Nurvati

Nurvati
Episode 155: Menyingkap Tabir Realitas.



Tercenung Nurvati di sana, dirinya menjadi semakin penasaran mengenai identitas aslinya. Siapakah sebenarnya dirinya itu, mungkinkah bukan ras Peri atau entahlah, Nurvati pun kebingungan.


“Ngok ngok ....”


Dan Ketua Hamenka pun terdiam, yang membuat suasana di lautan sepi ini menjadi semakin sepi. Dirinya juga tak menyangka kalau wanita yang ada di hadapannya ini kemungkinan besar akan menjadi sosok penting di era selanjutnya.


Suasana menjadi semakin serius kala Nurvati bernamaskara dengan sedikit membungkuk penuh hormat pada Ketua Hamenka, dengan menginding seraya memohon, ”Ketua ... saya mohon pada Anda jadikanlah saya murid Anda demi mempelajari ilmu Pengenal Diri!“


“Ahk sudahlah ... tidak perlu seformal itu ... ketua tidak mau menjadi gurumu ... ketua hanya ingin membimbingmu saja ...,” ungkap Ketua Hamenka dengan santai.


”Hmmm ... jadi ...?“ heran Nurvati dengan kembali tegap sambil menatap wajah bercahaya Ketua Hamenka.


Bersama kata 'Begini' dari mulut Ketua Hamenka, angin mendadak bersemilir kencang, cukup kencang hingga rok gaun serta rambut panjang Nurvati sempat bergoyang-goyang.


”... sebelum menguasai ilmu Pengenal Diri, agar tidak melenceng seperti para Iblis ... kamu harus sanggup menebus kekeliruanmu di masa silam ...,“ beber Ketua Hamenka dengan maksud yang masih taksa.


”... Nurvati ... kamu sudah membunuh orang-orang tidak bersalah ... dan seyogianya kamu dihukum ... atau meminta pengampunan pada keluarga yang ditinggalkan,“ ulasnya.


Penjelasan tersebut memicu pikiran Nurvati menginversi pada masa lampau. Dirinya yang melintasi hidup dengan membunuh dalam alasan-alasan keadilan. Berjuang dalam hukum yang diperasatnya sendiri, membantai orang-orang hanya karena berusaha menegakkan pemahamannya. Kini seiring waktu yang berkutat dalam realitas, mulai menampilkan kalau interpretasi Nurvati dalam keadilan adalah keliru!


Nurvati mula-mula nampak tertunduk malu, bukan lagi gengsi, melainkan menyesal.


Sedangkan Ketua Hamenka tetap berdiri santai menatap wajah bercahaya Nurvati dalam penantian keputusannya.


Dan harus menunggu waktu berputar dua menit hanya demi membuat Nurvati bersuara. Tetapi bukan memutuskan, malahan dirinya dalam tumungkul dilematik mencetuskan kalimat tanya. ”Ketua ... bagaimana dengan keadilanku ... orang tuaku dan penghinaan pada keluargaku ...?“


Ketua Hamenka yang memahami kondisi kejiwaan Nurvati, yang bila ditilik Nurvati hanya terbentuk oleh kekecewaan, lalu menjawab, ”Nurvati ... engkau membela keluargamu ... tapi ingat, mereka pun membela keluarganya ....“


”... Nurvati ... bagaimana bisa engkau menegakkan keadilan saat hak-hak para korban kamu rampas, bagaimana bisa kamu menegakkan keadilan sementara kamu menafikan kewajibanmu ... dan bagaimana bisa perbuatanmu disebut adil ketika kamu tidak bekerja tanpa landasan hukum?“ lanjut Ketua Hamenka dengan jelas, dalam suaranya yang lantang nan tegas, mencerahkan sedikit sisi gelap pikiran Nurvati.


Atas alasan itulah, pikiran Nurvati yang gelap sukses tercerahkan. Lebih dari itu, sang jiwa Nurvati yang mulai dapat bersikap dewasa, secara tiba-tiba menggerakkannya, dia berlutut dengan dua lutut di hadapan Ketua Hamenka, hatinya gelisah dan terpaksa memasrahkan segala keputusannya pada sosok yang dianggapnya sebagai guru. Dan dengan menengadah pada wajah bercahaya Ketua Hamenka, Nurvati berujar, ”Ketua ... aku siap menerima hukuman itu ... aku sangat siap ....“


”... tapi ... bolehkah aku melihat identitas asli ketua ... supaya aku bisa meneguhkan lagi hatiku, kalau keadilan dalam pemahamanku keliru dan supaya aku menjadi wanita yang termasuk ditunjuki ....“


Beberapa detik Ketua Hamenka terdiam dengan santai, merenungi matang-matang kejadian takdir ini dan merenungi permohonan Nurvati.


“Ketua ... izinkanlah aku melihat diri transenden ketua ... izinkanlah wanita yang bodoh ini melihatnya ...,” kata Nurvati menginding penuh pengharapan.


