
Segala kesendirian dalam sunyi buyar kala seorang lelaki menepuk sayap kanan Arenda, yang spontan membuat Arenda menoleh ke kanan, menghadap pada seorang lelaki dewasa 27.000 tahunan; Apan.
Hanya agak mengejutkan ketika Arenda menatap Apan telah berbeda, dia nampak berubah.
Seekor tenggiling yang tak begitu besar, bersisik transparan seperti kaca bertengger mantap di pundak kiri Apan.
Masalahnya tenggiling transparan yang terlihat bagian dalam tubuhnya itu bicara, “Arenda ... aku bisu, jadi menggunakan perantara untuk bicara ....”
Mulanya Arenda membisu dengan mengernyit kening kebingungan memandang Apan dan tenggilingnya.
“A-aku ... aku tidak mengerti?” heran Arenda berusaha memahami sesuatu yang samar.
Apan pun menghadap pada Arenda dengan tersenyum tenang dan tenggiling transparan yang hanya terlihat saraf-saraf motorisnya itu kembali berkata, “Saat misi di akademi penyihir, aku tersihir oleh seorang lawan yang memiliki kemampuan sihir di atas levelku ... dia membuatku bisu sampai sihir ini tak bisa dibatalkan, sehingga setelah misi berakhir aku memutuskan untuk membuat sihir baru ... aku bereksperimen terhadap beberapa hewan untuk menjadi perantara penyalur suaraku ... dari puluhan hewan, hanya tenggiling ini yang mampu terkoneksi padaku, hanya saja tubuhnya malah bermutasi jadi transparan ....”
Sebuah pengakuan yang cukup mencengangkan bagi Arenda, dirinya membisu beberapa detik dengan menatap intens pada wujud Apan yang berbeda; jadi sosok yang berkarisma.
Rambut krem klimis yang pendek, dahi lebar dengan alis kremnya yang nampak tegas, hidung yang mancung, netra seperti ular cokelatnya yang menerawang tajam, wajah berbentuk agak persegi dengan rahangnya yang kokoh. Apan tumbuh menjadi pria dewasa yang berkarisma, tidak begitu tampan, masih tampan Pangeran Azer, hanya saja karisma Apan lebih cemerlang ketimbang Pangeran Azer.
Apan berdiri tegap dengan pakaian berlengan panjang nuansa merah terang, lengkap dengan celana pendek selututnya yang didominasi warna merah.
Sedangkan Arenda mengenakan gaun yang bertatahkan permata merah delima kebanggaannya.
Tak jemunya Arenda memandang lekat-lekat pada Apan dari ujung rambut, dahi, wajah, dada, perut hingga ke lutut dan kaki yang kokohnya, lantas memandangi lagi secara inversi, dari kaki, perut hingga berakhir pada rambutnya, sekaligus dua sayap putihnya. Tak lupa tenggiling transparan yang terlihat unik itu ditatap juga.
“Hei ... kau sudah puas memandangku?” tanya Apan memastikan dengan mendepang tangan seolah menunjukkan dirinya yang memang berbeda.
Arenda mengerjapkan mata dengan agak tersipu jengah, namun menutupinya dengan memalingkan muka memandang bunga-bunga berwarna-warni.
Justru itu jadi momentum pula bagi Apan untuk memandang Arenda yang memang sama-sama terlihat berbeda, lebih terlihat dewasa, hanya saja Apan memandang Arenda tak sebegitu intensif berangsur-angsur seperti Arenda yang memandanginya. Apan langsung memutar tubuhnya memandang pada hamparan bunga-bunga berwarna-warni.
Tidak hanya Arenda yang kembali mengalunkan visual kenangan dalam kepalanya, Apan otomatis ikut terkenang kembali.
Angin bersiur kencang bersama dengan mereka yang larut dalam diam pada suasana damai di tempat ini. Memandang bunga-bunga yang menari-nari ditiup angin yang dengan sendirinya, itu menginversikan pikiran mereka pada keadaan yang sama di masa lampau.
Tentang mimpi yang dibanggakan, tentang warna-warna bunga yang disanjung-sanjung atau penantian akan kehadiran ibu Apan yang diharapkan.
Berdetik-detik berjalan dalam hanyutnya perasaan dua sahabat yang kembali bersua itu, momentum itu mereka menikmati suasana dalam bayang-bayangan kenangan yang selalu indah bila diungkit-ungkit kembali. Syukurnya, hanya kenangan manis yang mereka ingin ingat.
Dan segala suasana hingga detik yang berlalu mulai diisi oleh suara Apan dari tenggilingnya, “Di sini ... dulu kita buat cita-cita ....”
Arenda membiarkan suara Apan diambang dalam suasana senyap. Walau suara itu muncul dari tenggiling, vibrasi atau pun intonasi suaranya seperti suara seorang pria pada umumnya, atau katakanlah, suara Apan yang jadi dewasa.
“Ngomong-ngomong ... siapa nama tenggilingmu itu?” tanya Arenda cukup penasaran dengan memandang samping wajah Apan.
