Nurvati

Nurvati
Episode 62: Kesia-siaan Dalam Lakonisme.



Gelegar awan di langit kini mulai sering terdengar, sepoi-sepoi angin sering bertiup kencang. Ini adalah akhir.


“OMONG KOSONG!” sentak Nurvati menampik segala kenyataan ini, walau pun tetap tak dapat ditampik.


Falas yang tak memahami hanya mengernyit kening, seraya bertanya, “Kenapa Nurvati?”


“Kenapa kau tidak paham? Aku melakukan ini karena kau ... dan kau malah ...,” komplain Nurvati yang kembali menghadapkan wajah bercahayanya pada Falas, namun dirinya tak mampu menuntaskan kalimatnya, semuanya terasa percuma.


“Malah apa?” tanya Falas dengan polos.


“Haaaaaah ... percuma ... percuma ... omong kosong ...,” tukas Nurvati dengan tertunduk lesu.


“Loh ... bagaimana kamu ini, kalau tidak dibicarakan ya mana tahu ...,” sanggah Falas masih tak paham apa yang sebenarnya diinginkan Nurvati.


Menyadari kalau Falas tak sadar apa yang sebenarnya sangat diinginkan Nurvati, dirinya kembali mengeluh, “Omong kosong ....”


Falas adalah orang yang kalem dan mudah membuat semuanya diambil santai, sehingga berani bicara, “Ya, sudah kalau tak mau dibicarakan, yang terpenting ... kamu berbahagia ... hehehe ....”


Gemuruh awan mendung di langit, membuat Falas menengadahkan wajah menatap keadaan langit, dan setelah 3 detik terlampaui, dengan masih memandang langit, Falas berujar, “Sekaranglah waktunya ... sekarang aku akan pergi ....”


Mendengarnya hanya membuat Nurvati tetap tumungkul dalam rasa kecewanya, rasa berbunga-bunga itu kini terasa menjadi racun, berlebihan memang, namun begitulah kenyataan.


Mengharapkan perasaan tersebut dipahami Falas, tetapi semuanya tak terealisasi, hanya jadi angan semata, yang jauh untuk jadi nyata.


Namun di lain sisi, tubuh Falas mulai bercahaya putih terang benderang, dirinya mulai ditarik oleh takdir, segala mimpinya akan tercapai, segala yang diperjuangkan akan berbuah manis, dia sangat damai.


Dan sebelum semuanya hilang dalam ingatan, Falas menyempatkan untuk memberikan kata-kata terakhirnya. “Aku bersyukur ... sangat bersyukur, bisa berpetualang ke mana pun yang aku mau, aku bersyukur memiliki hidup seperti ini, sangat bersyukur bisa berpetualang bersamamu, menjadi temanmu, atau bahkan bisa melihatmu senderut ....”


Seiring cahaya putih terang benderang disekujur tubuhnya yang mulai semakin menyala, Falas terus mengungkapkan isi hatinya.


“... lihatlah aku Nurvati, di dalam diriku nanti hanya ada hukum, dan tak lagi terikat oleh derita di dunia ini ... HAHAHAHA ... aku mulai merasakan jiwaku lepas ....”


Tapi tertunduk lesu Nurvati di sana, segalanya baginya, derita hidupnya belum lepas.


“... sebentar lagi ... tempat di mana rahmat-Nya akan tercurah untukku ... segalanya ... akan menjadi pengabdian ....”


Gelegar awan mendung mengiri perkataannya yang sebagai luapan emosi bahagianya.


“Nurvati ... maukah kau melihatku ke sini ... dan menunjukkan kalau kau tersenyum ...,” pinta Falas dengan iris yang telah ditutupi selaput mata, berharap melihat bibir tipis Nurvati mengembang dalam senyuman.


“Omong kosong ...,” bisik Nurvati tetap tertunduk lesu dan kecewa.


“Sampai jumpa lagi, Nurvati.”


Kalimat itu, menjadi suara terakhir Falas yang Nurvati dengar, sebab telah lenyap Falas dari sana, hilang tak berbekas, kosong.


Nurvati menyadari kepergiannya, dan bersama dirinya yang harus mengembuskan napas kepasrahan, 'Cerau' hujan deras pun mulai turun mengguyur kolam bunga Teratai dan sekitarnya. Hujan yang tepat pada saat-saat kepergian orang istimewa itu.


“Haaaah ... baguslah ... hujan membuat ini jadi dramatis saja ...,” keluh Nurvati yang justru putus asa.


Dan kakinya mulai melangkah menuju batu hijau yang tadi di tempati Falas. Kedua kakinya berjalan di atas air kolam, melangkah dengan lesu nan menyerah menuju batu di tengah-tengah kolam.


