
Suasana di atap gedung berlantai batu Serendibite ini sangat tenang dan nyaman, anak-anak seusia Falas selalu berkumpul di sini, pada dasarnya mereka memang teman sekelas.
Awal kedatangan Falas membicarakan keadaan ibu Sasvaty dan selepas mengetahui keadaannya baik-baik saja, mereka mulai berlatih, iya, berlatih menggunakan ilmu Cahaya, seperti yang sudah diajarkan di sekolah. Semua berkumpul membentuk lingkaran, lantas mereka saling mengeluarkan kekuatan cahaya sebisa mungkin dari tangan atau anggota tubuh mereka.
Hari-hari itu memang sudah menjadi rutinitas bagi ke lima anak panti asuhan, walau Falas lebih sering bepergian, namun justru yang paling mahir dalam menggunakan ilmu Cahaya, adalah Falas, dia memang berbakat.
Falas pun sebenarnya sadar, kalau di sekolah, anak-anak panti asuhan selalu mendapat perlakuan diskriminasi dari anak-anak normal lainnya, kecemburuan sosial, perbedaan ras, atau kebencian tanpa alasan, itu hal lumrah yang selalu didapat bagi anak-anak panti asuhan, bahkan Falas pun acap kali mendapat perlakuan kasar dari anak-anak normal lainnya.
Mereka terkadang membalas perlakuan kasar anak-anak normal sebagai pembelaan, dan seperti yang sering terjadi, justru para anak normallah yang selalu merasa ditindas dan malah balik menuduh. Itu hampir setiap hari dan para penegak hukum tak mau terlibat dalam masalah yang sangat sensitif ini.
Di hari-hari berikutnya, seluruh anak sekolah seperti seharusnya, dan tetap saja banyak anak-anak yang menjauh dan enggan dekat-dekat. Rutinitas para anak-anak pun berlanjut dalam pelatihan ilmu Cahaya, bertujuan agar mereka mampu melindungi diri dari kejamnya kehidupan.
Saat itu, 15 anak berkumpul di atap, mereka akan makan siang bersama, dan memang begitulah setiap harinya. Falas masih sibuk dalam petualangannya yang jauh, walau telah diberi peringatan agar tak berpetualang jauh-jauh oleh ibu Sasvaty, Falas tetap membandel.
Meja yang panjang dari bahan permata, telah mantap dihiasi hidangan mewah nan lezat. Mirip seperti makanan di bumi manusia. Hanya saja di sini lebih meriah oleh sup buah.
Sasvaty begitu sibuk memberi petunjuk serta tempat anak-anak untuk duduk, setelahnya dia duduk di ujung meja, memantau dan memimpin do'a untuk anak-anaknya. Makan bersama pun berlangsung.
Tidak seperti di alam manusia yang menyantap hidangannya secara utuh. Yang mereka —anak-anak panti asuhan atau ras jin— santap adalah energi —sari pati— dari makanannya, dihirup oleh mulut lalu ditelan dan dicerna dalam tubuh. Begitu pula dengan air minum, mereka menghirup segarnya air, ada yang menghirup jus, ada pula menghirup air bening.
Faktanya, bagi air murni atau elemen yang memang murni, kebanyakan ras jin akan mengonsumsinya secara utuh, tanpa perlu hanya menghirup energinya saja. Seperti air di kolam bunga Teratai, mampu dikonsumsi secara langsung tanpa takut terkotori oleh sifat kebendaan makanan atau minumannya, dan itu khusus elemen yang murni, tidak bagi makanan atau minuman yang telah dikotori oleh 'sifat kebendaan lain'.
Satu hal yang penting, bila energi —sari pati— dari makanan tersebut telah lenyap, rasa minuman atau makanan tersebut hilang, meski warnanya tetap cerah tetapi vitamin mau pun rasanya telah sirna, dengan kata lain, telah menjadi ampas.
20 menit adalah waktu yang dipakai dalam santap siang itu, sesudahnya mereka menceritakan kegiatan mereka di sekolah, atau sedikitnya anak-anak akan bercerita tentang hal-hal yang menggelitik, perihal kekonyolan satu anak yang mampu atraksi juggling piring-piring menggunakan kakinya, atau tiba-tiba seorang anak yang menceritakan keisengannya yang justru pura-pura tak didengar yang malah dia sedang diisengi, maka mereka tertawa saat kejadian itu mampu menggelitik perasaan mereka.
