
Telah tercapai tujuan Nurvati, itu membuat Nurvati membentuk pintu teleportasi untuk kembali pulang, tapi ketika niatnya belum terlaksana, malah belum sempat pintu terbentuk.
Nurvati tiba-tiba diserang oleh seorang wanita ras Barqo, usianya tak jauh berbeda dengan Nurvati, mereka bertarung menggunakan kaki dan tangan mereka, pukulan demi pukulan melesat di sana, pun tendangan dan tendangan berkutat.
Dan ketika tinjuan tangan kanan Nurvati bertemu dengan tinjuan tangan kanan wanita itu, terjadi benturan pukulan yang membuat gelombang angin sampai mendorong mereka ke belakang.
Nurvati terhempas tiga meter lalu melayang di ketinggian satu meter. Sang wanita terhempas melakukan salto ke belakang dan berdiri dengan kokoh berkat kedua kakinya, dia berdiri di samping sang bocah.
”Kamu nggak apa-apa, Aruza?“ tanya wanita berambut merah itu dengan cemas tetapi tatapannya waspada pada Nurvati.
Tak disangka, wanita berpakaian zirah emas dan cula nuansa putih di dagunya itu ternyata kakak kandung bocah laki-laki itu.
”Hiks ... kakak, mama dan ayah ... hiks ....“ Tak kuasa sang bocah mengungkapkan yang terjadi, kesedihannya memberatkan bibir untuk bicara.
Sialnya, keadaan mulai genting bagi Nurvati, jauh di depan di antara pegunungan dan di sampingnya di antara rumah-rumah warga, pasukan ras Barqo mulai berdatangan, ini bisa menjadi masalah besar.
Keadilan sudah ditegakkan, itu cukup. Buru-buru Nurvati membentuk pintu teleportasi, hanya saja, ada saat di mana pendengaran Nurvati menangkap suara sang wanita; sebuah peringatan.
“Aku pasti akan membalas ini!”
Nurvati pun lenyap dari alam Barqo, namun perbuatannya berbekas. Dan menjadi masalah tanpa sadar.
* * *
Bersama berlalunya waktu, dan perasaan yang cukup puas, Nurvati telah kembali berpijak di alam Peri, di tempat masa kecilnya dulu. Pohon Salju, dengan hamparan rerumputan birunya, tempat ini berkembang lebih cepat ketimbang perkiraan Nurvati.
Sore ini, Nurvati tengah duduk di bawah pohon Salju, bersandar di akarnya yang besar, menikmati suasana senja, memandangi kaki langit yang oranye, pikirannya tenang menyadari perkara penting dihidupnya telah mendapat keadilan.
Udara sejuk untuk saat ini menjadi temannya, ilmu Hikmah-nya kini terasa membuat dirinya merdeka, rasanya sulit tergambarkan namun cukup melambungkan pikirannya pada konklusi dirinya yang tak lagi lemah, dirinya merasa mampu mengalahkan seluruh kejahatan.
Ya! Hasrat, harapan dan ambisi, itu entah bagaimana mampu menciptakan angan pada dirinya yang terasa baru, seolah membentuk identitasnya sebagai ras Peri di jagat raya ini, identitas kalau Nurvati tak lagi cacat, dia sempurna —bukan— hanya merasa sempurna.
Meninggalkan suasana senja di sana, Nurvati melesat terbang, melintasi angin petang, terbang pada ambisi yang baru, tapi dengan judul yang sama; menegakkan keadilan.
Menggunakan ilhmu Hikmah-nya, —Melacak Aura— Nurvati terbang menuju Air Terjun Awan; tempat di mana teman Nurvati kini berada. Dia akan kembali melaksanakan penuntasan dendam yang dalam perspektifnya itu adalah keadilan.
Di pinggir hutan, di antara pohon-pohon tinggi nan misterius. Sebuah tempat dengan air terjun yang bersumber dari awan, air terjun dengan pelangi yang melekuk elegan di atasnya, bersama kilauan laksana gugusan bintang yang mungil turun ke air, dihiasi pula oleh bunga-bunga berwarna-warni yang terdapat di pinggir kolam, tak luput kupu-kupu hinggap di atas bunga-bunga tersebut. Tempat masa kecil Nurvati.
Dua wanita ras Peri tengah berdiri berdua memandangi air terjun kolam, dalam kedamaian suasana, menikmati senja di dalam hutan. Mereka adalah wanita yang dulu sering merundung Nurvati, menjelekan Nurvati dan bahkan mengusir Nurvati.
Dan ketika suara 'Kelotak' suara patahan ranting yang terinjak kaki Nurvati memecah kedamaian, dua wanita bergaun itu spontan memutar tubuh ke belakang, kaget dan waspada. Berdiri dengan memandang seorang wanita yang telah berada dalam jarak tiga meteran berdiri dengan tegak.
“Si-siapa Anda?” tanya wanita bermata ular nuansa biru. Memindai Nurvati yang tak dikenali.
Dengan santai Nurvati menjawab, “Kalian tidak mengenalku?”
