Nurvati

Nurvati
Episode 28: Cinta Menghadirkan Kebencian.



”Aku datang kemari ingin menguasai ilmu Hikmah,“ ujar Nurvati.


”Atas nama siapa kamu datang ke sini?“ tanya sang Malaikat yang terdengar dalam jiwa Nurvati.


Nurvati menjawab, ”Ketua Kehormatan Hamenka, akademi ke-Malaikat-an, ras Peri.“


Sang Malaikat pun membuka buku nuansa putih milikinya. Di atas meja hanya terdapat sebuah buku, dalam lembaran buku tersebut ternyata telah tertera tulisan-tulisan yang sama sekali tak dipahami Nurvati, tintanya juga dari emas.


Tiga detik selepas membaca buku tersebut, sang Malaikat merobek secarik kertas, sekaligus memberikan kertas tersebut pada Nurvati sambil berpesan, ”Hafalkan kalimat tersebut, jika sudah hafal, pintu di sampingku akan terbuka ....“


Mendengar itu Nurvati meraih kertas tersebut.


”... dan kertas itu akan lenyap, dan kamu bacalah kalimat tersebut berulang kali selama seratus tahun di dalam hati, kamu akan mengetahui waktu bila kamu berhasil melenyapkan iblis berkepala sepuluh di dalam alam Ilmu, jika Iblis berhasil kamu kalahkan namun dia kembali muncul, itu berarti kamu belum seratus tahun di dalam alam Ilmu,“ lanjut sang Malaikat dengan suara yang terdengar di dalam jiwa Nurvati.


”Baiklah,“ balas Nurvati dengan tersenyum senang.


Hingga saat Nurvati menilik kertas itu, tulisan yang tadi diawal tak dipahaminya kini perlahan mulai ia pahami, hanya sebatas kalimat do'a, yang di dalamnya berharap Sang Maha Kuasa melimpahkan rahmat atas diri Nurvati.


Do'a pun dilantunkan dalam hati Nurvati, sekaligus berusaha dihafalnya.


Tak butuh waktu lama, kertas putih itu tiba-tiba memudar lantas hilang dalam genggaman tangannya, secara bersamaan, pintu emas yang berada di samping Malaikat Rahmat terbuka; inilah waktunya. Maka dalam kesiapan penuh dan penuh harap, Nurvati mulai melangkah memasuki pintu tersebut.


Tetapi Nurvati sempat berhenti di depan pintu, alasannya karena terdapat pesan penting dari Malaikat Rahmat.


”Satu hal penting, bila kamu gagal, kamu akan tertarik kembali ke sini, dan berhak mengulanginya dari awal, atau kamu boleh berhenti, namun kalau pun berhasil, kamu akan menguasai tiga ilmu Hikmah, lalu berhak maju ketahap selanjutnya. Dan kamu juga harus tahu, di kantorku tidak terdapat waktu. Tetapi di alam sana, sebaiknya, kamu jangan membuang-buang waktu.“


Nurvati mengangguk sebagai tanda mengiakan. Lantas, mulailah dia memasuki alam Ilmu yang pertama.



Sebuah alam yang terhampar tanah emas sejauh mata memandang, dan langit hitam yang bertabur bintang-bintang. Tak ada hal lain lagi, hanya sepi, sunyi dan sangat-sangat luas.


Selepas kedua kaki Nurvati berpijak di atas tanah emas; telah berada di alam Ilmu pertama, pintu masuk pun memudar lalu lenyap tak berbekas. Nurvati yang baru pertama kali ke tempat ini mulai memandang ke lingkungan sekitarnya, mencari tahu apa saja yang ada di sini. Tetapi begitulah, tempat ini sepi nan luas, tanpa ujung, kosong, tanpa satu pun makhluk hidup.


Hingga seluruh sepi tiba-tiba saja dibuyarkan oleh suara retakan dari tanah emas di depan Nurvati, dan tiba-tiba dari dalam tanah emas itu mencuat sebuah batu emas nan besar, muncul ke permukaan menyapa kenyataan, bahkan batu tersebut diliputi api berwarna kemerahan. Sebuah batu yang besarnya lima kali lipat dari tubuh Nurvati.


