Nurvati

Nurvati
Episode 48: Rencana Dalam Kerahasiaan.



Di sana dalam cecaran kemarahan para korban, Nurvati tetap duduk manis seolah acara ini tak penting, dan berkat menceritakan unek-uneknya, tekanan mental padanya telah redup, ia mulai menikmati alur situasi di sini, mulai nyaman dengan apa yang kini dijalaninya.


Seluruh ambisi pada keadilannya masih tetap pekat, dia hanya perlu mencari cara untuk keluar dari sini, membentuk pintu teleportasi tidak pernah berhasil dibuat, pintu tidak berfungsi, yang ada tetap berada dalam ruangan yang sama.


Semua orang memang tidak memahaminya, Nurvati hanya menginginkan keadilan dan dengan keadilan itu semuanya akan saling memahami, sehingga bila terdapat seseorang yang sama cacatnya seperti Nurvati, semua orang akan paham, bahwa membencinya bukanlah hal yang tepat.


“HUKUM MATI DIA!”


“IYA, HUKUM MATI!”


Suara-suara para korban terus bergema menuntut agar segeranya Nurvati dihukum.


Jelas sudah, para korban pun menuntut akan keadilan, mereka juga menderita, karena pada dasarnya semua menginginkan hidup yang adil. Nurvati sudah melanggar hukum, dan hal wajar bila Nurvati mendapat hukuman yang berat.


Hanya saja, ambisi itu —menegakkan keadilan— belum sirna, masih melekat kokoh pada jiwa Nurvati, dan pola pikirnya perihal menyakiti yang telah menyakitinya sebagai keadilan, tetap mengalun mesra bersinergi pada sekujur tubuh Nurvati. Para korban dan semua yang ada di sini, dipandang Nurvati sebagai pihak yang salah, mereka berusaha menghentikan penegakkan keadilan.


Akan hal itu, Nurvati telah memiliki rencana lain, benar! Rencana untuk segera membebaskan diri, kemudian menyelesaikan penegakkan keadilannya.


“PAK HAKIM CEPAT PUTUSKAN!”


“HUKUM MATI!”


“HUKUM MATI!”


Pak Hakim yang berwajah ngantuk nampak malah diam larut dalam renungan, membiarkan suasana serius berubah jadi suasana ricuh. Kecuali bagi para saksi yang masih duduk manis dalam diam, tetapi tidak bagi bocah ingusan yang tepuk tangan sambil berkata, “Ayo ayo ayo ....”


Seluruh suara-suara para korban mendesak Pak Hakim untuk langsung memutuskan ketetapan hukuman pada Nurvati. Namun Nurvati yang mendapat serangan mental ini, justru tengah berpikir matang-matang rencana untuk melarikan diri. Tentunya, dia tak mungkin mati dalam keadaan belum menegakkan keadilan. Karena akhirnya kejiwaan yang bicara; Nurvati tak mau mati muda.


Telah diputuskan! Setelah ada celah untuk kabur baik saat ini mau pun nanti, Nurvati akan melarikan diri, maka bersamaan dengan rencananya, panca indranya lebih ditingkatkan kewaspadaannya, dari kiri, kanan atau pun atas, tak lekang untuk dipindai, mencari celah terbaik.


“PUTUSKAN PAK HAKIM!”


“HUKUM MATI!


”HUKUM MATI!“


Seluruh tuntutan masih berkesinambung memaksa Pak Hakim untuk memutuskan seperti yang diinginkan para korban.


Hingga setelah satu menit termenung dalam hening, Pak Hakim bicara, ”TENANG, TENANG, TENANG ANAK-ANAK ....“


Serempak semua langsung terdiam, siap untuk mendengarkan keputusan Pak Hakim, dan berharap Nurvati dihukum mati. Kecuali bocah saksi itu, dia tepuk tangan pelan-pelan sambil dengan suara pelan berkata, ”Ayo ... ayo ... ayo.“


”... saya tak mungkin langsung memutuskan dalam sehari, masih ada yang harus dipertimbangkan, dan ini akan dibicarakan bersama para juri dan pihak penegak hukum lainnya ... jadi ....“


Sayangnya, pemaparan dari suara seraknya Pak Hakim malah terputus, terputus karena ia telah dikejutkan, pun semua orang benar-benar telah dikejutkan, bukan hanya para korban yang terkejut, para saksi pun terkejut, sampai-sampai ocehan dan tepuk tangan sang bocah ingusan terhenti, dan melongo.


Nurvati yang duduk ikut terkejut, benar-benar sangat tak disangka-sangka. Dari arah samping kanan Pak Hakim, dari pintu emas yang berjarak 8 meteran dengan kursi Pak Hakim. Pintu telah didedah, oleh dua tentara militer kerajaan.


Tentara militer kerajaan memiliki zirah dari berlian yang di tengah-tengahnya terdapat logo daun sirih, logo kerajaan Barat.


Yang paling mengejutkan, telah datangnya seorang wanita muda, yang bermata merah lembayung, yang netranya kini memancarkan kelicikan namun tetap dalam keanggunan, bibir tipis tak tersenyum tapi tak juga senderut; datar. Raut muka yang tak berperasaan, dengan rambut jingga bergelombangnya yang panjang, tubuh moleknya terselimuti gaun nuansa merah dari batu Ruby, dan dua sayap putih nan memesona.


Dia berjalan ke tengah ruangan, lantas berdiri di depan meja Pak Hakim, dan membuat seluruh sorot netra orang-orang di ruangan ini langsung tertuju pada wanita anggun itu, iya benar, Putri kerajaan Barat; Putri Kerisia.


