Nurvati

Nurvati
Episode 175: Seni Kewajiban. (Part 3.)



Malam nan mala tetap meliputi berlangsungnya suasana kehidupan kota Barata.


Siluman Dewa Mistik terus tanpa penat menghancurkan setiap hunian milik anggota militer dan tentu saja, para anggota militer menjadi sasaran kewajibannya.


Berita telah tersebar keseluruh kota di bangsa Barat ini, bahkan para elite pejabat dan militer pastilah mengetahuinya.


Masalahnya ini sangat genting, karena yang dihadapi ialah sesosok Dewa Surgawi, yang artinya memiliki anugrah lebih dari makhluk yang lainnya, dia tak dapat dibunuh oleh bom atau semacamnya, ada syarat tertentu untuk membunuhnya, atau katakanlah, tergantung kemunculannya dan hanya pribadi terpilih yang dapat memanggilnya.


Faktanya, semenjak ratusan atau bahkan ribuan tahun perang dunia berlangsung, Siluman Dewa Mistik barulah 4 kali hadir pada bangsa Barat ini, dan ini adalah kehadirannya yang kelima.


Terlebih setiap kemunculannya yang mengandung penderitaan, selalu bervariasi koloni siluman yang menyertainya, tetapi tetap sama prinsip kerja yang dianutnya; demi kewajiban.


Malam ini, iya, berjam-jam hingga kenyataan malam mempertontonkan tindakan kewajiban Siluman Dewa Mistik dan satu pun peri tak ada yang mampu mengalahkannya, malah 100 kompi militer Sayap Merah lagi-lagi telah habis dikalahkan menggunakan awan kelabu.


Awan kelabu itu kini semakin menghitam selaras dalam detik yang berpacu, tetapi demikian, 30 kompi militer Sayap Pingai level ilmu Hikmah dari 1-7 mulai meluncur cepat menuju sang Dewa.


Entitas Dewa itu kembali berhadapan dengan pasukan militer. Kembali menciptakan pertempuran sengit nan menegangkan.


Hanya saja, selepas dua jam bertempur, hebatnya, seluruh kompi yang hadir terperangkap dalam awan kelabu dari sang entitas. Terlihat begitu mudah pasukan militer sekaliber 30 kompi Sayap Pingai untuk dikalahkan olehnya.


Di ketinggian 400 meter dari perumahan itu, Siluman Dewa Mistik kembali meluncur lagi demi menghancurkan hunian warga, pun melenyapkan anggota militer yang ada.


'DHUUAAR'.


'DHUUAAAR'.


'DUUAAAR'.


Pergerakan yang cepat nan gesit dari Siluman Dewa Mistik menjadikan kelima remaja agak kelimpungan dan kesulitan mengejarnya. Sehingga kini mereka terbang hanya mampu mengandalkan insting serta jarak pandang demi mencari posisi sang entitas.


Entah akan berapa banyak para siluman macan yang hadir, sebab setiap meter pada kota Barata ini telah dipijaki makhluk-makhluk itu. Berkerumun seolah membentuk lautan siluman macan.


Selebihnya, realitas kembali menyuguhkan pertempuran sengit, antara masyarakat dengan para siluman macan sebagai pemandangan dalam perjalanan kelima remaja menuju sang entitas.


Sang entitas sendiri kini tengah terbang menuju salah satu hunian mewah, dia terbang dengan cepat, akan tetapi, secara tiba-tiba malah dikejutkan oleh kenyataan.


Hunian tersebut hanyalah ilusi semata, atau dengan kata lain, empat penyihir level Langit 7 berhasil merealisasikan sihir Manipulatif Ruang. Lebih dari itu, apa yang kini dialami sang entitas adalah jebakan!


Benar, Siluman Dewa Mistik telah masuk ke dalam perangkap para penyihir terpercaya.


Nyatanya sang entitas itu kini telah berdiri di lapangan nan luas. Sihir segel yang berbentuk akuariam kubus sukses menahannya di dalam.


Empat sudut segel dijaga oleh penyihir yang merealisasikannya, menahan segel akuarium berbentuk kubus itu untuk kokoh menahan sang entitas.


Bersamaan dengan terjebaknya sang entitas, di sekitar lapangan yang melayang tiga meter dari daratan ini, telah terbang satu kompi militer Sayap Pingai di udara, mereka semua tengah melindungi dinding gaib yang meliputi lapangan ini.


Ratusan bahkan ribuan siluman macan tengah bersusah payah untuk dapat masuk menuju lapangan, mereka bahkan berusaha dengan segala kemampuannya menghancurkan dinding gaib.