Bersama dengan kejadian ceria yang merebak itu, secara tak disangka-sangka, Falas rupanya telah berada di depan pintu lift, berdiri dengan memandang penuh makna pada keceriaan anak-anak dan tawa dari ibunya, pemandangan itu begitu impresif dalam netra biru Falas, malah ketika canda tawa memacu hatinya yang mendadak menghangat, itu pun menimbulkan senyum penuh syukur yang terukir di wajahnya.
Betapa bersyukurnya Falas, kalau ibunya serta anak-anak di sini masih mampu tertawa lepas, seolah-olah tekanan diskriminasi dari masyarakat hanya lelucon belaka. Semua kejadian dan perasaan itu membentuk dorongan kuat yang akhirnya Falas memacu kakinya berlari penuh antusias nan berseri-seri, berlari bergabung dalam suasana gembira itu.
”Ibu ....“
”Ah ... kamu sudah datang ...,“ sambut ibu Sasvaty sambil mengacak-acak rambut anaknya itu, tanda sayang dan menerima kehadirannya.
Falas berdiri di samping kiri ibu Sasvaty sambil menatap satu-persatu wajah anak yang hadir dan berseri-seri itu.
”Waaaaah ... kakak Falas terlambat, makanannya sudah jadi ampas sekarang,“ kata bocah cilik perempuan yang memiliki perawakan gendut nan menggemaskan.
”Iya nih ... sepertinya kakak melewatkan banyak waktu ... atau jangan-jangan kalian yang memulai terlalu cepat ... Hahaha ...,“ balas Falas berapologi dengan tawa atas kalimatnya yang baginya itu menggelikan.
“Bukan tau ... kakak yang lamban ... kerjanya jalan-jalan tidak penting ... jadi ya ... tidak penting juga dibagi ... hahahaha ...," balas bocah cilik perempuan itu yang tertawa senang.
Falas hanya tersenyum santai dan memandang penuh makna pada anak-anak yang hadir. Semua juga tampak senang dengan kehadirannya.
Sempat bertanya Sasvaty pada anaknya yang sudah makan atau belum, dan karena Falas mengaku sudah bersantap, ibu Sasvaty kembali memusatkan perhatiannya pada anak-anak di sini, lantas berseru, “Bagaimana kalau ... ibu minta kalian mengungkapkan cita-cita kalian?”
Seketika semua sengap, Falas pun disarankan untuk duduk oleh ibunya namun ia bersikukuh ingin berdiri saja.
”Memangnya untuk apa kami punya cita-cita?“ tanya anak perempuan berbadan ular berkepala harimau.
Tapi bahkan itu membuat ibu Sasvaty merenung bingung, tak sempat dirinya berpikir sejauh itu. ”Hmmmmm ... untuk ... untuk apa ya?“
”Eh? Ibu saja bingung ...,“ sindir anak berkepala harimau itu.
”Untuk bisa saling menertawai,“ timpal Falas tiba-tiba.
”EH?“ ucap semua orang serentak dengan tak menyangka penuh keheranan dan memandang Falas dalam raut bingung.
”Ya ... untuk dicapailah, kalian ini bagaimana,“ jelas Falas dengan polos nan santai.
”Haaaaaah ... itu sih pasti, tapi setelah itu ngapain lagi?“ heran perempuan berkepala macan.
“Loh ... jangan tanya aku, aku 'kan cuman iseng doang,” bela Falas.
”Sudah-sudah ... anggap saja ini permainan, yang menanggapinya serius dia yang akan diberi tiga bungkus permen!“ ungkap ibu Sasvaty.
”Aku sederhana ... aku ingin akhir yang bahagia dalam kisah hidupku ... ya, itu saja!“ ucap anak perempuan berkepala harimau berbadan ular.
”Kalau aku, aku ingin menguasai semua ilmu Hikmah!“ beber anak bertubuh seperti kelelawar begitu antusias.
”Aku cuman ingin menjadi seorang tabib!“ tutur anak laki-laki berwujud setengah ular.