Dan selang dua detik kemudian, retakan besar mulai membelah batu itu menjadi dua bagian. Bukan itu saja, ketika batu tersebut telah terbagi menjadi dua bagian, seseorang muncul dari batu tersebut, atau tepatnya; lahir.


Nurvati agak tergelitik melihat kejadian itu, yang baginya agak kocak, karena bagaimana juga, kejadian itu menimbulkan satu fakta aneh; lahir dari batu.


”Haah ... keanehan dunia yang lain," gumam Nurvati.


Sosok itu tiada lain dan tiada bukan adalah Iblis berkepala sepuluh. Tingginya sepuluh meter, kulitnya berwarna merah magma, badan berotot dan netra putih di kesepuluh kepalanya dan rambutnya adalah api, seolah semua kepalanya terbakar. Kepala iblis itu saling berderet.


Dan dari salah satu kepala yang tersambung dengan leher sekaligus tubuhnya, bibirnya menyeringai pada Nurvati.


”Hmmmm ... baiklah, kita lihat seberapa kuat kau.“


Sebelum itu, dalam hatinya telah bersuara melafalkan 'kalimat kemalaikatan' yang sempat dihafalnya tadi dari lubuk hatinya, dibaca berulang kali sejak memasuki alam Ilmu.


* * *



Sementara di tempat nun jauh di sana, bersama terik siang yang cerah, dalam kemegahan istana Raja Awan negeri Barat ras Peri, tengah berlangsung rapat keluarga yang sangat penting, ini menyangkut bangsa Selatan serta bangsa Barat ras Peri. Keluarga Raja Awan bangsa Selatan hadir bersama Pangeran Awarta, dan keluarga Raja Awan bangsa Barat hadir bersama Putri Kerisia, dan hanya mereka yang hadir dalam ruangan Rapat Keluarga ini.


Ruangan yang luasnya mampu nenampung 50 orang, yang memiliki meja oval dari batu berlian, yang dikelilingi 8 kursi dari sutra emas, ruangannya sangat mewah nan berkelas, lantai dari batu Ruby, jendela kaca dari lapisan intan, dan dindingnya yang bertatahkan batu-batu mulia paling cemerlang.


Raja dan Ratu dari kedua kerajaan tengah merundingkan perjodohan antara Putri Kerisia dengan Pangeran Awarta, dilakukannya demi menjadikan kedua kerajaan lebih akrab. Tapi tunggu! Topikalitas itu sama sekali melenceng dari kebenaran!


Karena dalam kenyataan yang menyedihkan, Raja Awan dan Ratu Awan negeri Barat telah lama tewas seribu tahun yang lalu. Benar, wafat dalam kejadian tak terduga. Lebih dari itu, pada dasarnya jika mereka masih hidup, tak sedikit pun mereka berniat menjodohkan anak perempuan satu-satunya ini; mereka hanya tersihir.


Namun dengan pandangan mata dikenyataan kini, mereka nampak hidup, dan dibalik kerahasiaan, sebuah sihir terlarang telah menghalangi kebenaran, ya, sang Putri Kerisia, yang kini berusia 20.666 tahun, telah tanpa takut, melakukan sihir 'manipulatif kehidupan' pada kedua orang tuanya, dengan kata lain, Putri Kerisia menghidupkan kembali kedua orang tuanya dengan sihir terlarang. Kendati demikian, sebenarnya yang ada dalam validitas tubuh orang tuanya, tiada lain dan tiada bukan adalah pasukan Satan; 'anak-anak' Putri Kerisia yang menggerakkan kehidupan orang tua Putri Kerisia.


Tak ada yang mengetahui kebenaran itu, kecuali Iblis, dan para Malaikat, bahkan Raja serta Ratu Awan negeri Selatan tak menyadarinya, begitu pula dengan Pangeran Awarta.


Sehingga, dalam perspektif kebenaran, topik ini lebih menjurus pada; menyalurkan hasrat sang Putri dengan sihir hitam.


Mereka duduk saling menghadap satu satu sama lain, masing-masing dari mereka memiliki dua sayap di punggung, duduk penuh hormat, dengan gestur tubuh anggun nan berkarisma.


