
Bersama embusan angin yang lembut. Nurvati mengikuti langkah sang pria urakan.
Pria itu jalan berjingkrak-jingkrak menuju salah satu hunian, dia memiliki sayap, tetapi sayapnya seakan tak begitu berfungsi. Dapat dilihat kala dirinya menyatu dengan angin, lalu secara ajaib sudah berada di pekarangan rumah warga.
Itu pula yang menandaskan kalau hati Nurvati berkata, 'dia adalah sang Dewa Alam'.
Nurvati serta angsa yang terbang pun mesti turun dan mendekati sang pria urakan. Kecurigaan Nurvati mendorongnya berani bertanya, “Maaf ... apakah Anda ini Dewa Tangan Empat?”
Dengan melangkah menuju hunian megah, lelaki urakan itu hanya menjawab, “Aku adalah batu dan kau adalah batu ....”
“Haah ... iya juga ... mana nyambung bicara dengan pria sepertinya ...,” keluh Nurvati pasrah dan tetap mengikuti sang pria urakan.
Seiring meter yang diambil. Sekonyong-konyongnya pria urakan masuk ke dalam hunian megah. Entah rumah siapa, entah mau apa, tapi pastinya Nurvati terus menemaninya tanpa komplain.
Di dalam rumah, terdapat seekor siluman kera yang tengah terikat oleh kain. Kain tersebut tak dapat dihancurkannya.
Tetapi di lantai telah tergeletak dua pasutri yang telah tewas bersimbah darah.
Masalah terjadi kala pria urakan meminta Nurvati untuk membunuh sang siluman.
“Bunuh, bunuh, bunuh siluman yang sudah membunuh!”
Tapi Nurvati mengingat pesan dari sang Diri Asli, kalau dirinya tak boleh menuruti permintaan pria urakan ini.
Nurvati jelas menolak dan pria urakan terus mencecar Nurvati untuk membunuh sang siluman. Bahkan sang pria akan memberitahukan identitas asli Nurvati bila dirinya berani membunuh siluman tersebut.
Kendati nyatanya, Nurvati menolak.
Sehingga atas penolakan itu sang pria urakan cukup marah, dia membentak Nurvati.
“BODOH! BODOH! KAU SAMA BODOHNYA SEPERTI BATU!”
Sekonyong-konyongnya pria urakan itu maju menghampiri sang siluman dan mendadak, 'Cleb' sebilah pisau ditancapkan pada leher sang siluman kera. Dibunuhnya tanpa sungkan.
Nurvati serta sang angsa putih hanya dapat melihat tak berbuat aneh-aneh.
Akan tetapi, sang pria urakan masih marah atas penolakan Nurvati.
“Dungu! Kayak batu! Kau memang batu!”
Tak ambil pusing mengenai ucapan itu, toh memang pria urakan nan buncit itu sakit jiwa, sehingga membuat Nurvati tetap santai terus mengikutinya.
Itu pun dengan sebuah kecurigaan pada perbuatan sang pria urakan.
Kemudian beberapa meter dari rumah tersebut, mereka masuk lagi ke sebuah rumah yang asing.
Di dalam rumah mewah ini, tak disangka-sangka telah terdapat Marn yang terkapar tewas bersimbah darah dan itu gegara seekor siluman macan.
Tentu Nurvati menghampiri Marn dan berdiri di sampingnya dalam cemas dan ketakutan, akan tetapi, saat hendak menghajar siluman macan kumbang itu, sang pria urakan justru bertepuk tangan begitu riang gembira.
“Ayo hajar siluman itu! Hajar dia batu! Hajar!” sentak pria urakan bertepuk tangan hingga menimbulkan suara 'Prok' 'Prok'.
Jelas Nurvati sejenak diam dalam kontemplasi, dirinya mulai memahami bahwa ini hanyalah jebakan.
Tak ada banyak yang diperbuat Nurvati, dirinya bergeming menatap sinis pada sang siluman macan yang malah berlari kabur.
Namun, Nurvati yang sadar kalau Marn telah tewas, dirinya mendeprok di sampingnya dengan raut wajah serius. Bukan sedih, melainkan berpikir.
Satu hal yang pasti, Nurvati pun mulai meresapi kejadian aneh ini, kalau sepertinya ini hanyalah permainan ilusi belaka. Entah apa yang terjadi, namun dirinya tetap berusaha tak mengikuti titah sang pria urakan.
“Bawa lelaki itu! Kau harus menguburkannya!” titah pria urakan.
Tapi Nurvati malah bangkit berdiri, kepalanya menggeleng. Dia menolaknya.
“Bodoh! Batu bodoh! Kenapa nggak guna banget! Tolongin woy! Tolongin dia!”
Nurvati menggeleng lagi, dirinya menolaknya.
Hingga dengan berang dan geram, sekonyong-konyongnya pria urakan itu berlari keluar rumah. Dia berlari dengan banyak umpatan yang luap dari mulutnya.
Nurvati dan sang angsa putih spontan mengejarnya.
Namun kala tiba di halaman rumah, pria urakan itu telah hilang begitu saja dan tak pernah tahu ke mana perginya sang pria urakan.
Nurvati seketika mulai panik, dirinya celingak-celinguk ke segala penjuru, namun tak nampak tanda-tandanya. Jejaknya saja tidak ada.
