
Di kaki gunung berapi itu Putri Kerisia serta teman-temannya kembali berdiskusi akan ke mana mereka setelah ini.
Mengingat semua usaha pencarian mereka selama seratus tahun gagal.
Kendati nyatanya Putri Kerisia memiliki ilmu Pengenal Diri, itu tak menjadikannya memanfaatkan sang Diri Asli secara sempurna, karena ada makna lain yang kali ini ingin dicapainya.
Gunung berapi sekali pun yang telah dipantau ratusan kali tetap tak menampakkan keberadaan sang Ifret. Berpuluh-puluh kali sekitar gunung berapi ini dipantau tetap menghasilkan nihil.
“Pergi dari sini dan mencari di tempat lain, sebelum waktu habis dan kita gagal, ditambah ini gunung berapi aktif,” tutur Logia dengan sungguh-sungguh.
“Aku tidak tahu untuk masalah ini ... aku menunggu keputusan ketua tim saja,” sahut Arkta tak mau pusing.
“Haahh ... terserahlah ... tapi bagiku, terlalu lama di sini, maka terlalu banyak waktu terbuang,” keluh Logia dengan bersedekap tangan.
Waktu di planet ini dapat ditentukan dari rasi bintang dan tentunya para penyihir wajib menguasai ilmu perbintangan.
Haro terdiam hanya memandang Putri Kerisia sebagai petunjuk tugas selanjutnya, menunggu keputusan ketua tim.
Pandangan lurus ke depan pada ketiadaan dan berkontemplasi yang kini dilakukan Putri Kerisia, dia juga bingung harus apa.
Semua sunyi dalam diam meresap pada setiap diri mereka, membiarkan waktu berkutat dalam realitas saat ini.
Keputusan ini sangat penting, karena bagaimana pun 100 tahun di tempat ini tak memberikan petunjuk apa pun, ada pun petunjuk yang didapat, sang Ifret memang sempat meninggalkan aura yang kuat di sini, seperti pernah terjadi pertarungan di tempat ini. Hanya saja, semuanya berakhir di sini, sehingga besar kenungkinannya dia bersembunyi di tempat ini.
10 detik yang dilalui barulah membuat Putri Kerisia angkat bicara, “Firasatku mengatakan ... kalau dia masih sembunyi di tempat ini.”
Pernyataan yang terdengar lagi begitu bodoh, hingga Haro hanya mengangguk-angguk dengan konyol, sedangkan Logia harus menepuk jidat kembali sebagai keterkejutan akan kebodohan rekan-rekannya.
“Yaaaaa ... itu bagus, aku setuju, itu rencana bagus,” sanjung Arkta diakhiri senyum lebar hingga gigi putihnya mengintip dari balik bibir.
“Payah! Bagus apanya ... itu firasat bodoh lagi, firasat bodoh lagi dan lagi-lagi firasat yang bodoh lagi,” sindir Logia dengan menjambak rambut hijau panjang agak keritingnya sangat geram dengan kekonyolan Putri Kerisia yang memang sangat tak masuk akal.
Tapi tak ada yang protes atau berunjuk rasa di depan Putri Kerisia kecuali wanita bernetra biru; Logia. Hanya dia yang protes.
Netra biru Logia tertuju sinis pada wajah mulus Putri Kerisia, dalam kecemburuan sosial, dalam hatinya berbisik, “Huh ... si Kerisia payah ini, selain jadi sombong, dia semakin bodoh.”
“Kita akan mencari lagi untuk beberapa lama lagi, mungkin satu tahun atau sampai sepuluh tahun,” beber Putri Kerisia dengan lugas dan bersungguh-sungguh.
Haro hanya mengangguk dengan santai tetap tersenyum penuh syukur.
“Iya, itu ide bagus ... kita memang tidak boleh menyerah ... kita harus terus berjuang kalau ingin lulus ... biar tidak bodoh seperti ...,” sanjung Arkta dengan memandang meledek pada Logia.
“Bodoh seperti siapa, ha?” tanya Logia dengan menyolot pada Arkta.
“Seperti ... seperti si Haro ...,” kilah Arkta dengan memalingkan muka tepat pada Haro.
Dengan wajah malas, Logia hanya mengumpat, “Huh, payah.”
