
Tersisa satu anggota militer, masih dalam perspektif Nurvati yang melaksanakan dendamnya adalah keadilan. Pikirannya terus terbayang kenangan-kenangan menyedihkan, menyedihkan kala orang tuanya difitnah sebagai pemungut anak pemanggil Iblis.
“HIYAAAAAAAAAA ...,” teriak Nurvati sebagai gejolak antusiasnya untuk menegakkan keadilan.
Nurvati maju melesat, pun anggota militer maju melesat, tetapi secara mendadak, anggota militer itu terhenti, sebab secepat kilat, Nurvati telah berada di atas kepala anggota militer, dan 'ZRRRZZZZRRT' sengatan listrik di tangan kanan Nurvati langsung diarahkan tepat pada kepala sang anggota militer itu, lebih-lebih, tangan kanan Nurvati memegang kepala yang bersangkutan, menyengatnya dengan listrik, lantas bergetarlah sekujur tubuh sang anggota militer.
'KRZZZRRRRT'.
“RRAR—RRAR—RRAR ....” Tak sanggup sang anggota militer membendung listrik yang menjalar tubuhnya, menyekatnya untuk terpaksa menerima siksaan itu.
Maka Nurvati meningkatkan Volt dari sengatan listriknya, dan secara tak terduga, listrik bertegangan tinggi itu menghancurkan tubuh sang anggota militer, hancur berkeping-keping, pun angin langsung meniup kepingan-kepingan itu ke seluruh penjuru. Dan selesailah pertarungan itu.
Hening nan senyap, masih dalam lingkup malam yang berbintang, masih dalam lingkup perasaan Nurvati yang dirasa keadilan ini adalah hal benar, suasana kembali damai. Damai hanya di tempat itu, namun tidak di kompleks perumahan.
Secepat kilat Nurvati kembali ke daratan, sesampainya ia menapak di atas jalanan dari marmer, tepat di jalan perumahan ras Peri area Timur. Dia tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan 4 Peri dari anggota militer.
Lebih dari itu, seluruh warga perumahan telah berdiri di pinggir jalan, di depan rumah mereka masing-masing. Raut muka kebanyakan orang adalah bingung, tak sedikit juga yang marah, dan sisanya tak diketahui. Tentunya mereka semua menjadikan Nurvati sebagai fokus perhatian, seolah sedang menonton drama secara langsung.
* * *
Telah mendarat Ketua Hamenka bersama 4 Peri yang berada di sampingnya, Ketua Hamenka berada di tengah-tengah. Berdiri menyisakan jarak tiga meteran dengan Nurvati. Nurvati agak malu menyadari kedatangannya, sehingga dia hanya terdiam, tetapi tetap dalam ambisi yang menggebu.
Melihat rumah-rumah telah dirusak, dan mengetahui 7 anggota militer telah tewas, maka dengan bingung nan geram, berkatalah Ketua Hamenka. “Nurvati, apa yang kamu lakukan?”
“Aku ... aku hanya menegakkan keadilan,” balas Nurvati dengan lantang namun agak malu.
Jawaban Nurvati terdengar konyol di telinga Ketua Hamenka, sehingga berani menyindir, “Keadilan apanya?”
“Yang kamu ...,” ucapan Ketua Hamenka dipotong.
“KETUA TIDAK MENGERTI!” sergah Nurvati menyela perkataan Ketua Hamenka.
Kemudian, dalam perasaan yang bersedih, dalam nada suara yang serius, Nurvati bercerita, “Sejak kecil, aku tinggal di tempat menyedihkan ini, sejak saat itu, tak pernah aku memiliki teman untuk bermain bersamaku, warga di sini percaya, kalau anak mereka tak memiliki sayap, itu mengartikan tentang anak hasil dari kawin silang umat Manusia dan umat Jin, mereka meyakini kalau Iblis akan turun lagi dengan tanda seorang anak yang tak memiliki sayap dan lahir dari Timur, itu terjadi demi menghancurkan Peri bangsa Barat ....”
“... meski aku memang pernah memiliki teman, tetapi ujungnya mereka semua terpengaruh oleh hasutan warga yang lain, mereka percaya pada mitos!” imbuh Nurvati dengan dinamis dan sangat ekspresif menggambarkan dendam dalam kesedihannya.
”Tetapi semua sudah berubah, buku tentang iblis yang turun kembali, sudah kami musnahkan, dan tak ada gunanya juga Iblis menghancurkan bangsa kita, rakyat sudah kita bersihkan pola pikirnya untuk tidak percaya pada mitos ... kalau kamu tahu, di Peri bangsa Selatan pun memiliki ras Peri yang satu perumahan seluruh warganya tak memiliki sayap ... dan bapak rasa kamu terlalu serius menanggapinya,“ beber Ketua Hamenka dengan santai.