Tangan kanan Apan mengelus-elus tenggilingnya dengan berkata, “Bening ... ya, namanya bening ....”
Menanggapi hal itu, Arenda hanya berkata, “Hem ... nama yang cocok ... iya ... cocok ....”
Tanggapan yang santai dengan raut mukanya pun santai dari Arenda, tak begitu interesan untuk mengganti nama tenggiling tersebut atau semacamnya; hanya sekadar ingin tahu.
Masih dielus-elus penuh kasih tenggiling itu oleh tangan Apan.
Benar, semua sudah berubah, Apan tak lagi cerewet seperti dulu, dia juga tak seceria dulu, seolah-olah derasnya hidup jadi beban yang mencambuk mental untuk dapat dewasa. Begitu ekspektasi Arenda yang dalam hatinya merasa senang namun bimbang.
Detik-detik dalam sunyi kembali harus mengisi sekitar mereka, menjadi diam tanpa bicara lagi.
Masih terasa pekat rasa yang dulu menggantung, entah bagaimana detik-detik yang kini mereka berdua lewati terkesan canggung, namun ada hal yang tersembunyi.
“Aku kira ... kau orang lain ... aku kira kau orang yang berpura-pura menjadi Apan ...,” ujar Arenda mengungkapkan praduga diawal pertemuannya yang baru saat ini dikuak dan masih memandang Apan dari samping.
Tiga detik ucapan itu larut dalam realitas, sempat mengisi kepala Apan yang masih asyik mengelus tenggilingnya dengan memandang hamparan bunga-bunga berwarna-warni. Hingga tenggiling Apan pun buka suara, “Dan kau tahu aku Apan ... karena ...?”
“Karena ... karena kau memang Apan ...,” balas Arenda dengan polos yang entah bagaimana perasaannya berubah menggebu-gebu. Perasaan yang entah apa namanya, tapi ini tiba-tiba.
Menanggapi itu, bibir tipis Apan mengembangkan senyuman tergelitik oleh balasan polos Arenda.
Hingga dia pun menoleh pada Arenda, memandang wajah manis Arenda dengan berujar, “Aku mengenalmu ... Arenda ... karena ....”
Perkataan yang masih menggantung itu justru tak dituntaskan oleh Apan, dia malah kembali memandang pada hamparan bunga-bunga berwarna-warni. Memandangnya penuh makna.
Ekspektasi Arenda adalah Apan mengenal Arenda karena popularitasnya sebagai istri Pangeran Azer, atau mungkin saja, wajah Arenda tak berubah sejak kecil, sehingga mudah untuk dikenali.
Perkataan Apan yang tak tuntas itu membuat Arenda berkomentar, “Karena apa ... perjelas dong kalimatnya, nanti malah jadi semakin penasaran ....”
Bersama desir angin siang hari yang cerah, Apan berkata, “Karena ... kita punya ikatan batin ....”
“Iyalah ... kita 'kan teman ...,” balas Arenda dengan berusaha agar kata-kata Apan tak menjadi makna yang lain, yang ambigu, yang malah menimbulkan kesan lain.
Mendengar itu, senyuman simpul mengembang indah di wajah berkarisma Apan. Apa yang dikatakan Arenda memang benar. Tetapi dalam niat terselubung, Apan memang menyiratkan pesan lain.
“Aku ... aku masih ingat, dulu saat kita di sini, kita mengunggu mendiang ibuku untuk hidup kembali ... dan nyatanya itu sekarang terkesan konyol dan bodoh ...,” ungkap Apan dengan tenggilingnya yang bicara.
Arenda agak termangu, dirinya malah terlena akan perasaan anehnya yang kini menggebu-gebu, perasaan aneh yang Arenda sendiri tidak mengetahuinya.
Mungkin perasaan rindu yang lepas pada sahabatnya karena telah lama tak bersua. Atau juga perasaan gelisahnya karena dia akan menjadi seorang ratu bangsa Barat. Akan tetapi, mungkin saja perasaan lain yang cukup berbahaya jika dideskripsikan.
Dan lamunannya buyar kala tangan kanannya digenggam oleh tangan kiri nan kokoh dari Apan, membuat detak jantung mendadak bekerja giat, napas terasa terhenti, netra seketika terarah pada wajah berkarisma Apan yang kini memandang Arenda dalam senyuman damainya.
Tenggilingnya pun bicara, “Arenda ... ayo kita uji kemampuan energi kita sampai mana! Kita bertarung!”
Spontan alis Arenda terangkat ke atas dalam raut muka kaget dan hanya melahirkan kata, “Eh?”
Apan melepas genggamannya, lantas berlari ke depan dengan mengepak sayap dan terbang, seraya berseru, “Ayo Arenda! Ikuti aku!”
Mulanya Arenda ragu, akan tetapi dia tak sanggup menolak ajakan sahabatnya itu.
Maka Arenda pun berlari mengikuti Apan dan mengepak ke dua sayap kemudian terbang. Entah pergi ke mana, namun yang jelas, Arenda terbang bersama Apan untuk pergi ke suatu tempat.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)