“Haaaah ... kalau begini 'kan jadi percuma ... haaah ...,” gumamnya dengan berdiri tepat di atas batu hijau, lalu kepalanya menengadah pada langit, yang kemudian guyuran hujan membasahi wajah bercahaya lesunya.


Rasanya dingin, basah, dan tawar, hujan yang seperti mewakili perasaannya yang unik dan sakit. Nurvati tak menangis, tetapi segala sikapnya yang putus asa, sudah cukup menyimpulkan kesedihannya.


“Sedikit lagi, padahal sedikit lagi,” omelnya yang merasa kalau hampir saja meraih kehidupan bersama Falas.


“Haaaah ... kalau begini ... jadinya ngantuk ... lebih baik tidur selamanya.”


Maka Nurvati pun mendeprok di atas batu, kepalanya miring ke kanan, dan dia pun mulai tertidur. Kalau bukan karena kekecewaan serta keputusasaannya ditambah bakat alaminya, tentulah Nurvati tak mungkin mampu tidur disituasi seperti ini, namun demikian, yang bersangkutan kini malah mampu tertidur dalam ketidakpercayaan lagi pada dunia.


Karena dalam perspektifnya, kini dia mulai mengambil sebuah kesimpulan, kesimpulan atas setelah hidup dilewatinya, kalau segalanya, selalu tak seperti yang direncanakan; belum tentu.


Nyatanya, terasa percuma ilmu kedigdayaannya kalau orang yang istimewa telah pergi, nyatanya, percuma perjuangan hidupnya kalau yang paling disayang tak memahaminya, nyatanya, segala pengorbanan adalah kekalahan, dan perasaan sempurna yang telah diraih ternyata hanyalah ilusi sahaja, dan keabadian pun akan omong kosong kalau tak bahagia. Begitulah pikir Nurvati yang secara tidak langsung kejadian ini mengubah mental serta pola pikirnya.


'Cerau' hujan deras melimpahi seluruh tempat, hutan bambu, area pohon Salju, Air Terjun Awan, area Timur perumahan bangsa Barat, hingga seluruh kota-kota bangsa Barat diguyur hujan deras lengkap bersama gemuruh awan yang seolah berperang. Hujan dalam alam Peri ini pada dasarnya dibentuk oleh ras Peri sendiri, mereka menggunakan ilmu Cahaya-nya demi membentuk hujan, sebuah pekerjaan yang dulu ayah Nurvati sempat lakoni.


Segala bentuk waktu, tetap mengiringi sejarah demi sejarah yang dialami oleh seluruh individu, waktu memang masa bodoh, tetapi bagian penting sejarah itu mustahil terkalahkan, yang ada saatnya menjelaskan hal yang tak sanggup dijelaskan kata-kata, seperti seseorang yang memiliki mimpi, yang hidup dalam pendirian teguh dan seorang wanita yang mudah terbawa arus kehidupan, yang terendam dalam perasaannya sendiri, telah mendapatkan yang layak mereka dapatkan.


Segala kekecewaan yang membentuk Nurvati kini malah memicu keputusasaan dan membuatnya malas serta mengantuk, tak ada lagi yang harus diperjuangkan, semuanya sudah tamat.


Perasaan berbunga-bunganya sudah layu sekarang, dia baru pertama kali merasakan patah hati, patah hati oleh seorang pria, yang bahkan sedikit saja tak memahami 'kode' dari Nurvati.


Tak sama seperti Putri Kerisia, yang walau dirinya patah hati, dia mampu tetap melanjutkan hidup penuh semangat, ya, meski banyak perbuatan hipokritnya yang dijunjung, setidaknya, semangat hidupnya perlu diapresiasi.


Satu hal yang pasti, dalam tidur yang melelahkan itu, Nurvati hanya belum sempat mengatakan 'terima kasih' atau mengucapkan perasaannya, tentu sangat penting, mengingat mau tidak mau, Falas memang telah memberi makna dalam hidup Nurvati.


Ini masih perang dunia ke-18, seluruh ras, bangsa serta kelompok-kelompok masyarakat, gencar membantu perang, kebanyakan masyarakat hanya membantu pertumbuhan ekonomi serta banyak berdo'a.


Di alam ras Maan perang hebat itu terus memakan korban jiwa, dan tak ada yang tahu pasti, hal apa yang mampu menghentikan perang besar ini, menilik dari segala kekuatan yang dimiliki semua ras, lalu kokohnya mempertahankan pada pemahaman, persepsi, pendirian, tekad, atau keyakinan dari masing-masing individu, agaknya mustahil kalau perang ini berhenti, atau bisa dikatakan, perang dunia ke-18 ini adalah perang dunia abadi.