Melihat Nurvati yang terombang-ambing oleh perasaannya sendiri, terombang ambing oleh pikiran liarnya sendiri, dilemahkan oleh nasibnya sendiri, menggugah hati Ketua Hamenka untuk berbelas kasih padanya; bersedia menunjukkan kebenaran.


”Baiklah Nurvati ... sebelumnya tak seorang pun yang melihat diri transendenku, tidak. Bahkan istriku, atau anak-anakku atau siapa pun itu, tidak ada yang melihatnya ... kecuali kamu ....“


Spontan Nurvati seketika langsung menarik napas kuat-kuat terkesiap.


”Pusatkanlah pikiran dan hatimu pada atas kepala bapak, jangan lengah! Dan jangan berpaling sedikit pun!“


Maka Nurvati mendedah selebar-lebarnya kelopak matanya.


Mula-mula tepat di atas ubun-ubun kepala Ketua Kehormatan muncul setitik sinar putih yang sekejap mata langsung menyingkap segala tabir rahasia!


Menembus dimensi ruang, waktu. Terbukalah dimensi ke satu hingga dimensi ke sebelas. Terdedahlah seluruh penghalang dan nampaklah sedikit kebenaran itu.


Tergetarlah hati Nurvati, tangannya bergidik tak menyangka, darahnya mulai berpacu, jantungnya pun tergerak hebat. Dia melihat Diri Transendal sang Ketua Kehormatan!


Telah tersingkap rahasia, dan telah nampaklah kebenaran dari Ketua Hamenka.


Lalu sabda dalam bahasa rohani tercetus dari sang Diri Transenden dan hanya dapat didengar oleh hati Nurvati.


”Nurvati, sesungguhnya kamu tidak sanggup melihat diri-Ku dengan mata tiga dimensi itu, maka telah Aku rahmati kamu dengan mata keilahian ... lihatlah Aku yang di Barat ....“


Maka nampaklah setiap kecemerlangan-Nya yang bintang-bintang jatuh menjadi tanda-Nya, warna hitam alam semesta dan warna biru setiap alam menjadi jubah-Nya, planet-planet menjadi keberadaan-Nya.


”Nurvati ... lihatlah Aku yang berada di Timur ....“


Maka nampaklah setiap kegemilangan-Nya, yang bunga-bunga surga menjadi napas-Nya dan setiap siksa-siksa neraka menjadi hukum-Nya.


Semakin jauh Nurvati memandang, semakin berat untuk bertahan.


”Nurvati ... lihatlah aku di segala penjuru mata angin ....“


Maka nampaklah di Utara ras Malaikat menjadi tangan kanan-Nya, nampaklah di Selatan ras Dewa-Dewi menjadi tangan kiri-Nya, hingga begitu benderangnya, Nurvati hampir-hampir berpaling.


Di sana Nurvati semakin dikejutkan oleh segala-galanya yang tervisual dari setitik cahaya yang menyendiri, dari cahaya itulah segala-galanya berawal dan dari cahaya itu pula segalanya akan diakhiri.


Hingga kata-kata tak sanggup menjabarkan secara spesifik Diri Asli sang Ketua Kehormatan Hamenka.


Syukurnya tak sedikit pun Nurvati berpaling dan tak sedikit pun melebihi yang semestinya.


Percakapan rohani kembali tercetus, sebuah kalimat-kalimat yang pada akhirnya membuat jiwa Nurvati tersentuh dan seketika hatinya diteguhkan. Selebihnya hanyalah intelegensinya yang semakin meningkat.


Sehingga penglihatan keilahian itu pun berakhir dan ditutup oleh kedipan matanya, kembali pada realitas momentum ini.


Suasana kedamaian laut di sini masih kentara melingkupi dua Peri dan seekor angsa itu.


Nurvati yang telah kembali bangkit berdiri, begitu senang dan bersyukur untuk takdirnya sendiri, lebih-lebih dirinya hingga tak sanggup berkata-kata lagi.


Hingga sepi diisi oleh perkataan Ketua Hamenka. ”Nah ... Nurvati ... lakukan saja tugasmu ....“


Nurvati yang telah mendapat semangat baru, bertanya, ”Ketua ... bagaimana dengan Putri Kerisia yang sempat aku bunuh? Apa aku harus mengaku pada kakaknya?“


Ketua Hamenka terkejut mendengarnya, membuatnya berani menjawab, ”Putri Kerisia masih hidup ... dia baik-baik saja ....“


”APA?! tapi, tapi, aku sudah ...,“ heran Nurvati tak menyangka, sebab seingatnya kalau dirinya merasa sudah melakukan hal buruk pada sang putri bangsa Barat itu.


”Coba saja kamu cek, sekarang ...,“ usul Ketua Hamenka.


”Hmmmm ... ya sudah ... nanti aku cek,“ balas Nurvati dengan singkat dan berniat mengeceknya.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)