Nurvati

Nurvati
Episode 70: 'Kupersembahkan Jiwaku Demi Laknat-Mu'.



Ribuan pasukan mulai mengambil ancang-ancang, para Penyihir yang tersisa pun mulai membaca mantra Cermin.


Mulanya sinar kecemerlangan kapten ras Peri itu bersinar terang, membungkus dirinya, bersinar putih terang benderang laksana matahari di siang hari, yang tentunya menyilaukan mata, hingga angin pun berkesiuran sangat kencang memberikan isyarat kedahsyatan rahmat sang Diri Asli.


”Bagaimana ini? Dia pasti menang Jenderal!“ keluh pria anggota militer dari kalangan ras Maan, bahkan nada suaranya ditinggikan agar dapat terdengar.


Jenderal Perang, seorang pria petarung seperti Kiyogu pun harus terpana melihat kekuatan dahsyat itu. Dia paham betul kalau ribuan pasukan pun tak mungkin mengalahkannya. Sang Diri Asli Malaikat sayap 7 itu bukanlah penyerang atau bertahan, melainkan Dia mengetahui kelemahan yang menyerangnya dan mengetahui kelemahan yang bertahan, bila mereka tak memiliki kelemahan maka sang Diri Asli itu akan menciptakan kelemahan mereka.


”Kalau begini jadinya ... untuk apa kita berperang, Dia yang pasti menang!“ sindir seorang pria militer ras Barqo yang kecewa.


Jelas melihat lawan menggunakan kemampuan terlarang di perang dunia ini beberapa kalangan militer agak pesimis terutama kalangan militer level tinggi, alam pikir mereka langsung menyimpulkan sebuah ketetapan kalau mereka pasti mati. Dan konyolnya, segala asumsi yang semulanya merasa akan menang kini malah merasa akan tumbang.


Jenderal Kiyogu menyadari keterpurukan pasukannya, dia tak bisa seperti ini, seorang pemimpin tak boleh terlihat lemah di depan pasukannya!


Lantas melesatlah Jenderal Kiyogu ke atas, terbang setinggi 50 meter seraya berseru, ”Kaisar Mihmada telah memberikan petunjuk kepada kita! Siapa yang berjuang dan gugur di medan perang! Nirwana adalah tempatnya!“


Suara lantang itu didengar oleh seluruh pasukan, merambat dengan energi ultrasonik. Beberapa orang nampak senang dan mengharapkan alam Nirwana yang memuaskan, tapi tak sedikit juga yang pesimis. Ini soal keyakinan!


Tapi tiba-tiba sang Jenderal Kiyogu malah berteriak kesakitan.


”AAAAAAAAARRRRGGGH ...!“


Dia mengerang kesakitan, mendepang tangan, hingga kepalanya menengadah pada langit, suasana seketika tegang dan mengerikan. Lebih-lebih beberapa orang jiwanya mulai mengalami ketakutan.


Lebih dari itu!


Banyak dari mereka yang mengalami hal serupa seperti Jenderal Kiyogu, mereka mengerang kesakitan, tak hanya itu, di antara mereka pun terdapat orang-orang memegang perut kesakitan, ada pula yang mematung tak dapat bergerak sama sekali. Semua pasukan bahkan para penyihir pun terjadi hal yang aneh pada mereka.


Tak butuh waktu lama, 30 detik selepas itu, tiba-tiba terjadi dentuman yang sangat besar, sebuah dentuman suara yang frekuensinya langsung menghancurkan ribuan pasukan hanya dengan sekali dentuman. Hancur laksana debu yang ditiup angin. Bak seolah tak pernah ada yang berkerumun di sana. Dan hamparan air yang biru yang awalnya dingin penuh damai, kini menghangat dalam aura kematian. Semuanya telah sirna dan kalah. Benar-benar hilang dalam sesaat.


Itulah sedikit kecemerlangan sang Diri Asli dari kapten ras Peri. Kini wujudnya kembali pada wujud semula. Seluruh jasad rekannya, seluruh jasad orang-orangnya pun telah hancur. Yang terlihat di sini hanyalah hamparan air biru sejauh mata memandang.


Dan sang kapten telah berdiri di atas air, meresapi kemenangannya atau dengan kata lain mempersembahkan rasa terima kasih kepada sang Jenderal Barajaya. Tapi tiba-tiba lututnya lemas, ada kenyataan pahit yang membebaninya, sebuah realitas yang harusnya bahagia malah jadi hampa, maka dalam kehampaannya berlututlah sang kapten di permukaan air itu. Hingga jemarinya harus mengepal erat menanggung sesak di dada dalam kehampaan yang luar biasa. Dirinya malah menangisi kehampaan yang kini menjeratnya.


Padahal, telah dikorbankan nyawa untuknya, padahal telah dipersembahkan jiwa untuknya, tapi apalah daya, jahanam kini menunggunya.


Secara mendadak, jiwanya diperlihatkan akan sang Diri Asli, tepat berada di depannya, namun tetap terhijab akan rahasianya, sang kapten kini nampak berlutut di sayap yang indah milik sang Diri Asli, hingga sabda pun muncul.


