Nurvati

Nurvati
Episode 114: Sang Dewi Karunia Dalam Kasih-Nya.



Rentang waktu telah menunjukkan peralihan hari, menuntun menit-menit menjadi jam yang kemudian membentuk kesan sebagai waktu yang lama.


Semua usaha yang dikorbankan pada waktu mulai membuahkan kenyataan manis, meski sang sinar baskara telah menunjukkan hari yang telah berganti, penyelamatan anak-anak yang diculik jadi kegiatan tanpa istirahat. Segala rasa susah disimpan agar sikap optimis selalu merekah, apa yang mereka lakukan tanpa ada keluhan sedikit pun.


Tekad pada impian atau pun jalan hidup untuk menjadi pahlawan masyarakat tak surut meski banyak kematian di depan mereka.


Zui sang pendekar Pemecah Waktu telah bergabung dengan lima anak, dirinya ikut membantu memindahkan anak-anak yang diculik dari hutan Kematian pada tempat yang dipercaya lebih aman.


Sinar baskara pagi telah menerangi area sekitar. Tidak termasuk dalam hutan. Hari yang cerah untuk bisa menghirup aroma pering dengan suara-suara kicau burung yang entah burung apa yang mampu bertahan hidup di hutan Kematian.


Di atas akar pohon dalam cerahnya sinar mentari, Zui tengah bolak-balik dari hutan Kematian pada hamparan rumput biru, tentunya melewati pintu teleportasi lekas-lekas.


Suasana yang menegangkan telah memudar jadi suasana damai, mulai menghangat dan setidaknya untuk saat ini.


Empat anak-anak tengah berdiri di dekat pintu tersebut karena Nerta tengah terbang dengan membawa seorang bocah laki-laki korban penculikan, kemudian Zui datang dengan sayapnya yang menjawat bocah lelaki itu dan buru-buru membawanya melewati pintu teleportasi menuju hamparan rerumputan nuansa biru untuk dibaringkan.


Semua anak telah berdiri di depan pintu teleportasi, mereka tengah merundingkan satu sel korban lagi yang mesti diselamatkan.


“Satu sel lagi dan semua akan usai,” ujar Darko dengan masih antusias.


Gorah serta Arista mengangguk setuju dibarengi oleh Zui yang datang ikut nimbrung.


“Baiklah ...,” ucapan Zui terpotong.


Secara tak terduga suara tepuk tangan mengalihkan perhatian mereka.


'PROK' 'PROK' 'PROK'.


Cukup keras tepuk tangan itu hingga sanggup membuat seluruh orang menghadap pada asal suara.


Di sana, di atas akar pohon, dalam jarak 7 meteran, telah berdiri dengan angkuh seorang wanita dewasa berambut lurus nuansa hijau tua yang berbalut jubah hitam berlengan panjang sampai-sampai menutupi kedua tangannya, jubah yang hanya menampakkan kepala serta dua kakinya yang putih cerah.


“Eh?” serentak Darko dan Gorah terkejut akan kedatangannya.


Zui bahkan langsung melenyapkan pintu teleportasi dan langusung berdiri bersiaga di depan kelima anak, sebisanya melindungi anak-anak dari hal yang tak diinginkan. Terlebih Nerta memegang tongkatnya dengan dua tangan erat-erat.


Wajah wanita itu mulus nan cantik, bibirnya merah tebal menggoda dengan iris hitam nan berbinar yang ditudungi bulu mata lentiknya. Entah dia siapa akan tapi ada senyuman jahat mengembang untuk semua orang.


“Siapa kau?” tanya Zui, yang entah juga apakah wanita itu mau menjawab atau tidak.


Sudah lima detik terbuang dalam hening membiarkan sinar mentari memancar semakin cerah dan hanya bibir merah meronanya yang masih terus mengembangkan senyuman miring nan jahat, wanita itu tak menjawab.


Merasa jemu, Darko pun malah melayangkan lagi satu tanya, “Apa kau siluman?”


Bersama senyumannya yang memudar, wanita itu mendepang tangan seraya berkata, “Aku adalah seorang dewi surgawi yang diturunkan ke bumi hanya karena memakan 'buah dunia'.”


Sebuah pernyataan aneh tapi cukup membuat semua orang terkejut sampai-sampai mengernyit kening keheranan. Antara percaya dan tidak percaya. Kebanyakan siluman itu pembohong dan tidak tahu juga apakah wanita itu adalah siluman atau sekadar orang lewat saja.


