Nurvati

Nurvati
Episode 200: Masih Bergerak Bersama Waktu.



Apan telah mempersembahkan bukti absolut, kalau dia lebih memilih mati demi siluman, ketimbang tetap hidup normal.


Tapi realitas mulai mengalun menyakitkan dalam jiwa Hiri, memberinya suatu dorongan aneh yang terbawa dalam arus aliran darahnya, membangkitkan suatu pesan dari jiwanya, yaitu emosi marah. Dan semakin mantap sudut pandangnya terhadap dunia; tidak ada keadilan.


Lalu tenggiling Apan yang bernama Bening, pun mendadak mati, tubuh transparannya bahkan mulai bernuansa putih pucat.


Ratu Arenda yang sudah menghancurkan hidup sahabatnya dan siluman buaya, juga menghancurkan pedangnya dengan energinya, seraya memberikan instruksi pada dua pengawalnya. “Usir siluman hina ini! Buang ke alam Manusia!”


Tapi sebelum kepergiannya teralisasi. Saat kenyataan sukses menyentuh hatinya. Hiri dengan kepalan tangan dalam getir yang bergetar, masih tertunduk kuyu dan nelangsa, berani mengutarakan satu kalimat menohok. “Ra-Ratu Arenda ... sa-saya ... pasti akan kembali ... saya pasti kembali!”


“Dengan riang hati, saya tunggu ... ya, saya tunggu kedatanganmu ...,” balas Ratu Arenda tanpa takut dengan memalingkan wajah. Terlalu jijik pada Hiri.


Hingga dua pengawal pun mulai menarik Hiri, membawanya untuk pergi.


“Sa-saya pastikan ... Anda merasakan apa yang saya rasakan!” sumpah Hiri dengan tertunduk pasrah dibawa oleh dua pengawal.


Tak menjawab, Ratu Arenda tetap berpaling muka dengan jijik.


Selebihnya dalam akhir yang tak terasa, Hiri telah pergi bersama dua tentara kerajaan.


Membiarkan suasana damai kembali melingkupi taman. Namun berat rasanya kehilangan sahabat tercinta. Malah ke dua netra biru langit Ratu Arenda mulai berkaca-kaca.


Bersama dengan kepiluan itu, seorang pelayan mulai membereskan jasad Apan. Membungkusnya dengan kain yang termanifestasi lewat energi merahnya, lantas dengan pintu teleportasi dia membawa tubuh dan kepala Apan ke ruangan khusus, lengkap dengan tenggilingnya.


Lelaki sang pencari berita yang keheranan dengan perbuatan Ratu Arenda, jelas berani melontarkan pertanyaan. “Maaf, Yang Mulia Ratu Arenda. Mengapa Anda membiarkan siluman itu lolos? Bukankah dia hendak datang kembali dan balas dendam?”


Ratu Arenda tumungkul dalam renungan dan kuyu. Masih cukup berat untuk bicara. Apan adalah satu-satunya sahabat yang paling pengertian, sahabat yang membuat Ratu Arenda berani untuk tetap menerima hidup. Sahabatnya yang telah menghilangkan sepi dan memperkenalkan kegembiraan berteman.


“Ratu?!” seru pria pencari berita, menuntut mendapat jawaban.


Secara refleks, Ratu Arenda kembali mengangkat wajahnya, menarik napas panjang dengan kuat dan mengembuskannya mulai memasrahkan semuanya. Walau raut mukanya tetap menyiratkan kepiluan, dirinya menjawab, “Iya, saya ingin menguji kebenaran kalimat Apan ... kalau tidak semua siluman itu hina dan Hiri hanyalah korban dari kejahatan takdir ... bila memang Hiri adalah siluman baik hati ... dia akan mundur ... seharusnya dia menyadari kesalahannya ... dan mulai meminta maaf pada pribadi yang dirugikan, termasuk saya ....”


“... namun bila tidak. Maka mutlak, kalau semua siluman itu hina dan menjijikan ...,” lanjutnya dengan penekanan disetiap kata.


Pria pencari berita mengangguk berusaha memahaminya. “Hemmm ... saya ... mengerti ... ya ... saya ... mengerti ....”


Ratu Arenda pun menoleh ke kanan pada pria pencari berita itu dan dengan serius bertanya, “Apa Anda merekamnya?”


Pria pencari berita berdiri tegap, mengguratkan wajah serius dan tatapan intens pada wajah manis Ratu Arenda. “Tenang Ratu Arenda ... semua sudah terekam di lensa kontak pada mata saya ....”


Lensa kontak tersebut berfungsi merekam kehidupan di depannya yang nantinya dapat disaring demi kebutuhan secara visual; video.


Ratu Arenda senang mendengarnya, dirinya menangguk bersyukur.


”Bersiaplah ... rekam lagi bila Hiri datang ... lalu rekaman itu siarkan pada seluruh cermin pintar ... agar masyarakat sadar ... kalau menikahi makhluk berbeda alam adalah kesalahan besar dan paham, kalau konsekuensinya ialah kematian ...!“ tandas Ratu Arenda dengan berpaling pergi.