Namun dalam tangisan kehampaan, sang kapten sama sekali tak merasa keberatan, dia hanya hampa, merasa hampa, sangat-sangat hampa, itu saja. Dan karena telah berteguh hati pula dirinya untuk berterima kasih pada Jenderal Barajaya, karena berkatnyalah dirinya bisa mendapatkan takdirnya.


Maka batin sang Kapten pun membalas, ”Kalau begitu ... aku terima laknat-Mu untukku, dan kupastikan akan kurenungi.“


Saat itulah, air matanya semakin deras jatuh menetes penuh kehampaan.


Seluruh ingatan akan dirinya pun kembali terbayang-bayang, mengiringi kehampaannya pada ingatan masa lampau. Seorang anak perempuan, yang hanya didik untuk membunuh dan balas dendam, ketika ke dua orang tuanya yang malah mendidiknya agar meminum darah adiknya sendiri, yang disiksa agar mentalnya kuat untuk balas dendam.


Kapten Rui yang dulu hanya gadis remaja seperti gadis pada umumnya, yang setiap pelajaran sekolah selalu mendapat nilai bagus adalah gadis yang memang didik kejam dan angkuh. Sehingga tak peduli siapa pun anak itu, pasti akan ditindasnya. Dia selalu menang, dan tak akan rela menerima kekalahan, kalau pun kalah, akan berdiri kembali dan membalas dari cara apa pun. Dia pernah mengolok-olok gurunya, pernah meludahi teman-temannya, namun syukurnya dia belum pernah sampai membunuh.


Atau saat senyuman simpul terpasang di wajah manisnya. Kapten Rui harus membentuk dirinya seperti yang diinginkan orang tuanya, tersenyum hanya kalau dirinya berhasil mengalahkan lawannya, selain daripada itu tidak boleh!


Hingga saat seluruh kepercayaan dan kengerian itu memuncak, ketika di mana Rui membunuh, ketika seluruh angkatan militer menangkapnya, membuatnya harus menanggung hukuman kematian dari sang Hakim. Padahal telah berjanji orang tuanya akan menyelamatkannya.


Dia ingat, benar-benar ingat, saat kata-kata manis orang tuanya mampu melambungkan angannya, bahwasanya dirinya akan diperlakukan sebagai seorang anak.


”Kami sangat menyayangimu, kami merawatmu, dan kami berjanji, kalau kamu tertangkap kami yang akan menggantikanmu.“


Tapi nyatanya itu bohong! Ketika sidang berlangsung, dengan lantang orang tuanya malah menampik, bahkan alih-alih ingin bebas, justru ke dua orang tuanya malah bunuh diri di persidangan. Malah membiarkan Kapten Rui menanggung yatim.


Dan saat itulah, Jenderal Barajaya maju, dia malah memaafkan Kapten Rui, padahal kakaknya telah dibunuh olehnya dan malah merasa iba padanya. Jelas segala tuntutan dan hukuman dicabut.


Sejak saat itulah sang Jenderal Barajaya malah mengasihani Kapten Rui, karena baginya, Rui hanyalah boneka dari kelakuan gila orang tuanya yang ingin balas dendam, balas dendam pada keluarga Jenderal Barajaya, walau sebenarnya orang tua Jenderal Barajaya pun telah tewas, orang tua Rui tak puas, hanya akan puas bila Jenderal Barajaya serta kakaknya pun dihabisi. Dan orang tua Rui memang benar-benar memiliki kelainan kejiwaan ditambah adanya pemahaman yang menyimpang.


Jenderal Barajaya pun merawat Rui laksana adiknya sendiri, dia dibimbing pada pemahaman yang baik, menunjukkan apa itu kebaikan dan apa itu kejahatan, tentu saja semuanya menurut perspektif serta pemahaman sang Jenderal Barajaya, tetapi syukurnya, itu sampai-sampai menyentuh kejiwaan Rui, segala kejahatan dan dendam lenyap dalam hati Rui, membentuk sifat yang baru, yang memang Rui adalah anak yang sebenarnya baik, dia hanya terjebak.


Dan ketika waktu memacu jiwanya untuk dewasa, Rui pun mulai mendapatkan dirinya yang seutuhnya. Hingga sampai ketika ilmu Pengenal Dirinya mulai tuntas, bersama dirinya yang ikut terjun pada kemiliteran, dari situlah dia berjuang agar bisa berjuang bersama Jenderal Barajaya, menjadi abdi negara. Yang hampir setiap kali membela Rui, dan menganggapnya sebagai adiknya sendiri.


Dia hanya ingin berterima kasih pada Jenderal Barajaya yang bahkan sedari kecil beliau adalah anak dari panti asuhan, anak yatim piatu yang kini mimpinya ingin menjadi seorang jenderal perang telah tercapai. Itu selalu memberikan Rui motivasi.


“Aku percaya padamu, tak penting kau seorang wanita atau bukan, pikirkanlah agar kau mati terhormat, itu cukup!”


Jadi inilah akhirnya, sang Kapten Rui berterima kasih pada Jenderal Perang Barajaya dengan jalannya seperti ini. Karena dalam perspektifnya, dalam persepsinya yang terlihat tepat, tak ada jalan lain untuk berterima kasih, kalau bukan mengorbankan jiwanya untuk mempersembahkan kemenangan bagi legiun satu.