
Mungkin, dengan mengingat kembali senyuman orang-orang terkasih bisa meredakan sedikit lelahnya mental menghadapi hidup keras ini.
Itulah yang diresapinya, di sini, dalam kegelapan hutan Kematian, masih berdiri di dahan pohon, Zui pendekar Pemecah Waktu sejenak menghimpun seberinda perasaannya yang memecah tak keruan dan akan hal itulah segala kepingan masa lampau membentuk bayang-bayang kenangan dalam kepalanya.
Kendati masa lampau agak menyakitkan bila dikenang, menyayat hati kembali, tak dapat lolos dari kenyataan, tetapi kata-kata terakhir itu masih merdu di telinganya.
Ketika senyuman suaminya terbentuk untuk yang terakhir kalinya, atau ketika anak perempuannya tak pernah bersuara lagi dan segalanya jadi kematian. Ketika Zui ingin menyelamatkan keluarganya dari para siluman, justru warga di kotanya malah mendakwa suaminya sebagai siluman, mendakwa dirinya menikahi siluman.
Ketika anak perempuannya harus tewas dipangkuannya, ketika suaminya berkata, “Istriku ... katakan pada mereka, engkau telah membunuh siluman ini ... katakan pada mereka, engkau telah mengetahui kalau kami memang para siluman dan memohon ampunlah pada warga ....”
Ketika bibir tertahan pada kebisuan, Zui yang menanggung beban pengorbanan suami dan anaknya, saat itu tak kuasa melihat suaminya menusuk lehernya dengan pisau, mati demi menyelamatkan hidup Zui. Dan masyarakat yang budiman hanya mengetahui kalau Zui telah berhasil membunuh siluman, yang mana itu adalah anak dan suaminya, bahkan untuk itu, Zui diampuni karena sudah berani membunuh anak dan suaminya sendiri. Seolah mereka memang ingin melihat suami dan anaknya tewas.
Zui mungkin akan menyusul keluarganya di alam kematian, untuk itu dia menjadi pendekar Pemecah Waktu, melihat kapankah waktunya harus mati dan melihat lagi suami serta anaknya.
Atau mungkin segala masa lampau menyedihkan itu dapat dijadikan kekuatan untuk hari ini, pengabdian pada masyarakat, seperti suaminya yang mati hanya agar rakyat tersenyum, atau anak perempuannya yang rela berkorban nyawa demi harga diri ibunya.
Dalam kenangan itu, semua mimpi berawal dan atas kenangan itu, semua mimpi akan diakhiri. Oleh sebab itu, kehadirannya kini bukanlah semata-mata keinginannya sendiri, kejiwaannya telah ditopang oleh motivasi dari kalimat antusias anaknya.
“Aku ingin jadi seorang pendekar dan jadi pahlawan seperti ibu!”
Kalimat dari anaknya itulah yang selalu menguatkan langkahnya untuk tetap bernapas hidup, walau di mata rakyat saat itu anaknya dianggap mati sebagai siluman, tapi bagi Zui menurut pandangan keibuannya, anaknya adalah pahlawan.
Jadi, untuk saat ini, mati demi menjalani rencananya adalah jalan terbaik.
Maka 'Tap' telapak tangannya saling direkatkan, karena inilah alasan dia hidup; melayani masyarakat dan mempersembahkan waktu terbaik bagi masyarakat.
Dirinya memang tak dapat lolos dari jerat kenangan menyedihkan itu, masa lampau membentuknya sebagai wanita yang cukup kuat untuk saat ini, membuatnya untuk selalu yakin, masa depan yang cerah akan terbentuk saat memaksimalkan setiap waktu pada hari ini.
Mula-mula tubuhnya mulai menampilkan bayang-bayang kegelapan, seakan hendak memudar bersama gelapnya hutan Kematian, dari ujung kaki perlahan kegelapan hitam pekat mengikis tubuhnya.
Walau dirinya menanggung segala kenyataan pahit sendirian, itu tak lantas menjadikan ibu satu anak itu merengek ingin mati di dalam keputusasaan, justru kerasnya hidup membuatnyalah berani melawan dunia, menerjang segala siklus realitas sendirian.
Hingga sekujur tubuhnya kini menghitam, sangat hitam pekat, setara dengan hitamnya kegelapan hutan Kematian ini. Lalu tubuhnya membulat, hitam pekat membulat, sedetik selepasnya hilang dari kenyataan, sirna bak ditelan kehidupan.
Namun faktanya, ilmu Pemecah Waktu-nya digunakan secara utuh, hingga tak lagi ada yang namanya esok atau masa depan, kini segala dirinya telah mutlak, seperti waktu yang berputar selalu, tanpa dapat dihentikan.
