
Suasana masih santai-santai saja, Guru Gatary masih mampu menahan sabar.
Dalam kecemburuan sosial, dan dalam hati, Logia menatap sinis pada Putri Kerisia. ”Huh ... wanita bodoh ini, sebagai ketua tim sama sekali tak berguna ... senyum saja jadi tak pernah.“
Tetapi sebagai seorang wanita terhormat, Putri Kerisia tetap menampilkan gestur anggunnya, raut mukanya tetap datar, dan saat netra merah lembayungnya beralih dari kekosongan menuju wajah bulat Logia, spontan Logia buru-buru kesikap sok 'jual mahal' dengan berkacak pinggang.
”OKE! Ayo kita lakukan! Jangan sampai aku tidak lulus dan para penonton malah berdecak kesal!“ tutur Logia sebisa mungkin terlihat semangat dan kecemburuan sosial pada Putri Kerisia tetap tersembunyi.
Maka yang pertama kali mengulur tangan ke depan sambil mengarahkan telunjuknya adalah Putri Kerisia, lalu diikuti Arkta, diikuti oleh Logia, dan setelah sayap kanan Logia sedikit memukul sayap Haro, barulah Haro ikut mengulur tangan ke depan dengan jari tengah yang diposisikan ke depan. Tepatnya mereka menunjuk ke tengah-tengah ruang yang hendak digunakan sihir Ruang.
Saling berhadapan dengan empat arah mata angin, lantas dengan kompak mereka mengucapakan kata, ”Telidsiu!“
Energi keunguan muncul dari masing-masing jari mereka lalu mengumpul ke tengah dan setiap energi saling berpadu. Tiga detik kemudian, secara kompak mereka menggerakkan tangan mereka secara vertikal dari bawah ke atas, melempar bola cahaya yang tadi saling berpadu tepat ke atas langit.
'Siuw' energi sihir keunguan mereka melesat ke udara, dan sekejap mata, sihir ruang bekerja.
Langit berubah menjadi penuh dengan bintang-bintang jatuh, malam dan tak terlalu berkesan, sihir Ruang yang biasa saja. Bahkan praduga semua orang perihal adanya Putri Kerisia yang seolah memberi harapan kemenangan nyatanya tak terjadi.
Lepas dari 10 detik waktu berlalu, semua orang diam dalam hening yang melingkupi suasana.
”Ayo kembali ... kalian belum akrab,“ titah Guru Gatary tanpa ada tepuk tangan yang bertanda tim 12 gagal. Namun melihat usaha mereka, nilai 50 cukup pantas untuk tim 12.
Selepas itu pun Arkta malah menyalahkan Haro yang tak becus saat diawal; keterlambatannya menimbulkan gagalnya langit menjadi indah. Bahkan Logia kembali menyentak Arkta karena sama saja payahnya. Tim 12 kembali pada posisi menanggung ketidakpuasan, terpaksa pasrah oleh keadaan yang tak dapat diubah.
Dan kepergian mereka pun nampak menuai banyak komentar akan betapa memalukannya tim 12.
Ujian belum usai, kini ujian selanjutnya, sihir manipulatif materi.
Kembali perintah ditetapkan, dan tim satu maju ke depan, mereka sebisa mungkin kompak, sihir energi nuansa ungu kembali memancar dalam setiap pandangan, lalu sihir itu memanifestasi.
Secara ajaib tempat ini pun dipenuhi kursi-kursi dari emas, mungkin ratusan lebih bila dihitung dan cukup disayangkan karena hanya itu saja pertunjukan mereka, tak lebih dari itu.
Tak terkesan, justru raut muka Guru Gatary berubah malas, sehingga kembali berkomentar, ”Tidak membuat saya tersenyum, banyak kursi tapi tak begitu elegan ... kembalilah, kalian harus lebih akrab.“
Tim satu kini berganti pada tim dua, ekspektasinya adalah tim dua bisa jauh lebih baik dari tim satu dan nyatanya tidak, mereka sama saja buruknya; kurang elegan.
