
Untuk setiap momen yang terlewati, di perumahan elite kota Barata. Hawa kemarahan yang merebak menyertai ketegangan yang terjadi.
Telah muncul ratusan siluman harimau hitam, bertubuh bedegap berbulu lebat dan malah terlihat seperti tubuh beruang.
Meraung-raung dengan bangga merusak setiap rumah yang ada. Dan telah puluhan orang tewas, sedangkan sisanya mulai kerepotan sekaligus terluka.
Penjaga perumahan mati-matian mengusir ratusan siluman macan yang faktanya muncul dari pintu teleportasi dalam rumah istri Ketua Hamenka.
Sedangkan sang istri Ketua Hamenka tengah duduk lesu dan merengek di awan ruang keluarga. Sebuah perjanjian dengan sebuah koloni telah disepakati, itu dapat dilihat dari entitas bertubuh manusia berkepala rusa dengan rambut emas yang tergerai panjang, telah berdiri tegap di sisi kanan istri Ketua Hamenka mengamati pasukannya.
Entitas yang nampak seperti hewan herbivora itu cukup memberikan kesan tangguh dan berani dari pancaran aura serta gestur tubuh bedegapnya. Kedatangannya bukan sebatas perjanjian, bukan pula sebatas keadilan, bukan itu!
Entitas siluman itu punya tujuan yang disebut; kepahlawanan!
Dalam setiap sepak terjangnya, telah banyak ribuan individu baik dari ras Manusia hingga ras Peri, menjadi konsumen untuk tugas kemuliaannya.
Dalam perspektif serta ideologinya, menghancurkan mereka yang merendahkan cinta kasih dan kebenaran adalah kewajiban. Jadi inilah kewajiban mereka; melenyapkan para individu kemiliteran ras Peri. Karena demikianlah kewajibannya!
Dendam dan kehancuran segera ia persembahkan untuk kota Barata ini. Apa pun yang terjadi, dirinya mesti meratakan kota Barata dan mempersembahkan kematian!
“Rakyat mesti bergerak ...! Bangsa terkutuk ini mesti hancur ...! Kebenaran mesti ditegakan ...! Dan pahlawan akan muncul!” rengek istri Hamenka dengan tertunduk menjambak rambutnya dalam hawa suram dan rasa dendam yang pekat.
“Segeralah ikut denganku, Ira ... karena akan segera aku bangkitkan Siluman Dewa Mistik ... dan kota ini dipastikan binasa ...,” ajak ketua para siluman macan begitu percaya diri dengan mengulurkan tangan kiri kokohnya. Tetapi suaranya terdengar datar tanpa ritme tak seperti para individu yang ambisius.
Maka disambut baik ajakan itu, tangan kanan Ira —istri Ketua Hamenka— memegang erat jemari kasar ketua siluman macan.
Telah berkantaran rasa dendam dan juga menuntut agar seluruh warga memahami polemik dalam negara ini.
Mereka berdua berpindah tempat menggunakan pintu teleportasi menuju sebuah awan khusus di ketinggian 3000 meter di atas perumahan.
Ira duduk bersila dengan memejamkan mata, dirinya telah siap mengorbankan jiwanya demi membangkitkan Siluman Dewa Mistik.
Sementara ketua siluman macan tengah berdiri di belakang ira melakukan ritual do'a-do'a pemanggilan.
“GHROOOOAAAAAAAAARRRR ...!”
Raungan para siluman macan terus bersipongang di setiap penjuru rumah-rumah warga. Bagi mereka yang menghalangi dalam kewajiban mulia ini, tak akan sungkan para siluman macan untuk melenyapkan siapa saja.
Marn dengan tiga anggota Naratsa lainnya tengah berjibaku di jalanan perumahan menghajar beberapa siluman macan sebisanya. Dia tak bisa menolong ibunya untuk saat ini.
Mulai dari tebasan pedang, hingga dari tangan kosong, segenap kemampuan yang ada dimaksimalkan demi mengusir para siluman ini.
Lebih dari itu, jumlah siluman macan yang terus bermunculan yang kian bertambah seiring waktu berdetik, mereka mulai menginvasi pada perumahan lain di kota Barata ini.
Tentu saja sesuai dengan kewajiban, hidung mereka yang memiliki tingkat ketajaman penciuman tinggi, melacak siapa pun pribadi yang bersangkut paut dengan kemiliteran, begitu pula dengan para penyihir, semuanya segera dihabisi.
Kebanyakan anak-anak mulai dievakuasi dari lingkungan luar, diamankan oleh keluarga mereka di rumah dalam ruangan khusus bencana.