”Apakah kalian setuju, untuk menyatukan Putra-Putri kita dalam ikrar pernikahan?“


Pertanyaan yang digaungkan sang Raja Awan ayahanda Putri Kerisia terdengar begitu meyakinkan, malah dirinya yang mati dalam hidup yang dimanipulatif, suaranya tetap terdengar seperti biasanya; berwibawa, ekspresinya pun tetap tenang. Tetapi disayangkan, Raja Awan negeri Selatan menolak mentah-mentah permintaan atau ajakan itu.


”Kita bisa saling dekat tanpa harus menikahkan putra-putri kita, bukankah keakraban dicapai karena saling mengetahui?“


Putri Kerisia yang duduk di antara kedua orang tuanya bereaksi dalam batin ketidaksukaan, namun sikap liciknya menutupi hati kotornya dengan lekuk senyuman tenang mengandung kepalsuan, seraya menyindir, ”Jadi, kalian tidak menghargai kesopanan keluarga saya?“


”Oh ... bukan begitu Putri ....“ Namun ucapan sang ibunda Pangeran Awarta dipotong dengan halus oleh Putri Kerisia.


”Tidak apa-apa, sungguh tidak apa-apa ... karena, saya yakin Pangeran Awarta memahaminya 'kan?“


Kalimat menghasut kejiwaan Awarta itu bertujuan agar dibelanya sang Putri oleh Pangeran.


Bahkan dalam menyela ucapan ibunda Pangeran Awarta, senyuman palsu tetap ditampilkan dan suara lembutnya menyimpan hasrat menggebu. Angannya berkutat akan memiliki sang Pangeran Awarta. Sang Putri telah tenggelam dalam lautan hasrat menggebu yang dinamakan; cinta. Dia telah lama menanggung beban jatuh cinta yang telah lama tertutup waktu. Dan kini, dia tak mampu menahan gejolak itu.


Sang Pangeran Awarta adalah Putra tunggal keluarga Raja Awan Selatan, berusia 23.003 tahun, tinggi 2,1 meter, memiliki rambut biru klimis yang pendek tersisir ke kanan, netranya sipit hitam legam bagaikan ular, dengan bentuk wajah agak persegi. Bonusnya suaranya sangat berwibawa, pintar dan ambisius.


Bagi ras Peri seperti Putri Kerisia, Pangeran Awarta adalah pria idaman, begitu pula dikalangan wanita-wanita terhormat. Dan bila Putri Kerisia mampu menikah dengan sang Pangeran negeri Selatan ini, ia juga pastinya akan menjadi sang Ratu. Benar, Pangeran Awarta tak hanya menyandang gelar Pangeran sahaja, tetapi juga mendapat kasta; Putra Mahkota kerajaan negeri Selatan, sehingga dimasa depan, benua Selatan akan jatuh pada kekuasaan sang Pangeran.


Tapi, dalam realita menyakitkan bagi Putri Kerisia, sang Pangeran Awarta tak secuil pun memiliki 'rasa' pada Putri Kerisia. Ada ambisi lain yang terbawa dalam harapan. Dia mengharapkan bisa menemui sang 'Penyelamat' yang dalam mimpinya, sang Penyelamat itu adalah seorang peri wanita, yang diangkat menjadi Malaikat bersayap satu. Kendati begitu, Pangeran Awarta tak tahu siapa wanita itu.


Sehingga sang Pangeran berani bicara, ”Aku menunggu wanita yang akan menghentikan perang dan membawa ras Peri pada kejayaan, dan berharap bisa menikahinya. Jadi, mohon maaf Putri, saya tak mungkin menikahi Anda.“


Kalimat itu berhasil menyayat hati sang Putri Kerisia, menorehkan luka, terasa memadamkan hasratnya, dan cintanya terkesan tak dihargai. Namun demikian, sang Putri yang tak ingin harga dirinya jatuh sebagai wanita terhormat, dalam senyum palsu yang tak lelah disandiwarakan, dengan santai dan berniat memupuskan harapan Pangeran, ia berkata, ”Oh, tapi saya rasa, cerita itu hanyalah mitos, dan kalau pun benar, saya khawatir Anda hanya akan dijadikan pelayan si 'Penyelamat' itu.“