
Awan hijau di depan Nurvati melayang di depan wajahnya, memandang setiap gelembung yang muncul dari atas awan tersebut, cukup interesan baginya namun cukup pula untuk cepat jenuh. Hingga benaknya bertanya-tanya, atas dasar apa tempat ini dibuat?
Sebuah tempat yang sepi, pemandangan yang seadanya dan entah siapa yang mau datang ke sini. Falas berdiri di samping kiri Nurvati, raut wajahnya begitu serius pada awan hijau yang dipandang Nurvati, —ada pesan tersirat dari wajah Falas— tapi sengap melingkupi Falas serta Nurvati, mereka tenggelam dalam sunyi, dan gelembung-gelembung air yang pecah kala di udara, kini menjadi santapan netra mereka. Tak ada perubahan signifikan dari gelembung udara itu, muncul dari awan, naik meninggi ke udara lalu pecah, dan muncul dari awan lalu meninggi dan pecah, berulang kali tanpa jeda, tanpa berubah. Nurvati memutar badannya, mengedarkan seluruh pandangannya pada semua awan di tempat ini, mencari tahu keadaan awan yang lain. Bukan di awan hijau itu saja sistem gelembung berulang terjadi, malah di tempat ini seluruh awan menghasilkan gelembung yang nampak berkesinambungan. Muncul berulang kali dan hancur di udara.
Udara di tempat ini cukup hangat, sinar mentari terik menyengat, tak hanya satu awan yang Nurvati amati, awan yang berbeda warna pun ia amati; merah, violet, biru pirus dan lainnya, gelembung-gelembung pun tak lekangnya dicermati baik-baik, seluruh ukuran gelembung di sini sama, sebesar bola pingpong.
Tak ada pembicaraan penting saat menikmati suasana, tetapi tawa kecil sempat terjadi, reaksi situasi dari hal yang menggelitik batin, seperti Falas meniup gelembung ke arah wajah Nurvati kemudian pecah kala tersentuh ujung hidungnya, hingga saling tiup meniup gelembung pun terjadi, meniup gelembung demi mengarahkannya pada wajah, dan berharap meletus di depan wajah, itu yang mereka lakukan, saling menyerang untuk bersenang-senang, sebagaimana bocah-bocah pada umumnya.
Agak berbeda Nurvati saat itu, ia tampak mulai tahu cara untuk semeringah, Falas berhasil membawa Nurvati pada kondisi di mana jiwa terbawa suasana gembira, membuat sistem pikiran memupuk hati agar sembuh dari luka, memang butuh proses lama, namun Falas yakin semua akan berujung pendewasaan, setidaknya bagi Nurvati.
Satu kesimpulan lain didapat; Nurvati gadis yang mudah untuk dibawa bercanda, Falas menyadarinya ketika bermacam seloroh diterima dengan tawa oleh Nurvati, hanya seloroh yang sederhana, dan tak ada menyinggung fisik.
Kendati dalam waktu lama mereka menikmati waktu dalam realitas bersenang-senang, sebuah kecurigaan kecil masih menempel di benak Nurvati, tentang hubungan Falas dengan Putri Kerisia, takut kalau Falas ikut menipu seperti si Kerisia, sungguh tak lucu dan tak bermoral. Senandung pertanyaan lain pun menyempil dari kepalanya, akan tujuan apa Falas mau mengajak Nurvati ke tempat ini, seakan ada rahasia penting pada ajakannya, —sebuah rahasia yang layak diperjuangkan— sebenarnya itu tak masalah, bila tak ada kerugian dalam rahasia itu, lebih-lebih terkesan aneh ketika Falas siap membunuh Nurvati, jelas saja Nurvati sampai detik ini curiga pada Falas, sebuah perbuatan yang dianggap Nurvati sebagai manipulatif.
Satu hal yang pasti, saat Nurvati tengah mengamati gelembung, dia bicara dengan nada ancaman pada Falas yang tengah berdiri di seberangnya. “Jika nanti kau tak berani membunuhku, aku akan membunuh diriku sendiri.”
Falas tak merespons dengan kata-kata, ia mengangguk dengan senyuman penuh rahasia. Tentunya Falas punya cara tersendiri dengan janjinya. Benar, Falas punya tujuan lain dari janji serta ajakannya hari ini, dan belum saatnya ia bicarakan pada Nurvati. Meski berbagai asumsi atau pun prasangka bersinergi dalam jiwa Nurvati, itu tak menjadikan Nurvati tak percaya pada Falas, ia menaruh kepercayaan, —sedikit kepercayaan pada Falas— hanya karena anak laki-laki itu sudah menyelamatkan Nurvati, atau sederhananya, Falas sudah berjanji, dan ras Peri, pantang melanggar janjinya sendiri.