* * *


”Pu-Putri Kerisia ...,“ kata wanita berambut merah yang bahkan untuk menyebut namanya saja agak terbata; tak menyangka.


Sontak membuat kaki Nurvati bergerak untuk bangkit berdiri. Satu hal yang dilupakan, bahwa Putri Kerisia adalah teman pertamanya, benar, teman pertama yang menganggap Nurvati sebagai teman, teman pertama yang memuji Nurvati cantik, teman pertama yang tak peduli pada kecacatan Nurvati, tak peduli juga jika Nurvati anak pemanggil iblis.


Sedangkan beberapa teman kecilnya dulu, mereka langsung terhasut oleh ucapan anak-anak lainnya kalau Nurvati anak pemanggil iblis, hingga sampai membenci Nurvati, mencela Nurvati, dan menjauhi Nurvati, itulah sebabnya, dalam hidup Nurvati, Putri Kerisia dianggapnya sebagai teman pertama, benar-benar masih dianggap teman yang pertama, walau dia telah menjebak.


Pak Hakim bangkit berdiri, dengan namaskara sambil menundukkan kepala, tanda takzim pada sang Putri, kemudian duduk kembali. Sedangkan rakyat lainnya hanya terpaku masih terpana akan kedatangannya.


”Aku sudah mendengar ...,“ ujar Putri Kerisia dengan lantang memecah sepi dan pandangannya terhubung pada wajah ngantuk Pak Hakim, tanpa senyuman hipokrit seperti dulu, tetapi tetap bersikap anggun.


”... kalau, seorang wanita muda, rakyat jelata, telah mengganggu ketertiban umum, dan membunuh tentara militer ... namanya Nurvati,“ lanjut Putri Kerisia yang menjelaskan infonya, dan masih samar tujuannya datang kemari untuk apa.


Kemudian, Putri Kerisia memutar tubuh ke belakang, tepat memandang Nurvati, raut muka datar tak berperasaan masih melukis indah wajah Putri Kerisia, dan keterkejutan terhadap benarnya cahaya keilmuan yang meliputi wajah Nurvati tersimpan rapat pada raut muka datarnya. Bahkan selaput netra Putri Kerisia sempat dimanfaatkan untuk lebih menegaskan kebenaran sosok dibalik wajah bermandikan cahaya itu. Dan itu memang Nurvati.


Di sana, Nurvati berdiri dekat dinding kaca sel tahanannya, memandang geram dan penuh tanya pada kehadiran mendadak Putri Kerisia, tanpa ketuk pintu, tanpa permisi. Bahkan sampai mengingat kembali kata-kata pedas sang Putri.


“Aku lebih mulia dari kamu, aku seorang Putri kerajaan, sedangkan engkau, hanyalah rakyat jelata.”


Angan Nurvati kembali meninggi, pada perlakuan Putri Kerisia yang baru disadari, sebuah perlakuan diskriminasi, dan memanfaatkan ikatan pertemanan demi keuntungan pribadi, sehingga jelas, Putri Kerisia pun layak untuk mendapat keadilan hidup dari Nurvati; pembalasan.


Putri Kerisia lalu kembali memutar tubuh ke hadapan Pak Hakim, tak meninggalkan satu kata pun pada Nurvati.


”Aku ingin Nurvati menjadi urusanku, aku ingin Nurvati dilepaskan!“ tutur Putri Kerisia dengan lantang nan mantap, serasa dunia dan hukum adalah miliknya, bahkan meski tanpa senyuman artistiknya, dia tetap menampilkan kesan anggunnya wanita kerajaan.


Jelas hal tersebut menuai banyak komentar dari semua orang, terutama para korban, yang intinya walau pun Putri Kerisia adalah anak penguasa negeri ini, itu bukan berarti bisa menentukan hukum seenaknya.


”Itu tidak mungkin.“


”Saya tidak mau pembunuh itu dibebaskan.“


Sahut masyarakat dengan malu-malu dan takut, suara mereka pun sampai agak dipelankan.


Putri Kerisia masih sengap menunggu keputusan Pak Hakim.


”Tetapi ....“ Baru satu kata yang keluar dari mulut Pak Hakim, namun sudah dipotong.


”Tenang saja! Tenang saja ...,“ sela Putri Kerisia dengan percaya diri.


Lalu setengah badannya mengarah ke kiri, tangan kirinya seketika menunjuk Nurvati, seraya bicara, ”Dia akan aku hukum sesuai peraturanku!“


“Aduh mohon maaf, Putri, hukum tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun, sekali pun seorang raja, dan ... Anda tidak bisa membuat peraturan seenaknya,” sanggah Pak Hakim dengan suara seraknya dan tetap memasang raut muka mengantuk.


“Iya benar itu, jangan seenaknya.”


“Iya, lagian Anda bukan seorang pewaris takhta kerajaan.”


Seluruh kalimat penolakan dari para keluarga korban yang menyinggung perasaan Putri Kerisia membuatnya kembali menurunkan tangan kirinya, bergeming dalam kebencian yang muncul gegara penolakan. Putri Kerisia benci ditolak. Dan raut muka tak berperasaannya telah menyiratkan rasa benci pula pada rakyat di sini, di perumahan area Timur, yang mana, mereka memang lebih memihak kakak ke duanya.


Amarah dan benci itu terpaksa dipendam, sebab dalam rahasia kenyataan, Putri Kerisia memiliki rencana tersendiri pada Nurvati, dan ini wajib terlaksana.