”Tidak ... tidak, aku harus menegakkan keadilan ... semua warga harus menderita, sama sepertiku dulu.“ Tapi sayang, rasa sakit hati Nurvati telah menuntun pada ambisi, ambisi itu untuk membalas dendam, dan dendam itu menciptakan visual akan keadilan, dan tetaplah Nurvati pada pendiriannya yang dirasa benar.
”Keadilan apanya ... sudah sudah, sebaiknya sekarang kamu bantu saja bapak di akademi, banyak kunang-kunang yang tiga hari lagi di festival akan kita bebarkan ...,“ kata Ketua Hamenka dengan begitu santai dan malah mengajak membebarkan kunang-kunang.
”... atau kamu ingin dipenjara, karena sudah merusak fasilitas publik dan lagi sudah membunuh anggota militer negara? Kamu sudah layak untuk dihukum mati,“ imbuh Ketua Hamenka mengancam.
”KETUA TIDAK MEMAHAMI PERASAANKU!“ bentak Nurvati dengan sungguh-sungguh dan masih larut dalam kesedihan masa lalu.
Maka melesatlah Nurvati menuju seorang warga di arah kirinya, hendak melukai warga tersebut, tapi secepat kilat juga, Ketua Hamenka melesat menghalangi Nurvati, membuat mereka terhempas menabrak atap rumah, namun berjibaku di udara.
Mereka saling melesatkan pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, dan itu membuat efek gelombang angin di sekitar mereka, terbang di ketinggian 100 meter di atas tanah, saling bertarung.
Satu sisi, membela kedamaian warga, di satu sisi menuntut keadilan, yang itu pun menurut perspektifnya.
'Woush' Nurvati menghindari tendangan horizontal dari Ketua Hamenka, dan 'Tap' suara pukulan tangan kanan Nurvati yang berhasil Ketua Hamenka tepis. Maka bertarunglah mereka dalam kekuatan masing-masing.
Pukulan-pukulan telah melesat dan tepis-menepis juga telah dilakukan, diselingi oleh tendangan-tendangan yang mereka lesatkan, tetapi mereka pun mampu menghindarinya, cepat, dan begitu cepat mereka bergerak, memecah angin, mengisi ruang kosong lewat pertarungan nan sengit.
Namun suara 'Duar' menjadi tanda berakhirnya pertarungan sengit di udara, sebab telah terpental Ketua Hamenka pada rimbunnya hutan, terhunjam pada ke tinggian 100 meter dari permukaan tanah, ditendang langsung oleh Nurvati.
Sayangnya, baru saja menikmati keunggulan, seluruh niat Nurvati untuk bergerak maju, pupus. Disebabkan empat anggota militer yang tadi bersama Ketua Hamenka, sudah datang mengepung Nurvati dalam jarak tujuh meteran.
Bukan itu saja, keempat anggota militer itu menggunakan sebuah rantai nuansa putih yang mencuat dari kedua telapak tangan mereka yang mengarah tepat pada Nurvati. Itu berhasil melilit Nurvati dan mulai menyerap energi Nurvati, berusaha melumpuhkannya.
Meronta dan meronta itulah yang kini dilakukan Nurvati, dalam kenyataan kini, anehnya dia tak mampu menggunakan ilmu Hikmah-nya.
Pada dasarnya, keempat anggota militer itu memang memiliki ilmu Hikmah yang lebih rendah ketimbang Nurvati, hanya saja, kali ini Nurvati menghadapi anggota militer yang sangat dikhususkan, mereka telah dibekali ilmu khusus yang mampu menangkap bandit sekelas Nurvati dan tentunya ilmu itu hanya bekerja jika mereka beranggotakan empat orang, harus empat orang, tidak lebih, tidak kurang.
Kendati begitu, mereka tetap saja tak akan mampu menangkap seorang sekelas Dewa, Penyihir atau Iblis.
Tujuh detik berselang, Ketua Hamenka kembali terbang, dia melayang di samping kiri seorang anggota militer, bersedekap menyilang tangan, memandang dalam marah pada Nurvati.
”Kau sudah kelewatan Nurvati, kalau sudah begini ... negara akan memberimu hukuman mati,“ ujar Ketua Hamenka dengan keseriusan penuh dan bukan sekadar ancaman.
”AAAAAARRRRGH ... AKU TIDAK AKAN MENYERAH ...!“ bahkan meski telah kalah, Nurvati tetap meronta dalam kesia-siaan dan berteguh hati kalau yang dilakukannya adalah benar.
'Keadilan harus ditegakkan, keadilannya harus ditegakkan', itulah lantunan pikiran yang menuntun tindakan anarkis Nurvati.