
Tepi hutan sudah mulai terlihat, Falas dan Nurvati segera sampai, namun ketika rasa syukur mulai menjalar di dalam benak Falas, insting dalam jiwanya terhenyak kala dari belakang punggungnya melesat sebuah cahaya hijau padanya, spontan Falas memutar badan ke belakang sekaligus menepis bola cahaya itu ke sisi kirinya, dan saat menyentuh pohon bambu meledak menimbulkan suara 'Duar'.
Tetapi cukup disayangkan Falas dikejutkan oleh siluman macan dari atas kepalanya. Kaki kanan sang siluman melakukan tendangan secara vertikal dari atas ke bawah, dan tepat mengenai ubun-ubun Falas, akibatnya Falas terhempas ke bawah, terpelanting menuju hutan bambu, bambu-bambu patah, tanah berdebam, dedaunan berguguran.
Falas terkapar dengan sayap kiri yang tertusuk bambu, sedangkan sayap kanannya terhampar demi menjaga keselamatan tubuh Nurvati, kendati nyatanya mereka tetap saja terbaring terluka.
“Nurvati, ce-cepat ... ambil bambu yang patah, kita harus mengalahkannya,” pinta Falas dengan menahan sakit dan mendesak.
Namun sungguh, Nurvati yang peralahan bangkit untuk berdiri, raut muka datarnya menyiratkan masa bodoh, hatinya telah tenggelam oleh prasangkanya yang semakin pekat, dan dengan percaya diri dia berkata, “Ambil saja sendiri, aku mau kabur.”
Falas yang menahan rasa sakit, terdiam tak menyangkal ucapan Nurvati, dia semakin paham akan apa yang terjadi antara Nurvati dengannya. Tetapi mengingat Nurvati marah hanya gegara jawaban Falas yang dianggap Nurvati dusta, itu cukup menggelitiknya, dan dapat ditarik konklusi bahwasanya Nurvati hanya trauma.
Otomatis, Falas yang terpaksa bangkit sendiri pun harus menahan sakitnya sayap kiri yang dicabut dari bambu, ia bangkit berdiri dengan mengedarkan iris birunya pada tanah sekitar, mencari bambu ungu yang selayaknya untuk dijadikan senjata.
Meski pun ras Peri mampu menciptakan senjata dengan energinya, namun mereka tak mampu membuat makhluk-makhluk bernyawa.
Nurvati telah berdiri di atas tanah, tetapi ia menengadah pada langit, terfokus pada sang siluman macan yang terbang dengan menyiapkan kembali bola cahaya kekukatannya.
Hingga rasa putus asa menekan jiwanya agar luluh untuk menerima kematian. Nurvati yang menyenguk udara dipetang ini tengah dilanda kegundahan yang menyakitkan. Hingga dua bambu ungu telah digenggam erat penuh kesiapan oleh Falas.
Nurvati pun jatuh berlutut berputus asa, aura kematian telah memeluknya terasa mesra, kakinya merasa tak berdaya, dan hatinya tak sanggup untuk menjadi ceria, netranya telah tertunduk hampa, karena semua baginya tersa percuma.
Iris Falas bahkan wajahnya telah tertuju ke atas menghadap siluman, tetapi dirinya menyadari keputusasaan Nurvati, dalam tarikkan napas panjang, Falas melangkah ke depan Nurvati, dengan gagah berani laksana menantang maut, Falas mengedarkan kembali energi perisainya, melindungi dirinya dan sahabatnya.
Sebab, sang siluman macan kembali melemparkan bola-bola cahaya kepada mereka, suara ledakan demi ledakan bergema di sekitar mereka, 'Duar' 'Duar' 'Duar', guncangan mau pun kerusakan masih mampu dibendung oleh perisai Falas, sayapnya pun dilipat agar perisai tak memakan banyak ruang.
“Bersabar saja Nurvati, sebisa mungkin aku akan melindungimu,” ungkap Falas penuh percaya diri dan tetap waspada.
'DUAR'.
“Ya ... dan sebisa mungkin juga aku menjauh darimu,” ketus Nurvati tertunduk dengan mendeprok di tanah.
Netra kanan Falas memicing menahan gempuran demi gempuran tembakkan cahaya yang dilancarkan sang siluman, bergigit bersama kedua tangannya yang menggenggam erat dua batang bambu ungu sepanjang satu meteran, seraya bertanya, “Kenapa kau tak memercayai ucapanku, Nurvati?”