Kesenangan pun berlanjut dengan duduk di tepi awan, memandangi lautan biru di bawah kaki, awan-awan yang terlihat bergerak cepat di sini, semua tampak terlihat kecil dari atas awan. Mereka tak hanya duduk-duduk manis dalam sengap, terutama Falas, ia menceritakan taman gelembung ini, faktanya, awan kecil warna-warni yang melayang di hamparan awan luas ini, tak bisa didorong, atau dipindahkan ke tempat lain, kecuali kalau hamparan, atau alas awan yang luas ini dihancurkan lebih dulu, baru seluruh awan warna-warni itu mulai memudar, dan gelembungnya hilang.
Nurvati sempat mencoba memindahkan sebuah awan warna jingga, dan memang tak dapat dipindahkan. Awan-awan di sini berwarna-warni akibat adanya serbuk bunga yang dipadukan bersama puluhan awan, sedangkan gelembung-gelembung itu muncul karena adanya energi statis yang bersentuhan dengan ion dari awan lalu memunculkan gelembung-gelembung ke udara, entah benarnya seperti apa, Falas terlalu bingung dengan teori yang dulu diberikan oleh Ibunya. Benar, tempat ini dibuat oleh ibu Falas, tujuannya hanya agar Falas bermain tak terlalu jauh, Falas menyukai petualangan, menjelajahi tempat-tempat baru dan bisa tak pulang sampai tiga hari lebih. Atas dasar itulah, tempat ini dibuat.
Selama bercerita, Nurvati menyimak dengan saksama bak pendengar yang baik, suara renyah Falas terus melantunkan pengalaman hidupnya, merasuk baik-baik pada telinga Nurvati, menjadikan perasaan Nurvati mulai terbawa arus semangat dari cerita Falas, ada senyuman, ada anggukkan, kadang kala ada pula rasa kagum, memang cara penyampaian Falas begitu ekspresif, bergairah, dan asertif, sehingga dalam menceritakan setiap waktu dalam petualangan Falas, imajiner Nurvati ikut pula tergerak memvisualkan ceritanya. Membayangkan setiap keseruan yang terbentuk. Menjadikan perasaan terasa naik turun tak menentu. Seakan Nurvati menyaksikan langsung bagaimana petualangan hebat itu berlangsung.
Di setiap tempat yang dikunjungi Falas, kadang kala mendapat teman, kadang kala mendapat amukan, seluruh kesenangan dan kesedihan telah menghiasi petualangannya, ada orang tua yang meninggalkan anaknya karena menjadi malaikat, ada pula anak yang mencari orang tuanya di alam Manusia. Falas tak hanya berpetualang begitu saja, dia juga sering membantu orang-orang yang kesusahan. Dan bonusnya, diberbagai tempat, Falas mengenal beberapa orang, memiliki banyak teman. Dan seperti itulah Falas mengenal Putri Kerisia, berawal dari pertemuan yang tak disengaja, tetapi hanya sebatas teman sepintas, lalu pergi dalam petualangan yang baru.
Banyak cerita-cerita menarik yang Nurvati belum pernah mengalaminya, sehingga sempat tebesit rasa penasaran jika Nurvati yang berpetualang. Selama ini Nurvati hanya selalu fokus pada dirinya sendiri, takut pada cemoohan orang-orang, menghindar dari kenyataan sosial, menjadi seperti antisosial. Sehingga prasangka buruk terhadap masyarakat langsung menekan moralitas Nurvati, menyamaratakan satu kejahatan seseorang menjadi kejahatan seluruh lapisan masyarakat. Meski begitu, faktanya masyarakat di sini memang lebih mengutamakan prasangka buruk, ketimbang meneliti lebih lanjut suatu masalah, mencemooh pada mereka yang berbeda dari kebiasaan, seluruh jiwa ras Peri memang telah berubah menjadi lebih arogan, babil dan hipokrit. Oleh sebab itu, Nurvati merasa menjadi cerminan masyarakat saat ini, —hasil keburukan tingkah laku masyarakat— walau tak secara terang-terangan Nurvati menyalahkan masyarakat atau lingkungannya, ia lebih menyalahkan takdir, dikarenakan sudah mewarisi kecacatan pada dirinya. Mustahil baginya untuk berpetualang dalam keadaan bodoh, kecewa dan putus asa, apalagi ia menganggap kecacatannya adalah dosa dan kematian adalah obat.