja.
Karena tak punya banyak waktu, di udara itu. Nurvati pun berteriak. “Tolong dengarlah! Aku tahu tempat Pangeran Awarta! Pangeran Awarta sudah aku temukan!”
“Dia ada ... ayo ... ayo ... datanglah dan saksikan!” sambung pria urakan seolah-olah hendak melakukan pertunjukan.
Sontak seluruh pribadi peri menoleh dan menjadikan Nurvati sebagai pusat perhatian.
“Aku Nurvati! Sudah menemukan Pangeran Awarta!” teriak lagi Nurvati sebisa mungkin didahulukan untuk bersua dengan raja.
Para anggota militer penjaga kerajaan pun mulai teralihkan fokusnya pada Nurvati. Terlebih dua orang penjaga datang menghampirinya.
Para penjaga itu langsung mempertanyakan kebenaran info yang dimiliki Nurvati.
Mereka awalnya sangat sopan dan ramah.
Sayangnya terjadi perdebatan saat Nurvati siap memberi tahukannya bila telah bersua pada raja. Hal itulah yang membuat para penjaga berani mengusir Nurvati dan kawan-kawannya.
Para penjaga khawatir bila info tersebut adalah dusta.
“Pergi dari sini!”
“Sebaiknya, Anda pergi!”
Tapi, Nurvati tak kehilangan ide. Dirinya mendesak pria urakan untuk menggunakan ilmu elemen anginnya, agar membuat para pribadi menyingkir dan memudahkan untuk memberi jalan pada pintu teleportasi menuju wilayah istana.
Cukup sulit untuk membuat pria urakan paham pada tujuan Nurvati. Sehingga Nurvati merebut batu yang dipeluk mesra sang pria urakan, lantas melempar batu tersebut pada pintu teleportasi kerajaan.
“BATUUUUUKUUUUUUU ...!” sentak pria urakan yang tak terima batunya dibuang.
“Ayo kita ambil! Dan buat kita pindah ke sana!” desak Nurvati dengan memegang sayap kanan pria urakan dan mendekap sang angsa putih.
Benar saja, sang pria urakan menggunakan ilmu elemen anginnya, 'Fiuw' membuat seluruh pribadi terdorong oleh udara, membuat celah untuk mereka dapat meluncur bebas menuju pintu teleportasi.
Maka 'Siuw' dengan menggunakan angin mereka melesat menuju target.
“Ngoooook ...!”
Hingga 'Tep' mereka berhasil menapak di lantai menuju pintu teleportasi. Malah bersama pria urakan yang berhasil kembali mendekap mesra bongkahan batunya, kemampuan udaranya kembali sirna. Seluruh pribadi dapat bergerak normal.
“Tangkap mereka!” bentak seorang penjaga memberikan titah.
'Hap' Nurvati menarik sayap pria urakan untuk masuk ke dalam pintu teleportasi. Membuat mereka seketika hilang dari tempat tersebut; berhasil berteleportasi.
Di ketinggian 3000 meter, dalam wilayah istana Awan. Tepatnya di halaman depan istana dengan lantai yang terbuat dari batu safir. Nurvati, pria urakan dan angsa putih berhasil berpijak di sini.
Bukan itu saja, mereka yang telah berhasil keluar dari pintu teleportasi, buru-buru berlari menuju lift awan. Melewati sepuluh pria penjaga istana dan berhasil membuat seluruhnya mulai mengejar Nurvati. Menciptakan hawa ketegangan yang kentara.
Konyolnya pria urakan yang memeluk batunya malah membuang batu tersebut. “Udah jelek ... payah.”
Lantas dia membuat lagi sebongkah batu dari udara dan mendekapnya penuh cinta.
Tentu saja secara panik dan kalang kabut, Nurvati mengepak sayap mekanisnya dan sedikitnya mesti menarik sayap pria urakan untuk mau terbang. Sedangkan sang angsa ikut terbang buru-buru.
“Ayo terbang! Pria urakan! Terbanglah!” sentak Nurvati yang menarik sayap kanan pria urakan dengan susah payah.
“Cepat tangkap penyusup itu!” sergah seorang penjaga.
Melihat para penjaga sudah begitu dekat, Nurvati yang kesusahan dengan terpaksa menggunakan ilmu Sayap Bening rohnya. Berkomunikasi pada roh sang Pangeran Awarta. “Pangeran! Cepat buatlah dirimu berguna! Terbanglah!”
Roh Pangeran Awarta yang terjebak dalam sifat 'gilanya' hanya mampu menjawab, “Saya usahakan ... saya usahakan.”
Ilmu sayap roh Nurvati hanya baru sampai tahap mengetahui belaka, belum pada tahap mampu membuat kelemahan lawan. Dirinya masih tak dapat mengutak-atik pribadi lain.
Hingga 'Slub' 'Slub' ke dua sayap Nurvati dan pria urakan terjerat gumpalan bola-bola awan putih. Membuat mereka tak mampu terbang, lalu 'Bruak' terjatuhlah mereka di lantai. Kecuali angsa putih yang mendarat mulus. “Ngok ngok ngok!”
Kemudian 'Drap' 'Drap' 'Drap' seluruh penjaga mengepung Nurvati dan kawan-kawan. Semua tangan mereka dilimbur energi nuansa hijau dan terbidik pada Nurvati.
Sadar kalau terpojok, Nurvati berusaha berkomunikasi dengan roh para penjaga istana. “Woy ... aku membawa Pangeran kalian! Izinkan aku masuk! Pangeran kalian adalah pria tidak waras ini!”
Sayangnya, roh yang sifatnya halus dan tersembunyi, membuat mereka yang hidup dan tak tahu bahasa roh, sama sekali tak menghiraukannya.
Hal itu hanya menjadi sebuah perasaan kalau sebagian mereka seperti mengenal pria urakan dan sebagian lainnya merasa ada hal penting yang dibawa Nurvati, tapi masa bodoh dengan itu.
Bahasa roh yang Nurvati ujarkan faktanya malah menjadi perasaan yang berlalu semata. Seperti munculnya sebuah ide, namun karena tak paham apa yang terjadi, ide itu hilang begitu saja.
“AKU MEMBAWA PANGERAN KALIAN!”
“AKU MEMBAWA PANGERAN KALIAN!”
“AKU MEMBAWA PANGERAN KALIAN!”
Nurvati dengan bahasa rohnya sekalipun berteriak beberapa kali, lagi-lagi, para penjaga memahaminya hanya sebatas perasaan yang tak penting, atau tepatnya mereka menganggap ide yang tak mungkin.
Sampai beberapa penjaga mulai berusaha membawa Nurvati dan kawan-kawannya.
“Ayo ikut kami!” paksa pria penjaga dengan berusaha memegang tangan Nurvati.
Namun melihat kekonyolan pria urakan yang menyodorkan batunya pada penjaga, itu membuat Nurvati tak patah semangat.
“Aku sudah membawa Pangeran Awarta!” sentak Nurvati telah berdiri dengan menepis ke dua tangan para penjaga yang hendak membawanya dan kali ini secara verbal dia menginfokannya.