Bersama anggukan mantap dari pria pencari berita. Ratu Arenda ditemani dengan dua pelayannya mulai melangkah pergi meninggalkan taman. Kematian Apan akan diadakan acara pemakaman dan untuk itu Ratu Arenda bersiap.


Sedangkan Ratu Arenda yang memiliki prinsip dan rencana tersendiri. Di alam Manusia. Di sebuah hutan tropis. Malam hari yang hujan, Hiri tengah mendeprok dengan menangis sesenggukan.


Di tumpukan dedaunan yang menutupi tanah kotor itu, kepergian orang yang dicintainya memicu kenestapaan mengundang derai air matanya semakin deras.


”HNNGGG HUAAAAAAA ....“


Disertai curah hujan deras dalam malam yang semakin kelam, semakin menggiring kesedihan Hiri untuk terluapkan.


”Hnnnnnng hhuuuuu ... hiks ....“


Pikirannya semakin gelap menghitam, hatinya yang suram semakin suram. Sudah terlanjur sakit hati.


”Hhuuuuu ng hiks ... hiks ....“


Kendati dirinya lolos dari maut, itu tak mengubah kenyataan kalau suaminya tewas berkorban dan Hiri tidak suka dengan mengorbankan nyawa demi cinta.


Bersama dinginnya hujan, Hiri meratap, merengek dan menyesali hidupnya. Dirinya hanya menginginkan dapat bersama menjalani hidup dengan pria yang dipilihnya, atau kalau boleh, mati bersama-sama.


Detik demi detik yang menjadi menit, lambat laun mulai menunjukkan segala yang berlalu, tapi tidak dengan sakit hatinya. Atau bahkan kenangannya yang tersimpan manis.


”Hiks ... hiks ... hik.“


Dan keputusasaan mulai menjerat dirinya. Perasaan kalau faktanya, hidup sebagai siluman adalah kesalahan dan kehinaan. Hidupnya seolah sudah sekarat.


Iya, Hiri bahkan mendeprok sambil memegang perutnya sendiri, menimbang-nimbang kalau anak yang nanti dilahirkannya hanya akan menanggung beban derita berkat orang tuanya.


Hiri tak habis pikir, kalau anaknya nanti kembali menderita sepertinya. Tentu itu tak boleh terjadi.


Toh tak ada gunanya juga hidup. Masyarakat membenci siluman dan sudah seharusnya siluman dibasmi.


Dengan dua tangan agak bergetar yang memegang erat gagang pisau dan terarah mantap pada perutnya. Kematian telah siap menjadi obat penderitaan.


Matanya terpejam, tertunduk siap menyambut kematian, napasnya naik turun tak terkendali, giginya bergigit menahan beban hidup kehilangan dan niatnya secara mendadak tertunda.


Benar, dirinya malah mulai meregangkan genggamannya dan secara perlahan mulai mengangkat wajahnya; ada seseorang yang hadir.


Telah berdiri, sesosok pribadi berjubah panjang nuansa merah, dengan tudung jubah yang menutup kepalanya dan topeng cahaya merah telah menutupi wajahnya, membuat identitasnya tak dikenali.


Tanpa diketahui Hiri, wakil serikat penyihir bangsa Barat telah berada di depannya.


”Pilihlah dua mantra ini ... kau mampu membunuh Ratu Arenda dengan sesosok Dewi Surgawi ... atau mantra, kau dapat memerintah para Satanes untuk mencabut seribu nyawa kaum wanita ...?“ tawar Putri Kerisia dengan memiliki tugas tersendiri demi mencapai Diri Rahasia. Suaranya pun nampak terdengar berbeda dan dirinya menyodorkan dua cahaya ungu; mantra sihir.


Untuk itu, Hiri kembali teringat akan sumpahnya pada Ratu Arenda, kalau dipastikan Ratu Arenda mendapatkan penderitaan.


Bahkan Hiri menengadahkan wajah begitu intens menatap topeng cahaya wanita asing di depannya. Agak ragu dan berusaha mengenali siapa sosok tersebut.


”Mati sia-sia hanya karena takdirmu sebagai siluman, atau sedikit menorehkan keadilan hukum pada mereka yang sewenang-wenang tanpa pernah merasakan yang kamu rasakan?“ hasut Putri Kerisia dengan kalem dan halus, namun sangat meyakinkan.


Perlahan namun pasti, Hiri menjatuhkan pisaunya, kalimat itu berhasil mencerahkan pikiran gelapnya dan persetan dengan identitas sosok di depannya.


Pilihan mantra wanita asing itu menggugah hasrat Hiri untuk meninggi, semakin pekat bersama sumpahnya yang sebaiknya diimplementasikan dan menggerakkannya demi memilih jalan keadilannya sendiri.


_______________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Mari mendukung /menghargai kinerja Author, dengan hanya memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)