
Masih hari yang sama, gelap malam berbintang, tetapi tidak kelumit yang sama. Di kejauhan pada arah mata angin Barat, sebuah hutan gelap nan luas yang mengandung misteri, di balik hutan Barat itu terdapat pohon yang memiliki sebuah pintu rahasia, pohon yang tak ada bedanya dengan pohon-pohon lainnya, nuansa abu, tinggi 39 meter namun pada akarnya terdapat jalan masuk menuju ruangan tersembunyi.
Dalam cahaya remang-remang para kunang-kunang, di sebuah ruangan yang gelap, dengan dinding yang terbuat dari batu Merah Delima serta lantai yang terbuat dari batu Safir, telah berdiri bersedekap seorang wanita kerajaan, berambut jingga yang panjang bergelombang, dalam balutan gaun nuansa merah kesukaannya, yang memiliki dua sayap putih lembut nan memesona, netra tajam merah lembayungnya kini terhubung pada tiga anak Satan warna hitam.
“Anak-anakku ... giring seluruh pola pikir rakyat, untuk teguh pada ego mereka ... anak-anakku, giring seluruh pola pikir para pemimpin, untuk teguh pada kehormatan mereka ... anak-anakku, giring para ahli kitab, untuk teguh pada kitab mereka ... hentikan seluruh mitos, jangan sampai kepercayaan pada sang Penyelamat itu muncul kecuali kepadaku,” komando Putri Kerisia yang tegas nan preventif.
Maka bersama kata 'Pergilah' dari mulut Putri Kerisia, tiga anak Satan yang cengengesan itu pun melesat terbang, melaksanakan titah dari sang 'Ibu', mereka akan membisikan pada seluruh kaum, tentang bisikan-bisikan yang halus nan indah tetapi mengandung kecelakaan yang nista.
Tak ada senyuman di wajah mulusnya, senyuman manis yang mewah itu telah hilang, seni senyuman hipokrit itu telah tersimpan pada masa lampau, kini hanya datar, hampa, dan tak berperasaan, kutukan sang Pangeran Awarta, tetap menjerat Putri Kerisia, ia lupa caranya tersenyum dan lupa seperti apa tertawa itu.
Perlahan dalam harapan kemenangannya, kelopak netranya perlahan terpejam. Secara realitas, Putri Kerisia telah mengenal dirinya, diri aslinya, yang mana dia sendiri yang menciptakan dirinya. Mengakui para Malaikat sebagai Pencipta, tetapi tak mengakui kalau dirinya diciptakan Mereka.
Putri Kerisia, anak ketiga dari dua bersaudara, semua kakaknya adalah seorang pria, pewaris takhta kerajaan bangsa Barat, semua orang tidak tahu, bahkan dunia tidak tahu, semuanya benar-benar tidak tahu akan derita yang menerpa Putri Kerisia.
Kedua kakaknya berebut takhta kerajaan, kakaknya yang paling dicintai oleh orang tuanya hanyalah para pembunuh yang kejam, yang licik lagi munafik.
Ke dua orang tuanya tak sedikit pun memercayai ucapan putrinya sendiri, tentang kakaknya yang hendak meracuni kedua orang tuanya, yang justru Putri Kerisia-lah yang malah terkena hukuman, dihukum karena menuduh yang bukan-bukan.
Tapi demikian, cintanya pada kedua orang tuanya tidak pernah surut, sang Putri kerajaan bangsa Barat, sangat-sangat menghormati dan mencintai mereka.
Tapi setelah banyak membagi, yang ujungnya diludahi, setelah kasih sayangnya dilecehkan, pada akhirnya semuanya hanyalah omong kosong yang tak berarti.
Yang cantik dipuji, yang baik tapi tak cantik maka tak berarti, yang suci diagungkan, tetapi yang pendosa sedang bersuci, tetap saja dilihat kotornya. Sebagai seorang Putri, dia paham betul akan apa yang ada dan terjadi di lingkungan politik dan publik.
Maka bila dengan kebaikan tak bisa meraih keselamatan, maka dengan kejahatan keselamatan akan dicita-citakan.
Bukan lagi masalah cinta, bukan lagi masalah perang, Putri Kerisia harus membuat semuanya mengenali kehidupan di alam ini, sebab baginya, orang tidak akan tahu tentang luka, sebelum mereka terluka, dan tak seorang pun mengenal satu satu sama lain, bila tak merasakan kejiwaan satu sama lain.
Gelap malam ini, Putri Kerisia lebih memilih untuk sejenak tinggal di sini, pandangan ke-Dewi-annya berusaha menerawang pada sang legenda atau mitos, perihal risalah-risalah ke-Malaikat-an yang diberikan pada sang Penyelamat, bahwasanya akan ada zaman di mana ras Peri kembali pada sifat 'Peri-nya'.
