Nurvati

Nurvati
Episode 191: Demi Keabsahan Bukti.



”Hmmm ... apa itu hanya fabrikasi? Atau bualan dari seorang yang ingin dikasihani?“ tanya Raja Azer dengan suaranya yang dalam mengandung sindiran dan tuntutan.


”Tidak, Yang Mulia Raja ...,“ sanggah Apan dengan tertunduk hormat. Menegaskan penuturan Ratu Arenda dapat dipercaya.


Raja Azer bergeming mendengarkan, namun pandangannya lurus ke depan pada pintu besar aula utama istana.


”Apan ... adalah seorang pria baik, sahabatku yang membuatku berani bermimpi ... dia pula yang membuatku sanggup bertahan hingga kini ...,“ sanjung Ratu Arenda dengan memandang serius pada suaminya. Bermaksud menunjukkan kalau Apan lelaki baik dan berpengaruh besar dalam hidup Ratu Arenda.


“Hmmm ... cukup membuatku ingin berkata 'wow', tapi tidak membuatku ingin tepuk tangan bergembira ... artinya, aku belum percaya,” keluh Raja Azer masih memandang ke depan dalam pose bermartabatnya.


Suasana menjadi senyap, para hadirin bermartabat kebanyakan memasang mimik wajah serius, sisanya merenung.


Entah apa memang Raja Azer menuntut klarifikasi di sini, di hadapan pribadi bermartabat, atau justru memang hendak mempermalukan istrinya sendiri.


“Apa rajaku ingin mempermalukan ratunya sendiri?” usut Ratu Arenda.


Raja Azer mendadak mendepang tangan dengan bangga dan penuh percaya diri, lantas berani berujar, “Aku telah begitu setia padamu, istriku ... pelayan cantik, teman-temanku yang imut, atau wanita-wanita jelita bermartabat, tak sekalipun aku tertarik pada mereka ... kecuali seorang wanita yang membuatku pening hingga kini ... yaitu Anda, Ratu Arenda ....”


Kemudian disaat ke dua tangannya kembali kepose sebelumnya, wajah bercahaya Raja Azer memandang Ratu Arenda.


“Aku adalah raja yang setia ... maka, tunjukan kesetiaan Anda pada saya ... dan untuk itulah, Anda ... dapat dijadikan panutan di bangsa Barat ini,” tandas Raja Azer dengan penuh penekanan di setiap kata, sambil menepuk dadanya begitu bangga, berharap dipatuhi.


Namun termenung Ratu Arenda di sana. Bingung untuk menunjukkan kesetiaannya. Toh memang dirinya tak berkhianat.


Sedangkan Raja Azer kembali memalingkan muka, memandang lagi ke depan, seakan memandang untuk menanti.


Hanya saja, meski detik demi detik terus berlalu, mengisi suasana dalam senyap dan penuh tanya. Ratu Arenda diam dalam bingung.


Apan yang tak bisa banyak berbuat pun melebur dalam diam. Membuat seakan-akan dunia menunggu keputusan nan krusial dari Ratu Arenda.


Tak tahu, masih tak tahu bukti apa yang diinginkan sang raja, atau apa yang mampu membuktikan kalau Ratu Arenda setia dan Raja Azer percaya. Dirinya belum tahu.


Hingga karena agak jemu dan tak ingin membuang waktunya yang berharga, Raja Azer mencetuskan argumentasi isyarat petunjuk. “Ratu Arenda ... bukankah sering jemari mulus Anda itu dikecup oleh sahabat pria Anda? Bukankah pelukan juga Anda lakukan? Padahal dia hanyalah sahabat.”


Entah fakta itu didapat dari mana, sejauh kenyataan yang Ratu Arenda titi, tak pernah dirinya merasa membuka identitasnya.


“Bukankah itu normal sebagai sahabat? Tidakah suamiku memiliki sahabat?” tanya balik Ratu Arenda berusaha membela diri.


“Normal? Ketika istriku dikecup walau oleh sahabat prianya, ketika dipeluk oleh sahabat prianya adalah ... normal? Sedangkan Anda tak pernah bercerita ... kalau Anda memiliki sahabat pria yang sangat dekat, hingga saat semua sudah terbongkar, barulah Anda bicara ... apakah itu normal? Apakah normal sesuai sudut pandang sepihak saja?” insinuasi Raja Azer dengan lantang nan lugas.


Ratu Arenda mulai tertunduk merasa bersalah. Iya, suaminya benar, dirinya semestinya membicarakan perihal sahabatnya sejak jauh-jauh hari, dirinya memang salah.