Di sana pula, di lapangan sudah hadir 5 pribadi terhormat.


Seorang wanita berusia sekitar 30.000 tahunan —30 tahun menurut perhitungan ras Manusia— tengah berdiri sedekat mungkin pada segel akuarium.


Wanita ras Peri ini memiliki dua sayap putih dengan penampilannya yang formal; setelan jas emas lengkap oleh celana formal emasnya. Romannya cantik sebagaimana ras Peri umumnya, lebih cantik ketimbang Ira, hidungnya lancip dengan netra bulat nuansa hijau laksana tajamnya mata ular dan ditudungi oleh bulu mata nan lentik, ditambah bibirnya merah merona nampak seksi, serta rambutnya perak dikucir ke belakang.


Kesan pintar nan elegan terpancar benderang dari wanita tersebut, yang bukan lain adalah Sary Wakil Wali Kota, kota Barata; orang tua Quin.


Sedangkan sang wali kota sendiri tetap di pusat kota, mengomandokan dari sana bersama orang-orangnya.


Telapak tangan kanan Sary mendadak ditempelkan pada segel akuarium yang terlihat seperti kaca itu, tak lupa juga netra hijaunya memindai entitas di dalamnya.


“Kau sudah banyak membunuh. Siapa yang memanggilmu dan apa tujuanmu?” selidik Sary dengan suara yang terdengar agak serak namun begitu kalem.


Sang Entitas yang memiliki tinggi 4 meteran itu tak menjawab, entah karena tak memiliki lubang mulut atau karena memang enggan menjawab, atau justru tak dapat mendengar. Dia tetap berdiri mematung menghadap Sary. Sekujur tubuhnya yang bening masih memancarkan kelap-kelip nuansa biru laut serta ungu dari saraf-saraf dalam tubuhnya.


Momentum itu otomatis menjadi kebisuan dalam tanya yang tak terjawab; belum.


Sehingga Sary memanggil seorang penyihir kepercayaannya untuk langsung menyelidiki untuk apa Siluman Dewa Mistik membuat kekacauan di kota Barata ini.


Sang penyihir laki-laki berperawakan tinggi, sudah sepuh dengan janggut penuh uban maju mendekat. Walau terlihat tua, tetapi nyatanya dia nampak segar bugar.


Mantra sihir kembali dilafalkan dalam hati sang penyihir tua itu. Lantas netranya semakin fokus pada wajah rata sang entitas. Dia bahkan mesti menengadah melihatnya.


Suatu sinyal telepati pun terbentuk. Mereka pada akhirnya berkomunikasi, tetapi hanya sang penyihir tua yang mampu mendengarnya.


Setelah melalui beberapa detik percakapan telepati, antara penyihir serta Siluman Dewa Mistik. Informasi telah didapatkan.


“Nyonya ... seperti yang sudah diketahui, Siluman Dewa Mistik hanya melakukan kewajiban ... dia tak dapat dihentikan kecuali semua yang berimplikasi dengan angkatan militer di kota Barata ini dimusnahkan ... termasuk para anggotanya, lalu kotanya ...,” tutur penyihir tua dengan suaranya yang serak nan dalam, mewanti-wanti.


Info itu sama sekali kurang membantu, terlebih tidak menjawab segala tanya dalam benak Sary. Sebab Sary pun paham betul bila sang entitas ini tak dapat dikalahkan, sekali pun oleh penyihir selevel Langit 7, dia juga paham kalau ada cara khusus untuk melenyapkannya. Selain menuntaskan kewajibannya.


Pertama, cara khusus itu adalah dengan cara membunuh sang entitas lewat tangan yang memiliki ikatan darah pada sosok yang memanggil sang entitas. Ke dua, sang entitas hanya dapat dibunuh oleh ilmu sang Diri Asli. Ke tiga, sang entitas hanya dapat dibunuh selepas mengimplementasikan kewajibannya.


Benar, hanya dua poin syarat untuk melenyapkannya sebelum kewajibannya terlaksana, atau menjadi tiga poin bila ke dua poin itu gagal terealisasi


Sayangnya, sang penyihir tua yang berusaha menggali lagi informasi dari aura hingga setiap bagian yang ada pada diri sang entitas, perihal siapa sosok yang memanggilnya atau siapa sosok individu yang berkaitan darah dengan sosok pemanggil itu, sama sekali tak mendapatkan info apa pun. Semuanya gelap dan seakan sang entitas tak dapat dikalahkan.


Namun demikian, Sary sebagai wakil wali kota, mulai berkoordinasi dengan sang wali kota. Menyampaikan info yang didapat, sekaligus mencari solusi terbaik demi akhir yang bahagia.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)