
Tempat biasa teman-teman Nerta berkumpul; di atas awan kota Barata. Mereka bertemu.
Tongkat kujang Nerta telah disimpan lagi dalam tenggorokannya, tepatnya disembunyikan pada angin di tubuhnya.
Seperti biasa, Nerta adalah orang yang terlambat. Kalau bukan terlambat karena orang tuanya, biasanya Nerta terlambat karena mengerjakan tugas sekolahnya.
Teman-temannya juga seperti biasa mengeluhkan keterlambatan Nerta. Tetapi tak menjadikan itu masalah besar. Ini biasa dan hari ini ada yang lebih penting dipikirkan.
Sebelum pergi, Nerta membagikan permen kembangapi yang dijanjikan pada teman-temannya.
Yang paling semringah pastilah Arista, dia sangat senang mendapat permen kembangapi.
“Asyik ... kamu nggak lupa sama janjimu ...!” kata Arista dengan membuka langsung bungkus permen yang terbuat dari emas itu.
Beberapa teman lainnya pun selain menyanjung ketepatan janji Nerta, mereka tentu berterima kasih.
Permen dihisap saat itu juga, hingga semua anak merasakan sensasi letupan-letupan kecil di mulut mereka; reaksi dari permen kembangapi itu.
“Waaaah ... ini menyengat di mulut ...,” kata Darko mengekspresikan rasa dari permen.
Dan hanya Gorah yang nampak diam mematung hingga bergigit merasa ngilu pada mulutnya.
Ekspresi Gorah malah membuat rasa humor memuncak pada diri setiap bocah yang melahirkan gelak tawa; bagi mereka ekspresi Gorah lucu.
“Hahahaha ....”
“Muka kamu gitu amat ...,” ucap Arista dengan menepuk sayap kiri Gorah dengan sayap kirinya.
“Sudah lama permen ini tak pernah kucicipi ... rasanya tajam ...,” ungkap Gorah dengan ekspresi aneh.
Lalu Nerta mengepak sayap dan terbang menuju tempat pemakaman Zui, sambil berseru, “Ayo teman-teman ... kita pergi.”
“Ayo ....”
"Iya, ayo ....”
Serempak keempat bocah lainnya terbang dengan gembira mengikuti Nerta.
Hari yang cerah lagi bagi anak-anak penuh optimis itu, untuk memulai menggapai mimpi mereka.
Terbang bersama beberapa warga yang kebetulan lewat, menikmati perjalanan dengan berputar-putar atau kadang saling menoel dalam candaan.
Nerta seperti biasanya terbang dalam kesenyapan, dirinya memang harus dipancing untuk mau bicara.
Untuk itulah Arista selalu terbang di sampingnya, yang sering menepuk sayap Nerta demi membuatnya buka suara.
Tapi, sementara teman-teman lainnya bercanda ria, Arista berbincang serius dengan Nerta.
“Hei, Nerta ... aku sempat mimpi tau ... kalau aku nemuin kakak pendekar waktu ... kata kamu, apa itu beneran kakak pendekar ... soalnya dulu sebelum mamaku mati, orang yang mati itu akan hilang ... jadi katanya nggak mungkin ada lagi di dunia ...,” beber Arista yang secara tidak langsung memberi tahukan atas perjumpaannya dengan Zui lewat mimpi.
Oleh itulah, Nerta malah bertanya, “Oh ... kamu mimpi bertemu dengan Kak Zui ...? Coba ceritakan dulu mimpimu itu ....”
Sehingga mau tidak mau, Arista menjelaskan pertemuannya dengan Zui yang secara tidak langung terdengar pula oleh teman-teman lainnya.
Setiap momen, setiap untaian kata yang jadi kalimat, setiap bentuk perasaan yang jadi senyuman atau kepiluan, hingga setiap alasan saling menatap, semuanya diceritakan oleh Arista dengan cara bicaranya yang agak nyeleneh, namun semua teman-temannya mengerti.
Banyak komentar yang terlontar dari teman-teman Arista.
“Kamu anak beruntung ... padahal aku pun ingin menjadi muridnya ... lalu menghajar banyak siluman hina di luar sana ...,” ujar Quin dengan berambisi.
“Wah wah ... kalau begitu ... Arista yang akan mewarisi ilmu Pemecah Watu kakak Zui ...,” sambung Darko dengan berputar-putar tanpa merasa pusing.
“Jadi ... kita atau Arista menjadi anak yang beruntung di antara orang-orang lainnya ...,” timpal Gorah dengan terbang agak tinggi dari keempat temannya.
