Nurvati

Nurvati
Episode 199: Mengiringi Waktu Terlepas.



Dalam putaran waktu pada siklus kehidupan. Tiga hari selanjutnya.


Aparat hukum berhasil menguak pernikahan ilegal antara ras Peri yaitu Apan dan ras Siluman yaitu Hiri. Hanya dengan melihat aura Apan dan menyelidikinya tepat saat ditangkapnya karena diduga berselingkuh dengan Ratu Arenda. Penyidik dan penangkap divisi Penyihir dalam waktu kurang lebih 24 jam sukses menangkap dua pribadi itu.


Sidang telah dilangsungkan dalam ruang yang terpisah. Sidang tertutup bagi anggota kemiliteran Penyihir yang melanggar hukum.


Sang hakim telah menyatakan Apan serta Hiri bersalah dan di malam hari nanti segera dieksekusi mati.


Bersama malam tanpa kerlip bintang. Apan serta Hiri tengah berada dalam sel tahanan khusus. Ini adalah kebersamaan terakhir mereka.


Di dalam ruang bawah tanah yang pengap lagi berbau busuk dengan sel tahanan yang terbuat dari segel khusus. Seperti akuarium kaca dengan bias warna ungu.


Apan serta Hiri tengah tertidur. Hiri menyandarkan kepalanya pada bahu kiri Apan dan Apan tertidur sambil merangkul Hiri dengan tumungkul nyenyak dalam tidur.


Meski ini adalah jadwal kematian, mimpi Apan nyatanya masih terikat oleh visual masa lampau. Tentang sosok Hiri yang pertama kali hadir dalam hidupnya. Tentang sikap pemalunya yang mencetuskan interesan. Tentang suaranya yang bergema dalam kepala Apan. Hingga tentang senyuman yang menggugah pesan kerinduan.


Dan untuk waktu yang berputar apatis, kini telah menetapkan kenyataan, kalau Apan tiba-tiba bangun dalam tidurnya, begitu pula dengan Hiri yang terbangun pula dari lelap tidurnya.


Karena dua orang penyihir berjubah hitam, sudah hadir membuka segel, bahkan tangan kiri Apan serta Hiri telah diikat oleh rantai nuansa putih.


Mereka dipaksa untuk bergegas bangkit dari sana, terlebih secara kasar rantai yang tersambung pada penyihir berjubah hitam dan bertopeng ini ditarik, membuat Apan serta Hiri melangkah mengikuti mereka menuju sebuah ruangan dalam remang-remang cahaya.


Dalam perjalanan menuju kematian itu, derai air mata kesedihan kembali jatuh dari netra Hiri, sedangkan Apan hanya sanggup merangkul Hiri dengan kata-kata penghiburan, bila semuanya akan baik-baik saja.


Tenggiling milik Apan kini bertengger mantap di pundak kiri istrinya, hanya sebagai pengingat, kalau sebisanya Apan akan selalu disampingnya sekalipun dalam gelap kematian.


Namun tangisan dan kenyataan tak seperti yang diasumsikan Apan, tetap saja sebentar lagi nyawa akan melayang menyedihkan.


Di ruangan gelap yang hanya mengandalkan satu penerangan; batu kristal pingai. Hiri serta Apan diposisikan di tengah ruangan. Berdiri untuk bersiap dieksekusi.


Tetapi ketika kematian hendak dipersembahkan. Sedetik kemudian, Ratu Arenda mendadak masuk ke dalam ruangan remang-remang itu.


Sikap panik dan sendunya mencerminkan tidak terimanya untuk kematian sahabat tercintanya.


Atas penolakan itu, Ratu Arenda memamerkan dua surat izin pengalihan hukum pada hukum kerajaan, sekaligus membawa Hiri dan Apan ke istana.


Kendati agak terlambat, tapi nyatanya, rantai yang menjerat lengan Hiri serta Apan dilenyapkan. Dua tentara kerajaan pun didatangkan dan menuntun pasangan itu untuk keluar dari tempat mengerikan tadi.


Kendati nampak terlihat memberikan adanya harapan hidup, Hiri dan Apan tetap dilanda kehampaan dalam kepasrahan.


Entah apa yang diharapkan Ratu Arenda, sebab hukum tak mungkin dihindari oleh pasangan beda alam itu. Tetapi secara diskursif, Ratu Arenda hanya berusaha menyelamatkan sahabatnya semata.


Lagi pula surat izin itu sudah diurus sejak kemarin, hanya Ratu Arenda yang datang terlambat.


Karenanya, satu jam diambil untuk tiba di taman kebanggaan Putri Kerisia; taman Kupu-Kupu.


Taman yang dulu Nurvati dan Putri Kerisia selalu bersenang-senang di sini. Taman yang berada di balik dinding-dinding istana Awan yang megah nan mewah, beraroma Mawar dan bersih.


