Nurvati

Nurvati
Episode 152: Bersama Kemelut Rahasia.



Masih di arah mata angin Barat, dalam hutan gelap nan luas penuh misteri, dalam pohon nuansa abu setinggi 39 meter di balik pintu rahasia.


Ruang dengan cahaya remang-remang para kunang-kunang ini untuk beberapa momen diisi oleh percakapan rahasia antara Putri Kerisia serta Ketua Razael. Percakapan itu hanya menguak sedikit rahasia para pencipta, para malaikat serta para dewa-dewi, yang terangkum dalam ilmu Roh.


Tentu saja Putri Kerisia pun ditampakan awal segala penciptaan hingga awal penciptaan ras Peri, hanya saja belum cukup layak Putri Kerisia untuk bertemu dengan Para Pencipta.


Semua pertemuan itu berakhir dengan kepergian Ketua Razael, meninggalkan Putri Kerisia dalam kesendiriannya. Selebihnya Putri Kerisia pun mulai pergi dari tempat itu.


Hari ini mulai menuju sore yang cerah, udara cukup hangat serta langit biru terpampang luas.


Saat ini ada hal penting yang mesti dilaksanakan lagi Putri Kerisia. Dia mesti bersiap untuk pesta malam nanti, mengingat hari ini para pejabat serta wakil rakyat tengah melakukan muktamar penting, perihal perang dunia serta adanya undang-undang baru yang hendak dirumuskan kembali. Membuat Putri Kerisia sebagai panitia acara mesti bekerja cekatan.


Dengan waktu yang berputar tanpa terasa, di lain tempat, di kota Barata, tepatnya di perumahan elite, seorang pria yang tengah menikmati terbangnya dalam tugas, tiba-tiba terhenti gegara mendapati seorang wanita dengan wajahnya yang bercahaya tengah mendeprok, tertidur di marmer.


Merasa janggal, lelaki itu pun lantas mendarat di depan wanita tersebut, hingga untuk sesaat dirinya agak menunduk serta menatap wajah bercahaya wanita itu dengan selaput netranya.


Wajah yang begitu elok dengan bulu mata yang lentik dan bibir tipis menawan.


“Ngok ngok ....” Suara burung angsa yang sedari tadi berdiri di samping Nurvati seketika meluluhkan tatapan kagum lelaki itu.


Membuat sang lelaki berdiri tegap dengan menyelipkan ke dua tangan ke saku jubahnya, bersikap sok keren. Pikiran 'buaya daratnya' mulai terpacu setelah menyadari wanita di depannya cukup cantik untuk dijadikan 'teman'.


Seraya berdeham beberapa kali, lelaki itu pun berkata dengan lantang, “Maaf nona! Sebaiknya jangan tidur di sini!”


Meski telah lantang diucapkan, Nurvati sama sekali tak tergugah untuk bangun, dirinya masih lelap tertidur.


Sadar kalau itu tak membangkitkannya dalam lelap tidurnya, lelaki itu pun berteriak dengan tetap memampang 'sikap kerennya' yang siapa tahu Nurvati akan tergugah untuk terkagum-kagum. “MAAF NONA JANGAN TIDUR DI SINI, TAKUTNYA ADA PENJAHAT!”


Bukannya Nurvati yang bangkit dari tidur, justru sang angsa putih yang malah nampak marah karena merasa terganggu. “NGOK NGOK NGOK ....”


“Lo-loh ....” Lelaki itu heran dan agak panik ketika angsa itu yang malah menghampirinya sambil terbang berusaha mencatuk-catuknya.


“NGOK NGOK NGOK ...!” sang angsa putih terbang dengan mencatuk-catuk kepala lelaki itu hingga membuat sang lelaki mau tidak mau mundur berjuang menghindar.


“Woy angsa tengil! Kenapa kau ini ...!” keluh lelaki itu hingga ke dua tangannya harus mengibas-ngibas berjuang mengusir angsa putih tersebut.


Sehingga suasana sepi perumahaan elite itu sempat diisi oleh kekonyolan angsa putih yang malah menyerang lelaki sok keren itu.


Faktanya dalam ras Peri bangsa Barat serta bangsa Selatan tak pernah ada yang berani membunuh seekor angsa, penyebabnya bukan lain karena angsa adalah hewan yang dikeramatkan. Tentulah karena angsa hewan monogami itu selalu dijadikan simbol kesetiaan. Sama seperti ras Peri yang mayoritasnya adalah makhluk setia, sehingga tak etis bila membunuh seekor angsa sebagai makhluk yang sama-sama setia.


