Nurvati

Nurvati
Episode 34: Kepasrahan Menyembulkan Derita.



Di sana, anak-anak Satan yang berlarian konyol terkekeh tanpa masalah, tapi perlahan-lahan mereka memudar hilang dari kenyataan, tak ada gunanya juga mereka hadir. Dan sang Pangeran Awarta menyadari kegilaan Putri Kerisia yang akan jauh lebih kelewatan.


Benar saja, anggapan itu dalam sekejap mata terkabul. Lesat cepat bak kilatan petir tanpa suara, sang Putri berhasil menendang sang Pangeran lewat titik butanya.


Dan 'Duar' suara pasir berdebam, tanda Pangeran Awarta terhunjam ke darat dan menembus lapisan pasir terdalam, tanpa ujung. Tembus sampai 2 kilometer ke dalam tanah. Namun dikarenakan alam semesta ini bagian ilmu sang Putri Kerisia, atau jelasnya 'kantornya', maka, di dalam pasir tak ada apapun kecuali hanya pasir tanpa ujung tanpa dasar, begitu pun dengan langitnya.


Lebih dari itu, seluruh bala tentara sang Pangeran diserang secara berbarengan oleh Putri Kerisia, ajaib dalam kenyataan, Putri Kerisia menghajar satu-satu bala tentara sang Pangeran, itu seakan-akan sang Putri membelah dirinya sebanyak bala tentara yang ada, padahal itu adalah kecepatan sang Putri; secepat cahaya.


Dan secepat cahaya pula, Pangeran Awarta telah berada di atas langit, hebatnya dia masih tenang dengan pose yang sama seperti diawal; melayang di udara dengan duduk bersila seperti tak terjadi apa pun. Dia sama sekali enggan menyerang secara langsung Putri Kerisia, entah mengapa ada secuil keraguan yang menyekatnya. Sulit rasanya memukul seorang wanita yang sedang patah hati.


Pada dasarnya, Pangeran Awarta bisa saja menyerang dengan 'galaksi mini' dari setiap ujung telunjuk jari tangannya, satu galaksi yang dilempar akan menyerap satu unsur materi yang sama dengan pusat galaksi itu sendiri, namun bila seluruh galaksi yang dilempar, maka secara mengerikan, akan membentuk Lubang Hitam yang mampu menghisap seluruh unsur materi di dekatnya dan mampu membesar bila sang 'Dewa' tak memusnahkannya.


Dan secepat cahaya pula, Putri Kerisia melakukan tendangan pada Pangeran. Tapi secepat cahaya pula sang Pangeran menggunakan perisai pelindung berbentuk telur yang bernuansa hitam melingkupi dirinya.


Belum puas, sang Putri terus melesatkan tendangan-tendangan yang kuat hingga membentuk gelombang angin, membentuk radiasi panas dan panas itu membentuk sorot sinar ke segala penjuru.


Ratusan lebih tendangan secepat cahaya menghantam perisai pelindung Pangeran, kendati nyatanya, itu sama sekali tak berefek, ya, kecuali radiasi panas yang terbentuk.


Dalam usaha menghancurkan perisai sang Pangeran, tak disangka-sangka secara berbarengan, Putri Kerisia pun menghajar seluruh bala tentara sang Pangeran dengan kecepatan cahayanya, dari ujung Timur hingga ke ujung Barat, semua tentara dihabisi sehabis-habisnya, sampai-sampai bala tentara dari tanah musnah tak tercipta lagi, lalu disusul oleh bala tentara angin dan berakhir pada bala tentara air, yang akhirnya hanya tersisa kekosongan semata.


Pangeran Awarta enggan membentuk lagi bala tentaranya, itu akan percuma belaka, mengingat dengan kemampuan Putri Kerisia yang sekarang; kekuatan sang Dewi, dia bisa mengimbanginya.


Di dataran pasir pun ratusan anak-anak Satan telah sirna tak berbekas.


Tak mendapat hasil yang diinginkan, sang Putri mundur 100 meter, masih bersedekap menyilang tangan dan dalam hati melafalkan mantra sihir 'Pengirim Satan', hanya sebuah kemampuan untuk menyakiti tubuh dari sisi 'gaib'. Seperti ilmu tenung.


Maka dari kilauan sayap kiri sang Putri, satu anak Satan lahir dengan wujud berbeda; tinggi 50 cm, sangat kurus dan berwarna hitam pekat, dengan netra merah, tanpa mulut, tanpa hidung, dan kepalanya diselimuti api hitam. Uniknya, anak Satan ini bisa terbang.


