
Di keesokan siangnya.
Dihari yang cerah, di tepi jurang dalam pemandangan lembah sejauh mata memandang. Nurvati, burung angsa serta Ketua Hamenka tengah berdiri bersebelahan. Berbincang-bincang santai perihal cara selanjutnya menguak identitas asli Nurvati.
“Nurvati ... selanjutnya adalah ... menghilangkan ilmu Hikmah-mu itu ...,” ungkap Ketua Hamenka tanpa ragu.
Cukup kaget Nurvati mendengarnya, membuatnya menoleh ke kiri sembari bertanya, “Loh ... kenapa ilmu yang telah capek-capek aku capai harus dihilangkan ... bukankah ketua saja memilikinya?”
“Nurvati ... hal yang mau kamu capai adalah keilmuan dan pengetahuan tertinggi ... lebih lagi kalau kamu ingin meraih ilmu yang murni ... dirimu pun harus dimurnikan lagi ... setelah berhasil ... kamu bisa seperti ketua ...,” jawab Ketua Hamenka dengan terus terang.
Kendati begitu, Nurvati menjadi tumungkul dalam bimbang dan mungkin harus siap menerima segala rintangan demi rintangan lagi.
”Tenang saja ... bapak yakin kamu sanggup ... karena ... kamu masih hidup untuk saat ini ... yang tentulah itu bukan hal biasa,“ ujar Ketua Hamenka meneguhkan hati Nurvati.
Tapi masih tumungkul dalam diam Nurvati di sana. Beberapa detik membiarkan sunyi di siang ini melingkupinya.
Pepohonan nuansa jingga dan pegunungan hijau menjadi tontonan sementara bagi Ketua Hamenka.
Dirinya juga paham kalau itu keputusan yang berat, akan tetapi, sadar pula kalau masa depan yang segera di hadapi Nurvati bukanlah perkara remeh, membuatnya mesti merealisasikan ketetapan ini.
Tiga detik terlintasi dalam sengap, hingga didetik ke-30 dalam bimbangnya Nurvati dan demi menguatkannya, Ketua Hamenka mencetuskan pertanyaan. ”Nurvati, apa mencapai ilmu itu lebih sulit ketimbang melepaskannya?“
Menanggapi itu, Nurvati kembali menghadapkan wajahnya ke depan, merenunginya baik-baik, terlebih butuh tujuh detik hanya untuk dirinya menjawab, ”Dua-duanya terasa sulit ... karena bagaimana pun ... aku bisa sampai di sini karena ilmu Hikmah-ku ....“
”Jadi ...?“ cecar Ketua Hamenka.
Dengan satu kali tarikan napas, demi menguak identitasnya dan dengan penuh percaya diri, Nurvati membalas, ”Baiklah, aku siap membuang ilmu Hikmah-ku!“
Seiring keputusan tekad Nurvati, angin kencang bertiup ke Utara, sempat menerbangkan dedaunan yang berguguran lengkap dengan hamparan rumput pingai yang terlihat menari-nari di belakang mereka.
”Tapi, Ketua ... apakah ilmu ini tidak bisa disimpan?“ heran Nurvati dengan tetap memandang jauh ke depan pada pegunungan yang agak jingga.
”Tidak bisa ... karena tak ada sesuatu apa pun yang mau dan sanggup menampung ilmu Hikmah-mu ... kecuali dibuang ...,“ jawab Ketua Hamenka dengan serius.
Tak terlalu ambil pusing, Nurvati hanya mengangguk pelan mengetahuinya.
Lalu dia memutar badan ke belakang diikuti angsa putihnya dan sekonyong-konyongnya sambil melangkah menjauh, Nurvati berujar, ”Ketua ... aku butuh bukti ucapan ketua dapat diperasat ... aku ingin melihat kemampuan ketua tanpa ilmu Hikmah ....“
Sebuah tantangan rupanya baru saja diumumkan oleh Nurvati. Dirinya yang terbang menuju hamparan rerumputan pingai ingin melihat sehebat apa Ketua Hamenka yang menjadi gurunya itu.
Sang angsa seolah paham kalau akan ada pertarungan yang tidak bisa dia bantu, membuatnya hanya diam dalam jarak aman memandang Nurvati. ”Ngok ngok ngok!“
Tentu saja Ketua Hamenka ikut terbang dan langsung berdiri berhadapan dengan Nurvati dalam jarak 7 meteran. Dirinya siap menerima tantangan dari muridnya itu.
”BAIKLAH KETUA!“ seru Nurvati dengan penuh semangat dan gairah.
”Kita uji kemampuan kita! Ketua tidak boleh menggunakan ilmu Hikmah atau Diri Asli! Dan aku pun tidak boleh menggunakan ilmu Hikmah-ku! Jadi gunakan saja ilmu Cahaya atau kemampuan spesial ilmu Energi ... dan ketua harus menang melawanku! Apa ketua paham!?“ lanjut Nurvati dengan lantang.