Keputusan telah dibentuk, tim 12 akan tetap mencari sang jin klan Ifret di tempat ini, akan tetapi, untuk saat ini pencarian dibagi jadi dua tim.
“Aku akan bersama Haro, mencari lagi ke belakang ... sedangkan kalian cari di depan ... dan ingat, satu bulan sekali kita kembali bertemu di sini, bila ada apa-apa bertelepatilah ...,” titah Putri Kerisia dengan serius.
”Apa?! Mana bisa aku pergi dengan si payah ini!“ komplain Logia dengan menunjuk jijik pada Arkta.
”He? Siapa yang kau sebut payah! Aku pun tak sudi pergi denganmu!“ balas Arkta dengan menolak pernyataan Logia.
Lalu dengan memandang Putri Kerisia Arkta mengeluhkan pembagian timnya. ”Ketua, Anda tidak bisa menyandingkan saya dengan wanita ini ... seharusnya aku dengan Anda.“
“Kalau begini jadinya, aku lebih memilih pergi sendiri,” ungkap Logia tak setuju.
“Jangan mengeluh, lakukan perintah ini secara profesional saja, kalau kalian memang saling membenci pergilah sendiri-sendiri ... tapi ....” Perkataan Putri Kerisia terpaksa dijeda karena menyelia sikap degil Logia.
Dengan kalimat, “Masa bodoh dengan kalian, aku akan cari sendiri ...,” Logia pun pergi meninggalkan rekan-rekannya.
Dibiarkan Logia pergi oleh rekan-rekannya, lagi pula, bagi Logia sendiri, kalau pun telah lulus dari ujian ini dia akan pindah pada tim lain.
Rekan-rekannya sendiri, terutama Putri Kerisia hanya melakukan semua formalitas ini secara profesional, tak peduli anggota timnya siapa atau gelarnya apa, yang jelas dia hanya melakukan semua tugas secara profesionalitas.
“Ya sudah ... mari kita kembali survei lagi tempat ini,” ajak Putri Kerisia mula mengepak sayap melayang terbang.
Lantas diikuti oleh Haro serta Arkta.
“Tapi ... apakah aku tidak boleh ikut dengan kalian? Atau Haro yang pergi sendiri dan aku ikut dengamu putri?” tanya Arkta memastikan penuh harap.
“Tidak ... ini adalah perintah, cepatlah pergi ... jangan membuang waktu,” tandas Putri Kerisia.
“Tapi ....” Arkta masih ragu dengan menundukkan pandangan.
Hanya saja Putri Kerisia langsung terbang ke arah lain, yang lantas diikuti oleh Haro dan Arkta terdiam sejenak dalam pemikiran yang terasa buntu.
Maka dengan mendekus pasrah menerima semuanya, Arkta mulai mengepak sayap terbang menuju arah lain.
Udara mengalun lembut mengisi area gunung berapi terasa menyingkirkan hawa panas walau nyatanya tetap panas.
Tim 12 terpaksa kembali mencari lagi di tempat ini, 100 tahun yang dilalui masih belum cukup memuaskan peninjauan, atau belum mampu menghilangkan rasa kecurigaan Putri Kerisia di tempat ini.
Putri Kerisia tahu sang Ifret berada di sini, namun demikian, sang Ifret terus bergerak bersembunyi, sehingga perlu kecekatan dalam meneliti setiap tempat.
Logia terbang sendiri di antara aliran lava yang cukup banyak membentuk sungai, apa pun yang terjadi dirinya harus lulus dan menjadi mata-mata yang andal di bangsa Barat. Impian itu adalah arti dari segala hidup yang dilaluinya dan mencapainya adalah kewajiban, jadi siapa pun yang berusaha menjegal jalannya dalam meraih mimpi, dia tak segan akan melibasnya.
Arkta terbang di atas puluhan bebatuan besar, dirinya tak begitu fokus mencari si Ifret, seratus tahun berada di tempat ini membuatnya merasa kalau lebih baik menjadi penyihir bebas saja, tak perlu dikekang oleh peraturan yang ketat, toh dia sudah dewasa dan lagi keluarganya tak terlalu mengekangnya. Sehingga lulus dari ujian ini akan jauh lebih baik dilakukan demi Putri Kerisia, membuktikan kalau dirinya cukup layak untuk dikagumi oleh seorang putri, iya, itu mulai jadi tujuannya.