Suara 'duar' hasil dari ledakan cahaya masih betah melingkupi tempat mereka.
Dan Nurvati sengap dengan mendilak ke kiri, sudah jelas Nurvati tak percaya, bahkan telah cua pada perkataan Falas, jadi malas juga untuk menjawab.
“Kalau kau tidak percaya, lalu apa yang bisa membuatmu percaya?” tanya Falas dengan serius dalam napas yang mengap-mengap.
Kini waktu yang merampas kegembiraan hari, mulai menampakkan gelapnya, petang mulai biru kehitaman, hutan bambu mulai beraura menakutkan, Falas yang tak bisa banyak berkata karena menahan gempuran musuh hanya sengap untuk konsentrasi penuh pada perisai pelindungnya.
Begitu banyak tembakkan-tembakkan yang digencarkan siluman pada dua bocah Peri itu, energinya seakan tak sirna dimakan usaha, ia masih kuat untuk puluhan tembakkan cahaya, sampai-sampai, suara kesunyian hutan, tenggelam oleh suara ledakan bola cahaya.
'DUAR-DUAR-DUAR-DUAR'. Terus membahana ledakan memenuhi hutan. Tak ada petugas militer yang berpatroli, membuat sang siluman menikmati pertarungan.
Detik telah beralih menjadi menit, lebih dari itu, telah 2 jam penuh serangan bola cahaya ditembakkan pada Falas. Namun untung bagi Falas, air dari kolam bunga teratai yang sempat diminumnya menjadikannya kuat dalam bertahan, namun jika seperti ini terus, Falas bisa kalah, sehingga, saat ini ia mempersiapkan diri untuk menyerang.
“Nu-Nurvati ...,” panggil Falas dalam lelah nan mengap-mengap.
Respons yang diberikan Nurvati masih sama; hanya sengap dan mendilak.
“... kalau kau tak bisa membaca pikiranku, alangkah baiknya, kau tak perlu memvonisku,” imbuh Falas.
Kalimat itu tak memberi Nurvati secercah ilham, mendilak dan sengap masih betah dilakukan. Baginya, selama tak ada bukti tak ada yang layak dipercaya, karena dusta selalu memberi rasa manis.
Sekonyong-konyongnya, Falas bergigit kuat-kuat, menatap tajam ke atas, mencengkram keras pada dua bambu, berdiri setegak-tegaknya, bersiap melakukan serangan.
Ledakan demi ledakan masih bergema di sekitar, meluluh lantakkan bambu-bambu.
“HIYAAAAAAA ...!”
Sedetik kemudian, sekedipan mata, Falas meluncur terbang, membelah angin, menangkis jauh-jauh seluruh tembakkan bola cahaya, lalu tangan kanannya menusukkan sebatang bambu ungu ke arah perut sang siluman.
“ROOOOAAAAARRRR ...!” teriak siluman merasakan kesakitan yang teramat.
Benar, Falas berhasil menusukkan bambu ungu tepat ke arah perut sang siluman macan, bukan itu saja, bambu ke dua di tangan kiri Falas pun ikut ditusukkan pada perut sang siluman, menancap hingga menembus ke belakang punggungnya, membuat sang siluman berteriak semakin kencang. Suara teriakannya meliputi di udara, menghentikan serangan bola cahayanya, membuatnya mengucurkan darah ungu kehitaman.
Tetapi tunggu, siluman tersebut tak mau kalah sia-sia, secara impulsif, tangan kanannya mencengkram leher Falas, mencekiknya keras-keras, kemudian dalam marah sang siluman, dia meluncur deras ke bawah, tepat menuju hutan bambu. Dan Nurvati yang sadar kalau ledakan telah hilang, seketika langsung memandang siluman serta Falas yang terhunjam ke bawah.
Maka gemeretak bambu patah sekaligus tanah yang berdebam keras, menjadi bukti bahwa siluman serta Falas telah terhunjam ke tanah. Kepulan menyaput pandangan pada lingkungan di depan Nurvati, hingga harus menyipit demi melihat kelanjutan hidupnya.
Dalam jarak 9 meteran, saat patahan bambu-bambu di sekitar Nurvati telah remuk menutup lapisan tanah bak mengotorinya, di depannya, dalam lamat-lamat sesosok siluman tengah meraung kesakitan.
“GHROOOAAAARRRR ...!”