“Iya dong ... tapi 'kan gimana kalau itu halusinasiku?” balas Arista dengan bangga, namun dalam rambang.
“Kata orang tuaku ... orang yang sudah mati pasti masuk nirwana, atau lahir kembali ... tapi ... kalau mimpi ... sepertinya ... kamu hanya terbawa mimpi ...,” papar Darko mengungkapkan asumsinya.
“Kalau gitu ... berarti ... kakak pendekar nggak jadi ngajarin ilmunya sama aku dong ...?” heran Arista.
Tak ada jawaban atau pun balasan dari teman-temannya, teruma Nerta yang diawal sebagai lawan bicara Arista; membisu.
Karena telah sampai mereka di tempat pemakaman para pahlawan. Dan harus dijeda pembicaraan yang terdengar penting itu.
Mulanya warga bangsa Barat agak bingung harus dimakamkan di mana jasad Zui, mengingat Zui berasal dari bumi ras Manusia.
Akan tetapi, gegara Zui berjuang di bangsa Barat maka dia pun dimakamkan di tempat ini.
Untung bagi kelima anak, kalau tempat pemakaman pahlawan ini tak seramai diawal. Sehingga mereka bisa melantunkan do'a untuk Zui.
Sebuah kolam api nuansa putih berkobar di sana, kolam itu pun dilindungi oleh kaca dari intan. Setiap jasad akan dibakar di sana, mirip seperti kremasi. Hanya saja tak ada yang namanya abu jenazah bekas pembakaran.
Api putih itu memang termasuk ilmu Cahaya. Bila orang yang masih hidup terbakar di sana, dirinya akan kepanasan tetapi jasadnya tetap utuh, berbeda dengan pribadi yang telah tak bernyawa, seluruhnya akan hilang. Dan uniknya, masyarakat lebih suka menyebutnya sebagai menguburkan, bukan kremasi atau membakar.
Faktanya, tubuh ras Peri tak akan mengalami pembusukan bila dikubur dengan tanah, sehingga tubuh mereka hanya akan jadi putih kesi, seperti patung, dan bahayanya, tubuh mereka dapat dimanfaatkan oleh makhluk-makhluk yang tak bertanggung jawab. Dengan demikian, sesuai perintah dari ketua Razael, bahwasanya jin yang tercipta dari api selayaknya kembali pada api, atau yang berasal dari cahaya api selayaknya melebur bersama cahaya.
Kini, kelima anak telah berdiri di depan kaca kolam makam sambil berdo'a.
Kolam makam itu berada di tengah-tengah beberapa petak makam lainnya, dan ini ruang terbuka.
Selepas segala waktu yang mereka renggut untuk lantunan do'a-do'a syahdu direalisasikan, mereka pun buru-buru menuju pusat kota, menuju tempat administratif para pahlawan.
Bagaimana pun, mereka telah menyelamatkan banyak anak yang diculik para Siluman. Penting bagi mereka untuk memberi tahu kalau mereka berhak menjadi pahlawan.
Seluruh anak sangat antusias dan begitu semringah untuk mendapatkan gelar dan hadiahnya. Sampai-sampai mereka bersenandung perihal berhasilnya menjadi pahlawan.
“Ye ye ya kita jadi pahlawan ... ye ye ye kita jadi pahlawan ....” Quin serta Darko bersenandung dengan melakukan putaran-putaran di udara sebagai ekspresi gembira dan bersyukur.
“YEAH ... dengan begini ... kita dapat buktikan pada keluarga kita ... kalau selama kita bolos sekolah, kita bisa meraih prestasi!” ungkap Gorah dengan bangga sampai harus mengepal ke dua tangan sebagai ekspresi kesuksesannya.
Tak dapat disangkal perasaan menggebu-gebu ini, setiap rasa bangga dan senang melebur dalam senyuman lebar yang refleks menghias wajah mulus Nerta. Bahkan dirinya yang menoleh ke kanan pada Arista, telah disambut akan terbitnya senyuman indah dengan gigi yang kentara dari anak periang itu.
Segala usaha atau jerih payah yang mereka persembahkan untuk masyarakat, akan segera terbayarkan. Impian untuk dikenal masyarakat sebagai pahlawan kota akan tercapai. Dan pahlawan sebagai arti hidup, segera jadi identitas absolut mereka.
Momen itu akan segera tercapai, iya, momen impian tinggi itu akan segera tercapai. Mereka yakin dan pasti mendapatkan momen itu.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)