Nurvati

Nurvati
Episode 107: Tak Semudah Yang Tertampak.



Di arah Selatan hutan, dalam pancaran sinar mentari nan terik dua siluman ular setengah manusia tengah bertarung dengan Quin, bertarung dengan pedang masing-masing.


'Trang' pedang Quin saling beradu dengan pedang seekor siluman ular, lalu 'Bouff' bola energi nuansa merah tertembak dari seekor siluman ular lain dengan melesat maju dengan hunusan pedangnya.


Quin melompat ke belakang dengan mengepak sayap dan selamat dari serangan.


Lantas melesat lagi dari atas menuju seekor siluman ular pertama, dengan tetap melayang dirinya menyerang 'Trang' dan 'Trang' dua pedang beradu, diserang dari kanan, lalu ditahan 'Trang', diserang dari kiri lalu ditahan 'Trang', diserang dari atas lalu ditahan, 'Trang'.


Quin mengepak meninggi karena siluman ular kedua melompat dengan tebasan pedangnya, 'Woush' Quin berhasil menghindar.


Lalu kembali menyerang siluman ular pertama dengan tetap melayang, 'Trang' dua pedang saling beradu hingga menimbulkan percikan api, 'Trang' 'Klang' terus saling serang antara Quin serta siluman itu.


Maka Quin kembali mengepak sayap lagi, siluman ular kedua melompat padanya dengan tebasan pedang, 'Woush' Quin berhasil menghindar. Dan dengan tetap melayang dia kembali menyerang siluman ular pertama hingga irama dentang pedang yang beradu kembali mengalun dalam realitas. 'Tang' 'Tang' 'Klang'.


Quin menghindar dari siluman ular yang melompat lalu menyerang siluman pertama, lantas menghindar lagi saat siluman ular kedua melompat, kemudian menyerang lagi siluman pertama dan terus terjadi pertarungan yang berkesinambungan.


Namun saat pertarungan di atas akar pohon itu terjadi, empat teman Quin datang membantu 'Siuw' 'Siuw'.


'Bouff' 'Bouff' bola-bola energi tertembak pada siluman ular kedua.


Tapi seluruh bola-bola energi ditepis oleh siluman itu, dengan melompat sambil menebaskan pedang pada Arista serta Nerta, 'Woush' dua anak itu berhasil menghindar. Namun malang bagi sang siluman yang harus tewas tertebas kala dia baru mendarat di akar pohon. Gorah berhasil menghabisinya.


'Trang' pedang siluman pertama saling beradu dengan pedang Quin, lalu 'Swoosh' siluman tersebut melesat menghindar ke arah kiri dan 'Trang' kembali beradu pedangnya dengan pedang dari Darko, lalu 'Wush' siluman kembali menghindar, dia melompat dari akar pohon ke akar lainnya, dia terdesak, kewalahan dalam menangani empat bocah.


Dua bocah melesat —Darko dan Gorah— 'Siuw' dengan dua kapak yang dilempar pada siluman ular itu, tapi 'Wush' siluman melompat ke atas berhasil terhindar dari maut.


'Klang' pedang siluman beradu pada pedang Quin kala masih lompat di udara, fokus perhatiannya pada Quin membuat dirinya lupa bahwa di atasnya telah meluncur Nerta dengan tangan kanan yang berbalut energi nuansa putih yang dengan ilmu Cahaya-nya dia meninju siluman tersebut, dan 'Buak' kepala siluman ular itu berhasil ditinju, lalu 'Bruk' dia jatuh di akar pohon, kemudian menanggung tewas saat empat pedang dari Gorah dan Darko menancap dengan ngeri di leher serta tubuhnya, 'Jleb'.


Tapi tak tinggal diam lima anak itu, selepas mereka berhasil membunuh dua siluman, mereka terbang pada sebuah sel tahanan para anak yang diculik.


Sel tersebut seperti akuarium namun bernuansa agak merah, sel tersebut terhalang oleh dedaunan yang berguguran, di samping rimbunnya dedaunan pohon yang tumbang menimpa siluman tenggiling hingga tewas. Lebih-lebih tiga anak kecil tewas pula di perut tenggiling tersebut, atau secara tidak langsung, ledakan bom tadi telah membunuh anak-anak itu.


Tanah telah basah oleh darah ungu kehitaman dari para siluman, banyak jasad siluman yang terkapar di sini.


“Bagaimana caranya membuka sel tahanan ini?” cemas Darko dengan mencari-cari pintu.


Anak-anak lainnya pun nampak kebingungan, mencari cara mengeluarkan selusin anak yang diculik itu.


“Kita butuh cincin pembuka!” celetuk Nerta mengabarkan caranya.


Sontak seluruh anak-anak mencari cincin yang disebut itu.


Tapi tiba-tiba 'BLEDAAR' tanah hancur dan retak.