“Kalian tidak perlu memercayai kata-kataku ... identitasku yang asli sedang aku dapatkan, tapi ...,” pinta wanita berambut hitam lurus itu dengan serius dan ucapannya dijeda.


Kembali pernyataan aneh yang membuat semua orang menanggung tanya.


Tapi disela waktu itu, Quin malah memberi satu kalimat tanya, “Apa yang mau kau dapatkan dari kami?”


Tidak menjawab, wanita misterius itu melanjutkan ucapannya, “Aku sudah melihat apa yang kalian perbuat pada orang-orangku.”


Kalimat itu seperti mengandung maksud lain; secara tidak langsung dia memberitahu statusnya dalam koloni siluman ini sebagai pemimpinnya.


“Lalu Anda mau apa?” tanya Darko dengan nada menantang.


“BOCAH BODOH! TENTULAH AKU AKAN MEMBALAS PERBUATAN KALIAN!” sentak wanita berambut hitam panjang itu.


Suasana yang tadinya mulai damai terpaksa kini direnggut jadi kacau.


Lalu dengan raut muka marah wanita itu kembali menuturkan. “Kalian telah membunuh suamiku ... telah menghabisi nyawa anakku ... DAN ITU HARUS DIADILI!”


”Heh ... mana mungkin juga kami memilah mana suamimu dan mana anakmu, lalu tidak kami habisi gegara dia keluargamu ... sepertinya Anda dungu,“ singgung Quin dengan bersedekap menyilang tangan.


”Mereka akan kembali hidup ke alamnya, tidak perlu mencari-cari alasan ... aku tahu, kau itu hanyalah ingin membela siluman kotor,“ timpal Gorah dengan tandas.


”Kau tidak tahu apa-apa tentang perkara siluman! Kalian hanyalah anak yang didoktrin oleh orang tua kalian untuk membunuh siapa saja siluman yang kalian temui ... tapi, dibalik itu semua ... kalian tidak memahami!“ sergah wanita itu mulai murka.


“Kenapa harus membawa-bawa orang tua kami, kalianlah yang salah ... kalian membunuh anak-anak tidak bersalah!” balas Quin tak mau disalahkan.


Wanita itu terdiam, tentulah dibalik perspektifnya apa yang dinyatakannya adalah kebenaran. Dia lebih mengetahui roh para siluman yang mati akan dibawa ke mana. Suaminya serta anaknya atau bahkan koloninya, hanya dia yang memahami derita para siluman.


Baginya, apa yang diderita oleh para siluman terutama anak serta suaminya bukanlah hal yang layak dimaklumi, itulah sebabnya, dia turun ke bumi agar sekiranya bisa menolong para siluman untuk kembali pulang pada alam roh sesungguhnya. Benar, wanita itu telah memahami apa yang tak dipahami orang-orang di depannya.


Maka dengan tarikan napas kekecewaan dan tatapan murka, dirinya akan menunjukkan betapa pentingnya menyelamatkan para siluman, terutama koloninya.


“Kalian hanya tahu kekotoran para siluman dikoloniku ... tapi tidak pernah tahu ... apa-apa yang membuat mereka menjadi seperti itu ... bagaimana pun semuanya, selalu ada alasan!” sindir wanita berambut hitam panjang mulai bersiap membela koloninya.


”Heh, para siluman itu pembohong, mereka lahir karena kesalahan dan sekarang Anda ingin membela para pembohong itu ...?“ ledek Quin mengungkapkan ekspektasinya.


Lalu 'Syut' 'Syut' 'Syut' puluhan bola api tertembak dari ke dua tangan sang wanita yang terbungkus lengan jubah, terarah tepat pada orang-orang di depannya, seraya meneriakan pembelaannya. “JANGAN MENGATAKAN YANG TIDAK KAU KETAHUI!”


'BOOMM' 'BOOMM'.


'BOOMM' 'BOOMM'.


'BOOMM' 'BOOMM'.


'BOOMM' 'BOOMM'.


Seluruh bola-bola api malah meletup di akar pohon karena gagal mengenai target. Semua orang terbebar menghindar.


Jelas suasana yang tadinya telah damai hampir usai, kini kembali menanggung ketegangan, membentuk lagi aura pertempuran, menciptakan lagi kesan bahaya. Dan mau tidak mau, lawan yang dihadapi kini jauh lebih kuat dari lawan-lawan sebelumnya.


“Sialan ...,” umpat Quin dengan terbang ke atas terus menghindar.


-------------------------------------------------------------------------


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup memberikan Like/Vote poin/koin.


(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar.)