Tak menjawab, Ketua Hamenka hanya mengangguk mantap tanda sepakat, lebih dari itu! Tiba-tiba saja ke dua tangan Ketua Hamenka malah terselip di saku jubah nuansa putihnya; dia serius menghadapi Nurvati.
Nurvati yang begitu senang, menjadi teringat kembali pertarungan sebelumnya bersama Ketua Hamenka, tetapi pertarungan itu nampak singkat dan terbilang tidak begitu sepadan.
Sang angsa hanya diam menemani cerahnya siang yang hangat, memandang dua pribadi itu dengan santainya.
Dan bersama embusan angin yang kembali deras, tangan kanan Nurvati mulai memanifestasikan sebilah katana dengan energi hijaunya, dan mengambil ancang-ancang untuk mewujudkan teknik salah satu serangan samurai.
”HYAAAAAT ...!“
Bersama teriakkan itulah Nurvati maju melesat, 'Swoosh'.
Katana pun diayun-ayunkan dalam pelaksanaan sebuah teknik, 'Shriing' 'Swriing' rerumputan nuansa pingai terpotong, tetapi Ketua Hamenka bergeser-geser ke belakang sanggup menghindar.
Maka kenyataan pun benar-benar mempertontonkan seorang guru dan muridnya yang bertarung hanya mengandalkan ilmu Energi atau ilmu Cahaya. Pertarungan yang bagi Nurvati pun sebagai pembuktian kalau orang yang dipilihnya sebagai guru bukanlah orang yang sembarangan.
Meski dalam perspektif Ketua Hamenka sesungguhnya hanyalah menguji kemampuan bertarung Nurvati, kalau mungkin suatu saat nanti dia akan berhadapan pada para Iblis, sehingga Nurvati pun mesti diasah potensi bertarungnya agar matang.
Teknik sayatan-sayatan katana Nurvati cukup membuat Ketua Hamenka terus mundur menghindar dan berefek pada rerumputan yang banyak terpotong.
'Shriing' 'Swriing' 'Shriing' puluhan sayatan dari katana itu cukup cepat, ayunan tangan Nurvati meliuk bagaikan menari.
Lalu 'Woush' Nurvati melompat dengan menebaskan katananya secara horizontal.
”Teknik Kilat!“ serunya membeberkan lebel jurus samurainya.
'Srep' katana itu berhasil mengenai Ketua Hamenka.
Iya, hanya mengenai jubah nuansa putihnya.
Dirinya pun berhasil lolos dari bahaya itu dengan terbang mundur cukup cepat, dan mungkin bila telat setengah detik saja badannya bisa terbelah dua.
”Ternyata kau mengetahui cara bermain katana, ya?“ kata Ketua Hamenka memuji serangan Nurvati dengan terbang setinggi 5 meteran.
Nurvati yang tetap dalam kuda-kuda menyerang, yang mengacungkan katananya pada Ketua Hamenka, berujar, ”Iya, mendiang ayahku sebenarnya pandai dalam bermain pedang dan katana ... apa ketua mau coba teknik katana yang lebih mematikan lagi?“
”Silakan ... dan ketua akan sangat terhormat bila kamu bisa memotong dua sayap ketua dengan teknik katana atau pedangmu itu,“ balas Ketua Hamenka dengan santai dan senang hati.
”Baiklah ...,“ ucap Nurvati dengan merapatkan katananya pada wajah, sekaligus membidik sayap kanan Ketua Hamenka.
Lantas, Nurvati berlari mendekati Ketua Hamenka dan 'Siuw' melompat dengan salto menebaskan katananya menuju sayap kanan ketua Hamenka.
'Swriing' tebasan itu sebenarnya hanya mengenai angin, lebih-lebih Nurvati hanya mempu salto di udara setinggi dua meter, yang mana lima meter adalah ketinggian posisi Ketua Hamenka.
Membuat Ketua Hamenka hanya mundur satu meter saja, merasa sukses menghindar.
Akan tetapi, secara mengejutkan, dirinya justru dikagetkan kala melihat setengah sayap kanannya putus, lalu bagian sayap itu jatuh di hamparan rerumputan, bersama dirinya yang hilang keseimbangan dan ia pun jatuh pula direrumputan, 'Bruk'.
Sedangkan Nurvati dalam jarak dua meteran telah berdiri dengan mengacungkan katananya pada pose siaga, seraya berujar, ”Ayahku menyebut itu sebagai, teknik Angin Barat ....“
Dan Ketua Hamenka berlutut tak mengira kalau serangan tadi ternyata memadukan unsur energi dan kecepatan katana, yang membuat wajahnya kini menghadap ujung mata katana Nurvati.