“GWROAAAAAAAAH ...!”


Seekor siluman ular setengah manusia muncul, yang kini berdiri tepat di samping sel tahanan anak-anak, tapi tubuhnya berotot dan wajahnya hanya terlihat urat atau dagingnya saja tanpa kulit, tak memiliki rambut, justru nampak seperti tudung ular kobra, netranya hitam semua, tinggi besar dengan bertelanjang dada, dia siluman ular kobra sang penjaga sel tahanan satu itu, terlebih jemari kelingkingnya tersemat cincin emas dan cincin itu yang dicari.


Entah dia berasal dari mana, tetapi syukurnya tak ada yang terluka saat dia datang dengan tinjuan dari tangan kanannya yang terliput energi hitam, lalu energinya hilang saat berdiri di sini.


“Sialan ... sepertinya siluman itu sangat kuat!” keluh Darko.


“Tsssssisss.” Siluman tersebut berdesis dengan menengadahkan kepala memandang ke lima anak.


Hingga tiba-tiba siluman ular kobra itu membuka mulut dan mengeluarkan puluhan ular-ular yang memiliki sayap dan mampu terbang. Ular-ular terbang ini berwarna abu-abu yang terbebar menyerang ke lima anak.


'Syut' 'Syut' 'Syut' 'Syut'.


Maka dengan keberanian yang sama seperti diawal, seluruh anak menembakkan bola-bola energi pada seluruh ular-ular terbang itu, 'Bouff' 'Bouff' 'Bouff' 'Bouff'.


Dari jarak 40 meteran itulah ke lima anak berjuang bertahan dari serangan siluman ular kobra.


'Bouff' 'Bouff' bersamaan dengan tembakan bola energi dari keempat bocah, Nerta melesat ke arah kanan, dia membentuk dua buah kapak, lalu 'Syuw' 'Syuw' dua kapak dilempar pada siluman ular kobra dengan Nerta yang melesat pula padanya.


'Sleb' 'Sleb' dua kapak berhasil menancap ngeri pada dada siluman ular kobra berwujud lelaki itu, dan saat itu juga Nerta menusukkan sebilah katana tepat pada leher siluman kobra. 'Slreeep'.


Berhasil Nerta menusukkan katananya pada siluman itu, sampai-sampai ular-ular terbang yang terbebar dari mulut sang siluman hilang dalam sekejap.


Tapi tunggu dulu!


'Buk' lalu 'Buak' Nerta terbentur akar pohon, yang mana ekor dari siluman ular kobra berhasil menyepak tubuh Nerta. Membuatnya terkapar di atas tanah yang basah oleh darah siluman.


“Nerta!” seru Arista serta Quin yang teralihakan perhatiannya pada Nerta.


Mereka langsung melesat dengan cemas menghampiri Nerta.


Lebih dari itu, katana yang menancap ngeri di leher siluman tersebut sama sekali tak membuatnya tewas, justru dia mencabut katana itu tanpa berdarah, dan membuangnya ke sembarang tempat. 'Klontang'.


“HYAAAAAT ...!” teriak Darko penuh gairah untuk menghajar siluman kobra itu.


'Wush' kaki kanan Darko melesat dari samping kiri siluman, dan 'Wush' kaki kiri Gorah melesat dari samping kanan siluman kobra. Mereka menendang dengan tetap melayang di udara.


Lalu 'Tap' kedua tangan berotot sang siluman mampu menahan dua tendangan bocah itu yang baginya bukanlah apa-apa. Tetapi 'Wush' kaki lain dari dua bocah itu menerjang menuju dada sang siluman, tepatnya menuju kapak yang masih menancap mesra pada dadanya.


'Buak-Buak' tendangan dua bocah itu berhasil mengenai dua kapak yang menancap pada sang siluman yang otomatis menancap lebih dalam.


Tetapi hebatnya siluman itu melompat dengan berputar 360 derajat, menyepak dua bocah sekaligus.


'Buak' Darko serta Gorah tersepak dan langsung terpental sejauh 10 meter menuju akar pohon. 'Bledaar'.


Darko dan Gorah seketika menanggung luka di sana, terduduk dengan bergigit kesakitan.


'Dhrap' siluman kobra telah mendarat lagi ke tanah dengan selamat, lantas ia berdesis, “Tsssissss.”


Bukan itu saja, siluman itu mencabut dua buah kapak yang masih menancap indah di dadanya, kemudian membuang kapak itu ke sembarang tempat, tanpa darah sedikit pun, tanpa merasakan sakit, hanya ada ekspresi datar tak berperasaan di wajah mengerikannya. Dia sama sekali tak merasa terluka dan ajaibnya bekas lukanya lenyap begitu saja; cepat sembuh.


Dua tangannya kini memancarkan energi hitam, memandang pada Nerta di depannya, bersiap menyerang.