Sangat sederhana, cukup sederhana, bahwasanya Dewi Karunia yang sama-sama seorang ibu kini dalam kenangannya yang menjadi motivasinya untuk dapat berdiri di atas tanah ini, dia telah membuat sebilah pedang yang siap ditusukan pada leher Arista.
Arista memang harus mati lebih dulu, karena mau tidak mau seorang medis bisa mengubah situasi.
Tapi detik-detik ketika pedang hendak meluncur, pedang tiba-tiba terlepas dari genggaman tangan sang Dewi Karunia, 'Klontang' jatuh di atas tanah hitam, membuat Dewi Karunia keheranan.
'BUAK' perutnya telah ditendang oleh sesosok yang tak dapat dilihat, membuatnya terdorong satu meter ke belakang.
Kini harus berdiri di sana, menanggung keheranan.
Semua keheranan itu sirna saat di depannya dalam jarak tiga meteran, di udara yang kosong, mendadak muncul setitik cahaya kecil. Mula-mula cahaya itu hanya setitik yang kecil, nampak begitu tak berdaya, kemudian perlahan namun pasti, titik cahaya mulai membesar seperti teriknya siang hari yang cerah ini dan 'BOOMM' sinar itu memuntahkan sesosok wanita berambut perak panjang dengan jubah putihnya yang besar hingga menutupi sekujur tubuhnya, tak ada sayap di punggungnya, tapi dialah sang pendekar Pemecah Waktu, bernama Ezui Malania; Zui.
Bersama cahaya yang hilang, Dewi Karunia yang melihat ini sebagai masalah besar khusus baginya, justru dengan lantang bicara, “Oh ... sang pahlawan waktu, yang masa depan ditangannya jadi masa kini dan masa kini menjadi masa depan ....”
Kalimat itu digaungkannya untuk menyatakan kalau lawannya kini patut diwaspadai, atau setidaknya berharap Zui membenarkan persepsinya.
Netra Zui terpejam, dia tak lagi melihat dengan mata atau hati, dirinya melihat dengan sifat waktu; segalanya dipandang.
“Jangan melawan anak kecil ... lawanlah aku ... yang sepadan, yang sama-sama seorang ibu, yang sama-sama bertarung demi cinta dan pengabdian,” tantang Zui dengan tenang dan tegas.
“Cuih ....” Dewi Karunia meludah, jijik mendengar ucapan Zui.
“Majulah ... kau tidak sekuat yang kau kira,” lanjutnya balik menantang.
Hingga ada momen kala angin berdesir kencang, menggoyangkan dedaunan pohon hingga bergemerisik, membuat rambut lurus yang panjang Zui bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri sebagaimana irama tiupan angin.
Nerta, Gorah, Darko, Quin, telah terbaring lemah, terluka parah, hingga mereka menanggung kebutaan, patah hidung, dan tulang wajah remuk, mungkin kalau bukan karena pergerakan Arista diawal tadi, keempat anak pastilah jadi bulan-bulanan Dewi Karunia sampai tewas. Bahkan Arista masih terbaring tak sadarkan diri yang sama-sama terluka dan begitu juga, kalau bukan karena keberuntungannya tentulah Arista sudah tewas.
Tiba-tiba, 'Buuff' 'Buuf' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' 'Buuff' belasan bahkan puluhan bola-bola energi nuansa merah mencecar kearah Zui.
Tapi entah bagaimana, saat tangan kanan Zui hanya melayangkan satu kali kibasan, puluhan bola-bola energi nuansa pingai atau bahkan jumlah yang ditembakan setara dengan jumlah bola-bola energi yang Dewi Karunia kerahkan.
Sadar akan hal itu, justru Dewi Karunia tak menyerah, dia semakin cepat mengerahkan puluhan hingga ratusan bola energi.
'Fuffuffuffuffuffuffuffuffu'.
Hebatnya, hanya dengan satu kali kibasan lagi dari tangan kanan Zui, jumlah tembakan bola-bola energi sama dengan jumlah yang ditembakan Dewi Karunia.
'Fuaffuaffuaffuaff' ratusan bola energi buyar dan beradu, beradu dan buyar, terus seperti itu secara berkesinambungan, sangat cepat, namun tak ada yang terluka.
Raut muka ke dua ibu-ibu itu nampak datar, mungkin hanya Dewi Karunia yang dalam raut muka datarnya menyiratkan agak kebingungan.
“Aku akan mengalahkanmu! Pasti ... akan aku hentikan segala permaianan waktumu ini!” sentak Dewi Karunia menakut-nakuti demi menjatuhkan sisi psikologis Zui.
Maka oleh karena itu, waktu dikenyataan hidup ini terus berjalan seiring sengitnya pertarungan dua wanita itu, ke dua wanita yang sama-sama seorang ibu, yang bertarung demi cinta dan pengabdian.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)