Maka jelas, sang anak Satan melesat secepat cahaya, lebih dari itu, dia mampu menembus perisai pelindung milik Pangeran Awarta, bahkan melesak masuk ke dalam kepala sang Pangeran.


Dalam kesadaran sang Pangeran Awarta yang dirinya tahu bahwa dia tak memiliki kemampuan gaib, kecuali dengan menggunakan keilmuan penuh sang Diri Aslinya, maka berkonsideranslah ia dengan Diri Aslinya, ”Aku tak memiliki ilmu gaib perihal ini yang mana aku bisa kalah dengan mudah, jika Engkau izinkan, aku akan menggunakan rahmat-Mu secara utuh.“


Namun sayang, sang Diri Asli telah menampakkan kehendaknya, yaitu, siluet atas jawaban dari permohonan Pangeran Awarta. Siluet itu muncul dalam pikirannya —seperti mimpi— gambaran dirinya yang terus berperang tanpa henti dengan sang Putri Kerisia; perang abadi.


Maka sirnalah sudah perisai pelindung sang Pangeran, hilang pula kesaktian Dewa-nya, dan wujudnya kembali kekeadaan semula; tetap tampan, gagah dan berwibawa, tapi kacau dalam jiwanya.


Dia jatuh dari ketinggian 40 meter ke darat, terhunjam ke hamparan pasir yang kersang menanggung sakit dan menanggung luka dalam.


Ketegangan pertarungan mulai padam, keheningan mulai menguar. Dan keadilan bagi Putri Kerisia telah di pelupuk mata.


”Haah-haah-haah ... uhuk-uhuk ....“


Sang Pangeran telah kalah, dia terkapar tak berdaya. Berkat dampak jatuhnya dari tempat jauh membuat area pasir di sekitar Pangeran Awarta agak cekung. Anak Satan itu berhasil menyakiti dari dalam tubuh sang Pangeran. Dan secara gaib, dalam tubuh Pangeran Awarta, anak Satan tengah menusuk berkali-kali tepat pada otak sang Pangeran Awarta, ditikamnya oleh tangan kanan anak Satan yang membentuk sebilah pisau.


Erangan kesakitan pun bergema memenuhi ruang sepi di sekitarnya.


”AAAAAAAAAAAAARGH ...!“


Pangeran Awarta meronta memegang kepala memikul derita, dia terpejam bergigit sangat kesakitan.


Ketika Putri Kerisia mendarat di samping Pangeran Awarta dalam jarak 3 meteran, wujud Putri Kerisia pun telah kembali; dua sayap putih menawan, gaun yang indah dan senyuman santai kemunafikan.


Terlebih, rasa sakit dalam kepala Pangeran Awarta mendadak lenyap. Tapi napasnya naik turun agak geram. Geram pada Putri Kerisia yang memaksa atau tepatnya bertindak kejam.


Kaki kiri Putri Kerisia lalu menginjak sayap kanan Pangeran Awarta, diinjaknya dalam perasaan jengkel namun diusahakan tetap tenang, seraya bicara, ”Mengapa kamu tak menggunakan kekuatan tubuh aslimu sepenuhnya? Apa jangan-jangan kamu mengakuiku sebagai sang Penyelamat itu?“


Kalimat tanya yang mengandung ejekan serta perjanjian itu masih ditanggapi Pangeran Awarta dalam apatis. Perjanjian, bila mana Pangeran Awarta mengakui Putri Kerisia adalah sang 'Penyelamat' maka otomatis, dia mesti menikahi Putri Kerisia, sebab, diri Pangeran Awarta telah berikrar untuk mencintai, pun bila mampu menikahi sang 'Penyelamat'.


Tiga detik dalam sunyi, lantas Pangeran Awarta berujar, ”Aku tak mengakuimu sebagai Penyelamat itu, dan ....“


Disayangkan kalimat yang muncul adalah yang dibenci Putri Kerisia, tak peduli Pangeran Awarta menuntaskan perkataannya atau tidak, yang pasti, Pangeran Awarta kembali terjerat rasa sakit dalam kepalanya, memegangnya agar tak hancur. Dan itu gegara jawaban yang dibenci Putri Kerisia, benar, benci karena Pangeran Awarta masih memberi tanda penolakan.


Kesunyian di sini masih terisi oleh teriakan perjuangan Pangeran Awarta menahan sakit yang teramat, dia tak bisa menghindari sihir kuat Putri Kerisia. Terpaksa dalam kenyataan ini Pangeran Awarta harus terjerat kepasrahan, pasrah untuk mengalah, membiarkan diri tersiksa, sebab yang dihadapinya adalah seorang yang egonya tinggi.


”AAAAAAAAAAAARRGH ...!“