Nurvati

Nurvati
Episode 91: Bicarakan Impian Bicarakan Harapan.



Di ruangan yang hening nan wangi, di rumah Ketua Kehormatan Hamenka, tepat di kamar Nerta. Ayah serta anak itu tengah saling memperbincangkan hal serius, terutama membimbing anaknya agar tak salah jalan.


“Jadi apa yang ayah ingin aku lakukan ... hacim ...?” tanya Nerta memastikan dengan memandang wajah bercahaya ayahnya.


“Kamu jangan mengikuti kebanyakan orang, ingat ini ... bila ada berita yang baru kamu dengar, jangan langsung dihakimi ... simpan dalam kepala lalu masukan dalam hati ... dan dengan hati itulah kamu akan mendapat jawabannya ...,” jawab Ketua Hamenka sungguh-sungguh.


“Sudah itu saja?” sindir Nerta dengan kedua alis hitamnya yang terangkat ke atas. Peduli tidak peduli.


“Iya ... itu saja,” ucap Ketua Hamenka.


“Ooooh ... aku kira aku harus menghafal kitab dongeng itu ...,” keluh Nerta dengan bangkit dari duduk.


“... 'kan menyusahkan sekali kalau aku harus menghafal kitab dongeng itu ... hacim,” lanjutnya dengan menyelipkan ke dua tangan ke saku jubah panjangnya.


“Kamu jangan kayak kakakmu itu ...,” singgung Ketua Hamenka.


“Iya-iya ... sudah ya, ayah ... hari ini, aku mau pergi bersama teman-temanku ...,” balas Nerta dengan cuek sambil berjalan menuju pintu emas.


Hanya mendekus pasrah yang dilakukan Ketua Hamenka, namun dengan wanti-wanti agar Nerta tak main jauh-jauh karena masih dalam perang.


Nerta mengiakan dengan sikap cueknya yang lantas pergi menuju tempat lain.


Hari ini sudah pagi, waktu di mana alam Peri terasa beraroma wangi, langit biru membentang indah, udara bersiur sejuk, hari yang cerah, hari yang didambakan bagi para makhluk yang optimistis, khususnya, bocah seperti Nerta dan kawan-kawannya.


Empat orang bocah seusia Nerta, berusia sekitar 13.000 tahunan, telah terbang di atas awan, telah menunggu. Namun hanya Nerta anak yang paling tua di antara teman-temannya, berusia sekitar 14.000 tahun —14 tahun menurut hitungan manusia— dia datang dengan terbang menghampiri kawan-kawannya.


“Ahk ... kau lama sekali,” komplain seorang anak laki-laki berambut merah.


“Katanya sebentar, tapi kami harus menunggu lama,” sambung seorang anak perempuan berambut pingai.


“Ya, maaf-maaf ... tadi ayahku agak resek ... malah mendongeng ... hacim ...,” balas Nerta dengan berapologi.


“Nah ... ya sudah ... jadi 'kan kita berangkat ke hutan Kematian?” tanya anak laki-laki berambut hitam panjang.


“Ayo-ayo temen-temen langsung saja atuh ...,” ajak anak perempuan berambut merah yang tergerai panjang bergelombang. Dan dirinya membawa sekantong penuh pil Energi.


“Ayo ayo ....” Serentak seluruhnya mulai terbang menuju destinasi.


Mereka berlima pergi ke suatu tempat yang memang telah diagendakan, tempat di mana berkumpulnya para siluman bengis nan kejam.


Bukan tanpa sebab mereka pergi, banyak anak-anak yang telah diculik oleh para siluman. Akan hal itulah, demi bisa berkontribusi dalam perang dunia ini, mereka akan menyelamatkan anak-anak yang diculik itu.


Hutan Kematian berada di wilayah netral, sehingga memungkinkan mereka harus pergi jauh dari rumah, dan mungkin akan memakan waktu berhari-hari atau juga berbulan-bulan.


Jadi mereka menggunakan pintu teleportasi antar kota, hingga menuju perbatasan negara.


Untuk melewati dinding perbatasan, mereka melewati lorong bawah tanah rahasia yang memang telah dipersiapkan Nerta dengan kawan-kawannya dan itu membutuhkan pekerjaan para ilmuan. Lantas kembali terbang melanjutkan perjalanan. Dan di sinilah mereka melakukan perjalanan ilegal.


Selama terbang mereka sangat antusias. Saling bercanda dan saling mengekspresikan kegembiraan petualangan mereka ditambah perjalanan yang akan menjadi penyelamatan.


“Kita akan menjadi pahlawan masyarakat!” ujar anak laki-laki berambut merah cepak.