Ratu Arenda telah tak sadar menoreh luka pada suaminya yang setia dan itu terasa kurang ajar.


Ratu Arenda masih bungkam memikirkan setiap tindakan dan perasaannya itu.


”Apa bukti kesetiaanmu? Apa buktinya? Jangan mempermalukan ras Peri sebagai makhluk setia!“ tegas Raja Azer menuntut dengan tak sabar.


”Buktikan ... atau bila tidak ... akan aku pastikan sahabatmu tidak akan pernah memiliki jantung berdetak lagi!“ titah Raja Azer keras-keras seakan tak mau ditolak dan wajib digugu.


Kegetiran, ketakutan serta kebingungan mulai berpadu melanda sukma Arenda menjeratnya semakin kuat seiring waktu berdetik. Ratu Arenda tumungkul dalam renungan.


Bahkan Apan yang berusaha membela sabatnya langsung ditolak oleh Raja Azer.


”Diam penyihir! Engkau memiliki hukuman tersendiri!“


Apan pun tak berdaya, dia memang memiliki sihir, tetapi tidak cukup untuk mengalahkan Raja Azer yang dijaga oleh sihir pula. Toh tak ada alasan tepat juga untuk membunuh Raja Azer.


Kemungkinan besarnya, Apan akan diberikan sanksi kemiliteran.


Hingga lagi-lagi, realitas cukup tegang ini diisi oleh argumen ketetapan Ratu Arenda. ”Baiklah, karena jemariku dikecup oleh pria lain ... akan saya potong jemari-jemari saya sebagai bukti.“


Tangan kiri Ratu Arenda pun memanifestasikan parang. Apa yang segera diimplementasikannya tadi telah direnunginya matang-matang.


Terhenyak kejiwaan Apan, tak menyangka. Namun dirinya hanya mampu bergeming dalam dilema. ”A-Arenda.“


Seluruh hadirin bermartabat semakin serius memandangi mereka. Begitu serius seakan menyaksikan drama teater favorit mereka.


Raja Azer sengap, dirinya memakukan diri seakan menanti kepastian. Tak peduli juga kalau yang dilakukan istrinya menyakitkan, karena Raja Azer yakin, kalau inilah jalan terakhir demi membuktikan adanya kesetiaan.


Dengan demikian, tak akan ada gosip yang mencemari nama baik istrinya atau keluarganya.


'Srep' dipotonglah jemari-jemari kanan nan lentik Ratu Arenda, hingga giginya saling bergigit dengan rahang mengeras, menahan rasa sakit.


Apan yang hendak menolong Ratu Arenda bahkan dihalangi oleh titah raja bangsa Barat itu, supaya Apan tak menyentuh lagi Ratu Arenda. ”Tetaplah terpaku di sana anak muda! Jangan sentuh istri orang atau yang punyanya akan mencabut nyawamu!"


"Dan Ini adalah perintah dari pimpinanmu!“


Untuk itu Apan pun kembali lagi bergeming dalam beban dilema. Memicu napasnya sedikit tak stabil, bersama detak jantung yang tak terkendali.


Namun, kendati Ratu Arenda telah meringis memegang tangannya karena nyeri. Raja Azer belum puas, dirinya bahkan tak menampilkan kesan empati atau kasihan; memang menginginkannya.


Lebih dari itu, suasana semakin menegangkan kala tangan kanan Raja Azer tiba-tiba memanifestasikan sebuah silet dan titah kembali muncul darinya.


”Potong tangan kananmu dengan silet ini ....“


Ratu Arenda memasang muka nyeri dan bergigit, dirinya memandang silet yang disodorkan oleh suaminya. Tapi tak ada argumen yang muncul. Entah bagaimana Ratu Arenda memahami keinginan suaminya.


Apan bahkan terbelalak karenanya, kecuali para pribadi bermartabat yang serius, namun tetap terkendali, hanya menyimak.


Tak banyak mengeluh, Ratu Arenda meraih silet emas tersebut, dengan wajah getir nan ironi, dia sekilas menatap silet tersebut dengan penuh makna.


'Demi pembuktian' iya, 'demi pembuktian', dua kata itulah yang bersenandung lirih dalam kepala sang ratu. Dia mencintai Raja Azer. Sangat mencintai suaminya.


”Aku ingin istriku merasakan setiap inci, setiap mili, setiap detiknya rasa sakit ... agar Anda memahami, rasa sakit yang ada di dalam dada saya ...,“ ungkap Raja Azer yang secara tidak langsung membeberkan sakit hatinya dan kecemburuannya.