Pasukan militer yang sempat berpatroli mau tidak mau mesti memanggil bantuan dan menetapkan fase ini sebagai fase bahaya dalam kota; mereka pun turut bertempur.
Riuh serangan dan pertarungan mulai merebak dalam kenyataan, semakin bergema dalam waktu yang bekerja. Mereka yang terlibat dalam kemiliteran mulai dihabisi tanpa ampun dan mereka yang selain dari itu sebenarnya dibiarkan, tetapi yang namanya kepanikan, membuat mereka menganggap para siluman macan akan menghabisi siapa saja tanpa memandang status sosial, jadi mereka juga bertempur.
Beberapa penyihir tak disangka tertangkap pula oleh beberapa siluman macan, tetapi mengingat kapabilitas penyihir dalam bertahan hidup memiliki nilai tinggi, pastilah mereka mampu menangani serangan ini lebih kompeten.
Rumah-rumah terus dihancurkan oleh para siluman macan dan itu tanpa memandang status sang pemilik rumah. Ini bagian dari rencana 'A'.
'Buuff' 'Buaff' 'Trang' 'Tang' terus dan terus ritme pertempuran yang kini telah dapat dikategorikan sebagai perang kecil bersenandung ngeri melingkupi realitas yang otomatis menjadi peristiwa.
Semua masyarakat yang masih belum mengetahui alasan dibalik penyerangan ini, hanya sanggup bertarung demi bertahan hidup, atau bertarung demi orang-orang yang paling berharga.
Orang tua yang bertarung demi melindungi anaknya.
Seoarang anak yang bertarung demi melindungi orang tuanya.
Atau sekelompok muda mudi yang bertarung demi tempat tinggalnya.
Segala alasan bersinergi dalam suasana getir nan menegangkan ini, tak dapat mereka elak kalau mereka tidak maju bergerak.
Marn memegang dua pedang dalam marah penuh hasrat, menebaskannya pada semua siluman yang datang. Dia tak terbang karena dua sayapnya telah dipotong oleh para siluman keji ini.
“Marn, apa kau sudah meminta adikmu untuk tidak pulang?!” tanya seorang pria berambut biru laut keras-keras dengan bertarung secara tangan kosong pada beberapa siluman macan, 'Buak' 'Buk'.
'Tsrat' 'Srep' tebasan dari pedang kiri Marn berhasil memenggal kepala seekor siluman dan pedang di tangan kanannya berhasil menusuk siluman macan lainnya yang lantas diakhiri dengan tendangan dari kaki kanannya pada wajah siluman tadi, barulah dirinya dengan lantang menjawab, “Tidak! Justru aku menyuruhnya untuk datang membantu!”
Sontak dua teman Marn terkaget hingga berucap, “Eh?!”
“Apa kau gila, Marn?! Dia masih remaja!” sentak pria berambut perak yang merasa tindakan Marn terbilang gegabah. Dan bertarung dengan busur dari safir membidas anak panah pada beberapa siluman macan, lalu 'Cleb' 'Cleb' beberapa anak panah sukses menancap ngeri pada kening para siluman macan hingga tumbang menanggung mati.
Marn melompat dengan sayatan-sayatan dua pedangnya tepat pada wajah siluman macan, 'Srat' 'Srep'.
“Terserah remaja atau bukan, tetapi warga kota sudah menganggapnya pahlawan ... dan aku percaya pada kemampuan adikku!” tutur Marn dengan percaya diri dan yakin. Terlebih sekali pun dirinya tengah berjibaku dalam pertarungan nada suaranya tak goyah karena pergerakan; tetap mantap nan lugas.
“Ya sudah, kalau begitu terserah ketua saja!” balas pria berambut biru laut yang sama-sama bertarung tanpa mengganggu nada suaranya.
“HYAAAAAT ...!” teriak pria berambut perak membidas anak panahnya semakin cepat pada setiap siluman macan yang hadir, 'Cleb' 'Clep' 'Clep' 'Clep'.
Sementara mereka tengah berjibaku dalam susah. Di ujung perumahan elit, bersama siur angin dari Barat. Nerta serta teman-temannya tengah terbang dan telah tiba di perumahan elite dengan mata yang berbuntang kaget, menatap kengerian dalam beringasnya serbuan ras Siluman.
Untuk Nurvati sendiri, dia masih berlari secepatnya di belakang bersama burung angsa putihnya, masih berlari di dalam hutan.
_______________________________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.
(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)