“Aku lebih tidak sabar lagi untuk menghajar siluman-siluman hina itu!” timpal anak perempuan berambut pingai dengan mengepal tangan meninju-ninju angin, begitu ekspresif meluapkan semangatnya.


“Dan aku sudah tidak sabar ingin sampai di sana,” tambah anak laki-laki berambut hitam panjang.


Sedangkan Nerta hanya sengap dengan menyelipkan dua tangan ke saku jubah nuansa hitamnya. Dia juga sebenarnya sangat senang, bahkan tadi pun saling bercanda dengan menyentuh sayap satu sama lain bersama kawan-kawannya, tertawa dan berseloroh.


Tapi sedikitnya, pesan ayahnya mau tidak mau terpatri dalam memori otaknya, itu seperti menyentuh hatinya.


Nerta memang anak yang cuek dan gengsi kalau berkumpul keluarga, entah mengapa begitu, ya, setidaknya dia tak seperti kakaknya yang berandalan yang hobinya berkelahi.


Hanya saja, terasa menyedihkan kalau ayahnya akan berumur pendek dan tak bisa melihat Nerta hidup sukses, atau bahkan tak bisa menikmati zaman kejayaan ras Peri.


Lebih-lebih walau dirinya tak mampu mengungkapkan rasa sayang pada ayahnya, dia tak dapat memungkiri perasaan itu, Nerta hanyalah anak laki-laki yang sulit mengungkapkan rasa sayangnya, canggung serta cuek.


Dan kala pesan ayahnya terkesan seolah pesan-pesan terakhir darinya, jelas Nerta merasa agak gundah, apalagi risalah para raja itu yang terkesan mengerikan namun juga membahagiakan, membuatnya memikirkan akan seperti apa dirinya dan keluarganya, kalau-kalau sang Penyelamat itu muncul dan malah memeranginya.


Namun pikiran kelumit itu buyar saat seorang anak perempuan berambut merah yang tergerai panjang hingga punggung, telah menyentuh sayap kanan Nerta dengan sayap kirinya.


Anak perempuan yang malah mengembangkan senyuman dengan gigi ratanya yang ditampakkan, lantas berkata, “Kamu kok diem-diem bae, omel dong omel ... xixixi ....”


Anak perempuan yang seperti menggoda Nerta bernama Arista, dia anak ceria, yang cerewet dan selalu bahagia, padahal dia anak yatim. Tapi faktanya, anak perempuan itu selalu sanggup membuat Nerta tersenyum senang.


Dan jelas Nerta menyentuh kembali sayap kiri Arista dengan sayap kanannya seraya berujar, “Ayo kenai aku lagi, kalau bisa akan aku berikan permen Kembangapi!”


Mendengarnya Arista menjadi semangat, dia langsung melesat mengejar Nerta berharap mendapatkan imbalan.


“Janji ya ...!” tuntut Arista dengan semringah.


Sekonyong-konyongnya seluruh teman-temannya malah nimbrung mengejar Nerta, yang malah mau juga mendapatkan permen Kembangapi.


“Aku mau!” kata anak laki-laki berambut merah cepak.


“Aku juga!” sambung anak laki-laki berambut hitam panjang.


“Aku juga woy!” timpal anak perempuan berambut pingai yang ikut mengejar Nerta berusaha menyentuh sayapnya.


“Woy woy jangan semuanya woy! Bangkrut aku! Hacim ...,” sentak Nerta yang melesat menjauhi teman-temannya.


Sebagaimana anak-anak pada umumnya, pada hari yang cerah itu, mereka pergi bermain, yang dalam permainannya itu adalah petualangan untuk menyelamatkan.


Sebagai anak-anak normal, atau tepatnya anak-anak yang memiliki keunikan tersendiri, mereka terbang melintasi hamparan rerumputan biru, melewati hutan-hutan gelap, terbang dalam keceriaan dan keseruan layaknya anak-anak yang bersuka ria dalam permainannya.


Bersama berlalunya waktu, mereka kadang terbang cukup tinggi kadang kala terbang cukup rendah, dilakukan bukan karena semata-mata lelah atau bagaimana, dilakukan agar terhindar dari bandit-bandit jahat, namun yang paling diwaspadai sebenarnya adalah para patroli pengawas perang.


Karena bila patroli itu berhasil menangkap mereka maka sirna sudah agenda penting mereka, sedangkan para bandit, bagi mereka cukup asyik sebagai bahan latihan untuk menghajar para siluman nanti, benar, mereka tidak begitu takut dengan para bandit.


Kalau bandit dihajar itu wajar, namun bila patroli perang yang mereka hajar maka mereka merasa kurang ajar.