Maka tim berikutnya kembali maju, dan dilanjut dari tim ke tim berikutnya, bahkan tim 12 pun ikut maju mempersembahkan pertunjukan sihir mereka. Dan secara fakta yang tak mungkin dibantah, untuk sihir manipulatif materi, hanya 7 tim yang mencapai sukses, dua di antaranya mampu membuat seluruh orang rela bertepuk tangan.
Dua tim itu mampu membuat ilusi materi makhluk hidup, membuat tempat ini nampak dipenuhi hewan-hewan dari bumi manusia.
Belum usai, kini ujian ke tiga, ujian yang agak sulit, sihir manipulatif Waktu.
”Baik! Ini ujian terakhir untuk tahap pertama!“ imbau Guru Gatary dengan lantang.
”Sekarang tim satu maju! Buat saya terkesan!“ lanjutnya dengan tegas.
Seperti yang sudah-sudah dan bahkan seperti yang telah diekspektasikan oleh Guru Gatary. Tim satu kacau, bahkan dinyatakan gagal, selain dari mereka tidak kompak mereka malah saling menyalahkan yang ujungnya sama sekali tak berguna.
Lalu disusul oleh tim-tim berikutnya yang pada akhirnya sampai pada tim 12, kemudian ujian tahap satu berakhir. Seluruhnya kembali berdiri tegap pada tempatnya masing-masing.
”Payah! Masa ujian ke tiga tak ada yang berhasil satu pun!“ singgung Guru Gatary.
Seluruh murid nampak memasang muka masam dan menyesal. Karena ujian ke tiga tadi semua tim gagal, tak satu pun berhasil. Lebih-lebih walau tim 12 memiliki Putri Kerisia yang berbakat, itu faktanya sama sekali tak menunjang kesuksesan; sama saja dengan bohong.
”HEH! KALIAN INI SUDAH LATIHAN 27 BULAN! KALIAN AKAN BERGABUNG PADA KEMILITERAN! KALIAN PENERUS BANGSA!“
Guru Gatary terpaksa meninggikan suaranya agar dimengerti oleh seluruh murid. Bahwa hasil saat ini bukanlah hasil yang seharusnya.
”Sudah libur begitu lama, tapi kekompakan seperti baru pertama kali tahu! Huh ....“
”SEKARANG JUGA! Kalian pergi dari tempat ini, kelilingi tempat ini dan kalahkan jin klan Ifret di tempat ini, kalahkan mereka hingga mereka mau memberikan liontin keanggotaan militer pada saya, kalian diberi waktu 400 tahun untuk mendapatkannya ...,“ tutur Guru Gatary memberikan instruksi ujian selanjutnya.
Dan mendengar itu, semua murid menampilkan kesiapannya untuk ujian selanjutnya.
”... klan Ifret telah bekerja sama dengan kita untuk membantu, dan ingat ini ... ujian ini adalah ujian hidup dan mati, satu orang mati maka satu tim itu tak dapat bergabung pada kemiliteran, dapatkan satu saja liontin maka kalian berhak kembali mengikuti tahap selanjutnya ...,“ lanjut Guru Gatary dengan memperlihatkan liontin dari batu berlian hitam dengan ukiran kaligrafi yang entah artinya apa, liontin itu hanyalah lukisan dari kertas besar yang dibentangkan Guru Gatary agar semuanya dapat melihat dengan jelas.
Dan bersama lenyapnya kertas tersebut, kembali Guru Gatary memberi peringatan, ”Satu hal yang penting! Jika ada yang bermain licik yaitu memanipulasi liontin atau merebut liontin lawan, maka tim itu didiskualifikasi, dan setiap yang didiskualifikasi hanya berhak mengikuti ujian kembali setelah 1000 tahun ujian ini berakhir!“
”Apa kalian paham?“ tanya Guru Gatary keras-keras berharap semuanya memahami.
Serentak semua orang menjawab, ”Paham Bu!“
”Pergilah! Gunakan kekompakan kalian untuk lulus!“ titah Guru Gatary dengan berkacak pinggang.
Maka seluruh tim dengan determinasi baharu, mulai terbebar bersama tim mereka masing-masing, melaksanakan perintah sang Guru Gatary. Begitu pun dengan tim 12 yang diketuai oleh Putri Kerisia, mereka terbang bersama mencari keberadaan jin ras Syin klan Ifret.