Maka tanpa sungkan, dengan sekuat tenaga, Ratu Arenda pun mulai menyayat tangan kanannya sendiri, disayat dari bahunya.


”GAH ... ARGH ...!“ bahkan saking nyerinya Ratu Arenda bergigit, memekik dan sesekali menahan napasnya.


Karena begitulah komitmen sang ratu, walau cukup ironis dan menyakitkan, dia menerimanya.


”Ini keterlaluan ...!“ celetuk —tenggiling— Apan dengan tatapan ngeri pada perbuatan Ratu Arenda.


Melihat adanya kesempatan emas. Raja Azer sekonyong-konyongnya malah berujar, ”Jika engkau tak ingin melihat sahabatmu menderita ... potonglah 90 persen tangan kanan sahabatmu itu dengan katana, dengan demikian, sakitnya tak akan terasa.“


Apan terperangah dan netranya beralih pada Ratu Arenda yang kini telah berlutut pasrah, menyayat-nyayat lengan kanannya, menimbulkan darah keemasan membasahi tangannya, lebih-lebih mulai menetes ke lantai.


Begitu tegar Ratu Arenda melakukannya, rasa sakitnya tentu semakin sakit kala dia mesti menyayat tulangnya sendiri.


”Gyaah ... haah-haah ... gah ....“


Sekilas Apan menatap Raja Azer yang tetap berdiri tegap nampak apatis. Namun dirinya tentu menyimak dengan sikapnya yang demikian.


Tenggiling Apan pun buru-buru melompat dan menghampiri Ratu Arenda seraya memberikan usulan. ”Ulurkan tanganmu biar aku potong dengan cepat!“


Sayangnya meski ide itu cukup baik untuk kondisi saat ini. Ratu Arenda menggeleng dengan pasrah; menolak.


”Tidak ... tidak ... tidak ....“ Malah dilakukannya hingga terus menyayat tangannya sendiri laksana leher sapi yang disembelih.


”KYAAAAAAAAAAAAAA ...!“


Teriakan kesakitan itu berhasil mengisi suasana dalam aula utama ini. Ratu Arenda semakin terpacu dan menggunakan kekuatannya demi memotong tulang tangan kanannya yang cukup keras.


Setengah daging bahunya telah robek, mengucurkan darah keemasan, menampilkan luka yang menjadi derita.


Apan benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Napasnya naik turun dalam dilema kegetiran.


Hingga teriakan sekali lagi dari sang Ratu Arenda, menandaskan segala perbuatan dan ucapannya. Kalau kesetiaan pada suaminya adalah absolut!


Benar, telah potong tangan kanan Ratu Arenda oleh dirinya sendiri menggunkan silet. Darah keemasan pun melimbur lantai di sekitarnya. Cukup membuat seluruh pribadi mengernyit kening begitu tercengang.


Raja Azer sadar akan pembuktian istrinya itu. Bukan itu saja, Ratu Arenda dengan menyisakan tekad dan kekuatannya, dia sanggup kembali berdiri dengan tangan yang buntung.


Berdiri tegap laksana pribadi bermartabat tinggi. Sampai-sampai raut muka datar yang seakan tanpa ekspresinya itu terpampang nyata, mengisyaratkan suksesnya dia mempersembahkan bukti konkret.


Akan tetapi, bersama keberhasilannya itu, Raja Azer justru berujar, ”Bagus ... itu cukup untuk membuktikan kesetiaan Anda ... jadi, tetaplah demikian, jangan pernah menyembuhkan tangan itu dengan pil atau apapun itu!“


Sontak Apan merasa keberatan atas pernyataan tersebut, bahkan Ratu Arenda hingga tumungkul dalam kontemplasi.


Sudah tak peduli juga Ratu Arenda, dirinya memang salah dan terbilang tak ingin kehilangan cinta tulus suaminya.


Lebih-lebih komplain dari Apan seketika disela oleh tangan kanan Raja Azer yang terangkat, isyarat enggan untuk dibantah.


Maka membisu dalam kelesah Apan di sana, mutlak dirinya tak berkuasa, tak bisa menghentikan ketetapan tersebut.


Selang kejadian mencengangkan itu, belum ada atau bahkan tak berani para hadirin terhormat untuk berkomentar.


Kemudian bersama berpacunya waktu, tanpa banyak basa-basi, dengan tenang dan tetap memancarkan kesan wibawa, Raja Azer memutar badan. Kembali melangkah mantap menuju singgasananya lagi.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)