”Aku ... ingin memiliki banyak teman dan menjalin ikatan persaudaraan!“ sambung anak perempuan yang memiliki ujung kuping runcing.
”Aku ... ya ... aku ... aku tidak punya cita-cita ... hmmmm ... atau mungkin ... aku ... aku ... aku punya ... maksudku ... aku ... hmmmm ... bagaimana ya ... aku, aku hanya, aku ingin sanggup melindungi ibu ... melindungi teman-temanku ... atau ... melindungi adik-adikku ... ya ... hanya itu,“ timpal anak perempuan berbadan besar berkulit sisik kadal, dan tertunduk agak malu.
Kalimat yang berkesan itu ternyata mampu menyentuh hati ibu Sasvaty yang lembut dan sanggup mengukir senyuman haru.
”Haah ... kau sangat lama ya kalau bicara, seperti lupa caranya bicara,“ seloroh anak perempuan berkepala harimau.
Entah mengapa kebanyakan anak malah berdekah tergelitik akan kalimat itu. Kecuali Falas yang hanya tersenyum tenang.
“HA-HA-HA-HA-HA ....”
“Uh .. itu ... itu ... 'kan tidak ... tidak lucu tau ...,” gumam anak siluman bersisik kadal dengan tertunduk malu.
Semua semarak keriangan itu disudahi oleh kalimat perintah ibu Sasvaty.
“Oke anak-anak cukup ...."
“Tunggu dulu!” sela anak perempuan berkepala harimau.
“Bagaimana dengan Falas?” lanjutnya keheranan.
Semua anak mengiakan perihal Falas yang seyogianya ikut mengutarakan impiannya.
“Ooh ... itu sih tidak perlu ditanya, aku ingin mengelilingi seluruh alam semesta! Ya petualangan!” ujar Falas dengan bangga.
”Aku ikut, Kak Falas,“ sahut bocah cilik perempuan sampai berdiri di atas kursinya.
”Waaaah ... kau jangan ikut ... aku nanti kena jewer ibu gara-gara tidak becus mengurusmu,“ kelakar Falas.
“Ahk sialan!” umpat bocah cilik.
“Eh tidak boleh ada kata kasar,” imbau Ibu Sasvaty. Karena bagaimana pun tak boleh seorang anak-anak panti berucap kata kotor.
“Ups ... maaf ibu ... ini disengaja ... hiiiiii,” canda bocah cilik itu malah tersenyum dengan memperlihatkan gigi putih ratanya.
Lantas karena tak ambil pusing, ibu Sasvaty mulai menyiapkan janjinya.
“Ya sudah ... karena kalian semua sudah serius ... ibu akan hadiahi kalian masing-masing tiga bungkus permen!” beber ibu Sasvaty dengan bangkit dari duduk.
”YEAAAAH ASYIIIIIK ...!“
Semua bersorak gembira, anak-anak tersenyum penuh syukur dan nampak bahagia. Mereka semua mendapatkan hadiah. Mendapat kegembiraan yang seyogianya seperti kebanyakan anak-anak normal. Dan tak ada yang merasa dirugikan.
Saat itu, iya, saat itu adalah saat-saat di mana canda dan tawa menjadi pelipur kesedihan, menjadikan ikatan keakraban semakin kuat terjalin, dan keakraban itu membentuk tali persaudaraan yang kokoh.
Jika satu saja terluka, semua merasakan lukanya!
Atau jika satu berseri-seri semuanya akan merasakan senangnya!
Karena itulah, panti asuhan ini terbentuk, bahwasanya dalam perbedaan dan keberagaman mampu membentuk ikatan persaudaraan, dan persaudaraan itu menjadikan kekuatan untuk saling melengkapi dalam hidup.
Namun setelah banyak waktu yang dikorbankan, meski tawa dan tangis telah dilepaskan, ketika ucapan cita-cita terasa menjadi perlombaan, kala berlalunya hari demi hari, dan minggu demi minggu, anak-anak panti asuhan tetap mendapat banyak tekanan beban moril dari lingkungan masyarakat, tetap dalam diskriminasi yang tak pudar sekejap saja.
Dan berkali-kali, masyarakatlah yang menang.