Dia memakukan diri, memejamkan netra, bersedekap, penglihatan rohaniahnya menulusur ke berbagai tempat, desa-desa, perumahan, kota, tempat wisata, gua, hutan-hutan, pegunungan, wilayah pasir, salju, lautan samudra, awan-awan, bangsa-bangsa, namun demikian, tak ada yang didapat sama sekali.
Belum menyerah!
Kembali lagi Putri Kerisia menerawang, seluruh tempat tak lalai dalam penerawangannya. Dia harus tahu, dia harus tahu, sebab bagaimana pun, sang Penyelamat itulah yang bisa menghentikan misi Putri Kerisia terlahir di dunia ini.
Hari sudah malam, titik malam telah mencapai zenitnya, seluruh waktu telah berkerja keras untuk tak pernah berhenti.
Sungguh disayangkan, malam ini, Nurvati terpaksa tidur di dalam sel tahanan, tubuhnya memang telah terbebas dari jeratan rantai, namun dirinya kini malah terpenjara.
Ini di dalam bangunan Militer area Timur, bangunan yang berbentuk huruf 'O' bila ditilik dari atas, terbuat dari intan dan berlian, memiliki 4 lantai, berdiri dengan kokoh di atas tanah yang melayang dalam ketinggian 3 meter, dan di sekitar area yang luasnya tiga kali lipat dari lapangan bola ini hanya terdapat dinding energi, yang tak seorang pun bisa keluar masuk seenaknya bila tak memiliki izin dari penjaga.
Nurvati tengah duduk manis di kursi panjang yang terbuat dari intan, ruangan ini sendiri seperti akuarium ikan, kotak, dan berderet ruangan yang sama di sekitarnya, sehingga Nurvati mampu memandang tembus hingga ke dinding atau ruangan sebelah, karena bagaimana pun seluruh ruangan ini terbuat dari kaca yang diliputi energi.
Dapat dilihat oleh mata, bahwasanya, meski banyaknya ruangan sel tahanan, tetapi hanya Nurvati seorang yang nampak mengisi satu dari sepuluh ruangan sel tahanan, sisanya kosong.
Tak ada yang dapat dilakukan Nurvati, kemampuannya di sini sama sekali tak dapat diandalkan, acap kali dia berusaha menggunakan kemampuannya, acap kali itu pula serangannya tak mampu menghancurkan tempat yang berkilau ini, bahkan cahaya keilmuan yang meliputi wajahnya saja nampak tak berguna sama sekali, mungkin dengan sihir atau kekuatan Dewi bisa saja tempat ini dihancurkan. Tapi sayangnya, Nurvati hanyalah Peri biasa.
Keadilan! Iya, keadilan, dalam kepalanya masih berputar irama keadilan yaitu keadilan hidup, duduk manis di tempat menyedihkan ini tak menghentikan batinnya untuk dapat berangan-angan meraih keadilan hidupnya, gejolak ambisinya terus berkantaran.
Belum semua warga perumahan sempat diadili, perasaan menggantung ini terasa mengganggu mentalnya, rasanya mengganjal dan seperti mendorong badaniah untuk kembali merusak rumah warga, lalu menyakiti anak-anak mereka, dengan begitu keadilan baru selesai ditegakkan.
Sungguh, Nurvati terasa tersiksa oleh ambisinya sendiri, tidak hanya itu, dapat duduk manis di sini pun sudah sangat memuakan, ditambah, besok Nurvati akan disidang, sidang itu pun terkesan telah dapat ditebak, kalau dirinya pasti akan dihukum mati. Jelas beban moril kembali harus ditanggungnya.
“AAAAAAAARRRGH ...!”
Itu teriakan dari mulut Nurvati yang keluar sebagai tanda ekspresif mentalnya yang tertekan, sisi psikologis Nurvati tak mampu menerima ini, buktinya saja kedua kakinya tampak tengah menendang-nedang kehampaan, membayangkan kalau yang dia tendang adalah takdir sialnya, lebih dari itu, jemari tangannya terlihat mengepal erat, itu isyarat kalau mentalnya tengah kuat-kuat menahan beban moril. Dan dia berkali-kali berteriak, tapi itu pun sia-sia.
Sebenarnya, kini dia terpaksa harus terkena nasib sial, dan itu karena ulahnya sendiri, gegabah serta seenaknya. Seorang wanita yang datang dengan masa lalu, yang terendam lara pada kenyataan hidup, lalu merasa kalau keadilan itu adalah membuat orang yang menyakitinya, wajib disakiti lagi, itulah kelumit pola pikir Nurvati.