Detik itu juga Nurvati serta angsa putih terbang dengan panik mencari-cari keberadaan pria urakan.
“Haduuh ... laki-laki kotor itu ke mana lagi!?” gumam Nurvati dengan pandangan yang menyapu segala penjuru.
Di udara itu, dari rumah ke rumah, dari tempat ke tempat, hingga mesti pergi ke perumahan lain. Nurvati mencari sang lelaki dengan panik.
Dirinya masih tak mendapatkan jejaknya.
Hanya saja, saat banyak waktu terbuang, hingga harus beralih pada malam harinya, Nurvati mendengar suara pria urakan itu.
Suaranya malah meminta pertolongan. “Tolong ... di mana pun batu itu berada ... tolooooong!”
Sesaat setelahnya, dengan buru-buru Nurvati mengejar sumber suara.
Terbang melewati beberapa rumah, menghabiskan jarak bermeter-meter, terbang ke arah Selatan.
Hingga syukurnya. Nurvati dan sang angsa berhasil mencapai sumber suara.
Nyatanya, mereka mendapati pria urakan itu berada di halaman rumah seorang warga.
Bukan itu saja, seekor siluman seperti kelelawar rupanya sudah mengikat lelaki urakan itu. Siluman kelelawar tersebut tengah menghajar pria urakan itu hingga babak belur.
Nurvati dan sang angsa telah mendarat tepat di tempat kejadian perkara.
'Buak' 'Buk' habis-habisan pria urakan itu mendapat bogem mentah dari tangan siluman kelelawar.
“Gah ... to-tolong ... saya batu ...,” lirih sang pria urakan yang mulai mendeprok tak berdaya.
Sayangnya niat awal untuk menolongnya sirna. Nurvati yang hampir terdorong untuk menyelamatkannya karena rasa iba, malah terpaku di depannya dalam jarak 5 meteran. Dirinya malah memandangi penyiksaan pada pria urakan itu.
Tentulah kalau bukan karena petunjuk sang Diri Asli, Nurvati mana kuat untuk diam di situ dan melihat seseorang tengah tersiksa.
Belum selesai begitu saja, semakin detik berganti, semakin sadis penyiksaan terhadap pria urakan.
Sang siluman menancapkan sebilah pisau pada dua pundak pria urakan, lantas menancapkan lagi pisau pada bahu sang pria urakan, tidak selesai di situ juga, dua sayap pria urakan dipotong.
“Tolong ....”
“Tolong ....”
“Tolong ....”
Walau lirih minta tolong bersenandung sedih di telinga Nurvati. Mimik wajah Nurvati justru serius menatap penyiksaan yang tersaji di hadapannya. Sebenarnya dirinya kasihan, tapi tak mungkin menyeleweng dari petunjuk.
Jemarinya, netra hijaunya, kakinya tetap menampilkan kesan tak peduli, namun dalam dilema dan napas sedikit berat.
Penyiksaan itu semakin menjadi seiring menit demi menit berganti jam.
Telah potong dua tangan serta dua kaki sang pria urakan, belasan pisau telah menancap ngeri di sekujur tubuhnya. Dua matanya tertancap pisau, begitu pula dengan mulutnya; tertancap pisau. Darah pun membasahi seluruh anggota tubuhnya. Pria urakan telah benar-benar tak berdaya.
Bahkan karenanya Nurvati hampir saja hendak menolongnya dan kalau bukan karena suara angsa putihnya pastilah Nurvati tergugah untuk buru-buru menolong.
Iya, walau hanya 'ngok ngok' angsa itu sedikitnya mengingatkan Nurvati pada petunjuk sang Diri Asli.
Segala kejadian yang berkutat dalam putaran realitas waktu itu, tiba-tiba mulai menampilkan keanehan.
Tak terasa pula Nurvati sudah cukup sabar hingga di detik ini. Benar, hari ini telah tiba pada waktu tengah malam; tugasnya akan berakhir.
Mula-mula Nurvati dapat bernapas lega. Di depannya, siluman kelelawar mendadak berubah, lenyap menjadi udara; hilang.
Lebih dari itu, seluruh pisau yang menancap serta tali yang mengikat tubuh sang pria urakan ikut lebur menjadi udara. Lebih-lebih setiap anggota tubuh yang terpotong sekonyong-konyongnya mulai menyatu lagi pada tempatnya dan semua darah yang berkucuran menjadi air jernih yang meresap pada tanah.
Hingga pada akhirnya, secara tak terduga, sang pria urakan berdiri kembali menghadap Nurvati dan itu disertai senyuman teduh nan damai.
Tapi bukanlah itu yang menarik bagi Nurvati.
Secara perlahan nan pasti, pria urakan itu mulai berevolusi.
Dia mulai berubah, rambutnya yang acak-acakan menjadi rambut biru klimis yang pendek tersisir ke kanan, wajahnya yang terlihat dekil menjadi cerah berkarisma, netra sipit hitam legamnya terfokus teduh pada wajah Nurvati, perutnya yang buncit malah terlihat rata dan sixpack, badannya tinggi berisi, lebih tinggi ketimbang Nurvati. Bonusnya kulitnya malah berpancar putih cerah sebagaimana ras Peri adanya.
Pria urakan itu malah terlihat memesona dan penuh damai, hingga dua sayapnya nampak bersih terawat.