Jawaban yang mengandung tanya itu membuat kedua wanita tersebut malah saling menatap, lalu kembali beralih pada Nurvati, namun, karena silaunya cahaya keilmuan yang melingkupi Nurvati, mereka pun menggunakan selaput netra mereka, menilik kembali wanita di depannya.
“Kau berhasil menguasai ilmu Hikmah? Hebat,” sanjung wanita bermata hitam ular, bergaun nuansa pingai yang bertatahkan permata, rambutnya hitam pendek dengan poni yang berjurai rata di dahinya. Lebih tinggi dari Nurvati. Namanya Kury.
Nurvati diam tak bicara, melihat dua teman yang dulu merundungnya, menjadikan gejolak emosi kesal mulai menyeruak ingin dilampiaskan.
“Sudah sangat lama kita tidak berjumpa, ya, Nurvati,” ungkap wanita beriris ular warna biru, berambut hitam bergelombang panjang yang tergerai sampai ke punggung, mengenakan gaun nuansa biru yang bertatahkan intan, dan wajah yang tirus. Dan tingginya di bawah Nurvati. Bernama Sona.
“Ya ... sudah lama ... terakhir bertemu adalah ketika kalian dengan Nuita mengejek dan mengusirku ... ingatan itu masih berputar di kepalaku,” balas Nurvati, tak sedikit pun senang reuni lagi, kecuali kali ini demi menegakkan keadilan.
Pernyataan itu sontak membuat hati Sona dan Kury tersentuh, terasa kesadaran mereka wajib meminta maaf pada Nurvati. Kendati begitu, mereka hanya bungkam mematung.
“Kenapa kalian tidak mengusir atau mengejekku Peri cacat lagi?” singgung Nurvati bersiap melampiaskan gejolak emosinya.
Ada diam disituasi kini, diam merasa mulai canggung, canggung karena kalimat Nurvati memang berhasil menyinggung. Dan Sona tertunduk dalam renungannya sedangkan Kury memilih memasang raut muka masam.
Ada rasa malu, kikuk, takut, bingung, kaget, sesal, dan bersatu padu bersama suasana petang dalam keliling pohon-pohon hutan, bahkan angin menyempatkan membelai lembut para Peri itu, mengisyaratkan akan suasana yang beralih serius.
Masih belum ada kata sebagai pembelaan atau respons bicara atas sindiran Nurvati, hanya saja, dalam perspektif kejiwaan yang lain, yang tak sampai Nurvati pahami, bahwasanya, mereka —Sona dan Kury— pada dasarnya mulai mampu bersikap dewasa.
“Saat tadi aku melacak energi kalian, aku kira kalian tak akan kembali lagi ke tempatku yang kalian ambil ini,” singgung lagi Nurvati enggang kehilangan momentum balas dendam ini.
Dan lagi-lagi tak ada tanggapan lewat kata-kata dari mulut mereka, tetapi, iris mereka sempat mengerling menatap satu sama lain, seolah ada hal penting yang ingin disampaikan namun masih ragu untuk diungkapkan.
Merasa mulai geram, Nurvati kembali menyindir dalam kalimat tanya. “Bukankah keadilan adalah sama berat dan tidak memihak?”
Sayangnya, masih tak ada tanggapan kata-kata dari Sona serta Kury, mereka malah tumungkul merenung dan sengap. Hal itulah yang memicu jiwa Nurvati merasa tak dihargai, maka membentaklah Nurvati, bentakan yang muncul atas dendam sedih dan tak dihormatinya ia sesama ras Peri.
“JAWAB BEDEBAH! JAWAB PERTANYAANKU!”
Bentakan itulah yang rupanya mampu menggerakan diam mereka untuk mulai buka suara.
Pertama Sona yang bicara, dia bicara dengan pandangan menyesal dan raut mukanya kuyu, bahkan iris birunya tertunduk tak berani menatap Nurvati.
“Ma-maafkan kami, Nurvati, pada saat itu, kami ... memang bodoh.”
Lalu ditimpal oleh perkataan Kury, yang sikapnya sama persis seperti Sona, tapi dia cukup berani memandang Nurvati dengan iris hitamnya itu.
“Kami ... telah menyesal, benar-benar menyesal, memang seharusnya ... kami tak melakukan diskriminasi padamu, sebab itu salah.”
Mendengar itu bukan membuat Nurvati senang, dia justru merasa kecewa, pastinya sangat kecewa, semua disebabkan kesadaran atas kesalahan mereka muncul disaat Nurvati telah sukses, sukses lebih hebat dari mereka.
Ilmu Hikmah yang dimiliki Nurvati tentu saja lebih hebat ketimbang ilmu Cahaya yang mereka miliki, jadi jelas, mereka akan kalah dengan mudah oleh dua atau tiga serangan dari Nurvati.
“Berengsek kalian! Setelah aku berhasil ... setelah keilmuanku melebihi kalian, kalian baru menyesal ... wanita macam apa kalian ... bedebah!” sentak Nurvati yang tak terima penyesalan di depannya, dan itu lalu diselingi desiran angin yang membuat dedaunan pohon di sekitar bergemerisik, menghias suasana yang berubah tegang.