“NGOK NGOK NGOK ...!” masih cukup sengit angsa itu mencatuk-catuk sang lelaki asing.


“AAAARGH SIALAN ...!” sentak lelaki itu dalam rasa geram yang mulai merebak dalam jiwanya.


Dan berkat kegeraman yang berhasil mengendalikan pikirannya, langsung menggerakkan tangan kanannya dengan cepat meraih leher angsa putih itu, 'Hap'.


Pastilah sang angsa meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. “NGOK NGOK NGOK ...!”


Namun kepuasan berhasilnya menangkap angsa tersebut harus berakhir ketika suara seorang wanita menyela kejadian tersebut.


“Heh ... sudah lepaskan angsa itu ....”


Spontan sang lelaki menoleh ke kiri pada pemilik suara indah itu.


Maka terkejutlah lelaki itu, menyadari wanita yang tadi tertidur telah berdiri memandangnya. Melenyapkan berangnya. Membuat cengkraman lelaki pada leher angsa itu refleks melepaskannya.


“Ngok ngok ngok ....” Sehingga sang angsa kembali berjalan dan berdiri di samping kanan Nurvati.


Merasa ditatap wanita cantik, lelaki itu secara impulsif kembali kesikap kerennya, berdiri tegap dengan ke dua tangan terselip pada jubah dominan nuansa hitamnya, wajah tampannya lantas dipampang pada raut setampan-tampannya, walau justru terlihat konyol dan nyeleneh, dia tetap percaya diri melakukannya.


“Ekhem ... maaf nona ... kenapa Anda tidur di tempat ini ... 'kan berbahaya kalau ada penjahat ...?” tanya lelaki itu dengan pandangan acuh tak acuh agar terlihat seperti pria dingin nan kalem, tetapi jatuhnya seperti pria norak.


“Aku ... aku tidur karena mengantuk ... dan lagian penjahat macam apa juga yang mau jahat padaku?” heran Nurvati dengan berkacak pinggang dengan santai.


Menanggapi jawaban itu, lelaki yang cari perhatian itu malah berdekah. “Hahahaha ....”


Bahkan dalam sikap yang sok kerennya itu dia berujar, “Anda sangat lucu sekali ya ....”


Lalu iris hitam yang tajamnya menatap Nurvati dengan dua sayap putih lebarnya yang dibentangkan, berusaha menggoda Nurvati.


Walau dirasa Nurvati dirinya tidak melakukan lelucon dan tak juga tertarik pada lelaki tampan itu, maka dalam sikap apatisnya, Nurvati mulai melayang dan terbang melanjutkan perjalanannya, meninggalkan lelaki asing itu.


Sadar kalau ada kejanggalan, bila biasanya siapapun perempuan yang melihat sikap kerennya seperti tadi akan langsung tergiur untuk berkenalan, memunculkan asumsi liarnya kalau Nurvati sudah bersuami, atau mungkin wanita itu pemalu.


Sehingga sadar bila Nurvati adalah wanita unik, membuat sayap pria bermata hitam itu mengepak terbang mengikutinya.


Nurvati terbang di ketinggian 6 meteran dari atas jalanan marmer, bersama angsa yang terbang pula di samping kanannya. Sedangkan lelaki tadi terbang mengikuti Nurvati.


Bareng dengan waktu yang berlalu, sang lelaki itu kaget saat sadar kalau wanita cantik yang diikutinya itu justru malah menyambangi rumah ayahnya.


Nurvati dengan angsa putihnya telah mendarat di halaman rumah besar nan mewah Ketua Hamenka. Bahkan tanpa berlama-lama lagi Nurvati langsung menempelkan telapak tangan kanannya pada cermin pintar di depan rumah mewah bertatahkan permata itu.


Membuat kenyataan seakan memberikan kejutan pada lelaki genit tadi, kalau Ketua Hamenka serta wanita tertidur tadi nampak saling mengenal.


Mereka —Nurvati serta Ketua Hamenka— kini setelah sekian lamanya tak berjumpa, di depan rumah Ketua Kehormatan kota Barata, akhirnya kembali bersua.


Iya, mereka saling berdiri berhadapan dengan tatapan lekat-lekat seolah berusaha merenggut kembali ingatan masa silam. Kalau yang tersuguh di depan mereka ini adalah fakta.