Keanehan semakin kentara saat Hiri dipisahkan dari sisi Apan. Apan dijaga oleh seorang tentara dan Hiri ditarik maju ke hadapan para pribadi yang hadir.


Kecemasan serta pertanyaan mulai menjerat pikiran Apan, saat tangan kiri Ratu Arenda memanifestasikan sebilah pedang.


“Ini akan menjadi contoh bagi masyarakat ... kalau siapa pun yang menikahi siluman ... maka kematian adalah hadiahnya ...,” tutur Ratu Arenda seraya menghadap pada pencari berita dengan raut wajah serius nan tegas.


“Siluman ini mesti mati ... dan sahabatku mesti hidup ....”


Maka terhenyaklah kejiwaan Apan dan Hiri, tak menyangka kalau nyatanya harapan hidup bersama itu hanyalah angan-angan belaka.


Hiri bahkan tumungkul tetap dalam tangisan ketidakberdayaan. Dirinya malu dan kelesah.


“Tunggu Arenda! Tunggu!” pinta —tenggiling— Apan dengan menghampiri Ratu Arenda dan Apan pun seketika mendekatinya.


Hingga secara tegas dan serius, Ratu Arenda yang memutar badan menghadap Apan menyergah, “Panggil aku Ratu Arenda!”


Apan bergeming di sana, perubahan sahabatnya mulai kentara, Ratu Arenda telah muak melihat Apan membela siluman.


“Aku ... saya tahu Anda kesal ... tapi, bisakah Anda tidak perlu menghukum istri saya ... biarkanlah istri saya hidup dan ... saya yang menggantikannya ...,” ujar —tenggiling— Apan dengan menginding dan suaranya terdengar melas.


Mendengar kalimat permohonan itu, Hiri yang teramat menyayangi suaminya justru merasa keberatan. Sayangnya kalimat pembelaan yang berusaha diluapkan darinya hanya sanggup tertahan ditenggorokannya, tersendat oleh rasa malunya dan ketakutannya sendiri. Membuatnya tetap berdiri membelakangi suaminya menanggung beban tekanan mental.


Maka suasana damai di taman ini sedikitnya diisi oleh kesan krusial nan genting. Tetapi Ratu Arenda memang tumungkul gusar, dirinya bahkan meluapkannya oleh kata-kata yang cukup menyayat hati. “Sahabatku direbut oleh siluman hina ... sahabatku lebih memilih siluman hina ketimbang dari golongannya sendiri ... sahabatku bahkan rela berkorban nyawa demi siluman hina ....”


“Hiri bukanlah siluman hina! Tidak semua siluman itu hina! Dirinya hanya terjebak dalam takdir yang tak bisa dielaknya!” sela —tenggiling— Apan dengan tenggilingnya yang kembali berpagut di pundak kanannya.


Wajah Apan, sorot matanya, ke dua tangannya hingga tarikan napasnya, telah merebakkan hawa getir dan pengharapan. Dia berharap Hiri tak perlu menanggung hukuman ini, lebih-lebih seorang anak akan lahir darinya.


Wajah berang Ratu Arenda pun diangkat, tatapan matanya yang tajam terkunci pada paras sahabatnya. “Siluman adalah suatu kehinaan ... itu sebabnya mereka disebut siluman!”


“... padahal aku sudah memberimu waktu untuk berpisah ... tapi, kau sia-siakan!” imbuhnya dengan lantang nan mantap, hanya kasihan pada sahabatnya.


Apan membisu dalam kelesah, dirinya tak membalas lagi. Ini telah percuma. Begitu pula dengan Hiri yang tumungkul pasrah terkekang ketakutannya.


Ratu Arenda kembali beralih pada Hiri dan tangan kirinya mulai mengangkat pedangnya. Bersiap menebas leher Hiri.


“Ratu Arenda ... sekali lagi! Saya mohon pada Anda! Izinkan saya yang menggantikan Hiri!” sentak —tenggiling— Apan sungguh-sungguh dan mulai putus asa.


Maka tanpa basa-basi, Ratu Arenda seketika menebaskan pedangnya, 'Shriing' terpenggal kepala Apan oleh sahabatnya sendiri. Lalu 'Bruk' tubuh Apan tergeletak begitu saja bersama darah keemasan yang membasahi lantai. Ratu Arenda mengabulkan permohonan sahabatnya.


Refleks Hiri berbalik badan, menghadapkan segenap perhatian dan tubuhnya pada suami tercintanya yang telah tewas mengenaskan.


Berbuntang matanya, bergetar tangannya, lututnya lemas menanggung beban kenyataan pahit, bergigit tak mengira, berat napasnya. Ketakutan, sedih, dilema dan sakit hati, semua emosi berpadu pekat mengiringi jatuhnya air matanya. Menangislah Hiri dalam kepiluan yang teramat dan tak ada kata-kata yang sanggup diluapkannya, kecuali senguk-sengak tak berdaya.